Kontribusi PKI dalam Ilmu Sosial di Indonesia

Social Science and Power in Indonesia
Vedi R. Hadiz & Daniel Dhakidae (eds.)
Equinox Publishing, 2004  |  304 hlm


socialpowerIni kumpulan tulisan yang sangat penting dan menarik yang saya yakin masih akan terus dibaca oleh para pengkaji Indonesia sampai belasan tahun ke depan. Di antara semua tulisan yang ada, tulisan Ben White “Between Apologia and Critical Discourse: Agrarian Transitions and Scholarly Engagement in Indonesia,” yang menurut saya paling dahsyat karena menguak banyak hal yang selama ini dikaburkan. White menjelaskan bagaimana studi agraria di Indonesia yang obyektif dirintis pertama kali oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI-lah yang bisa dibilang menyusun metode riset partisipatif pertama dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, bahkan sebelum riset partisipatif atau riset aksi menjadi tren di dunia ilmu sosial Barat. D.N. Aidit —yang namanya disebut pun “haram” semasa Orde Baru—adalah perumus aturan-aturan riset lapangan ini, sehingga lahirlah diktum-diktum orisinil seperti “tiga jangan” (misalnya: jangan menginap di rumah orang-orang yang menduduki jabatan struktural di desa, jangan mencatat di depan petani/orang desa, karena itu akan membuat mereka takut bercerita dsb)

Hasilnya adalah laporan babon yang tiada duanya hasil dari penerjunan ribuan mahasiswa serta kader-kader PKI ke daerah-daerah. Dari situlah konsep “Tujuh Setan Desa” dirumuskan. Meskipun terdengar agitatif dan provokatif, tujuh setan desa sebenarnya bertolak dari suatu upaya riset obyektif skala besar tentang kemiskinan di pedesaan Indonesia, yang belum pernah lagi dibuat padanannya sesudahnya.

Upaya PKI ini memukau mahasiswa dan anak-anak muda waktu itu salah satunya karena kehidupan akademis sendiri di tahun-tahun itu sedang diintervensi oleh AS yang berusaha memandulkannya atau menghambat penyebaran ideologi komunis. Salah satu contohnya adalah soal buku-buku referensi. Ben White menelisik bagaimana pengadaan buku-buku ilmu sosial di Indonesia dikebiri oleh AS. Permintaan bantuan buku-buku ilmu sosial dan studi pertanian-pedesaan yang diajukan oleh Fakultas Pertanian UI (kini IPB) serta UGM diseleksi terlebih dulu oleh sebuah badan di AS (saya lupa nama pasti badan ini, tapi yang jelas ia berada di bawah Rockefeller dan diselia oleh CIA). Buku-buku kritis dicoret dari daftar dan yang dikirim ke Indonesia hanyalah buku-buku tentang manajemen pertanian a la AS. (Bak seorang detektif, Ben White sampai menelusuri surat permohonan bantuan itu, surat penerimaan barang/buku, sampai kartu-kartu perpustakaan masa itu). Jadi bisa dilihat, dalam konteks Perang Dingin saat itu, membesarnya pengaruh PKI di kalangan intelektual dan akademisi justru diakibatkan oleh kebijakan AS sendiri.

Ben White juga mencatat ironi-ironinya. Riset obyektif PKI itulah yang justru sebenarnya dipakai sebagai patokan kebijakan pembangunan pedesaan pada masa-masa awal Orde Baru, meski pemerintah Orba tidak mau mengakuinya, dan laporan babon itu pun segera terlupakan (sengaja dilupakan?) dalam kehidupan akademis. Ironisnya lagi, justru metode riset partisipatoris yang dirintis PKI itulah kini yang banyak dipakai sebagai metode riset lapangan badan-badan kapitalis seperti Bank Dunia.

Kita tidak bisa menyangkal bahwa ilmu sosial di Indonesia pernah sangat maju dan bergairah akibat sumbangsih kelompok kiri. Saat kelompok ini dimatikan, ilmu sosial bukan cuma kehilangan pelakunya yang militan, namun juga intelektual-intelektual kanan kehilangan lawan tanding yang sepadan untuk mengasah keyakinan-keyakinannya. Imbasnya pun terasa hingga sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: