Cita-cita: Berkelana

Nathalie
Sergio Salma
#1 Perjalanan Pertamaku Keliling Dunia. Judul asli: Mon Premier Tour du Monde (1995). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#2 Halo, Seisi Dunia. Judul asli: Salut Tout Le Monde (1993). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#3 Juara Dunia. Judul asli: Championne du Monde (1994). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#4 Dunia Ini Kecil! Judul asli: Le Monde est Petit! (1994). Penerjemah: Oky Rachmawati
#5 Dunia Ini Sinting! Judul asli: Y’a Un Monde Fou! (1995). Penerjemah: Dyah M. Kusnadi
Gramedia Pustaka Utama, 2010  |  48 hlm masing-masing buku

nathalieMenarik membandingkan Nathalie dengan Mafalda sebagai sesama komik yang bertokohutamakan “gadis cilik”. Buat sebagian orang keduanya mungkin “tidak alamiah” atau “terlalu dewasa untuk anak-anak.” Apabila Mafalda fasih betul dengan politik (tahu tentang PBB, Bank Dunia, dan IMF), Nathalie fasih betul dengan geografi (tahu jumlah pulau di Jepang, ibukota Burkina Faso dsb). Tapi bukan itu intinya. Nathalie dan Mafalda bagaimanapun adalah “representasi” dari kondisi sosial tempatnya dicipta serta bagaimana kanak-kanak “dikonstruksi” atau dicita-citakan dalam konteks sosialnya itu.

Mafalda berasal dari Argentina zaman kediktatoran militer, sementara Nathalie dari Perancis yang demokratis. Seperti yang pernah saya ulas cukup panjang di Kompas, Mafalda bagaimanapun adalah alat kritik terhadap kekuasaan, mewakili kelas menengah tertindas di Argentina pada zaman kediktatoran militer Jenderal Videla. Digambarkan bagaimana Mafalda tinggal di apartemen sederhana 1 lantai, dan orang tuanya tiap hari bergelut dengan kesulitan perekonomian. Nathalie sebaliknya. Flatnya bertingkat dan cukup mewah dengan segala kelengkapan hidup kontemporer, dan (hampir) tiap hari ia minum Coca Cola. Wine dan sampanye juga bertebaran di flatnya khas orang Perancis. Ayahnya suka main puzzle dan ibunya suka depresi ga jelas dan minum Prozac 🙂

Maka pandangan anak Dunia Ketiga dan Dunia Pertama ini pun berbeda. Bila Mafalda lebih banyak menyoroti masalah dalam negeri dan pembangunan negara miskin, Nathalie sudah melewati semua itu. Cita-citanya justru lari dari Perancis dan berkelana ke negeri-negeri eksotik yang menantang. Cita-cita jadi pelancong inilah yang mengisi kehidupan Nathalie dan menjadi sumber kekacauannya sehari-hari. Tapi anak-anak toh tetap anak-anak. Saat ia “dibuang” ke rumah kakek-neneknya di pedesaan agar orang tuanya bisa hidup tenang barang sejenak, yang dirasakan Nathalie bukan tantangan malah kebosanan. Dan diam-diam pun ia naik bisa kembali ke kota untuk bisa makan fastfood.

Saya rasa, dibanding Mafalda, seri komik Nathalie ini terasa jadi lebih menghibur, kelucuan-kelucuannya murni untuk lelucon tanpa perlu renungan yang terlalu berbelit-belit dan politically correct. Dan lanjutannya pun masih panjang, lebih dari lima seri yang ditampilkan di ulasan ini, mungkin sampai Nathalie pada akhirnya benar-benar bisa keluar dari hiruk pikuk Paris.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: