Dunia Penuh Kloningan KW2

Seroks (Iteration 1: Mirror Man)
David Hontiveros; ilustrasi: Alan Navarra
Visprint, Inc., 2012 |  159 hlm

seroksTampaknya benar sinyalemen beberapa pengamat, termasuk Ben Anderson, bahwa negara-negara Asia Tenggara nyaris tidak saling mengenal satu sama lain dalam hal sastra. Dalam satu dekade terakhir misalnya, adakah terjemahan buku-buku sastra dari Thailand atau Birma atau Filipina ke dalam bahasa Indonesia, dan juga sebaliknya? Perhelatan pertama Festival Sastra ASEAN di Jakarta beberapa waktu lalu juga tampak belum konkret dalam merintis upaya atau komitmen untuk saling mengenal dan menerjemahkan ini.

Tentang sastra Filipina, misalnya. Referensi terakhir yang saya punya tentang fiksi Filipina hanyalah terjemahan Indonesia José Rizal terbitan Pustaka Jaya dan terjemahan Indonesia F. Sionil José terbitan Yayasan Obor belasan tahun yang lalu. Memang saya membaca cukup banyak kajian mengenai Rizal (semisal karya Ambeth Ocampo atau Ramon Guillermo), bahkan sedang melengkapi buku-buku kajian tentang penulis dan patriot menakjubkan yang amat dikagumi Tan Malaka itu, tapi buku-buku ini tentunya tak termasuk fiksi. Karena itulah, setelah berbelas tahun tak pernah menyentuh fiksi Filipina, menyenangkan rasanya bisa membaca lagi karya kontemporer dari tetangga utara kita itu.

Koleksi kajian tentang José Rizal

Sebagian kajian tentang José Rizal koleksi saya

 

Seroks (Iteration 1: Mirror Man) karya David Hontiveros (Pasay City: Visprint, 2012) adalah novel fiksi ilmiah yang dikembangkan dari cerpennya  berjudul “Kaming Mga Seroks” (2002). Cerpen Hontiveros tersebut –yang nantinya menjadi Bab 1 novel ini—pada 2002 menerima hadiah kedua Palanca Award, penghargaan sastra bergengsi dan mungkin terlama di Filipina, dalam kategori karya berbahasa Inggris.

Seroks adalah pelafalan bastar dari “Xerox”, merk mesin fotokopi itu. Dan dari sana mungkin bisa ditebak bahwa novel ini bercerita tentang penggandaan, kloning, pada sebuah masa depan distopia pasca jihad melawan Setan Besar Amerika Serikat. Virus yang melanda benua Amerika membawa kemandulan sembilan dari sepuluh pria yang selamat. Dalam kondisi kepepet itu, pertimbangan etis dan moral yang selama ini melingkupi perdebatan tentang upaya kloning manusia dengan seketika dikesampingkan, dan riset tentang itu langsung melaju pesat. Orang-orang kaya –selalu merekalah yang punya peluang terbesar untuk selamat dalam bencana apapun—mengkloning diri mereka sendiri saat dihadapkan pada realita kemandulan.

Apa dampaknya bagi Asia Tenggara? Seperti biasa, kita tahu, barang bajakan berlimpah ruah diperjualbelikan di wilayah kita ini. Di zaman ini: CD, DVD, tas Hermes, sandal Crocs dll. Di zaman rekaan Hontiveros: manusia. Bajakan dari sekuens genetik orang-orang kaya dan terkenal tertentu yang diproduksi di Amerika. Artinya: Kloning KW2 dari kloningan “asli”-nya. Kloningan palsu, kloningan abal-abal, kloningan modif, kloningan bikinan Cina.

Filipina sendiri di zaman itu telah merasakan dampak dari konsumerisme era-era sebelumnya. Kelas menengah kolaps tak mampu mengejar gaya hidupnya sendiri. Kaum miskin kota menjamur akibat runtuhnya kelas menengah ini, yang lalu berebut tempat dengan kaum miskin lama. Lagi-lagi hanya kaum kaya yang tetap bertahan di ujung piramida ekonomi-politik, dan untuk mengerjakan tugas-tugas kasar dan kotornya, mereka bisa memilih memakai kloningan KW itu (seroks) atau manusia asli. Seroks juga diproduksi untuk maksud-maksud lain, misalnya budak seks (seroks putas), atau organnya dipotong-potong lagi untuk diperjualbelikan (chops-chops), atau ada juga yang dipakai sebagai semacam “kembaran” untuk mengelabui orang (disebut fiday).

Di sini Seroks bermaksud tampil sebagai fiksi ilmiah yang kuat mengandung kritik sosial, dan dalam hal itu ia memang berhasil memampang realitas kelas-kelas sosial Filipina dengan jalang dan telanjang. Memang harus diakui, dalam soal wabah kemandulan global itu ada bau-bau The Children of Men, novel P.D. James tahun 1992 yang lantas difilmkan oleh Alfonso Cuarón menjadi Children of Men (2006). Tapi Seroks menggiring tema itu lebih jauh dan menancapkannya dalam konteks lokal secara mengena. Ia jauh lebih rumit daripada, katakanlah, Elysium (2013) besutan Neil Blomkamp yang dalam memakai fiksi ilmiah sebagai kritik sosial seolah-olah memandang hanya ada dua kelas dalam masyarakat: kelas berpunya/berkuasa di Elysium dan kaum miskin/lemah yang menyisa di Bumi.

Kelas-kelas sosial dalam dunia kloningan KW2 ini adalah cerminan kelas-kelas sosial-campur-rasial pascakolonial. Rumit, brutal, tak sesimpel oposisi biner kaya-miskin, majikan-buruh. Manusia bersaing dengan kloningan; kloningan bersaing antar mereka sendiri. Cina memproduksi kloningan KW, tapi hanya untuk ekspor dan tak mengizinkan mereka tinggal di negeri itu sendiri. Kelompok-kelompok ekstremis xenofobis berdiri di Cina memburu dan membasmi kloningan-kloningan yang nekat hidup di sana. Kelompok ini memakai nama Yìhé Quán, diambil dari nama kelompok radikal zaman Dinasti Qing yang membantai orang-orang Kristen. Sementara orang-orang Chinoy (Cina Filipina) sendiri juga ogah mempekerjakan seroks, yang dipandang sederajat dengan hewan. Mereka memilih memakai manusia-manusia asli dari kelas bawah Filipina.

Sebuah artikel bernas Berto Tukan dan Yovantra Arief di Indoprogress pernah mempersoalkan bagaimana fiksi ilmiah tak pernah dilirik oleh para sastrawan Indonesia (terutama yang mengklaim kiri) sebagai medium penyampai kritik sosial. Ya, itu memang persoalan akut kita. Dan sambil berharap-harap kapan akan dibuat, Seroks tampaknya cukup berhasil mengobati kerinduan saya akan hal itu. Memang tidak dari negeri sendiri, tapi juga tidak jauh-jauh amat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: