Category Archives: Bahasa

This Book is So “Ngawur”

The Meaning of Tingo and Other Extraordinary Words from Around the World
Adam Jacot de Boinod
Penguin, 2007  |  209 hlm

tingoI wrote this review in English, because –like the book itself—it is intended to English speaking reader. And my recommendation is: don’t expect this book to be a reliable reference.

This book is a compilation of foreign words about concepts or expressions which cannot be conveyed in English language. But the problem is the author doesn’t seem to understand the context which these words are used.

The obvious examples for me is the use of Indonesian words here. Two of them are:
1) the author bio on the backflap: He is now intending to nglayap (Indonesian—“wander far from home without no particular purpose”), but for the moment lives in London. For this context you have to use “merantau”.
2) “Begadang” is categorized in “Conversation” (p.5), which is totally wrong because “begadang” itself means stay up all night, which is not necessarily involve a conversation. You can begadang for doing your homework or watching soccer on TV, for examples.

So I assumed the author also doesn’t understand the context of the other language words.

I searched the Internet looking for explanation for this recklessness and found similar critiques for this book. The author is not a linguist or an expert on language. He just compiled and collected words from every dictionaries he read for his job in a comedy quiz show on BBC. And some reviewers even pointed out that some of the words listed in this book actually don’t exist.

How come Penguin published a book like this? Don’t they have some competent editors?

This book is meant to be funny, I guess, but there’s nothing funny about a language book that’s so ngawur and ngaco.

Asal Usul Kata

All About Words: An Adult Approach to Vocabulary Building
Maxwell Nurnberg & Morris Rosenblum
Mentor Books, 1968  |  416 hlm

wordsMungkin terasa agak ketinggalan zaman untuk dibaca sekarang, dan bila ada edisi barunya tentu banyak kata-kata baru akan diulas di sini. Tapi buku ini tetap mengasyikkan dan menarik, terutama buat para penggandrung kata dan asal usulnya. Dijelaskan di sini, misalnya, bagaimana kata maverick berasal dari seorang peternak abad ke-19 bernama Samuel A. Maverick yang menolak mencap besi panas ternak-ternaknya, sehingga lahirlahmaverick yang kurang lebih berarti “non-kompromi” atau “rada-rada menyempal/pembangkang”; bagaimana kata mesmerize berasal dari nama Friedrich A. Mesmer yang menemukan hipnotis; bagaimana discothèque dalam bahasa Perancis aslinya bermakna “ruang penyimpanan rekaman musik” (seperti bibliothèque adalah perpustakaan untuk menyimpan buku), dan baru mendapatkan ketenaran serta maknanya seperti yang kita kenal sekarang setelah New York Times mempopulerkannya dalam artikelnya tahun 1965: “a behind-the-scene hi-fi system that sounds bigger than life.”

Membaca ini saya jadi bertanya-tanya tentang Pusat Bahasa yang kita miliki serta Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang selalu sangat lambat dalam memasukkan istilah-istilah baru yang umum beredar di masyarakat ke dalam kamus, sehingga pada akhirnya akan melebarkan kesenjangan antara “bahasa resmi/tulis” dan “bahasa keseharian/lisan” yang berdampak buruk pada bahasa Indonesia itu sendiri. Lihatlah misalnya, pada 2012 Oxford Dictionaries sudah memasukkan kata-kata macam lolz dan tweeps dalam kosakata mereka, kata-kata yang berasal dari budaya teknologi informasi zaman ini. Sementara sebaliknya saya lihat bahkan kata “dugem” pun belum diterima dalam KBBI, padahal “dugem” —berdasarkan pengalaman saya sebagai penerjemah—bisa menjadi padanan yang apik bagi istilah macam rave party, night out, yang sulit dan tak pas untuk sekadar diterjemahkan sebagai “pesta”.