Dinamika Keuangan Kaum Miskin

Portfolios of the Poor: How the World’s Poor Live on $2 a Day
Daryl Collins, Jonathan Morduch, Stuart Rutherford, Orlanda Ruthven
Princeton University Press, 2009  |  320 hlm

portofolio[ Ulasan ini dimuat juga di situs FAIR Institute ]

Patokan kemiskinan ala Bank Dunia yang memakai besaran pendapatan AS$2 sehari kerap dipermasalahkan. Katakanlah dalam kasus Indonesia, sebagian peneliti memakai patokan AS$1 sehari (peneliti Korea Yong Ho Bang, misalnya, pernah menulis One Dollar A Day: Poverty in Indonesia [1999]). Tapi bukan perdebatan angka itu yang hendak diulas oleh buku Portofolios of the Poor maupun resensi ini. Baik AS$1 maupun AS$2, yang jelas kita tahu bahwa standar hidup orang miskin jauh berada di bawah orang kebanyakan. Namun para ahli umumnya berhenti sampai di situ, dan belum ada yang menelisik lebih jauh: dengan uang cuma sebesar itu, bagaimana sesungguhnya orang miskin menata hidupnya?

Kita cenderung mudah berasumsi bahwa ketiadaan uang dengan sendirinya membuat orang miskin bertahan hidup dengan cara yang paling apa adanya: tidak makan, tidak membetulkan rumah bila rusak, tidak berpergian, tidak melakukan transaksi keuangan, tidak menjual atau membeli, dan singkat kata: “tidak ngapa-ngapain”. Tapi asumsi ini melupakan fakta mendasar bahwa orang miskin justru harus aktif “ngapa-ngapain” demi bertahan hidup, dan bila mungkin, memperbaiki hidupnya.

Buku Portofolios of the Poor ini merontokkan asumsi tersebut dengan membuktikan secara empiris bahwa kaum miskin adalah kaum yang saban harinya sangat aktif melakukan transaksi keuangan justru karena mereka miskin. Kemiskinan membuat pertahanan hidup mereka rapuh, misalnya dari penyakit atau kecelakaan. Pegangan uang selalu dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah mendadak seperti ini, dan itu yang membuat cashflow mereka sangat dinamis dan vital bagi kelangsungan hidupnya. Mereka tidak langsung menghabiskan uang berapapun yang didapat untuk kebutuhan perut, namun selalu menyisihkannya untuk tabungan dan transaksi-transaksi lainnya dengan sanak keluarga atau tetangga. Dinamika inilah, menurut para penulis buku ini, yang selama ini dilupakan dalam program pengentasan kemiskinan yang kerap mengasumsikan bahwa kaum miskin itu tidak melek-finansial.

Buat saya buku ini orisinal dalam metode risetnya. Sederhana saja sebenarnya: para periset membuat catatan keuangan harian (“financial diaries”) atas perilaku keuangan kaum miskin yang ditelitinya. Total terkumpul 250 catatan keuangan harian dari 3 negara: Bangladesh, India, dan Afrika Selatan. Temuan-temuan yang didapat dari catatan harian ini jadi terasa mengejutkan hanya karena kita sebelumnya tak pernah tahu kehidupan orang miskin secara riil. Misalnya: meskipun berkekurangan dan sedang dalam kondisi berutang, mereka ternyata juga masih memberikan pinjaman pada tetangganya yang lebih membutuhkan saat itu.

Atau misalnya sistem adat susu di Afrika. Susu adalah semacam kolektor tabungan di lingkungan kaum miskin, dan antar mereka sendiri, yang tugasnya menagih dan menyimpankan tabungan harian mereka dan sebagai imbalannya mendapat nilai satu hari tabungan itu. Secara bulanan berarti tabungan itu susut 3,3% dan secara tahunan susut 40%! Bayangkan bila Anda menabung di bank dan akhir tahun mendapati uang Anda bukannya bertambah, malah berkurang 40%, Anda pasti marah besar! Rasionalkah sistem macam ini? Bagi kaum miskin di Afrika, sistem ini rasional. Potongan 40% itulah harga yang harus dibayar agar mereka disiplin menabung setiap hari dan tidak memakai uangnya karena godaan-godaan yang kurang penting.

Hal yang sama juga berlaku pada Hamid, penarik angkong dari Bangladesh ini misalnya. Ketika meminjam $10 dari rentenir, ia dikenakan bea 25 sen per minggu. Bagi Hamid yang pendapatannya rata-rata $2,33 per hari, biaya 25 sen masih terjangkau, meskipun dalam perhitungan kita itu sama artinya dengan bunga 261% per tahun! Jelas tidak masuk akal. Tapi menurut buku ini, itulah yang dilupakan oleh peneliti selama ini: kaum miskin hidup hari per hari, jadi ketika periset memakai hitungan dan cara berpikir mereka yang per tahun, “they may be following standard accounting practices but distorting the real picture.” (hlm. 22).

Jadi ketika pengambil kebijakan bertekad menghapuskan rentenir dengan menyediakan kredit yang bunganya lebih rendah dari bunga si rentenir, bisa jadi mereka salah sasaran, karena poinnya bukan di situ. Kaum miskin tidak meminjam berdasarkan tinggi rendahnya bunga, melainkan siapa yang lebih cepat dan fleksibel dalam menyediakan dana. Dan justru di poin ini kredit pemerintah (dengan segala formalitas birokratisnya) sering kalah mudah diakses dibanding pinjaman rentenir.

Demikian pula dengan konsep “menabung”. Bila kita bayangkan kaum miskin menabung seperti kita menabung di bank, tentu tidak tepat, namun bila kita asumsikan bahwa mereka tak bisa menabung karena minimnya dana yang ada, ini juga salah. Mereka berusaha keras untuk menabung, bahkan ada yang meminjam uang untuk ditabung (praktik yang terdengar ganjil, mungkin).

Detail-detail inilah yang kadang terabaikan dalam langkah-langkah pengentasan kemiskinan yang progresif sekalipun, misalnya skema-skema kredit mikro yang dirintis salah satunya oleh Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Grameen, bagi para penulis buku ini, terlalu menitikberatkan pada kredit usaha, padahal penelitian ini menunjukkan bahwa dana seringkali dibutuhkan untuk hal-hal lain seperti biaya perawatan anggota keluarga sakit atau meninggal, buat membayar sekolah, memperoleh aset rumah tangga. Kebutuhan-kebutuhan yang terbilang sentral dalam pertahanan hidup kaum miskin inilah yang belum banyak tersentuh oleh para penggiat kredit mikro.

Lihat misalnya pasangan suami-istri Subir dan Mumtaz dari Bangladesh. Mereka tidak mau ikut dalam lembaga-lembaga keuangan mikro yang ada seperti Grameen, sebab kebutuhan mereka bukan meminjam, melainkan menabung. Akhirnya, saat mereka mendengar ada lembaga yang tidak mewajibkan adanya pinjaman, mereka pun akhirnya ikut. Setelah beberapa lama menabung dan merasa nyaman dengan lembaga tersebut, baru Subir dan Mumtaz merasa percaya diri buat meminjam. Namun lagi-lagi, pinjaman mereka ini ternyata tidak sejalan dengan premis utama kredit mikro yang menitikberatkan pada kredit usaha. Sebagai penarik angkong sewaan, Subir didorong untuk memakai dana pinjaman tersebut buat membeli angkong sendiri, namun pasangan ini memutuskan bahwa mempunyai angkong sendiri terlalu riskan buat mereka karena tidak ada tempat aman buat menaruhnya waktu malam. Akhirnya uang itu pun dipakai untuk menyetok beras, membeli lemari kayu (satu-satunya perabot mereka selain ranjang), dan $20 dipinjamkan kepada sesama penarik angkong dengan bunga 17,5% per bulan. Perilaku keuangan seperti ini “should make us think carefully before we conclude that loans for poor people are of little value, or may even be a dangerous temptation to fall into deep debt, unless they are used for working assets.” (hlm. 48) Perilaku keuangan seperti ini mengharuskan konsep “working assets” (“modal usaha”) didefinisikan secara lebih lentur lagi oleh lembaga-lembaga keuangan mikro.

Hampir lima puluh halaman terakhir buku ini diperuntukkan buat apendiks yang berisi penjelasan tentang riset portofolio kaum miskin ini, mulai dari pemilihan lokasi, pemilihan sasaran, kekurangan dan keunggulan riset ini, penjelasan istilah-istilah (apa beda meminjamkan uang ke tetangga dengan menyimpannya di tetangga) dlsb. Buat kita di Indonesia, bisa jadi bagian inilah yang paling penting untuk dipelajari, dan bila mungkin, diaplikasikan dalam riset agar kita memperoleh gambaran yang lebih riil tentang wajah kemiskinan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: