Kampungan: Eksperimentasi Penerbitan Komik Indonesia

Kumpulan Cergam Kampungan No. 1: Romansa
Arif Yuntoro, Aji Prasetyo, Beng Rahadian, Pamudji MS, Aprilia Sari, Jon Kobet, Papillon Studio, Hans Jaladara
Gajah Jambon, 2010  |  120 hlm

kampunganPanji Tengkorak muncul lagi. Kita tahu siapa dia dulu: pendekar compang camping yang ke mana-mana menyeret peti mati berisi jasad Mesia, istri yang tak dicintainya. Namun kali ini ia sudah ubanan, dan menjauh dari gegap gempita dunia. Sebuah kejadian mengorek cinta lamanya dengan Mariani, perempuan yang sebenar-benarnya dicintainya.

Seno Gumira Ajidarma menyebut Panji Tengkorak bukanlah komik silat, melainkan drama cinta yang tragis. Ia benar, apalagi kalau ia sempat membaca karya terbaru Hans Jaladara yang saya nukil di atas dalam Kumpulan Cergam Kampungan ini. Hans sang maestro tetap menunjukkan kepiawaiannya bercerita di sini, kendati banyak orang —termasuk saya—agak menyesalkan gaya gambarnya yang kian menjurus ke manga sejak Panji Tengkorak sempat diambil alih penerbitannya oleh Elex Media.

Diluncurkan pada Hari Valentine 14 Februari 2010, nomor perdana Kumpulan Cergam Kampungan ini dengan pas mengambil tema “Romansa”. Kumpulan Cergam Kampungan ini adalah sebuah eksperimentasi penerbitan yang menarik, yang semoga bisa panjang umur demi memajukan komik Indonesia. Tiap nomor direncanakan berisi komik-komik pendek dari para komikus Indonesia yang sangat beragam. Untuk edisi ini misalnya, ada yang dari Riau, Ambarawa, Semarang; ada pula yang senior sekali seperti Hans Jaladara, ada yang sudah terkenal seperti Beng Rahadian, dan ada yang masih bisa disebut pemula (atau paling tidak saya baru sekali ini mendengarnya).

Tema umum “romansa” digarap tentunya dengan kekhasan masing-masing komikus. Beberapa memakai latar suatu kejadian sejarah, misalnya: “Melati Revolusi” karya Arif Yuntoro dan Pamuji MS yang berlatar kedatangan Sekutu ke Surabaya akhir Oktober 1945 dan penggranatan mobil Jenderal Mallaby. Sementara “Kidung Malam” karya Aji Prasetyo memakai salah satu laskar Pangeran Diponegoro sebagai latar ceritanya.

Komikus lain menggarap tema cinta ini dengan lebih personal, seperti “Resonansi Hati” karya Studio Papillon, Semarang, atau karya Jon Kobet yang sangat khas Riau (meskipun catatan khusus harus diberikan pada karya Jon Kobet ini: banyaknya catatan kaki untuk memperjelas istilah-istilah lokal terasa sangat mengganggu).

Eksperimentasi menarik yang dihadirkan oleh Kampungan ini semoga bisa terus bertahan dan disukai baik oleh pembaca maupun komikus sendiri, sebab seperti dibilang Hasmi dalam film dokumenter Tjerita Bergambar karya Partogi Ringo (2009) yang ikut diputar saat peluncuran, kemunduran komik Indonesia salah satunya disebabkan oleh komikus-komikusnya sendiri: “Ketika menggeluti komik, banyak seniman komik ini lupa mereka tidak lagi di dunia seni [baca: yang seenak-enaknya], melainkan masuk ke dunia industri.” Dan industri penerbitan butuh perencanaan serta konsistensi yang jelas bila ingin terus eksis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: