Monthly Archives: March 2013

Membuat Chairil Anwar Mati Berkali-kali

Pulanglah Dia Si Anak Hilang: Kumpulan Terjemahan dan Esai
Chairil Anwar (penerjemah)
Penulis: André Gide, Ernest Hemingway, John Steinbeck
Epilog: Evawani Alissa Chairil Anwar
Granit, 2003  |  xv + 134 hlm


pulanglahdiaMengumpulkan terjemahan Chairil Anwar, salah satu penyair terbesar kita, jelas adalah ide bagus yang bisa menelurkan sebuah buku penting dan menarik—saya bayangkan bakal seperti The Winged Energy of Delight, kumpulan terjemahan penyair kawakan Robert Bly. Untuk bisa seperti itu, tentu dibutuhkan kerja editorial yang cakap, namun yang ada: para editor buku ini justru mengesalkan. Mereka banyak menambahkan keterangan-keterangan yang tiada perlu bahkan mengacau, keterangan-keterangan yang justru menunjukkan mereka tak tahu apa-apa soal Chairil dan kerja kepenulisannya, sehingga kapasitasnya sebagai editor buku ini jadi layak dipertanyakan.

Lihat misalnya, pengantar yang diberi judul “Catatan Pinggir Penerbit edisi 2003: Hikmah Sebuah Kebetulan” yang bercerita bagaimana di “Fakultas Sastra universitas ternama di Jakarta”, “kami” (yang artinya Sigit B. Kresna dan tim Granit, sesuai nama yang tertera sebagai penulisnya) tanpa sengaja menemukan buku Pulanglah Dia Si Anak Hilang cetakan tahun 1956. “Sejenak kami tertegun membaca nama pengarangnya maupun penerjemahnya”. Kenapa mereka tertegun? Karena mereka tidak pernah tahu kalau Chairil itu menerjemahkan! Saya jadi bertanya-tanya apakah tim editor ini memang benar penyuka sastra atau buku. Sejak SMA pun, di kota yang jauh dari Jakarta pada 1990an, saya sudah tahu kalau Chairil Anwar juga seorang penerjemah (dan penyadur ulung). Meski saat itu belum membacanya langsung, tapi hal ini jelas diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia. Masa tim editor ini tidak tahu kalau Chairil Anwar menerjemahkan? Masa mereka belum pernah membaca buku H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 yang menderet dengan jelas dan lengkap semua terjemahan Chairil. Bacalah memoar Abu Bakar Lubis tentang masa-masa Revolusi Fisik, di situ dikisahkan juga bagaimana Chairil mengajak tanding Lubis menerjemahkan suatu puisi. Setelah melihat hasilnya, Chairil marah-marah, kurang lebihnya, “Kamu orang sekolahan masa nerjemahin kaya begini?”

Lebih parah lagi, “kami” para penulis pengantar penerbit ini tidak tahu pula kalau Chairil menulis prosa! “Ah betapa malunya kami, yang mungkin mewakili rata-rata penikmat awam di bidang sastra, bahwa yang kami ketahui dari Chairil Anwar hanyalah beberapa sajaknya saja.” Duh! Begitu pula mereka baru tahu kalau Chairil punya anak, dan mereka pun jadi tertegun untuk kedua kalinya. Mungkin kalau dikasih pinjam memoar Basuki Resobowo, mereka akan tertegun berkali-kali melihat segala polah begundalan Chairil dan asal usul slogan “bung ayo bung” di poster bikinan Affandi. Dan akan semakin tertegun kalau tahu bahwa Chairil bisa baca buku sambil jalan kaki, atau cari utangan buat mengobati sipilis.

Jadi begitulah, akibat ketertegun-tegunan para editor ini, kita pun jadi disuguhi buku campur aduk yang bikin tertegun-tegun pula: apa gerangan dasar-dasar penyuntingannya? Buku ini diberi judul besar Pulanglah Dia Si Anak Hilang, tapi nama André Gide tidak tercantum di sampul. Lagipula buku ini bukan cuma berisi Gide; di dalamnya ada pula karya Steinbeck, Hemingway, dan Chairil sendiri.

Dan coba kita lihat subjudunya: Kumpulan Terjemahan dan Esai. Andai benar ini kumpulan terjemahan Chairil, mengapa puisi-puisi terjemahannya tidak dimasukkan? Dan kalau benar ini kumpulan terjemahan, mengapa prosa-prosa aslinya diikutsertakan? Kalau ini kumpulan prosa saja, baik terjemahan maupun asli, mengapa surat-suratnya ke H.B. Jassin tidak dimuat lengkap?

Yang paling menjengkelkan saya: Editor menganggap karena mereka tidak tahu, maka rata-rata pembaca pun pasti tidak tahu (padahal melihat hasil akhir buku ini, sangat mungkin pengetahuan pembaca umum tentang Chairil lebih mumpuni dibanding para editor ini). Maka begitulah, beberapa frase karya Chairil mereka ubah seenaknya, mungkin dengan dasar agar pembaca “yang tidak tahu” ini tidak bingung dan jadi tertegun-tegun.

Frase “Tuhan Kita Isa Kristus” terjemahan Chairil diubah seenaknya jadi “Nabi Isa (Yesus Kristus)”, padahal Gide sendiri jelas tidak mungkin pakai tanda kurung! Versi Inggris frase tersebut adalah Our Lord Jesus Christ yang berarti terjemahan Chairillah yang tepat!

Begitu juga diktum terkenal Chairil “Kata ialah These itu sendiri” dalam pidato “Hoppla!” yang dianggap sebagai dasar humanisme universal dalam sastra Indonesia. Kata “These” diubah seenaknya oleh editor menjadi “tesis”! (dengan huruf kecil pula!)

Wahai editor, melihat ketertegun-tegunan kalian dalam banyak hal soal Chairil, maka tak ada kapasitasnya kalian mengganti semau-maunya pilihan-pilihan kata Chairil. Kalau kalian tahu Chairil Anwar, kalian tentu akan tahu bahwa ia tak pernah main-main dengan kata yang dipilihnya. Chairil tak percaya improvisasi bisa melahirkan karya besar. Dalam satu kesempatan Chairil mengutip bagaimana setelah wafatnya Beethoven, ditemukan beratus-ratus catatan sebagai persiapan pembuatan karya musiknya. Inilah seni cipta yang sesungguhnya. Bagi Chairil hasil seni improvisasi tetap jauh di bawah hasil seni cipta yang dipikirkan masak-masak, bahkan ia garisbawahi bahwa ini sebagai “soal hidup dan mati”. Wahai editor, kalian membuat Chairil Anwar mati berkali-kali!

Advertisements

Hedonisme Keluarga Pejabat

Isteri Konsul
Nh. Dini
Nur Cahaya, tanpa tahun (kemungkinan sekitar 1982-1985)  |  108 hlm

konsulKumpulan cerpen Nh. Dini ini saya dapat dengan harga enam ribu rupiah saja pada 2009 saat berjalan-jalan menyusuri Pasar Modern di samping Summarecon Mall Serpong, di sebuah toko buku bekas yang dinamai ‘Socrates’. Covernya (serta ilustrasi-ilustrasi di dalam buku) digambar dengan gaya a la roman picisan atau pulp fiction oleh Hasmi, sang kreator Gundala Putra Petir. Dibandingkan dengan edisi-edisi berikut buku ini yang tampil dengan gambar sampul lebih “nyastra,” saya justru suka edisi pertama ini. Menurut saya lebih pas, karena tema cerita utama kumcer ini ternyata juga rada “picisan” (istri konsul yang kesepian lalu mencari seks dan cinta). Namun, kelihaian Bu Dini mengolah kata dan kandungan psikologis tokoh-tokohnya membuat cerita-cerita di sini jadi logis dan tak sekadar remeh temeh murahan. Malah sesungguhnya di balik kesan picisan itu, seperti tersirat kritik atau penguakan secara blak-blakan gaya hidup keluarga pejabat zaman Orde Baru. Dan saya cukup terkejut melihat bagaimana free sex lifestyle masa itu digambarkan di buku ini, terutama pada cerpen “Isteri Konsul”, yang membuat hedonisme masa kini terasa biasa-biasa saja…

“Fakta-fakta” dari Arok Dedes

Arok Dedes
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara, 2009  |  561 hlm

arokdedesIntrik, intrik, dan intrik: politik dalam perwujudannya yang paling jalang. Dahsyat, meski memang bukan karya terbaik Pramoedya, apalagi bab penutupnya yang tampak mengendur.

Karena sudah banyak yang mengulas serius tentang buku ini, bahkan menjadikannya bahan skripsi dan tulisan akademik lainnya, maka di sini saya tuliskan beberapa “fakta” menarik saja yang saya dapat dari buku ini:

  1. Kalau ingin penglihatan Anda tajam menembus kegelapan, tiap pagi cucilah mata Anda dengan “bagian tengah air seni” Anda sendiri. Meski saya juga kurang jelas bagian tengah air seni itu yang mana, tapi cara ini silakan dicoba 😀
  2. Ingin menerjuni jurang tanpa cedera? Potong dua lembar daun enau, kepit di ketiak, kepak-kepakkan, lalu LONCAT. Kalau Arok bisa, Anda pasti juga bisa 😀
  3. Di zaman yang diceritakan ini, rupanya orangutan hidup di tanah Jawa. Dan betinanya ketika lagi birahi buas sekali, bahkan mayat seorang laki-laki pun (putra Tunggul Ametung) bisa ikut disosor.
  4. Kalau Anda seorang Paramesywari, Anda bisa minta apa saja dihadirkan dalam sekejap. Apa saja, termasuk meminta 18 orang sinden tiba-tiba hadir dan bernyanyi menghibur Anda.
  5. Apapun yang terjadi, jangan pernah percayakan naskah tulisan Anda pada militer: kalau tidak dibuang ya bakal lenyap ke loakan Pasar Senen.

Kafka: Ia yang Ingin Tiada

Kafka
David Zane Mairowitz   |   Robert Crumb (illustrator)
Fantagraphics, 2007  |  176 hlm

kafkaGarcía Márquez pernah menyatakan ketakjubannya saat membaca Metamorfosis Kafka untuk pertama kalinya: “Oh ternyata orang boleh menulis seperti ini ya…” Kafka memang istimewa, hanyalah dialah satu-satunya sastrawan yang namanya dipakai sebagai kata sifat/ajektif dalam kosakata bahasa-bahasa dunia: kafkaesque, yang menurut kamus Merriam Webster merujuk pada “having a nightmarishly complex, bizarre, or illogical quality”. (Bahkan Cervantes pun “menyumbangkan” kata sifat quixotic “cuma” berdasarkan tokoh rekaannya, dan bukan namanya sendiri).

Saya sendiri pernah serius membaca Kafka gara-gara teman baik saya, seorang penerjemah Kafka yang tekun. Namun selalu —sekalipun memikat— saya merasa agak berjarak dalam membacanya. Kafka kerap tampak terlalu Eropa buat saya. Problem-problemnya, yang bisa dibaca sebagai problem kegalauan seorang Eropa memasuki abad ke-20, tampak berbeda dengan problem seorang Minke misalnya, yang sama-sama memasuki abad ke-20, tapi dari sudut pandang seorang bangsa jajahan yang sedang berada dalam “zaman bergerak”.

“This is the way the world ends / Not with a bang but a whimper,” kata TS Eliot dalam sajaknya “The Hollow Men”, yang menurut saya menggambarkan jelas psike Eropa saat itu. Saat negara-negara jajahan sedang memperjuangkan sebuah “bang”, sebuah gerakan dan gebrakan, di metropol Eropa yang terjadi justru “whimper”: “Things fall apart / the center cannot hold” (kalau yang ini sajak Yeats).

Demikianlah kondisi yang dialami Kafka, seorang Yahudi Praha yang tak jenak dengan keyahudiannya. Dongeng-dongeng fantastik dan mistik dari tradisi kuno Yahudi tak pelak lagi mempengaruhi jalan kultural hidupnya, meski sebagai agama ia tak terlalu menganutnya. Ayahnya sendiri lebih mengaku diri sebagai orang Ceko ketimbang orang Yahudi, yang membuat mereka terbebas dari aksi-aksi vandal anti Semit yang marak saat itu. Namun di lain pihak, nasionalisme Ceko yang sedang bangkit justru memusuhi Yahudi-yahudi Praha ini, yang mereka asosiasikan dengan Jerman karena sehari-harinya berbahasa Jerman dan bukan Ceko. Alhasil, mayoritas Yahudi Praha pun memihak Jerman, negara yang nantinya bakal mengirim mereka semua ke kamp-kamp konsentrasi. Sungguh suatu ironi sejarah yang menyesakkan.

Kafka berusaha mengambil jarak dari semua ini. Ia tak jenak dengan dirinya, dengan fisiknya sendiri, dengan keluarganya, dengan lingkungan Yahudinya, dengan nasionalis-nasionalis Ceko, dengan perkembangan yang terjadi di sekelilingnya, juga dengan wanita-wanita yang ia dekati. Singkat kata, secara psikologis orang ini memang “tak beres”. Ia ingin mati, tapi bukan dengan bunuh diri—ia ingin dihukum mati. Tema inilah yang menjalari seluruh karyanya: bagaimana membuat dirinya sendiri lenyap. Ada Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah jadi kutu besar, ada “seniman pelapar” yang memeragakan aksi tidak mau makan, ada K. yang tiba-tiba ditangkap dan diadili untuk sesuatu yang ia sendiri kurang jelas, ada Georg Bendemann yang loncat sendiri ke sungai sesudah mendengar ayahnya menyumpahinya “kau akan mati tenggelam”.

Puncaknya adalah pesan yang ditinggalkan pada sahabat sekaligus editornya, Max Brod, agar membakar seluruh tulisan, surat, dan manuskripnya setelah ia mati. Kafka seakan ingin lebih mati dari mati, tanpa meninggalkan jejaknya di dunia. Max Brod tidak mematuhinya, dan karena ketidakpatuhannya kita kini bisa menikmati Kafka (meskipun Borges pernah bilang secara usil, “Kalau Kafka memang ingin membakar karyanya, akan ia nyalakan sendiri apinya. Kalau cuma titip pesan, berarti ia tidak ingin membakar karyanya”).

Dan Kafka pun akhirnya lebih hidup dari hidup. Sebagaimana layaknya semua sastrawan besar, ia tidak bisa didekap dalam satu kategori. Ceko yang dikuasai rezim komunis kesulitan menempatkannya dalam “sastra resmi” mereka. Lukacs bilang Kafka memikat tapi dekaden, sementara ada lainnya yang bilang Kafka justru mencerminkan dengan jelas alienasi yang dihadapi kaum buruh dalam kapitalisme (ingatlah Gregor Samsa si penjaja keliling). Namanya pernah didiskreditkan lalu dipulihkan, untuk kemudian didiskreditkan lagi. Tapi kini, di Praha pasca komunis, wajah Kafka terpampang di kaus-kaus yang dijual di pinggir jalan. Pakar-pakar Kafka kontemporer berusaha menyusun kembali manuskrip-manuskripnya secara lebih setia pada aslinya (bukan sebagaimana yang diedit Max Brod). Novelnya yang tak selesai misalnya, Der Verschollene dijuduli oleh Brod sebagai Amerika, meski arti judul itu sebenarnya adalah “Lelaki yang Menghilang”. Maka Kafka, yang pernah mengatakan “menulis adalah tidur yang lebih dalam ketimbang kematian”, akhirnya terus hidup justru karena tulisan-tulisannya, satu ironi lagi dalam dirinya.

—————-

[ This English version of the above review is specially dedicated to Lamya Alsakkaf, with special thanks to Mia Fiona ]

“HOLY SHIT!” screamed Gabriel García Márquez one day in 1947, “Nobody had told me this could be done!” He was nineteen at that time, and was reading Kafka’s Metamorphosis. As he said in his many interviews, Metamorphosis was revelation that people are actually allowed to write such things.

Kafka was extraordinary indeed. He was the only writer whose name is used as an adjective: kafkaesque, according to Merriam Webster dictionary, refers to “having a nightmarishly complex, bizarre, or illogical quality”. (Even Cervantes was only able give the world quixotic, adjective taken from his fictional character rather than his own name).

Many years ago I used to read Kafka a lot as one of my best friends was an ardent translator of Kafka. I don’t know, although his works are amazing, personally I always feel quite distant from them. Kafka’s works seemed “too European” for me. The problems he raised, which can be read as an European’s moral-social conflict when entering the 20th century, seemed to be quite different with that of Minke (the protagonist from Pramoedya Ananta Toer’s Buru Quartet), who also in the process of entering the 20th century, only with a colonialized subject’s point of view in “an age of motion”.

I think TS Eliot’s “The Hollow Men” summarized perfectly Europe’s psyche in that fin-de-siècle: “This is the way the world ends / Not with a bang but a whimper.” When colonialized subjects in the colony were fighting for a “bang”, with radical movement and revolt, the European metropoles were declining into a “whimper”. Or by Yeats: “Things fall apart / the center cannot hold”.

And so it was the life that Kafka went through. A Prague Jew, but not quite attached to his Jewishness. Fantastic tales and the ancient Jew mystical traditions had influence his childhood, although he didn’t practice Judaism as a religion. His father saw himself more as a Czech than a Jew, and that helped them to avoid anti-Semit pogroms in that era. However, on the other side, the rising Czech nationalism were waging wars against the Prague Jews who were being associated with Germany as they spoke in German not Czech. Due to this situation, most of the Prague Jews then sided with Germany, the country who later would send them to concentration camps. One of the most tragic irony in history.

Kafka tried to distance himself with all around him. He was not comfortable with himself, with his physical body, with his family, with his Jewishness, with the Czech nationalists, with the worsening prospect of war, and also with women he tried to get close with. It was clear that psychologically this guy is a fruitcake. He wanted to die, but not by suicide—he wanted to be sentenced to death. This theme appeared from time to time in all his works: how to make one’s self disappear. Gregor Samsa metamorphosed into a giant vermin; a hunger artist (Ein Hungerkünstler—or a fasting artist ini some translation) performed his art of hunger until he died starving; K. was arrested without even being aware on what charges; and Georg Bendemann jumped into the river after he heard his father swore to him “I sentence you now to death by drowning”.

Ultimately, of course, there’s Kafka himself, who ordered his friend and editor, Max Brod, to burn his entire writings, letters and manuscripts after he died. It seemed that Kafka wants to be more dead than dead, leaving no traces whatsoever in the world he left behind. Max Brod disobeyed him, and thanks to him we are now able to enjoy Kafka’s works (though Borges once jokingly said, “If Kafka really wants to burn his works, he would light the fire himself.”).

And now, it seems that Kafka is more alive than alive. Just like the other giants of the world literature, he cannot be categorised. Communist regime of Czechoslovakia found it hard to put him into their “official” literature. Georg Lukács —followed by hardline old school Marxists—said that Kafka is just a “bourgeois decadence”. While others (works like The Landscapes of Alienation: Ideological Subversion in Kafka, Celine, and Onetti and Icons of the Left: Benjamin and Eisenstein, Picasso and Kafka after the Fall of Communism) stated that Kafka’s works reflected clearly the alienation of workers in capitalism (Gregor Samsa is salesman, right?) His name once being discredited but then restored only to be discredited again. But now, in post-communist Prague, Kafka’s face is printed on t-shirts for sale on the streets. The contemporary Kafka scholars are putting efforts to restore his original manuscript (unlike the edited version by Max Brod). For example, his unfinished novel Der Verschollene (titled as Amerika by Brod) actually means “The Man Who Disappeared”. So Kafka, who once stated that “writing is a deeper sleep than death”, is now really alive through his writings—another irony in his life.

Membela Tuhan atau Manusia?

Hening (Silence)
Shūsaku Endō
Judul asli: Chinmoku (1966)
diterjemahkan oleh Tanti Lesmana dari terjemahan Inggris oleh William Johnston
Gramedia Pustaka Utama, 2009  |  308 hlm

heningApakah kasih? Apakah iman? Apakah kesetiaan terhadap iman dan Tuhan itu? Ketika dihadapkan pada pilihan: “Kau harus menyangkal agamamu, kalau tidak ada banyak orang akan mati”, mana yang akan kau pilih: menyangkal agama atau mengorbankan orang lain?

Banyak fanatikus takkan rela menyangkal agamanya, mereka bukan cuma bersedia berkorban mati untuk itu, yang lebih parah: mereka rela mengorbankan orang lain untuk itu. Tapi saya teringat kolom Gus Dur yang membikin marah banyak fanatikus itu: “Tuhan Tidak Perlu Dibela.”

Ya, Tuhan tidak perlu dibela.

Apalagi dalam kasus Romo Rodrigues dalam novel mencekam ini, yang pergi melaksanakan tugas misi ke Jepang pada zaman ketika agama Kristen dilarang dan pengikutnya ditindas dan disiksa untuk menanggalkan keyakinannya. Rodrigues tertangkap, dan bila ia tidak menanggalkan imannya (dengan cara antara lain mengatakan Maria pelacur dan menginjak-injak gambar Yesus), petani-petani miskin Jepang yang kedapatan menganut Kristen akan dibunuh.

Ketika Rodrigues bersikeras mempertahankan imannya, siapa yang sedang dia bela sebenarnya? Kasih yang sesungguhnya, atau keangkuhan dirinya sendiri sebagai pastor, egoisme agamanya, kepongahan Gerejanya yang ingin terus menancapkan pengaruh di Jepang?

Kalau dasar agama adalah cinta kasih, maka dia harus menginjak-injak gambar Yesus demi menyelamatkan petani-petani miskin Jepang itu. Ferreira, pastor tua guru Rodrigues yang juga jauh lebih dulu tertangkap di Jepang mengatakan, “Tapi apakah tindakanmu bisa dianggap tindakan kasih? Andai Kristus ada di sini… Kristus sudah pasti akan menyangkal keyakinannya untuk menolong manusia. Meski itu berarti melepaskan segala sesuatu yang dimilikinya.”

Dengan menyangkal imannya, Rodrigues akan tercampak dari Gereja, dipandang rendah di Portugis, terbuang dan ternista. Tapi memang itulah tujuan beragama: berkorban demi orang lain, bukan mencari kejayaan agama itu sendiri dan diri sendiri.

Buku paling mencekam tentang pergulatan iman yang buat saya langsung merontokkan buku-buku yang ditulis para pengkhotbah dan motivator populer yang hidup nyaman tanpa bersentuhan langsung dengan penderitaan apalagi siksaan.

Panduan Baik, Panduan Buruk

100 Warung Makan Enak di Jogja
Wanda Djatmiko, M. Solahudin
delokomotif, 2007  |  160 hlm

100 Warung Makan Enak di JogjaSewaktu riset sendirian di Yogya pada 2007 lalu, buku ini saya pakai bersama The Food Traveler’s Guide: Jajanan Unik Yogya-Solo di Bawah 10 Ribu (bukune, 2008) karya Dewi Fita dan Mala Aprilia sebagai panduan mencari makan enak.

Wanda Djatmiko orang Yogya tulen, penerbit delokomotif juga penerbit Yogya. Tapi apakah dengan itu buku ini bisa jadi panduan yang memadai tentang wisata kuliner di Yogya? Ternyata tidak! Justru karena ditulis oleh orang Yogya, guidebook ini malah jadi tidak informatif. Contohnya, lihat hlm. 28 tentang Ayam Betutu: “Tepatnya bila anda menjumpai Jalan Palagan Tentara Pelajar dan berada di dekat hotel Hyatt maka ambillah jalan yang kearah utara, tidak jauh kemudian beberapa ratus meter anda berbelok menuju timur dan tak lama kemudian anda akan menemui rumah makan ini.”

Lihatlah pemakaian mata angin sebagai penunjuk arah yang khas Yogya (atau Jawa umumnya). Jelas ini tidak informatif untuk orang yang asing dengan Yogya seperti saya. Mana timur? Mana utara? Dan hal-hal seperti ini berulang kali dijumpai di buku ini (lihat hlm. 39: “anda terus saja menuju ke selatan melewati Selokan Mataram. Saat anda menjumpai pertigaan yang kalau ke arah timur menuju Babarsari, maka dst dst”). Maka saya pun kesasar berkat buku ini.

Si penulis, editor, dan penerbit menganggap paragraf-paragraf di atas baik-baik saja sebab mereka sudah terbiasa dengannya dan tidak sadar bahwa ini bakal bermasalah bagi orang lain, bagi “turis”. Padahal mereka semestinya bisa mendudukkan diri sebagai “turis”. Dalam hal inilah buku ini gagal sebagai guidebook.

Justru dari buku satunya, The Food Traveler’s Guide, yang ditulis oleh dua orang perempuan pelancong dari Jakarta, barulah saya temukan informasi sejelas-jelasnya sebagai sesama pelancong, meskipun daftar tempat makannya tidak sebanyak yang dideret di buku ini. Jadi, singkat cerita, buku ini tidak mungkin saya pakai sebagai pedoman kalau hendak ke Yogya sendirian lagi, kecuali bila dibaca sambil membawa kompas.

Tambahan penting: belakangan saya tahu, tulisan-tulisan di buku ini adalah plagiasi dari artikel-artikel kuliner yang ada di situs TrulyJogja.com. Saya tidak tahu bagaimana kasus ini diselesaikan, tapi bila Anda cari judul buku ini di internet, pada edisi barunya tertulis nama penulisnya bukan lagi “Wanda Djatmiko dan M. Solahudin”, melainkan “Wanda Djatmiko dan Budie Haryanto.” Rupanya sejak dalam kandungan panduan ini memang sudah sesat.