Yang Gila Tidak Mendapatkan Rasa Protes

Stiker Kota
Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan, Mirwan Andan
ruangrupa, 2008  |  300 hlm


stikerPernah liat stiker-stiker yang sering bikin ketawa ini? Warning!! Muka Punk Hati Pink
atau: Testing! Satu Tetes Bikin Bunting
atau: Chewe Gueparah bergambar cewek jelek dalam pose terkenal Che Guevara

Inilah yang dimaksud dengan “stiker kota” (kadang disebut juga “stiker angkot”), sebuah fenomena budaya yang sangat urban namun belum banyak dikaji sebagai bagian dari kebudayaan massa. Kalaupun dikaji, fenomena ini sering dibilang sebagai “estetika marjinal” seperti halnya lukisan-lukisan di Taman Suropati atau Pasar Baru, meskipun pada kenyataannya justru yang disebut “marjinal” inilah estetika yang bisa diterima dan dimengerti oleh mayoritas masyarakat.

Pada 2000, sebagai salah satu proyek pertamanya, inisiatif seni Ruangrupa memulai penelitian tentang ini dan saya yang waktu itu masih aktif di sana sempat menuliskan sedikit “pemikiran” soal ini, yang dimuat dalam jurnal Karbon edisi 2 tahun 2001.

Rupanya, kawan-kawan di Ruangrupa masih melanjutkan proses riset dan dokumentasi tersebut selama bertahun-tahun kemudian dan membawanya selangkah lebih jauh dengan meneliti proses produksi dan basis material kebudayaan massa ini.

Penelitian Ruangrupa membawa mereka ke sebuah desa di Malang bernama Pakisaji. Di sinilah sebuah perusahaan kecil bernama AMP memproduksi “stiker-stiker kota” ini dan menyebarkannya sampai ke Surabaya, Bandung, Jakarta. Dari sini hubungan itu berjalan pelik: bagaimana mungkin apa yang disebut “stiker kota” itu ternyata diproduksi di desa? Kita mungkin bisa melihat unsur ndeso dari “kenorakannya”, tapi bagaimana caranya produsen di desa mencerap tren di kota lalu memantulkannya balik ke kota untuk dikonsumsi, di mana kota itu sendiri kebanyakan kini berisi masyarakat perantauan dari desa? Dalam stiker-stiker ini akhirnya termaktub perkara tentang imajinasi atas kota, identitas manusia urban, dan perubahan kultur secara umum.

Tak semua pertanyaan-pertanyaan asyik itu terjawab di buku ini memang. Buku ini lebih merupakan upaya dokumentasi atas suatu fenomena yang terus berubah. Dari sekitar 300 halaman buku, paparan tekstual di dalamnya hanya sekitar 30an halaman dalam bahasa Indonesia dan 30 halaman lagi dalam terjemahan Inggris. Sisanya adalah dokumentasi stiker. Kurang lebih ada 2.400 repro stiker di buku ini! Dan itu belum separuhnya dari arsip yang sudah terkumpul di Ruangrupa sendiri yang mencapai lebih dari 5.000 stiker.

chegwparahMembaca satu-satu stiker di sini bisa jadi hiburan tersendiri. Beberapa sungguh tidak jelas maksudnya. Misalnya, stiker yang sering dipasang di angkot omprengan ini (hlm. 145) “Anda Perlu Waktu, Kami Perlu Uang” ternyata diplesetkan atau dibalik kalimatnya menjadi begini: “Anda Perlu Uang, Kami Perlu Waktu.” Coba, adakah yang bisa menjelaskan apa maksudnya? Apakah ini disengaja atau sebuah kesalahan tak sengaja? Sebagai barang produksi massal, salah atau tidak salah, stiker ini tetap harus dijual. Adakah yang beli? Siapa dan untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh menggelitik saya.

Tapi, yang paling top (baca: paling absurd) adalah stiker di hlm. 155, bunyinya: “Yang Gila Tidak Mendapatkan Rasa Protes”. (Hahaha… maksud lo??!!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: