Melacak Gagasan Keindonesiaan

The Idea of Indonesia: A History
R.E. Elson
Cambridge University Press, 2008  |  365 hlm

indonesiaMelihat pertikaian-pertikaian berlatar SARA di Indonesia pascareformasi, banyak pengamat luar negeri bertanya: inikah akhir dari Indonesia? Tapi ternyata tidak. Indonesia tidak menjadi Yugoslavia atau mengalami Balkanisasi. Dengan letupan-letupan di sana sini toh Indonesia tetap bisa utuh. Itulah yang membuat R.E. Elson takjub dan ingin menelaah dengan tuntas dari mana sih datangnya gagasan alot tentang Indonesia ini, yang bisa terus bertahan sekalipun unsur-unsur di dalamnya kelihatannya terus saling bertikai?

Penelusuran Elson —seorang pengamat Indonesia yang sebenarnya bisa dibilang konservatif pemikirannya—membawanya pada simpulan bahwa tiadanya upaya separatisme/perpecahan yang serius pasca Soeharto ini bukanlah sesuatu yang “surprising, even amazing” seperti dikatakan seorang pengamat Indonesia lainnya, Donald Emmerson, melainkan “wholly in accord with the logic of the country’s historical trajectory from its earliest imagining.” (hlm. 314).

Indonesia memang hasil sebuah pembayangan (imagining), dan membaca buku ini sungguh membuat saya merinding dan tergugah. Saya mendapat banyak hal baru yang menggambarkan betapa berwarnanya sejarah nation building kita ini, yang membuat kita sekarang sungguh tidak mungkin untuk bersikap mutlak antiasing misalnya (apalagi “anti orang asing”), karena jelas-jelas nama Indonesia sendiri dipakai pertama kali oleh pelancong dan pengamat sosial dari Inggris George Samuel Windsor Earl. Ia menuliskannya”Indu-nesians” (hlm. 1). Belum lagi kalau kita ingat “orang-orang asing” macam Douwes Dekker, yang sepak terjang dan pemikirannya sangat mempengaruhi bapak-bapak bangsa kita. Ada surat Douwes Dekker yang sangat menggugah tertanggal April 1913, kepada Sri Ratu di Belanda “Tidak, Yang Mulia, ini bukan negara Anda. Ini negara kami, Tanah Air kami. Suatu hari nanti ia akan merdeka, selamanya.” (hlm. 19).

Pembayangan membutuhkan jarak, maka seperti itu jugalah Indonesia “lahir” tidak di Indonesia sendiri, melainkan dibayangkan oleh perkumpulan-perkumpulan orang asal Indonesia di negeri asing. Di sini jelas Elson memakai pokok pikiran yang diutarakan pertama kali oleh Ben Anderson, namun dilengkapinya juga dengan kajian Michael Laffan. Rasa persatuan sebagai “sesama orang Indonesia” itu mengental di dua tempat, yaitu:
1) Solidaritas di kalangan mahasiswa-mahasiswa yang bersekolah di negeri Belanda
2) Solidaritas di kalangan umat yang berangkat ke Mekah untuk naik haji:  “Orang-orang Jawa yang menetap di Mekah akan bertanya pada orang Aceh yang datang, bagaimana kabar dari kampung halaman.” (hlm. 9).

Organisasi-organisasi kepemudaan awal yang masih berbau-bau kesukuan ternyata juga sangat kental warna nasionalnya. Yang paling membuat saya takjub adalah Sarekat Ambon yang didirikan oleh A.J. Patty. Percaya tidak, SA didirikan bukan di Ambon tapi di Semarang! Begitu juga Perserikatan Minahasa yang anggotanya banyak orang Kristen Menado di Jawa Tengah!

Tapi tidak selalu optimistik memang prospeknya. Sejak awal pula, cita-cita nasionalisme dan persatuan ini membawa dalam dirinya bibit-bibit permusuhannya sendiri. Ketika Tjipto Mangoenkoesoemo mencita-citakan ikatan persatuan antar budaya dan suku, tak peduli seberapa besar perbedaannya, banyak yang mencurigai bahwa cita-cita persatuan ini bisa membawa penjajahan baru. Koran Darmo Kondo edisi 13 November 1919 menulis bahwa dengan kesetaraan antar semua orang yang lahir di Indonesia ini, maka “dalam waktu singkat, tanah rakyat Jawa akan berada di tangan orang Eropa, Cina, dan Arab.” Koran yang sama juga mengkritik “Insulinde menginginkan kesetaraan mutlak dalam segala hal bagi semua orang yang lahir di sini. Lalu apa jadinya Pribumi nanti?” Pemikiran kedaerahan ini tak lekang sampai sekarang, dan menjadi salah satu pemicu pertikaian-pertikaian kontemporer kita.

Elson mencatat ironinya: “Such thinking, ironically drawing its power in one sense from the idea of Indonesia, was to endure stubbornly.” (hlm. 34).

Terlalu banyak hal menarik di buku ini untuk diulas di sini. Saya ingin menutup ini dengan sebuah cerita saja: Sewaktu berkunjung ke rumah saya pada akhir 2005, Om Ben Anderson bercerita pada saya bahwa Pak Jim Siegel punya pendapat menarik bahwa “kelompok-kelompok Islam fundamentalis” yang marak belakangan ini cuma versi lain dari nasionalisme khas Indonesia. Lebih jauh lagi, ideologi apapun di Indonesia tidak akan pernah lepas dari keindonesiaannya: maka kelompok-kelompok internasional lintasnegara pun selalu membopong beban keindonesiaan begitu berada di sini. Bahkan Hizbut Tahrir tetap harus mengusung “Indonesia” menjadi Hizbut Tahrir Indonesia. Pendapat provokatif ini tentu masih bisa diperdebatkan, namun mungkin itulah yang hendak digambarkan oleh sampul buku ini: aksi-aksi kelompok fundamentalis Islam, yang mungkin mencita-citakan khilafah, namun tetap mengibarkan bendera Merah Putih.

Buku ini sangat penting dibaca dalam kondisi Indonesia saat ini, ketika agenda-agenda kubu fundamentalisme agama makin lama makin membahayakan kebhinekaan kita, sebagaimana halnya fundamentalisme pasar juga membahayakan ikatan sosial kita dengan memperlebar kesenjangan ekonomi. Indonesia memang lahir dari keragaman, namun rupanya juga dihantui terus olehnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: