Membongkar Kebohongan Sang “Pahlawan Kemanusiaan”

Three Cups of Deceit: How Greg Mortenson, Humanitarian Hero, Lost His Way
Jon Krakauer
Byliner, 2011  |  96 hlm

deceitYang telanjur jatuh cinta pada Greg Mortenson dan kisah heroiknya membangun sekolah dalam memoar Three Cups of Tea —yang ceritanya dari awal memang sudah mencurigakan itu, too simplistic and too good to be true—silakan baca buku ini. Bukan cuma gerundelan orang sirik lho. Jon Krakauer penulis Into the Wild ini jelas tidak main-main. Dengan bukti-bukti yang amat meyakinkan, ia mengklaim bahwa Mortenson telah melakukan penipuan publik.

Judul Three Cups of Deceit bukan cuma merujuk pada judul buku Mortenson, namun juga karena penipuan itu dilakukan Mortenson pada 3 tataran:
1) Banyak dari yang ditulisnya itu tidak pernah terjadi, alias fiktif. Dan ini bukan dilakukannya sekadar untuk mempercantik narasi, namun jelas-jelas bohong karena tak pernah terjadi. Mortenson, misalnya, mengklaim sebagai pendaki gunung kawakan, yang sebelum menjajal K2 sudah naik ke Himalaya (Annapurna IV dan Baruntse). Padahal, nama Mortenson tak bisa didapati di American Alpine Journal yang mencatat setiap pendaki dan pendakian di Himalaya. Tapi ini bukan poin utama Krakauer, dia cuma mencantumkan ini di catatan kaki. Yang utama dari reportase investigatif Krakauer adalah: pada 1993 Mortenson tak pernah nyasar ke Korphe; dia tak pernah dirawat di rumah Haji Ali; dan lain-lain bualan yang ia tuliskan. Mortenson baru tahu soal Korphe setahun kemudian. Yang terjadi pada 1993 adalah: setelah batal naik K2, Mortenson dan rombongannya turun gunung naik mobil dan menginap di hotel di Skardu, hotel yang jadi langganan bule-bule pendaki gunung. Dari situ mereka naik mobil lagi ke Khane. Di Khane-lah dia berjanji mau membangun sekolah. Cerita ini diverifikasi Krakauer melalui wawancara dengan rombongan Mortenson dan warga di sana.

Yang terparah bukan soal di atas, tapi soal Naimat Gul. Mortenson tak pernah diculik dan disekap kaum jihadis. Dia justru disambut dan diperlakukan bak tamu agung oleh warga desa. Ada foto-foto di buku ini Mortenson tertawa-tawa bersama mereka, bahkan bergaya-gaya pegang AK47. Cerita karangan Mortenson bikin kisruh di sana karena jadi menjelekkan nama keluarga Mahsud.

Selain itu, gambarannya soal persebaran madrasah Wahabi juga sama sekali fiktif, yang membuat penduduk desa khawatir Three Cups of Tea justru bisa memicu pertikaian sektarian yang selama ini tak pernah terjadi.

Pada 30 Juni 2010, Ghulam Parvi, orang yang dipuji-puji Mortensen di bukunya, mengirim surat pengunduran diri ke dewan direksi Central Asia Institute (CAI), menyatakan bahwa semua cerita-cerita karangan Mortensen memang membuat bukunya jadi tampak menarik dan mudah pula buat menarik dana di AS, tapi cerita-cerita bohong itu membuat pekerja lapangan CAI di Pakistan dimusuhi masyarakat.

2) Dana yang digalang bukan dipakai untuk membangun sekolah. Mortenson tidak berbohong soal upayanya menggalang dana untuk membangun sekolah, tapi ia bohong soal seberapa banyak dari dana yang digalang itu dipakai untuk membangun sekolah. Ini yang membuat hubungannya dengan dewan direksi Central Asia Institute (CAI) selalu tegang, beberapa sampai mengundurkan diri karena tidak mau tersangkut implikasi hukum terkait kerja CAI. Mantan bendaharawan CAI bilang CAI seperti mesin ATM buat Mortenson. Perlu dicatat Krakauer termasuk salah satu penyumbang besar CAI, karena itulah ia sangat marah pada Mortenson.

Situs CAI menyebutkan bahwa 15% dari dana yang terkumpul akan dipakai untuk overhead dan 85% untuk program (pembangunan sekolah). Tapi perhitungan riil tidak menunjukkan demikian. Dana publik yang terkumpul lebih banyak dipakai oleh Mortenson untuk mempromosikan bukunya dan bikin tur keliling ke mana-mana (dan selalu dengan jet sewaan). Sementara duit dari royalti buku tidak masuk ke CAI, hanya masuk ke Mortenson dan David Relin, penulis bayangannya. Ini jelas-jelas penilepan uang masyarakat untuk kepentingan pribadi. Iklan-iklan Three Cups of Tea di New York Times, New Yorker dll majalah ternama lainnya juga dibiayai oleh dana CAI. Yang paling edan, ketika Mortensen dengar bukunya turun dari peringkat 1 bestseller New York Times (kalah oleh Eat, Pray, Love) dia borong sendiri buku-bukunya memakai dana CAI buat mendongkrak lagi penjualan.

Dan yang terpenting: tidak seperti gambarannya di buku sebagai pejuang kemanusiaan yang tak kenal pamrih, selama ini Mortenson digaji oleh CAI + tunjangan perjalanan dlsb., sementara hasil programnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini yang membuat direksi CAI lama-lama curiga dan berang dengan Mortenson.

3) Sekolah yang dibangun Mortenson kualitasnya kelas kambing. Mortenson menyebut bahwa CAI bukan cuma membangun sekolah, tapi mengadakan pelatihan guru dsb. Tapi omong kosong juga. Sekolah-sekolah CAI —yang memang dibangun—semuanya kosong tanpa murid tanpa guru. Tapi Mortenson terus menerus menggembar-gemborkan ini sebagai prestasi. Setidaknya sudah ada tiga konsultan yang disewa Mortenson dan ketiga-tiganya mundur karena antara bualan dan kenyataan terlalu jauh panggang dari api.

Singkat kata, tulis Krakauer, “Mortenson’s sacred pledge to Haji Ali to build a school in Korphe—to repay the villagers for their charity, and to honor his beloved sister—turned out to be a whopper, calculated to sell books and jack up donations. So too did Mortenson’s promise to construct a school in Bozai.”

Detailnya silakan Anda baca sendiri. Mau marah saya rasanya, sama seperti para pembaca lainnya di AS yang kini sedang menggugat Mortenson ke pengadilan. Tapi memang rasanya susah memperkarakan Mortenson atas dakwaan telah mengarang-ngarang otobiografinya. Jauh lebih mungkin memperkarakannya atas penilepan uang masyarakat. Dan Dinas Pajak AS memang sudah mengindikasikan ke arah sana, bahwa Mortensen dan CAI melakukan pelanggaran atas “Section 4859 of the Internal Revenue Service Code, which prohibits board members and executive officers of a public charity from receiving an economic benefit from the charity.”

Advertisements

One thought on “Membongkar Kebohongan Sang “Pahlawan Kemanusiaan”

  1. Buyar sudah hasil baca Three Cups of Tea saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: