Jalan Hidup Si Bebek Jutawan

Kisah Hidup Paman Gober: Edisi Bundel
Don Rosa
Judul asli: The Life and Times of Scrooge McDuck, dimuat pertama kali secara bersambung dalam Uncle Scrooge No. 285-296 (April 1994-Februari 1996)
Penerbitan Sarana Bobo, 2012  |  498 hlm

gober[Ulasan ini awalnya esai yang dimuat dalam bulanan ekonomi-politik Indikator No.01 / II / November 1999. Sedikit pemutakhiran di sini setelah edisi Indonesia The Life and Times of Scrooge McDuck terbit]

Di bukit landai tengah-tengah Kota Bebek, gudang uang itu berdiri dengan tegarnya. Dindingnya tebal, tak tembus peluru, bahkan dilengkapi sensor antimaling dan nenek sihir. Isinya: 12.140 meter kubik uang kontan. Pekerja di dalamnya tak sampai lima. Dan pemiliknya: Gober Bebek, bebek terkaya di dunia.

Siapakah Gober?

Meski kita sering membaca kisahnya, kita jarang tahu siapa dia sebenarnya. Setidaknya sampai Carl Banks, sang kreator, membuat The Duck Family Tree pada 1984. Kemudian pada 1994-1996, bolong-bolong yang masih ada dalam silsilah karya Bans yang belum lengkap itu disempurnakan dengan berbagai ubahan oleh penulis dan ilustrator Don Rosa menjadi epos panjang 12 jilid berjudul The Life and Times of Scrooge McDuck, yang pada 2012 diterbitkan di Indonesia dalam edisi bundel, setelah sebelumnya dimuat bersambung dalam majalah Donald Bebek.

Gober Bebek (yang bernama asli Scrooge McDuck) ditetaskan di Skotlandia pada 1867 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Fergus McDuck, seorang (atau seekor?) keturunan bangsawan Skotlandia. Ibunya bernama Downy O’Drake dan dua saudara perempuannya bernama Matilda dan Hortense. Hortense McDuck inilah yang nantinya menikahi Quackmore Duck dan mempunyai putra bernama Donal Bebek serta putri yang nantinya menjadi ibu Kwik, Kwek, Kwak.

Meskipun keturunan bangsawan, keluarga McDuck hidup serba kekurangan. Kastil yang mereka miliki telah dirampas oleh keturunan Whiskerville sejak abad ke-17. Gober kecil mencari nafkah dengan berkeliling kota menjual kayu bakar.

Pada usia yang masih sangat belia, Gober memutuskan bertualang ke Amerika sebagai anak buah kapal. Ia tiba di Louisville, tepi sungai Mississippi, dan mendapat kerja sebagai kapten kapal Dilly Dollar yang mengantar bongkahan emas ke New Orleans. Rintangan mulai timbul saat ia bertemu Gerombolan Siberat sekeluarga.

Pada 1882 Gober menetap di Fonebone Hotel, Montana, sebagai gembala sapi. Ia terlibat dalam perang ternak dan pernah ikut menggulung gerombolan bandit Jesse James. Meski begitu, Gober muda ini masih jauh berbeda dari Gober yang kita kenal sekarang. Sikap keras dan percaya dirinya belum tumbuh. Tapi di padang Montana itulah ia berjumpa dengan Theodore Rooselvelt, pahlawan Amerika yang petuah dan nasehat-nasehatnya bakal mempengaruhi jalan hidup Gober selanjutnya.

Lalu ia pulang sebentar ke Skotlandia untuk merebut kembali hak kepemilikan kastil dan tanah keluarga McDuck. Dari Skotlandia, Gober berlayar menuju Afrika dan ikut serta dalam penambangan emas selama 3 tahun. Pengalaman ini dilanjutkan di Kalgoorlie, salah satu situs penambangan emas terpenting di Australia akhir abad ke-19. Dari suku Aborigin, Gober memperoleh pengalaman kultural yang penting tentang sejarah. Budaya Aborigin dikenal sebagai budaya yang sangat menghormati masa lalu dibanding budaya mana pun di muka bumi. Dari sinilah minat Gober terhadap harta karun dan benda-benda antik berkembang.

Setelahnya Gober kembali ke Amerika, tinggal di Klondike, daerah perbatasan Amerika-Kanada, dan menambang emas di sungai Yukon. Inilah titik balik kehidupan Gober, saat yang paling keras, paling sepi, dan paling dramatis dari petualangannya. Gober bekerja tiap saat tanpa kenal lelah, hidup ditemani binatang-binatang liar, makan sekali sehari, dan menolak berfoya-foya di kota. Seekor penari bar bernama Glittering Goldie jatuh cinta padanya dan menjadi satu-satunya bebek betina yang pernah intim dengannya. Cinta mereka kandas, tapi Gober masih menyimpan seikat bulu Goldie dalam kotak kayu miliknya. Hidup berbalik saat Gober, dengan tempaan pengalaman akan tanah dan batu-batuan, menemukan emas sebesar telur angsa. Kisah suksesnya dimulai.

Di Klondike-lah Gober pertama kali berurusan dengan bank dan ditipu perihal surat utang palsu. Gober yang murka tidak hanya membuat babak belur Sloapy Slick, babi licik pemilik bank, serta anak buahnya, tapi juga menghancurkan hampir setengah kota Klondike. Pasukan kavaleri terpaksa didatangkan. Sloapy Slick ditangkap, banknya ditutup, dan Gober pindah ke Whitehorse untuk membuka… bank baru! Semiliar dolar pertamanya disimpan dalam tong anggur yang dibawanya kemana pun ia pergi.

Pada 1902 Gober menyempatkan diri untuk pulang, dan selang tak lama ayahnya meninggal. Gober kembali ke Amerika membawa serta Hortense dan Matilda. Ia menuju Kota Bebek dan membeli bukit Killmotor dari Casey Prul. Di sinilah ia mendirikan gudang uangnya dan mulai membangun kerajaan bisnisnya. Casey Prul sendiri adalah cucu Cornelis Prul, pendiri Kota Bebek. Ia adalah kakek Gus Angsa dan saudara kandung Elvira Prul, yang kita kenal dengan sebutan Nenek Bebek.

Kota Bebek sendiri belum jadi apa-apa saat itu. “Kubeli bukit ini saat semuanya masih kosong. Aku bangun kekayaanku dan melihat kota ini berkembang… di sekitarku.”

Terlampau serius untuk sebuah komik? Tidak, saya kira. Komik, di balik segala kejenakaannya, tetap menyimpan kerja dan gagasan yang tidak main-main. Bila anak atau keponakan Anda membaca komik dan tertawa geli, maka ia seorang anak-anak yang normal. Bila Anda yang sudah berumur membaca komik dan masih tertawa geli, maka berbahagialah karena Anda orang yang sungguh dewasa. Kedewasaan mungkin bisa diukur dengan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. Dan dalam komik yang baik, segala kekonyolan hidup kita ditampilkan dengan telanjang, tapi cerdas. “Fiksi,” kata sastrawati Virginia Woolf, “harus mampu menghadirkan lebih banyak kebenaran dibanding kenyataan.”

Sayangnya, penerjemahan marga “McDuck” menjadi “Bebek” ke dalam bahasa Indonesia terasa kurang tepat secara literer. Terjemahan ini memang enak terdengar di telinga, tapi membuat Gober tampak seperti seekor bebek biasa, bukan bebek Skotlandia. Kenapa Skotlandia? Baik Carl Banks maupun Don Rosa tak punya jawabnya. Tapi ini justru memberi ruang bagi para penggemar keluarga Bebek seperti saya untuk merekatafsirkan kemungkinan semiotiknya.

Skotlandia, lebih luasnya Inggris Raya, adalah wilayah yang telah menyaksikan dengan jelas sejarah dari apa yang disebut mundurnya para ksatria dan bangkitnya para saudagar. Kelas ksatria jatuh miskin, dan generasi baru Skot hidup dengan kenyataan baru, bahwa harta lebih berkuasa daripada tahta.

Sejak rezim kediktatoran militer Oliver Cromwell dengan Tentara Puritannya runtuh di Inggris, satu sistem sosial yang lebih longgar diterapkan. Monarki berdiri kembali, tapi raja tak punya hak sewenang-wenang atas negara. Dalam situasi macam itulah Inggris melahirkan Isaac Newton, John Locke, mesin pintal, Revolusi Industri, dan Adam Smith.

Jangan lupa bahwa sisa-sisa puritanisme yang diwariskan Cromwell itulah yang nantinya melahirkan apa yang disebut Max Weber sebagai “etos Protestan”: etos untuk menahan diri dari nikmat badaniah dengan menghemat dan menabung. Dalam kerangka sosiologi Weberian, etos macam inilah yang membuat kapitalisme melaju pesat. Kekayaan tercipta dari keringat dan kerja keras. Maka Gober Bebek adalah paduan sempurna dari semua sejarah Skot itu.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan ambisi dan sikap kikirnya. Kita sendiri sering kagum mendengar kisah sukses seseorang yang dimulai dari nol. Namun soal mulai timbul saat Gober tidak tahu kapan harus berhenti. “Dia punya uang dan segala yang bisa dibeli oleh uangnya,” kata Matilda McDuck. Tapi Gober hanya tertarik pada “uang” dan tidak tertarik pada “segala yang bisa dibeli oleh uangnya.” Uang segudang itu diputar untuk menghasilkan uang lagi. Bisnisnya merambat menguasai setiap sektor produksi Kota Bebek.

Sampai suatu ketika pernah diceritakan bahwa penduduk Kota Bebek tak mau membeli barang apapun lagi, karena membeli barang berarti “memperkaya si bebek kikir itu.” Lalu bagaimana? Bila konsumen benar-benar tak membeli, berarti produksi harus berhenti. Tidak takutkah Gober? Mungkin tidak. Toh, penduduk tetap punya kebutuhan. Lagipula ia berhak memecat karyawannya: Donal barangkali, atau Nyonya Emily sekretarisnya, atau Duckworth sang sopir. Maka yang terancam adalah para konsumen dan kelas pekerja itu sendiri, bukan dia. Karl Kautsky, tokoh sosial demokrat itu, pernah berkata: “Produksi harus berlanjut. Bila tidak, seluruh masyarakat akan runtuh, termasuk kelas proletar.” Lalu? Para ilustrator Disney biasa menyelesaikan kisahnya dengan banyolan atau adegan kejar-kejaran ke Timbuktu. Maklum, mereka memang bukan ekonom.

Tapi mari kita lihat seorang kaya lain di Amerika (orang, bukan bebek) bernama Rockefeller. Kisah suksesnya tidak dimulai dari emas, tapi dari minyak. Dan ia bukan seorang pekerja keras yang jujur seperti Gober, ia culas. Rockefeller meneken suatu kontrak rahasia dengan para pengusaha transportasi untuk mendistribusikan minyaknya. Akibatnya, para pesaingnya rontok dengan cepat, dan perusahaan-perusahaan loyo itu diborongnya satu per satu sampai habis. Tak pelak minyak senegeri dikuasainya. Berhasilkah keserakahannya? Hampir, seandainya Amerika tak punya pers bebas dan Mahkamah Agung. Akibat tulisan seorang jurnalis di Atlantic Monthly, kesadaran masyarakat akan bahaya monopoli berhasil digugah. Mahkamah Agung bersidang dan UU Antimonopoli dibacakan untuk pertama kalinya Mei 1911. Hukum berjalan, dan keserakahan distop.

Tapi Kota Bebek bukan Amerika, meski katanya terletak di Amerika. Kota Bebek mempunyai semua hal yang dipunyai kota-kota lain di dunia. Di sana ada walikota, taman, klub pramuka, kedai es krim, talk show, dsb. Tapi tampaknya di sana tak ada hukum. Di sana memang ada polisi, tapi mereka terlalu sibuk menilang Donal yang ngebut melanggar lampu merah atau menangkap Lang Ling Lung karena kreasi-kreasi nyelenehnya.

Dengan kondisi macam itu, di Kota Bebek, seperti di sebuah kepulauan tropis di Asia Tenggara ini, kita jadi mengerti kenapa keserakahan ala Gober bisa melaju terus, terus, terus, dan terus…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: