“Metropolis”: Upaya Memberantas Sindikat Narkoba

Metropolis
Windry Ramadhina
Grasindo, 2009  |  331 hlm

metropolisSeperti Agusta Bram, tokoh polisi di novel ini, saya punya alasan pribadi untuk “tertarik” pada narkoba. Ketertarikan yang bermula dari dendam dan tidak mengerti. Tiga teman saya mati kena barang itu. Saat itu paruh kedua era 1990an. Psike anak muda Jakarta/Indonesia masa itu menurut saya sedang dipengaruhi oleh dua hal besar:

  1. Globalisasi yang mulai merajalela dalam bentuk merebaknya mall-mall, kafe-kafe, dan budaya dugem yang menghadirkan kebaruan-kebaruan yang belum ada presedennya dalam kehidupan sosial anak muda. (Dan seperti barang-barang lainnya, globalisasi juga menghadirkan variasi narkoba yang lebih beragam dan terjangkau);
  2. Kemuakan terhadap tatanan yang ada, yang tertuang misalnya dalam musik dan budaya alternatif (ingat Trainspotting), filsafat posmo, dan mulai mengerucutnya perlawanan terhadap Orde Baru.

Di satu sisi ada pemberontakan, di sisi lain ada semacam penyaluran kemuakannya. Sering saya berdebat dengan teman-teman junkies saya apakah narkoba bisa disebut penyaluran bagi pemberontakan. Tapi percuma. Memplesetkan Marx, saat itu adalah masa ketika “candu adalah agama masyarakat”, di tiap diskotik, di tiap pesta, triping adalah kewajaran. Kos saya terletak persis di sebelah sebuah diskotik dangdut di kawasan Jakarta Pusat. Tiap malam saat saya nongkrong makan di warung, narkoba dalam segala jenis diedarkan bebas di antara cewek-cewek atau tamu-tamu di situ yang sedang menggerombol di warung-warung makan. Hukum benar-benar tak berjalan, sekalipun polisi sering mampir ke diskotik itu (minta setoran tentunya). Itu yang bikin saya marah pada teman-teman junkies saya: di siang hari kami melawan Soeharto dan Cendana, malamnya kawan-kawan menenggak obat-obatan yang kita tahu duitnya mengalir masuk ke Ari Sigit dan istrinya.

Saya makin marah setelah dua teman saya mati OD. Saya takkan lupa bagaimana barang itu menggerogoti dengan cepat manusia dan kemanusiaan. H —sebut saja demikian, teman ketiga saya yang nantinya mati— adalah yang terjenius di antara kawan-kawan sekampus. Makin larut ia dalam obat, makin tumpul juga kepekaan dan penalarannya. Sampai akhirnya, saat sedang sakaw berat, kami tarik ia beramai-ramai ke kamar kos saya. Kami kurung dan rawat ia, mandikan, ceboki, suapi. Secara teori, kalau dalam 3 hari ia bisa mengatasi sakawnya, ia sembuh. Kalau tidak ya ia mati, tapi paling tidak ia tidak mati tergeletak begitu saja di jalanan.

H sembuh. Tapi tak lama. Kecanduan keduanya lebih parah. Ia sudah tak ingat teman. Walkman saya —sedikit dari harta yg saya miliki sebagai mahasiswa—raib diambil dan dijualnya. Beberapa kawan yang ikut merawatnya memutuskan talak tiga: tidak mau mengenalnya lagi. Persetan ia mau mati atau tidak. Sebagian teman lainnya masih bersabar. Kami pulangkan H ke rumah ibunya di Serang. Kembali di sana ia dikurung dan dirawat, kali ini oleh keluarganya. Rutin kami menerima kabar dari sang ibu. Awalnya, beliau bercerita, saat dikurung dalam keadaan sakaw di kamar, H nekat menenggak parfum-parfum yang ada di kamar itu. Setelah beberapa bulan keadaan H membaik dan bahkan ikut pesantren. Namun entah bagaimana ia terjerat lagi dalam lingkungan yang sama dan akhirnya tak tertolong.

Dan sekarang pun saya menjadi pendukung hukuman mati buat pengedar narkoba, dan seringkali harus adu argumen dengan kawan-kawan baik saya sendiri para aktivis HAM yang menentang hukuman mati. Saya tahu siklus kekejian ini harus diputus, tapi para pengedar itu benar-benar seperti bukan manusia buat saya. Mereka pasarkan narkoba ke anak-anak SD dalam kemasan bentuk permen dan coklat. Ya Tuhan, apa yang ada di pikiran mereka? Indonesia macam apa yang hendak mereka buat dari orang-orang bermata kosong yang menggigil terus menerus? Ada satu adegan dalam filmTrainspotting yang paling mengganggu saya dan kerap hadir bagai mimpi buruk: yakni adegan bayi yang menangis terus menerus karena kelaparan tapi tak ada yang peduli karena si ibu dan kawan-kawannya dalam komunitas junkies itu sedang asyik teler. Saat mereka sadar, kurang lebih satu setengah hari kemudian, si bayi sudah terbujur kaku.

Agusta Bram, seperti saya, juga terobsesi oleh masa kecil saat ia melihat ayahnya yang teler dibunuh oleh pengedar karena tak mampu membayar utang-utangnya. Tapi sayang, cuma itu saja yang kita ketahui dari masa lalu Bram. Kita tak tahu bagaimana ia dibesarkan sampai menjadi polisi, atau apa yang membentuk karakternya sampai jadi begitu tangkas dan cerdas. Kita tak tahu mengapa ia tak dendam pada ibunya, atau terkenang ibunya, atau mencari ibunya (ibunya sudah tak tahan dan pergi meninggalkan begitu saja ayahnya yang junkies tanpa membawa serta Bram kecil). Bruce Wayne kecil juga melihat orang tuanya dibunuh, namun para penulis dan ilustrator Batman mengolah dan mengisi masa-masa itu dengan kecamuk psikologis yang mendalam sampai membuat Batman akhirnya terasa jadi masuk akal bagi kita.

Namun Windry tak menyediakan gambaran itu. Sayang memang.Tapi bisa jadi ini bukan kesalahan Windry, melainkan karena genre yang dipilihnya (novel laga atau thriller) memang lebih mementingkan plot sebagai pembangun struktur cerita dan bukan melalui pendalaman karakter. Karena itulah, Metropolisbagi saya sungguh mengasyikkan buat dibaca karena plot yang cepat dan menegangkan, namun untuk bisa menikmati itu beberapa ganjalan logika yang ada memang harus ditepikan terlebih dulu barang sementara.

Dalam karya fiksi orang bisa menulis dan mengkhayal apapun asalkan meyakinkan. Di situ terjadi negosiasi terus menerus antara kadar fiksi dan fakta, mana yang bisa dikarang dan mana yang harus kukuh berpijak pada kenyataan. Metropolis sangat menarik sebagai karya fiksi dan sebagai indikator umum perkembangan kepenulisan Windry. Windry telah melakukan risetnya dengan cukup cermat untuk novel ini, namun ada beberapa hal krusial yang buat saya sepertinya lalai dicermati:

1) Bram tidak mungkin meminta dan memilih akan ditempatkan di divisi mana dalam kepolisian. Apalagi tanpa menjelaskan alasannya dan atasannya bisa menerima begitu saja. Tradisi Polri adalah tradisi penunjukan berdasarkan berbagai pertimbangan para petinggi Polri (bahkan Kapolda pun ditunjuk langsung oleh Kapolri hendak ditempatkan di mana). Gaya kerja Bram, interaksi dengan atasan dan mitranya, Erik, membuatnya seakan bekerja di LAPD dan bukan Polda Metro Jaya, membuatnya jadi seperti Mulder dan Scully atau Hunter dan Deedee McCall dan bukan perwira polisi Indonesia. Metode penanganan kasus dan sistem kelompok kerja/kemitraan dalam Polri bukan seperti itu.

Andai Windry mengurangi stereotip-stereotip kepolisian a la LAPD dan lebih berpijak pada realitas keseharian Satreskrim atau Narkotika Polda Metro Jaya, saya kira Metropolis bisa memberi sumbangsih penting pada khazanah novel detektif/kepolisian kontemporer dunia. Kita tahu, penulis-penulis macam Qiu Xiaolong (Cina), Paco Ignacio Taibo II (Meksiko), Luis Alfredo Garcia-Roza (Brasil), Henning Mankell (Swedia), Manuel Vazquez Montalban (Spanyol/Katalunya) mengolah genre cerita detektif/kepolisian dengan kekhasan masing-masing negerinya, dalam arti: masalah sosial-politik yang dihadapi polisi di tiap-tiap negara itu berbeda-beda dan itu bisa terbaca jelas di sana. Qiu Xiaolong misalnya, memakai korupnya birokrasi Partai Komunis Cina sebagai latar ceritanya, sementara Garcia-Roza menyinggung masalah-masalah korupsi, kemiskinan, dan anak jalanan khas Dunia Ketiga. Indonesia jelas punya segudang masalah untuk diolah jadi bahan cerita yang bisa menyumbang genre cerita detektif dunia.

2) Dunia gelap kriminalitas rekaan Windry ini adalah dunia yang anehnya justru tampak terang-benderang, dalam arti: beberapa tokoh utamanya tidak pernah mengganti nama atau memakai nama samaran sejak kecil! Ini juga mustahil.

  • Miaa misalnya (dengan dobel a), sejak kecil di Kaliurang dipanggil Miaa, di kepolisian Miaa juga, dan setelah lepas dari itu masih bernama Miaa, bahkan kepada ibu kosnya dan administrasi RSJ ia juga memakai nama Miaa.
  • Johan Al juga. Tokoh satu ini jelas harus berganti-ganti nama. Tidak mungkin sejak kecil ia memakai nama itu, di paspor dan daftar penumpang juga memakai nama Johan, di klinik memakai nama Johan, bahkan di YM sekalipun memakai id johan_al (seperti halnya Aretha dan perusahaan cuci uangnya MOSS memakai id mo55). C’mon Wind, bahkan kamu pun pakai miss_worm dan teen_worm kan?

Terakhir, soal kecil namun berpengaruh pada kesempurnaan buku: banyak salah penggal kata di akhir larik-larik kalimatnya. Dan juga, frustrasi tertulis secara rata di buku ini sebagai frustasi (yuhuuu, editor?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: