Panduan Baik, Panduan Buruk

100 Warung Makan Enak di Jogja
Wanda Djatmiko, M. Solahudin
delokomotif, 2007  |  160 hlm

100 Warung Makan Enak di JogjaSewaktu riset sendirian di Yogya pada 2007 lalu, buku ini saya pakai bersama The Food Traveler’s Guide: Jajanan Unik Yogya-Solo di Bawah 10 Ribu (bukune, 2008) karya Dewi Fita dan Mala Aprilia sebagai panduan mencari makan enak.

Wanda Djatmiko orang Yogya tulen, penerbit delokomotif juga penerbit Yogya. Tapi apakah dengan itu buku ini bisa jadi panduan yang memadai tentang wisata kuliner di Yogya? Ternyata tidak! Justru karena ditulis oleh orang Yogya, guidebook ini malah jadi tidak informatif. Contohnya, lihat hlm. 28 tentang Ayam Betutu: “Tepatnya bila anda menjumpai Jalan Palagan Tentara Pelajar dan berada di dekat hotel Hyatt maka ambillah jalan yang kearah utara, tidak jauh kemudian beberapa ratus meter anda berbelok menuju timur dan tak lama kemudian anda akan menemui rumah makan ini.”

Lihatlah pemakaian mata angin sebagai penunjuk arah yang khas Yogya (atau Jawa umumnya). Jelas ini tidak informatif untuk orang yang asing dengan Yogya seperti saya. Mana timur? Mana utara? Dan hal-hal seperti ini berulang kali dijumpai di buku ini (lihat hlm. 39: “anda terus saja menuju ke selatan melewati Selokan Mataram. Saat anda menjumpai pertigaan yang kalau ke arah timur menuju Babarsari, maka dst dst”). Maka saya pun kesasar berkat buku ini.

Si penulis, editor, dan penerbit menganggap paragraf-paragraf di atas baik-baik saja sebab mereka sudah terbiasa dengannya dan tidak sadar bahwa ini bakal bermasalah bagi orang lain, bagi “turis”. Padahal mereka semestinya bisa mendudukkan diri sebagai “turis”. Dalam hal inilah buku ini gagal sebagai guidebook.

Justru dari buku satunya, The Food Traveler’s Guide, yang ditulis oleh dua orang perempuan pelancong dari Jakarta, barulah saya temukan informasi sejelas-jelasnya sebagai sesama pelancong, meskipun daftar tempat makannya tidak sebanyak yang dideret di buku ini. Jadi, singkat cerita, buku ini tidak mungkin saya pakai sebagai pedoman kalau hendak ke Yogya sendirian lagi, kecuali bila dibaca sambil membawa kompas.

Tambahan penting: belakangan saya tahu, tulisan-tulisan di buku ini adalah plagiasi dari artikel-artikel kuliner yang ada di situs TrulyJogja.com. Saya tidak tahu bagaimana kasus ini diselesaikan, tapi bila Anda cari judul buku ini di internet, pada edisi barunya tertulis nama penulisnya bukan lagi “Wanda Djatmiko dan M. Solahudin”, melainkan “Wanda Djatmiko dan Budie Haryanto.” Rupanya sejak dalam kandungan panduan ini memang sudah sesat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: