Perjalanan Rendra

Sadjak-sadjak Sepatu Tua
W.S. Rendra
Pustaka Jaya, 1972  |  88 hlm

sepatuAndai diserahkan kepada desainer amatiran, mungkin buku ini akan secara harafiah bergambar sampul “sepatu tua” sungguhan sesuai judulnya. Atau kalau desainernya agak “nyeni,” ia akan memakai lukisan sepatu tuanya Van Gogh. Tapi karena digarap oleh pelukis kenamaan kita, alm. Zaini, sampul buku ini menjadi nilai tersendiri buat saya. Lihatlah, semacam gambaran pemandangan (ada citra awan, gunung, dan sungai mungkin?) yang seakan-akan terbentuk dari kaligrafi (aksara Arab, Jawa, atau apa?). Ilustrasi ini menggambarkan dengan tepat kumpulan puisi ini. Alam adalah teks buat Rendra, atau tepatnya, alam adalah kenyataan yang harus dicerap dan dituangkannya kembali dalam bentuk teks.

Buku yang berisi dua kumpulan ini, yakni “Sajak-sajak Sepatu Tua” dan “Masur Mawar,” memang berisi gambaran Rendra akan apa yang diamatinya selama perjalanan-perjalanannya di luar negeri maupun di Indonesia. Kumpulan “Sajak-sajak Sepatu Tua” adalah perjalanan fisik, sementara pada “Masmur Mawar” kita dapati semacam perjalanan spiritual.

Bagian pertama “Sajak-sajak Sepatu Tua” adalah cerita lawatannya keluar negeri (khususnya negara-negara komunis masa itu, seperti Cina, Korea Utara, Soviet, serta Hongkong yang bukan komunis), dan saya menangkap ketidakbetahan Rendra di sana. Banyak tentunya yang bisa diamati dan ditulis dari negeri asing —bahkan ada anekdot penulis kita baru bisa menulis bagus kalau tinggal di luar negeri atau diasingkan secara politik—tapi di bagian pertama ini yang kita dapati justru keseragaman dan bukan variasi suasana. Kekosongan, kemuraman, kesendirian begitu menghimpit, yang kemungkinan merupakan gambaran kemuraman batin Rendra sendiri yang lantas diproyeksikannya pada kemuraman hidup di bawah rezim komunis.

Di bagian kedua, perjalanan-perjalanan di Indonesia, Rendra nampak lebih variatif, mungkin karena jiwanya memang lebih berpijak di negeri sendiri. Ada yang nostalgik, ada yang sinis, ada yang romantis, atau semata-mata deskriptif. Masing-masing tempat punya kesannya sendiri yang berbeda-beda pada diri penyair ini.

Kumpulan ini mungkin bukan kumpulan terbaik dari Rendra, tapi buat saya penting karena ini adalah “masa antara” dari puisi-puisi lirisnya dari masa sebelumnya menuju yang benar-benar penuh kritik sosial (“pamflet”) pada masa-masa berikutnya.

Ada petikan yang paling mengesankan buat saya dalam buku ini:

Yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan-tangan telah dikepalkan
biarpun kecapaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: