Seorang Kawan, Sepilihan Puisi

Hantu, Api, Butiran Abu: Sepilihan Puisi
Dwi Pranoto
Gress Publishing, 2011  |  74 hlm

dwipranBisakah saya menulis objektif tentang buku ini? Dwi Pranoto dan puisi-puisinya terlampau lekat dalam ingatan, percakapan-percakapan kami kadang masih terngiang di telinga—ia salah satu dari beberapa teman dekat di masa belasan tahun lalu yang menghajar dan membuka mata saya akan kekayaan bahasa.

Betapa cepat waktu berlalu… saya takkan lupa, ia bacakan puisinya di TIM pada 1997. Saya takkan lupa, kami biasa duduk-duduk mengobrol di Taman Fatahilah sampai malam tiba, menunggu kereta terakhir kembali ke Cikini, kami jelajahi jalanan Jakarta, duduk di kafe kosong Jalan Jaksa, memutar Tom Waits keras-keras dengan bir di meja. Kami percakapkan sastra, puisi, teater, apa saja. Sejak di Banyuwangi, kota kelahirannya, ia sudah membikin berkala sastra yang ia namai Lokomotif, isinya sedikit puisinya serta terjemahan-terjemahannya atas cerpen-cerpen Virginia Woolf dan Franz Kafka. Saya baca Kafka pertama kali dari mata Dwi, terjemahannya atas “Dokter Desa” telah terbit di Lampung Post. Saya merasa dia agak terobsesi dengan Kafka. Ia tak suka Borges, dan menertawakan kegemaran saya akan Borges.

Lalu tampaknya ia merasa jenuh di Jakarta, setelah delapan tahun menjajal kota ini. Suatu hari ia datang ke kos saat saya tak ada, meninggalkan sepucuk surat perpisahan yang masih saya simpan sampai sekarang… Kabarnya tak terdengar lagi, konon ia tinggalkan kertas-kertas puisinya di halte-halte sepanjang Cikini. Sampai bertahun kemudian kami berhubungan lagi. Banyak hal telah berubah. Saya telah menikah dan punya anak. Ia telah menikah dan punya anak. Banyak hal juga tak berubah. Saya tetap menulis. Ia tetap menulis, banyak. Berkala sastranya kini ia beri nama Lepasparagraf, dan dikelolanya dari Jember. Masih ada terjemahan Kafka di dalamnya. Lalu ada naskah drama yang ditulisnya (saat di Jakarta ia memang lama bergulat di teater). Beberapa kali kami sempat bersua sesaat, di Surabaya saat saya ada tugas ke Jawa Timur, lalu ia sempatkan datang ke rumah saya, sementara janji saya untuk ke Jember belum juga bisa saya tepati.

Lalu suatu hari pada 2011 ia mengirimi dummy buku puisinya untuk meminta endorsement. Mengumpulkan dan menerbitkan puisinya adalah sesuatu yang sudah kami, teman-temannya, dorong sejak dulu. Baru pada 2011 ia mau melakukannya. Ingin saya menjawabnya klise, “Puisi-puisimu tak butuh endorsement, kawan. Biarkan mereka bicara sendiri.” Tapi bisakah? Kalaupun bisa saya tak ingin menjawab demikian. Membaca kumpulan puisinya adalah membaca apa yang pernah berdampak besar pada hidup dan pemikiran saya. Saya ingin menjadi bagian buku ini seperti sebagian buku ini pernah menjadi bagian dari saya.

“Maka petualangan telah ditentukan menuju ke dalam,
berpusar dalam taman bacaan, mengelilingi seberkas nama
yang bersemayam di jantung cahaya.”
 (hlm. 17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: