Kegilaan Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam
Edgar Allan Poe
Judul asli: Tales of Mystery and Terror
diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin dari bahasa Inggris
Gramedia Pustaka Utama, 2010  |  245 hlm

poeSama seperti Maggie Tiojakin penerjemah buku ini, saya kenal Poe zaman masih sekolah, yakni sekitar kelas 6 SD naik ke SMP, ketika masa-masa membaca Enid Blyton sudah lewat dan mulai menjajal bacaan yang lebih sulit macam Agatha Christie, Conan Doyle dsb. Pada zaman coba-coba itulah saya menemukan harta karun di buku-buku peninggalan perpustakaan ayah saya. Selain yang berbau politik macam Pantja Azimat Revolusi dan Sarinah-nya Soekarno, ada juga karya-karya sastra seperti Kalung Guy de Maupassant dan Kumbang Emas Edgar Allan Poe ini (terbitan Jajasan Pembangunan tahun 1952, tanpa keterangan penerjemah, bercap nama Cina ayah saya dan tanda R.C. yang artinya ternyata Reading Club).

Dalam Kumbang Emas ini, ada bahasa sandi yang sangat memikat saya waktu itu:

53‡‡†305))6*;4826)4‡.)4‡);806*;48†8960))85;1‡(;:‡*8†83(88)5*†;46(;88*96*?;8)*‡(;485);5*†2:*‡(;4956*2(5*—4)898*;4069285);)6†8)4‡‡;1(‡9;48081;8:8‡1;48†85;4)485†528806*81(‡9;48;(88;4;(‡?34;48)4‡;161;:188;‡?;

yang ternyata pemecahannya mirip dengan salah satu cerita Sherlock Holmes tentang misteri gambar orang menari. Saat itu saya belum paham dengan istilah “sastrawi”, tapi ketika membaca Kumbang Emas, memang terasa ada yang beda dengan membaca cerita Agatha Christie atau Conan Doyle, apalagi Trio Detektif, yang waktu itu sama-sama saya golongkan sebagai goldbugcerita detektif/misteri. Ada kedalaman/kerumitan tertentu pada tokoh-tokohnya atau penulisannya yang tak saya dapati dalam bacaan-bacaan saya sebelumnya.

Dan itulah rupanya yang memang membedakan Poe dengan penulis misteri lainnya. Belasan tahun sesudahnya saya membaca The Black Cat yang terjemahannya ada di kumpulan Kisah-kisah Tengah Malam ini, juga kumpulan Hati yang Meracau, terjemahan keren A.S. Laksana dan Hasif Amini, terbitan Akubaca. Cerpen “Hati yang Meracau” adalah terjemahan “The Tell-Tale Heart” (yang di kumpulan ini diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin sebagai “Gema Jantung yang Tersiksa” (hlm. 11), tapi maaf, terjemahan Maggie yang ini menurut saya tidak sebagus terjemahan A.S. Laksana).

Begitu pula setelah saya mendalami sastra Amerika Latin, semakin kagum saya terhadap Poe melihat besarnya pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Amerika Latin, terutama pada para maestro cerpen Jorge Luis Borges dan Julio Cortázar. Edisi komplit cerpen Poe diterjemahkan ke bahasa Spanyol oleh Cortázar, dan Borges mewarisi kecenderungannya untuk membual dengan sedetail-detailnya sampai pembaca percaya, dan membawa yang-mustahil pada latar cerita yang sehari-hari. Ketika cerpen lengkap Poe terjemahan Cortázar diterbitkan ulang pada 2008, sastrawan Fernando Iwasaki dan Jorge Volpi sebagai editornya menulis pengantar “Todos somos descendientes literarios de Poe, pues gracias a Poe existieron Borges … y … Cortázar” (‘Kita semua keterunan literer dari Poe, berkat Poelah ada Borges dan Cortázar”). Pada cerpen “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219), Poe memberi rujukan buku ngarang-ngarang yang ditulis amat rinci untuk meyakinkan pembaca, sama seperti Borges dalam salah satu cerpen paling masyhurnya “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius.”

Bagi saya, yang menarik dari Poe adalah caranya mempersepsi dan menyampaikan teror. Teror, dalam Poe, lebih merupakan teror batin, bukan dikarenakan oleh kekuatan dari luar seperti ditakut-takuti hantu/monster yang secara fisik digambarkan ada sungguhan. Tokoh-tokoh Poe jadi gila oleh mania-manianya sendiri, misalnya rasa jengkel gara-gara kucing, rasa penasaran gara-gara peti atau rumah, salah lihat laba-laba, rasa terganggu oleh gagak dalam puisi terkenalnya “The Raven”. Kegilaan itu ada dalam diri tokoh, tinggal tunggu momentum atau obyek tertentu untuk meledakkannya (bisa kucing, buku, peti atau apapun). Tema kegilaan ini terus diulang-ulangnya, misalnya narator dalam Kumbang Emas, “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 89), dan “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219) sama-sama mencurigai temannya menunjukkan tanda-tanda kegilaan pada awal cerita. Namun pada akhir cerita kita tidak tahu lagi siapa yang sebenarnya gila siapa waras, atau apakah semuanya benar-benar terjadi atau khayalan si narator yang sudah jadi gila.

Beberapa tahun yang lalu, dalam paparan berjudul “Bulan Salah Tempat (atau: Seberapa Penting Detail Faktual dalam Sastra?)”,  saya juga memakai Poe di sebuah diskusi sastra sebagai contoh salah satu “karya besar yang mengandung kesalahan faktual di dalamnya”. Astronom Frank Jordan mencatat bahwa cerpen Poe “Descent to Maelstörm” (diterjemahkan di sini sbg “Mengarungi Badai Maelstörm” hlm. 61) mengandung kesalahan saintifik, karena diceritakan bahwa peristiwa badai terjadi pada tanggal 10 Juli, kapal terseret arus dengan dramatisasi cahaya bulan menyorotinya, padahal di Norwegia yang menjadi latar cerita ini, pada bulan Juli tidak mungkin ada bulan karena matahari bersinar 24 jam. Tapi sekarang setelah saya pikir-pikir lagi, kisah tentang bulan itu adalah tuturan si narator. Dan kembali ke poin saya sebelumnya, bisa jadi si narator itu ngelantur, sudah gila, dsb, atau malah bisa jadi ia cuma membual dan badai itu malah sama sekali tak pernah terjadi. Kegilaan si narator itulah kejeniusan Poe.

Meski Kisah-kisah Tengah Malam ini diterjemahkan dan digarap dengan apik, ada beberapa kesalahan terjemahan yang terpaksa saya cantumkan di sini karena agak fatal:

1) Dalam cerpen “Mengarungi Badai Maelstörm”, tertulis tanggalnya adalah 18 Juli, padahal aslinya “It was on the tenth day of July, 18—”, yang maksudnya adalah “10 Juli 18—” (baca: sepuluh Juli delapan belas sekian). Si narator kisah ini menyamarkan tahun peristiwanya. Jadi maksudnya bukan tanggal 18 Juli.

2) Dalam cerpen “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 106) tertulis “Tentunya mereka tenggelam dalam sekejap,” kata sang kapten. “Tapi tidak lama lagi mereka akan bangkit—saat semua garam di laut sudah mencair.”

Kalimat aslinya adalah: “They sank as a matter of course,” replied the captain, “and that like a shot. They will soon rise again, however—but not till the salt melts.”

Di sini, “rise again” tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi “terangkat lagi / mengapung kembali”; “bangkit” terasa janggal, karena berkesan dua orang yang tenggelam itu akan “bangun dari mati”. Begitu pula “salt melts” yang dimaksud tentunya adalah garam yang ada dalam peti, dan bukan yang ada di laut.

Advertisements

2 thoughts on “Kegilaan Edgar Allan Poe

  1. Amanda says:

    Halo mas Ronny, perkenalkan saya Amanda. Saya sedang mencari buku terjemahan The Tell-Tale Heart terjemahan AS Laksana. Kalau boleh tau dimana saya busa mendapatkannya ya Mas? Terimakasih.

    • Ronny Agustinus says:

      Wah saya punya 1 eks, tapi kurang tahu di mana sekarang bisa mendapatkannya ya. Mungkin toko2 buku bekas di dunia maya ada yang punya stok. Tapi coba saya tanyakan ke Bung Sulak juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: