Cerita di Balik Cerita Soeharto

Pak Harto: The Untold Stories
Editor: Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari, Dwitri Waluyo, Bakarudin, Mahpudi
Gramedia Pustaka Utama, 2011  |  604 hlm

harto[Ulasan ini dimuat juga di Konstelasi No. 33 Sept 2011, hlm. 2-3]

Meski berbeda-beda paham politik yang dianut, para diktator dunia dipersatukan oleh ciri yang sama: berlimpahnya buku-buku biografi yang menyanjung-nyanjungnya sebagai orang tanpa kekurangan, yang bahkan kesempurnaan wataknya melebihi dewa. Lihatlah Stalin, Kim Il Sung, atau Soeharto. Buku terbaru tentang Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories lebih cocok disebut hagiografi atau semacam penulisan biografi orang-orang kudus yang penuh puja puji dan tanpa cela.

Buku yang dicetak luks dan full colour setebal 600 halaman lebih ini berisi kesan-kesan dari 113 orang pengikut, kroni, maupun orang-orang yang pernah bersamanya, mulai dari para pejabat yang pernah lama mendampinginya semasa Orde Baru maupun tokoh-tokoh lain yang pernah menemuinya dalam pelbagai kesempatan. Meski bertajuk untold stories, isinya tentu bukan bermaksud membedah cerita-cerita di balik kebijakan-kebijakannya sebagai Presiden, namun lebih banyak berisi kenangan tentang sosok Soeharto yang menurut para penulisnya “hebat,” “adil,” “begitu berjasa,” “rasional,” “tidak mau menyusahkan orang lain,” bahkan –yang paling konyol—“hendak membangun demokrasi melalui PDI kubu Soerjadi.” (hlm. 302).

Semua puja puji ini tentu bukan barang baru. Pada 1991, PT Citra Lamtoro Gung Persada, perusahaan milik putri Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), menerbitkan buku Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun setebal 980 halaman, yang isinya juga dipenuhi predikat keunggulan watak Soeharto menurut orang-orng dekatnya, seperti “tenang, sabar, dan ulet”, “arif, bijaksana, dan rendah hati”, “terbuka, halus, dan konsisten”, “penuh pengertian” dst. Sementara Letkol Polisi Anton Tabah yang ditunjuk sebagai sekretaris Soeharto sesudah lengser menerbitkan Empati di Tengah Badai pada 1999, kumpulan surat dukungan untuk Soeharto setebal 1074 halaman.

Ada dua hal yang bisa kita baca dari fenomena ini. Pertama, dalam diktum propagandis Nazi Joseph Goebbels, beratus-ratus halaman buku ini diperlukan agar “kebohongan yang diulang terus menerus berubah menjadi kebenaran.” Dengan kata lain, ini adalah propaganda pengelabuan dan politik pencitraan skala massif untuk menopengi semua borok pemerintahan Soeharto.Kedua, ini adalah unjuk gigi para pengikut dan kroni Soeharto untuk mengatakan bahwa jaringan mereka masih eksis dan berkuasa di Indonesia.

Dalam konteks yang pertama, pada masa Reformasi kita bisa melihat jelas bagaimana segala “prestasi pembangunan” yang diunggul-unggulkan semasa Orde Baru ternyata merupakan tabir asap belaka. Pemberantasan buta huruf misalnya. Ketika Badan Pusat Statistik pada 2000 mengeluarkan data bahwa sekitar 18 juta dari 205 juta penduduk Indonesia masih buta huruf, banyak orang terperanjat: dari mana datangnya 18 juta orang ini yang pada masa Orde Baru (yang saat itu baru berakhir selama 2 tahun) dianggap tiada atau dianggap sudah melek huruf?

Dan ini tentunya hanya satu klaim dari banyak klaim keberhasilan pembangunan Orde Baru lainnya yang harus ditelisik ulang. Salah satu temuan baru yang cukup mencengangkan adalah tentang Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa), ajang petani dan nelayan berprestasi dari pelbagai daerah untuk beradu pengetahuan soal pertanian, kerap langsung di hadapan Soeharto. Selama bertahun-tahun TVRI menayangkan acara ini secara nasional untuk memamerkan keberhasilan program pertanian Orde Baru. Tentu saja sejak lama telah beredar desas desus bahwa petani-petani ini telah dilengkapi dulu dengan jawaban dan arahan tentang apa saja yang harus diucapkan. Namun ternyata, lebih dari itu, bukan hanya peserta acara ini telah dilengkapi dengan jawaban dan arahan, melainkan bahwa mereka bahkan bukan petani sama sekali, tetapi aktor. Forum Lenteng, lembaga yang bergerak di bidang pembuatan dan kajian seni video, memaparkan temuan ini dalam presentasi awal “Videobase”, riset panjang mereka tentang kultur video dalam sejarah politik Indonesia. Forum Lentang berhasil menemui dan mewawacara aktor dan sutradara yang ada di balik program Kelompencapir. Inilah untold stories sebenarnya dari Soeharto dan Orde Baru yang tentu takkan bisa didapat di buku ini.

Sementara dalam konteks yang kedua, terbitnya Pak Harto: The Untold Stories pada Juni 2011 bukanlah suatu kejadian yang berdiri sendiri dan bisa dipisahkan dari beberapa peristiwa lain yang berlangsung sebelumnya: dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjelang akhir 2010 atas usulan untuk menobatkan Soeharto sebagai pahlawan nasional, dideklarasikannya Partai Nasional Republik yang mengusung Tommy Soeharto pada April 2011, serta hasil “survei” Indo Barometer pada Mei 2011 yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia masih lebih menyukai masa pemerintahan Soeharto daripada SBY.

Gelagat glorifikasi Soeharto dan Orde Baru ini merebak di tengah ketidakseriusan pemerintah dalam membasmi korupsi serta ketidaktegasan dalam menata birokrasi dan melakukan konsolidasi demokrasi. Sejarah korupsi di Indonesia akan sangat berbeda andai pengadilan terhadap Soeharto serius dilakukan sebagaimana Mesir kini mengadili Hosni Mubarak. Perlu diingat bahwa “sakit” dan “lupa” atau “gangguan syaraf” –alasan-alasan klise koruptor Indonesia kini untuk menghindari pengadilan—adalah warisan sah dari Soeharto melalui kuasa hukum dan tim dokternya untuk mengelak dari panggilan sidang pada September 2000, sebuah preseden buruk yang akhirnya terus mengganggu jalannya proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Betapa jauh sikap pengecut Soeharto ini dengan kejantanan yang ditunjukkan oleh orang-orang seperti Sudisman, Untung, atau Nyono yang diseret oleh Soeharto ke penjara melalui Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) atas dakwaan terkait dengan peristiwa 1965. Tak satu pun di antara mereka berdalih lupa atau sakit.

Buku Pak Harto: The Untold Stories dibandrol dengan harga yang tidak cukup terjangkau oleh pembaca umum kebanyakan, dan dengan demikian bisa kita lihat bahwa konsumen pembacanya lebih tertuju pada elite politik Indonesia untuk mengatakan bahwa “kami, jaringan keluarga Cendana, masih di sini, baik-baik saja, tak tersentuh hukum, dan siap merebut balik kekuasaan.” The untold stories inilah yang sesungguhnya patut kita waspadai secara serius.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita di Balik Cerita Soeharto

  1. iwan says:

    yg nulisseperti ini orang kurang paham agama.karena orang yg paham agama tidak akan bicara seperti ini. orang yg iklas pasti menyembunyikan cerita pengabdiannya. sehingga sering dicaci dan dimaki karena tidak terlihat kerjanya. maka ketika tidak ada baru orang merasa kehilangan. tidak mungkin orang begitu menghormainya ketika meninggal kalau dia jahat. suharto tidak sama dengan hitler. penulis ini terlalu bodoh dan terbelenggu kebencian pribadi dan tak beralasan.

    • Ronny Agustinus says:

      dan yang komen ini, orang sama sekali ga paham sejarah dan kurang baca buku, dan beraninya pakai akun e-mail/nama samaran hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: