Visualisasi Garuda Pancasila, dari Mata Orang Kebanyakan

Mencari Telur Garuda
Nanang R. Hidayat
Penerbit Nalar, 2008  |  140 hlm

garudaTahun 2006 lalu saya terlibat cukup intens dalam acara Restorasi Pancasila, simposium nasional di UI yang gongnya adalah Pidato Pancasila oleh Presiden SBY di Plenary Hall Balai Sidang Jakarta Convention Center 1 Juni 2006 dan pembacaan Maklumat Keindonesiaan. Semua materi simposium dibukukan dalam buku yang saya sunting bersama alm. Irfan Nasution, Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik Identitas dan Modernitas (2006)

Rangkaian acara ini adalah upaya untuk mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara kita, setelah disandera dan diberi penafsiran tunggal oleh Orde Baru yang membuat Pancasila seakan identik dengan Orba dan pantas ditanggalkan pasca reformasi 1998. Uniknya beberapa aktivis yang menggarap acara ini adalah orang-orang yang dulu pada 1990an sempat membuat semacam newsletter berlogo Garuda Pancasila dipanah (!) sebagai protesnya terhadap rezim Soeharto.

Reaksi yang saya terima dari beberapa pihak saat penggalangan acara ini maupun sesudahnya, sama persis dengan yang ditulis Nanang di pendahuluan buku ini: “Hare gene ngomongin Pancasila?” (hlm. 1) Namun kenyataan belakangan ini membuktikan Pancasila tetap aktual dan penting untuk dibicarakan.

Buku Nanang ini sendiri adalah salah satu upaya pembicaraan itu, dengan memfokuskan pada soal visualisasi Garuda Pancasila (bagaimana sejarahnya dan bagaimana ia ditafsirkan dalam konteks lokal-partikular oleh orang-orang kebanyakan dalam bentuk gapura-gapura yang biasa menghiasi jalan masuk kampung-kampung). Ini penelitian penting, bukan cuma buat kita di sini tapi juga layak diinggriskan dan dipasarkan di studi-studi Indonesia di universitas luar, namun tentu dengan sejumlah perbaikan. Maka kritik/masukan yang saya tulis sebaiknya dibaca dalam kerangka perbaikan tersebut.

Soal penulisan
Nanang menggeluti dunia visual dan tafsiran-tafsiran yang diberikannya terhadap visualisasi Pancasila di buku ini bertolak dari bidangnya tersebut, namun tak ada salahnya ia dibantu seorang penulis yang berlatar sejarawan/peneliti sosial untuk memperdalam uraiannya. Saya pikir beberapa kutipan dari milis tak layak masuk karena hanya berdasarkan omongan (hlm. 31-32), begitu juga ucapan Widyatmoko tentang pencetus sayap 17 helai, ekor 8 sisik dsb (hlm. 36), atau uraian tentang logo Republik Mimpi “Konon kata perancangnya” (hlm. 51, harus disebutkan siapa itu perancangnya juga sumber otentik pernyataan tersebut). Apalagi rujukan “desas desus” tentang organisasi International Illumination dan Luciferians Corp (hlm. 79-80) bikin buku ini berkurang kesahihannya.

Jadi intinya: beberapa poin perlu diperdalam dengan data. Karya nonfiksi bisa ditulis dengan gaya paling serius sampai paling nyeleneh. Terserah, tapi data tetap penting. Misalnya hlm. 49, saat Nanang mengkaitkan gapura Pancasila aneka warna di kampung-kampung dengan kemenangan partai tertentu di kampung tersebut. Nah, ini saya kira perlu ada data riil hasil pilkada/parpol dominan di kampung tersebut dan bukan cuma tafsiran. Begitu juga dengan hlm.47 saat membahas gapura Pancasila hanya dengan 1 sila di “gang di sekitar kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”. Mungkin perlu ada wawancara dengan ketua RT atau warga.

Editor juga perlu lebih teliti. Masa yang begini-begini lolos dari pantauan sih: blad eagle (hlm.10), multiple chois (hlm.38)?

Soal tata letak
– Buku ini dimaksudkan sebagai buku visual, tapi sayang beberapa foto yang dibahas/dianggap penting justru dipasang dengan ukuran kecil. Beberapa foto semestinya dipasang sebesar 1 kolom penuh dan bukan cuma nyempil di antara teks.

– Sebagai buku visual, buku ini mengandung cacat banyaknya foto tanpa caption (keterangan letak dan tanggal pemotretan), apalagi di halaman khusus foto 115-133. Keterangan ini menurut saya esensial untuk memahami visualisasi garuda itu dalam konteks sosialnya.

Beberapa hal yang menjadi pikiran saya
1. Soal mengapa Garuda menghadap kanan? Nanang memberi penjelasan bahwa ini semata-mata kebiasaan bangsa Indonesia bahwa kanan dianggap baik sementara kiri sial, jahat, serong. Namun dalam konteks politik semasa Revolusi, yakni saat Pancasila dirumuskan dan dibuat lambangnya, mengganggap kiri sial, jahat, dan serong tentulah tidak mungkin secara politik. Bahkan kabinet Indonesia saat itu pun bernama Koalisi Sayap Kiri. Jadi menurut saya penjelasan Nanang kurang memadai. Pasti ada alasan lain mengapa Garuda menghadap kanan. Di sini dibutuhkan campur tangan sejarawan. Bisa jadi –dan saya duga demikian—justru tidak ada penjelasannya. Gambar itu terjadi begitu saja hanya karena kebiasaan kita menulis dari kiri ke kanan.

2. Sehubungan dengan poin no. 1 ini, Nanang juga tidak menjelaskan foto sangat penting yang dipajang besar-besar di hlm.40: garudanya menghadap kiri! Foto gapura yang tanpa keterangan ini jelas butuh pembahasan khusus, serta wawancara dengan warga atau ketua RT dsb.

3. Soal transformasi logo Garuda dan tak adanya penjelasan lengkap tentang siapa saja anggota Panitia Lencana Negara (hlm.19). Saat itu Pancasila sudah dirumuskan, tapi dalam visualisasi perisai di versi 1 kita tak melihat adanya lambang bintang (Ketuhanan) dan silanya pun cuma 4. Dalam versi 2 padi dipisah dengan kapas dan bintang tetap tiada. Pada versi 3, “Bhinneka” masih tertulis “Bhineka”. Menjadi tugas penting untuk membongkar arsip tentang anggota panitia ini dan perdebatan-perdebatan di dalamnya sehingga transformasi ini bisa dilacak asal usulnya.

4. Saya baru tahu kalau logo Republik Mimpi itu dimaksudkan untuk menggambarkan “semangat saling menghormati dan mempersilahkan orang-orang untuk maju” karena sayapnya yang menekuk seolah “sedang mempersilakan kita untuk berjalan di samping kirinya” (hlm. 51) Saya selalu menyangka logo itu menggambarkan si burung sedang menguap karena ngantuk (Republik Mimpi kan?)

5. Apa mata saya salah liat? Garuda di hlm.119 sepertinya sedang menghisap pipa cangklong!

6. Foto hlm.121 kiri atas sepertinya memang bukan berniat bikin Garuda deh, tapi ayam yang memang banyak dipasang di jam (ketularan budaya Eropa) sebagai tanda “bangun pagi”.

——-

Penelitian Nanang ini perlu diperluas. Saya pikir pemerintah juga berkepentingan dengan proyek ini dan wajib mendanainya. Kita perlu tahu dengan jujur bagaimana Garuda (yang dicomot dari mitologi Hindu/India dan didasarkan pada elang jawa) dipersepsi oleh orang di Papua atau Aceh misalnya, pada masa-masa pembentukan RI, masa Orba, sampai masa sekarang yang punya sejarah kelam dengan kekerasan militer akibat Pancasila yang disterilkan dan Jawanisasi a la Orde Baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: