Memilih Jalan Hilang

Nyanyian Mihyar dari Damaskus
Adonis
Judul asli: Aghani Mihyar al-Dimasyqi (1961)
diterjemahkan oleh Ahmad Mulyadi dengan izin khusus Adonis dari edisi dwibahasa Arab-Jerman Ausgëwahlte Gedichte 1958-1965
Pengantar: Goenawan Mohamad
Durakindo Publishing, 2008  |  193 hlm

adonisSaya tahu sedikit dan untuk pertama kalinya tentang Adonis, penyair Arab yang bernama asli Ali Ahmad Sa’id ini bertahun-tahun lalu dari antologi Puisi Arab Modern (Pustaka Jaya, 1983) yang diterjemahkan dan diedit oleh Hartojo Andangdjaja. Ada empat puisi pendek Adonis yang diikutkan dalam antologi tersebut, dan memang terasa paling menonjol di antara sekian banyak penyair Arab lainnya yang masuk dalam buku itu:

DIALOG
Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang.
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan,
Ialah orang-orang nekat dan pemberani,
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan.
Cintaku bunga api persemburan.

Setelah itu saya tak pernah lagi membaca puisinya (maupun puisi Arab lainnya) meskipun nama Adonis semakin tenar dan beberapa kali dimajukan sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra. Baru pada Sabtu, 4 April 2009, saya berkesempatan tahu lebih dalam tentang Adonis lewat paparan sastrawan Damhuri Muhammad pada acara ultah ke-4 Cak Tarno Institute di Gg Sawo, Stasiun UI, Depok. Pada kesempatan itu pula saya mendapat kumpulan puisi Adonis yang baru diterbitkan dan diterjemahkan dengan bagus sekali ini.

Jadi, menurut apa yang saya tangkap dari paparan Damhuri, Adonis menganggap agama bertentangan telak dengan puisi. Munculnya tradisi kenabian di dunia Arab (dengan turunnya Al Quran dan doktrin bahwa tak ada yang lebih indah dari bahasa Quran) telah menafikan kebesaran penyair-penyair Arab zaman “jahiliyah” dan memangkas kemungkinan perkembangan tradisi literer Arab. Proyek intelektual dan puitik Adonis dibaktikan untuk meruntuhkan klaim-klaim ini. Adonis banyak memetik inspirasinya dari penyair-penyair jahiliyah itu.

Bisa kita tebak lantas, tudingan anti-agama, murtad, dan ateis pun banyak dilontarkan pada Adonis. Metafor-metafor tentang “kematian Tuhan”, “Tuhan yang buta”, “mayat seorang Tuhan” memang bertebaran dalam puisi-puisinya (bahkan kumpulan sajak dari hlm 91 s/d 117 di buku ini dinamai “Tuhan yang Sudah Mati”).

Tapi sesungguhnya saat membacanya, tidak bisa tidak saya menangkap kesan religius yang sangat mendalam pada puisi-puisi Adonis. Laiknya Nietzsche, Adonis sepertinya menentang agama formal namun memercayai spiritualitas dalam bentuknya yang lebih asali. Bahkan ia pun mengakui Tuhan sebagai salah satu keterikatannya:

Tapi aku terikat dengan beberapa hal:
Wajahku, kedalamanku, dan Tuhan

Namun demikian, ia tidak butuh “azimat” lain untuk hidup:

Cukup bagiku hidup tanpa azimat
Cukup bagiku melukis kehidupan
dengan kematian, fatamorgana, dan benda-benda

Adonis tak butuh kepastian-kepastian yang ditawarkan agama. Ia sukarela hidup dalam “kebingungan” (kata lain yang sering ia jadikan metafor dalam puisi-puisinya). Ia suka menempuh “jalan yang tak tahu bagaimana harus memulai.”

Bagi Adonis sepertinya, justru dalam kebingungan, dalam hilang, dalam ketidakpastian, kita bisa menjumpai Tuhan, sebab “yang lain adalah topeng.”

Hilang, hilang…

Hilang menyelamatkan kita
Hilang menuntun langkah-langkah kita
Hilang adalah cerlang
Yang lain adalah topeng.

Hilang menyatukan kita dengan yang bukan diri kita
Hilang menyematkan wajah lautan dalam mimpi kita
Hilang adalah sebuah penantian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: