Perburuan Harta Karun VOC

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
E.S. Ito
Hikmah, 2007  |  675 hlm

meedeE.S. Ito berusaha mengemas sejarah Indonesia —atau satu bagian dari sejarah Indonesia—dalam novel thriller, dengan berfokus pada kasak-kusuk yang sudah sekian lama berseliweran dalam jagat politik Indonesia, yakni: keberadaan harta karun VOC yang katanya cukup untuk membayar utang luar negeri Indonesia. Oke, seperti waktu saya mengenal Sidney Sheldon saat SMP dan SMA dan kemudian penulis buku-buku thriller sejenis lainnya, buku ini sangat menghibur, membuat orang tidak sabar untuk terus membaca. Itu sudah satu poin keunggulan.
Poin lainnya: kemampuan Ito merangkai fakta-fakta sejarah yang sedemikian banyak dan luas menjadi satu jalinan cerita yang kompleks, meski ini sebenarnya agak tergolong utak atik gathuk dalam bahasa Jawanya. Artinya: detail kecil-kecil dihubung-hubungkan —baik dengan asyik, setengah maksa, maupun maksa banget—untuk bisa serasi dengan skenario besarnya. Misalnya: nama Erberverld yang dibolak-baik susunan hurufnya jadi Belverlder, atau tempat-tempat bersejarah berawalan B yang ada kaitannya dengan Bung Hatta. Imajinasi untuk mereka-reka itulah yang saya salut.
Kemudian yang juga saya suka adalah semangatnya. Kemarahan terhadap situasi kontemporer Indonesia bisa melahirkan metafor-metafor yang kadang tidak biasa. Satu contoh misalnya sinismenya soal kawasan elite Menteng: “pohon menteng dalam sosok beringin yang rakus”. Unik. Kena.
Saya juga suka “pancingannya” —terutama lewat tokoh guru Uban, guru sejarah yang digambarkan sangat kharismatik—agar pembaca lebih tertarik dengan sejarah Indonesia. Saya rasa akan banyak peminat-peminat baru sejarah gara-gara membaca novel ini (seperti munculnya banyak peminat filsafat gara-gara ketenaran Dunia Sophie dulu). Meskipun ini juga ironi tersendiri seperti yang tersirat di beberapa bagian novelnya, bahwa generasi Indonesia yang rabun sejarah ini harus dipancing dengan fiksi hiburan agar kembali melek akan sejarah.

Tapi novel ini juga bukan tanpa kekurangan-kekurangan, yang bisa saya daftar di sini:

  1. Sebagaimana banyak novel thriller, yang menonjol di sini adalah plot, karena dari situlah ketegangan-ketegangan dibangun. Kedalaman dan detail tokoh-tokohnya kurang digali, sehingga muncul kejanggalan-kejanggalan/ketidaklogisan di sana sini. Misalnya saja: masa intel yang tugasnya memburu Kalek —tokoh protagonis novel ini—dan kemampuannya terlihat sudah hampir setara James Bond disusupkan sebagai wartawan koran? Tugas-tugas penyusupan ini mestinya dilakukan oleh intel-intel yang berbeda. Apalagi dia tahu bahwa yang ia buru adalah temannya sendiri yang ia yakini masih hidup dan masih punya kaki tangan di koran Indonesiaraya yang disusupinya. Kemungkinan dia ketahuan akan sangat besar.
  2. Penjelasan narator soal kerja kewartawanan Batu, si intel tersebut, sangat “menipu” buat saya. Karena kita dibimbing oleh orang ketiga seakan-akan Batu benar-benar lulusan IISIP dsb. Akan lebih masuk akal kalau Parada yang menarasikan kisah itu, dari sudut pandang dia, karena dialah yang tertipu oleh skenario ini.
  3. Saya tetap kurang jelas dengan maksud keterlibatan Kalek beserta kelompoknya Anarki Nusantara dengan perburuan emas ini. Apakah karena ingin menggagalkan rencana kudeta, atau karena mereka yakin emas ini bisa buat menutup utang Indonesia.

Khusus untuk soal utang luar negeri ini, saya setuju dengan pendapat beberapa kawan pembaca bahwa pmbukaan novel ini benar-benar menggoda. Ito memulainya dari satu bagian sejarah Indonesia yang tidak banyak dikenal orang (atau baru diketahui sebagian besar orang setelah IGGI bubar dan terbongkarlah bahwa utang luar negeri selama ini adalah utang perang hasil Konferensi Meja Bundar).

Bertahun-tahun lampau saya pribadi sempat “membenci” Hatta setelah tahu perannya dalam kesepakatan soal utang perang itu—utang yang membuat Indonesia terbelenggu selama puluhan tahun. Detail tentang utang dan perundingan ini bisa dibaca pada Southeast Asia: A Testament (2002), memoar George McT Kahin, peneliti yang memelopori lahirnya studi Indonesia di dunia akademik AS. Pada masa Revolusi Fisik Kahin bukan cuma meneliti, tapi juga terlibat langsung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kahinlah yang ngotot agar perkataan Merle Cochran bahwa AS akan membantu membayarkan utang Indonesia jangan dipercaya begitu saja: “… it must be understood that Cochran, like his superiors in Washington, attached greater importance to the economic health of the Netherlands than that of Indonesia.” Saat itu kebijakan luar negeri AS berpusat sepenuhnya pada perbaikan ekonomi Eropa akibat Perang Dunia II, bagaimana mungkin AS berjanji membantu Indonesia? Apalagi janji AS ini disampaikan cuma secara lisan! (“Cochran’s repeated assurances, all unfortunately only oral…”)

Tapi Hatta ngotot. Sebenarnya menurut Kahin, Sudarpo, Soedjatmoko, dan Palar semuanya memihak Sumitro, tetapi Hatta sebagai tokoh kunci perundingan merasa beban keberhasilan Konferensi Meja Bundar seluruhnya berada di pundaknya. Apalagi kesehatan Hatta saat itu sedang memburuk.

Begitulah, sejarah sudah terjadi, dan saya sempat benci pada Hatta. Tapi dari sumber lain saya baca Hatta jauh-jauh hari kemudian seperti menyesali keputusannya itu. Ia ikut menanggung beban rasa bersalah keputusannya itu seumur hidupnya. Apalagi setelah saya tahu fakta-fakta lain dari hidup Hatta seperti bahwa ia —yang mantan Wakil Presiden—harus menabung bertahun-tahun untuk bisa membeli sepasang sepatu baru.

Kebencian saya luntur seketika. Betapa beda seorang Hatta yang mengambil keputusan keliru yang ikut membuat Indonesia menanggung utang segunung, namun keputusan itu didasarkan pada niat tulus kecintaannya terhadap negeri ini, dengan seorang yang memang mau membuat Indonesia menanggung utang segunung demi perut kenyangnya sendiri.

Kekeliruan Hatta adalah kekeliruan Republik muda, yang dalam kata-kata Chairil Anwar: “bangsa muda menjadi, baru bisa bilang aku.” Banyak yang masih bisa kita pelajari dan teladani dari Hatta, sosok yang kian terlupakan ini. Mungkin itu sebabnya Iwan Fals membaktikan satu lagu buat Hatta tapi tidak buat bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya. Mungkin itu sebabnya kawan saya Robertus Robet dalam bukunya Republikanisme dan Keindonesiaan (2007) menulis bahwa Republikanisme Hattalah yang bisa mengisi kekosongan etika politik di Indonesia. Dan mungkin karena itu pulalah E.S. Ito membuat novel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: