Mengurai Larangan Poligami dengan Penalaran Ekonomi

The Economic Naturalist: Why Economics Explains Almost Everything
Robert H. Frank
Basic Books, 2008  |  241 hlm

econfrankSelama bertahun-tahun, dalam kuliah yang diajarkannya, ekonom Robert Frank menugaskan mahasiswa-mahasiswinya mencari fenomena keseharian yang mengusik rasa penasaran mereka lalu menjawabnya sendiri melalui penalaran ekonomi dalam sebuah esai yang tidak lebih dari 500 kata panjangnya. Bagi Frank, penalaran ekonomi adalah soal logika, dan untuk bisa jadi ekonom yang baik orang tidak butuh teori rumit-rumit. Ia dorong murid-muridnya untuk menulis sejernih mungkin tanpa memakai rumus, persamaan, dsb.

Tugas kuliah itulah yang dikumpulkan di buku ini beserta jawaban para mahasiswanya, yang kadang diubah oleh Frank bila dirasa kurang tepat atau kurang simpel penjelasannya. Pertanyaan serta jawabannya sungguh-sungguh unik dan mengusik rasa ingin tahu serta nalar, meski tidak semua simpulannya bisa saya iyakan. Frank sendiri mengakui bahwa ini hanya salah satu cara memberi penjelasan rasional terhadap fenomena hidup sehari-hari yang tampak irasional. Penjelasan ekonomi ini mungkin tidak selalu tepat, dan dibutuhkan analisa-analisa lain sebagai pengimbangnya.

Pertanyaannya sungguh beragam dan unik-unik, salah satu contoh misalnya: “Mengapa di tombol-tombol ATM drive-in ada huruf Braille-nya, padahal ATM itu dipakai buat para pengendara mobil yang jelas-jelas tidak mungkin buta?” Nah, jawabannya ternyata terkait dengan teknik dan skala produksi. Produksi mesin ATM umum harus menyediakan huruf Braille di tombolnya. Mesin ATM drive-in memang tidak membutuhkan itu, tapi membuat tombol mesin ATM tanpa huruf Braille tentu akan memakan biaya tambahan. Jadi lebih baik (lebih murah dan irit) untuk menyeragamkan saja produksinya.

Ada satu yang sangat menarik karena kental nuansa ekonomi-politiknya (hlm. 134): “Mengapa menyetir mobil sambil makan (atau bahkan sambil berdandan) itu legal sementara kalau sambil menelepon dengan ponsel itu ilegal?” Jawaban standar yang biasa dikemukakan adalah karena mengobrol di ponsel itu mengalihkan perhatian pengemudi dari jalanan dan berisiko besar kecelakaan. Bagi Frank, jawaban konvensional ini tidak memuaskan karena:
1) Kalau memang keasyikan mengobrol itu mengganggu konsentrasi, mengapa mengobrol dengan teman semobil diperbolehkan?
2) Mengapa mengobrol di ponsel dengan headset juga diperbolehkan?

Jawaban yang dikemukakan Frank dan mahasiswanya sangat politis: pada dasarnya, riset membuktikan bahwa kegiatan selingan apapun yang dilakukan sambil menyetir terbukti bisa mengganggu konsentrasi, tapi kalau makan-makan di mobil dilarang, penjualan fast food dan makanan kecil akan anjlok, dan pelarangan ini bisa menimbulkan protes dari industri makanan. Sementara bila mengobrol di ponsel sambil menyetir dilarang (tapi sah-sah saja bila mengobrol sambil menyetir dengan ponsel ber-headset), industri seluler masih bisa menangguk untung yang sama banyaknya dari ponsel serta pulsa yang dipakai, malah makin bertambah pemasukannya dari berjualan headset. Dugaan risiko bahaya kecelakaan pun juga dikurangi. Jadi, soal apa yang dilarang dan apa yang tidak dilarang itu kecil kaitannya dengan risiko kecelakaan itu sendiri —karena riset-riset sudah membuktikkan semua kegiatan selingan sambil menyetir itu berbahaya—namun lebih pada kekuatan lobi industri bersangkutan pada kebijakan berlalu lintas.

Ada contoh pertanyaan lain yang penjelasannya berpotensi menimbulkan polemik: “Kalau poligami itu mengenakkan kaum pria, mengapa para pengambil kebijakan yang kebanyakan pria justru melarangnya?” Cukup panjang penjelasan Frank di sini melalui penalaran supply-demand yang coba saya bahasakan dengan cara saya sendiri:

Katakanlah ada 10 orang cowok (A sampai J) dan 10 orang cewek (K sampai T). Dalam masyarakat monogami, bisa dibilang secara umum tiap-tiap orang akan mendapat pasangannya masing-masing. Katakanlah cowok A dan B sama-sama menaksir K. Kalau ternyata K memilih menikah dengan B, maka A terpaksa mencari yang lain atau memutuskan tidak menikah, yang akan membuat 1 orang dari kubu cewek akan tidak menikah pula.

Tapi dalam masyarakat yang memperbolehkan poligami, katakanlah si cowok idaman C disenangi oleh K, L, dan M. Kalau si C ingin mempoligami ketiganya, maka ketiganya harus berpikir: apakah memilih poligami dengan cowok yang ia sukai atau memilih menikah monogami dengan cowok lain yang kurang ia sukai. Katakanlah skema poligami itu berlangsung, maka bakal ada short supply (kelangkaan pasokan) cewek bagi pihak cowok. Tujuh cewek diperebutkan oleh sembilan cowok. Bila makin banyak cowok yang berpoligami, maka semakin sedikit pula supply cewek yang tersisa. Sehingga persaingan dari cowok-cowok yang ada untuk memperebutkan cewek yang tersisa akan semakin gila-gilaan pula. Dan ini sungguh akan membuat stres pihak cowok dengan hasil akhir yang tetap sama: pada akhirnya pasti menyisa cowok yang akan tidak bisa kawin sama sekali. Karena itulah, pengambil kebijakan yang kebanyakan pria justru punya alasan kuat untuk melarang poligami.

Hmm… saya jadi ingin tahu bagaimana pendapat para feminis bila membaca penalaran tentang larangan poligami dari sudut pandang supply-demand yang seperti ini…

Sebagai penutup, saya ingin mengajukan salah satu pertanyaan di buku ini dan mungkin Anda bisa menjawabnya: “Mengapa pilot kamikaze Jepang memakai helm pengaman bila toh pada akhirnya mereka pasti mati juga?” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: