Membongkar Pembelaan Industri Rokok

Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat
Wanda Hamilton
diterjemahkan oleh Sigit Djatmiko
Epilog: Gabriel Mahal
INSISTPress dan Spasimedia, 2010  |  137 hlm

nikotinDi tengah maraknya kampanye pelarangan merokok serta penentangan terhadap pelarangan tersebut, studi Wanda Hamilton ini diterbitkan oleh INSIST Press. Klaimnya cukup kontroversial, dan sebagaimana bisa ditebak, dimaksudkan untuk memberi amunisi bagi kubu penentang.

Hamilton mengklaim bahwa aksi global pemberantasan rokok sebenarnya didalangi oleh industri farmasi yang ingin memasarkan obat-obatan NRT (nicotine replacement therapy). Fakta-fakta tentang bahaya rokok terhadap kesehatan terlampau dilebih-lebihkan bahkan dipelintir demi kepentingan bisnis dan ekonomi-politik.

Saat buku ini diluncurkan dan didiskusikan di UI pada 8 Juni 2010, beberapa peserta diskusi mengkhawatirkan bahwa buku ini bisa jadi pembenaran untuk terus merokok. Itu suatu kekhawatiran yang pantas. Tapi bukan klaim itu sebenarnya yang paling mengejutkan saya. Tapi lebih karena INSIST Press-lah penerbit buku ini. INSIST Press adalah salah satu penerbit yang sangat saya hormati karena konsisten menerbitkan kajian-kajian kritis tentang isu-isu ekonomi-politik dan sosial-budaya, terutama kritik terhadap neoliberalisme. Dan salah satu pembicara diskusi adalah ekonom UGM Revrisond Baswir yang juga dikenal lantang bersuara menentang neoliberalisme. Dan justru di sinilah poin keheranan saya: Sadarkah INSIST (atau Pak Soni) di mana posisi ideologis Wanda Hamilton sebenarnya?

Orang boleh saja berpendapat —sambil mengutip kalimat Roland Barthes yang banyak disalahartikan itu—bahwa “pengarang sudah mati” dan sebuah buku harus dibaca lepas dari latar belakang si pengarang. Namun dalam hal ini saya rasa tidak mungkin. Kita perlu tahu latar belakang Hamilton untuk tahu posisi buku ini sebenarnya. Biodata ringkas Hamilton di buku ini menyebutkan bahwa dia adalah peneliti independen dan salah satu aktivis yang tergabung dalam LSM bernama Forces. Namun penerbit tidak menjelaskan lebih lanjut apa itu Forces. Penelisikan lebih lanjut terhadap Forces menunjukkan dengan jelas arah neoliberal LSM ini. Forces International (sesuai singkatan namanya “Fight Ordinances and Restrictions to Control and Eliminate Smoking”) mengadvokasikan kebebasan individu dalam memilih gaya hidupnya (antara lain makan, minum, merokok) tanpa dibatasi oleh aturan-aturan negara terhadap dampak sosial pilihan gaya hidup tsb. Dari sini jelas warna neoliberal LSM ini yang mementingkan kebebasan pribadi dan antinegara.

Apalagi bila kita cermati satu per satu intelektual yang ada di belakang layar Forces International yang punya cabang di beberapa negara ini (lihat daftar Honour Committee mereka. Pierre Lemieux (Quebec-Kanada) dan Pascal Salin (Perancis) adalah ekonom-ekonom pasar bebas ekstrem anticampur tangan negara. Terutama Pascal Salin, yang adalah presiden Société du Mont Pèlerin untuk periode 1994-1996! Kita tahu betul organisasi macam apa Mont Pèlerin Society itu: think tank bentukan Hayek dkk untuk menggodok dan menggencarkan ide neoliberal ke mana-mana. Silakan membaca buku Pascal Salin, Revenir au capitalisme: pour éviter les crises (2010) untuk tahu warna pemikiran ekonominya. Di situ ia nyatakan dengan jelas, sebagaimana terungkap dari judulnya, bahwa untuk menghindari krisis kita harus kembali ke kapitalisme pasar bebas murni!

Ekonom lainnya di Forces adalah Lew Rockwell, pendiri dan ketua Ludwig von Mises Institute. Antara von Mises Institute dan Mont Pèlerin Society ya sebelas dua belas alias beda-beda tipis.

Intelektual lainnya, Feltri Vittorio dari Italia bekerja di Il Giornale, harian sayap kanan milik Berlusconi. Sementara Giordano Bruno Guerri adalah sejarawan kanan Italia penulis Fascisti – Gli italiani di Mussolini: il regime degli italiani yang menyebut bahwa kultus terhadap tanah air dan tradisi adalah ciri-ciri utama fasisme yang harus ditumbuhkan kembali pada zaman sekarang.

Yang paling jelas adalah kolumnis Forces asal Kanada John Luik, yang jelas-jelas dibiayai industri rokok untuk menulis pembelaannya terhadap nikotin. Pada pertengahan 1990an pemerintah Kanada sempat berencana mengeluarkan aturan agar kemasan rokok dibuat polos. Tujuannya adalah agar mengurangi daya tarik kemasan itu dan agar peringatan di kemasan itu tampak lebih menonjol. Beberapa perusahaan rokok, antara lain PT BAT, Philip Morris, Imperial Tobacco, Rothmans, bergandengan tangan untuk menentang aturan ini dan meminta John Luik menulis buku tentang itu.

Buku Luik terbit pada 1998, judulnya Plain Packaging and the Marketing of Cigarettes (Admap Publications). Ia menulis bahwa kemasan polos akan menimbulkan banyak masalah seperti penyelundupan dan mengancam nilai-nilai masyarakat demokratis! (halooooo…??)

Seperti tertera di situsnya, Forces International didirikan dengan memakai UU Commonwealth of Virginia. Namun tidak disebutkan di situ bahwa Virginia adalah daerah produsen utama tembakau AS selama 3 abad!

Dengan ini jelas bahwa lembaga Hamilton dan kajian yang dihasilkannya sama sekali tidak independen, dan sama-sama ditumpangi kepentingan industri. Sehingga dengan ini klaim-klaim yang ada di buku ini bisa kembali dipertanyakan juga. Saya khawatir INSIST Press menjadi berkecenderungan menentang apapun yang berbau “negara” tanpa melihat kecenderungan-kecenderungan ideologis di balik itu.

Untuk konteks Indonesia, Gabriel Mahal menulis “Agenda Anti Tembakau: Untuk Kepentingan Siapa?” yang dipasang sebagai Epilog buku ini. Di situ Mahal menuliskan bahayanya agenda anti rokok ini: “bahwa 6 juta rakyat Indonesia bergantung pada industri ini; bahwa industri tembakau adalah salah satu penyumbang terbesar APBN dll dll.” Retorika-retorika ini selalu dipakai oleh industri rokok sebagai jurus pertahanan setiap kali industri mereka diusik oleh pengetatan aturan pemerintah.

Dampak agenda ini terhadap perekonomian nasional memang perlu dicermati, dan nasib industri tembakau serta tenaga kerjanya harus kita pikirkan. Tapi retorika-retorika Mahal terlampau menggampangkan situasi dan menutupi fakta-fakta empiris bahwa industri rokok kita adalah contoh dari segala kemudaratan kapitalisme. Dua fakta kecil misalnya saja:
– 98,18% saham PT HM Sampoerna Tbk saat ini dimiliki oleh Philip Morris.
– Robert Budi dan Michael Hartono, masing-masing pemilik 51% dan 49% saham Djarum, termasuk dalam daftar orang-orang terkaya di Indonesia.

Retorika soal “rakyat”, “buruh tembakau”, “kepentingan nasional” dengan ini menjadi janggal karena kapital yang terakumulasi dari industri rokok Indonesia –seperti industri-industri besar lainnya—hanya dinikmati oleh yang segelintir (atau bahkan perseorangan dalam kasus Djarum) atau dinikmati oleh perusahaan asing (dalam kasus Sampoerna). Atau jangan-jangan Gabriel Mahal memang penganut trickle down economics yang percaya bahwa rakyat akan sejahtera oleh kemakmuran yang menetes dari para pemilik industri besar di atasnya. Dan dengan demikian semakin kuat menunjukkan warna neoliberal dari penerbitan buku ini.

vhrMari kita periksa benarkah klaim-klaim yang diajukan oleh industri rokok ini. Untuk itu saya akan beralih ke buku lainnya yang disunting Angga Haksoro Ardhi dan merupakan kompilasi tulisan-tulisan yang pernah dilansir di situs Voice of Human Rights, Di Mana Negara: Kumpulan Kisah VHRMedia (2011). Artikel “Nasib Sang Pelinting” (hlm. 53-65) dengan lengkap memberi tambahan data bagi kritik saya untuk buku Nicotine War di atas. Bahasannya jelas: bila cukai rokok naik atau iklan rokok dilarang atau kampanye antitembakau digalakkan, industri rokok selalu berkoar-koar bahwa itu akan mematikan jutaan rakyat Indonesia yang bergantung pada industri ini, bahwa pemerintah tidak pro wong cilik dlsb dlsb. Padahal, hak-hak buruh di industri ini nyaris tak dipenuhi oleh tauke-tauke rokok itu sendiri. Bentoel misalnya, dalam laporan keuangannya tahun 2007, menyebut dengan jelas bahwa biaya promosi yang dikeluarkannya adalah sebesar Rp 256,265 miliar, sementara untuk upah buruh hanya Rp 105,804 miliar. Selain itu, ada data menarik dari Lembaga Demografi UI, jumlah pekerja industri rokok pada 2004 hanya 0,3 dari seluruh tenaga kerja, sementara industri ini sendiri cuma bertengger di urutan 48 dari 66 industri penyerap lapangan kerja. Jadi, dampaknya ke PHK, kemiskinan, dll tidak sesignifikan dalih-dalih yang selalu dijadikan tameng oleh industri ini. Jadi, buat saya, industri rokok nasional hanya bisa didukung bila buruh-buruh industri ini sendirilah yang memegang porsi saham terbesarnya, bukan para cukong yang makin kaya dengan membebankan eksternalitas industrinya pada masyarakat banyak.

Advertisements

2 thoughts on “Membongkar Pembelaan Industri Rokok

  1. […] Membongkar Pembelaan Industri Rokok. titiktiga.wordpress.com. […]

  2. […] Membongkar Pembelaan Industri Rokok | titiktiga.wordpress.com. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: