“Imagined Communities,” Setelah 25 Tahun

Imagined Communities (New Edition)
Benedict Anderson
Verso, 2008 [terbit pertama 1983]  |  240 hlm

imaginedAcademic Library Book Review menyanjung Imagined Communities sebagai “This is a book to be owned, read, re-read and treasured.” Jadi tak salah dong kalau saya punya buku ini dalam tiga edisi, dan untuk masing-masingnya saya punya catatan-catatan. Tulisan kali ini hanya mengenai edisi terbaru tahun 2008 ini saja.

Untuk edisi ini, Ben Anderson —saya memanggilnya “Om Ben”—menambahkan bab penutup berjudul “Travel and Traffic” yang mengisahkan dengan analitis (namun juga nostalgis) bagaimana Imagined Communities dipersepsi oleh para pengamat di seluruh dunia dalam konteks “nasional”-nya masing-masing. Lalu bagaimana pengaruhnya meluas sampai menimbulkan bidang-bidang studi baru dalam ilmu sosial. Serta bagaimana terjemahannya dalam tiap-tiap bahasa punya konteks nasional yang menarik.

Di Israel, misalnya, buku ini diterjemahkan oleh Open University of Israel untuk menentang ortodoksi politik Zionis dan dipengantari oleh ilmuwan Palestina. Di Yugoslavia era 1990an, buku ini terbit —menurut penerjemahnya, Silva Meznaric—untuk “fighting the rising tide of Croatian and Serbian jingoism and mythomania”, artinya untuk mempertahankan Yugoslavia dari pertumpahan darah perang etnis. Sementara terjemahan Yunaninya terbit justru untuk proyek berbeda: “menggugat ideologi tentang bangsa Yunani yang sudah berumur tiga ribu tahun.”

Tentu tak lupa Om Ben menuliskan rasa kesalnya yang tak habis-habis mengenai edisi Indonesianya yang diterjemahkan secara serampangan. Ini ironi luar biasa baginya, bagaimana karya yang sebagiannya diinspirasi dari studi dan kecintaannya pada Indonesia justru terbit dengan berantakan di Indonesia sendiri. Di Jepang, tentu saja buku ini digarap oleh murid kesayangannya, Takashi Shiraishi. Di Taiwan, Imagined Communities digarap oleh Wu Rwei-ren, tokoh muda nasionalis Taiwan namun penentang kediktatoran Kuomintang. Di Thailand terjemahannya juga digarap oleh cendekiawan-cendekiawan kritis mantan murid-murid Om Ben sendiri, dan uniknya, untuk bagian-bagian yang mengulas perihal monarki (bukan cuma monarki Thailand, tapi seluruh dunia), dipakai kosakata dan tata bahasa feodal Thai, semacam kromo inggil di Jawa.

Dua puluh tahun lebih perjalanan Imagined Communities dan dampaknya di seluruh dunia telah membawa Om Ben pada simpulan bahwa “IC is not my book anymore.”

Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa ngenes (terharu) membaca kalimat itu, sampai-sampai saya kasih tahu perasaan saya ke Om Ben. Dan begini balasannya:

“Dear Ronny, … Nggak usah ngenes. Setiap bokap harus menghadapi nasipnja, jaitu pada salah satu hari, anak2nja akan terbang ke langit (bukannja firdaus) dengan merdeka, seperti setiap guru harus gembira kalau muridnja bisa terbang bebas … Imagined sudah dewasa lho, berumur 25 tahun. Nggak apa2 kalo doi kawin lari dengan siapa sadja, asal djangan germo.”

Lalu dengan melankolis Om Ben bercerita tentang burung-burung perkutut di pepohonan luar apartemennya, yang malah membikin saya tambah ngenes

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: