Category Archives: Komik

One Hell of a Crisis

Crisis on Infinite Earths
Marv Wolfman, George Pérez (Illustrator)
DC Comics, 2001 [terbit pertama 1984]  |  368 hlm

crisisThe backcover said: “CRISIS ON INFINITE EARTHS finds the alternate worlds that once were a hallmark of the DC Universe under siege by a mysterious force powerful enough to wipe out the lives of billions”. The mysterious force is said to be The Anti-Monitor and his antimatter universe, but actually, in the real world that force is what we call “the market”. Yes, DC at that time (mid 1980s) risked to lose new (and younger) generations of readers because their continuity of the so-called “multiverse” became so complicated and confusing for the newbies.

There’s Earth-1, Earth-2, Earth-3, Earth-4, Earth-10, Earth-S, Earth-X, Earth Prime and many more, not to mention that each earth has its own past, present and future. Earth-1 for example, has Sgt. Rock for its WW II past, Superman and the likes for its present, and Legion of Superheroes for its 30th century future. Earth-1’s Hawkman came from a planet called Thanagar, while Earth-2’s Hawkman was a reincarnation of some Egyptian prince. In the present times, Earth-1’s Batman is alive and kicking while Earth-2’s Batman was already six feet under, being replaced by his daughter, Helena Wayne aka The Huntress. In Earth-3, Luthor was hero.

So Marv Wolfman came out with this groundbreaking idea of a very powerful foe that will wipe out the entire DC multiverse and simplify them into a single universe with a consistent history. And he did it with a very chaotic storyline that readers will be glad that the multiverse is finally over 😀 And parts that didn’t make sense at all? Harbinger said, “There are still many questions that cannot be answered.” So just don’t ask, okay?

Read it today, I can’t believe that these series was soooo ’80s. I laugh out loud reading too many self-important boastings like “This is a job for Superman” or “None can resist the power of Phobia”; and the heroes called each other in middle of a fight by their full names “Watchout, Blue Beetle!”; too many lines like “And it’s time for you to die”, “You sealed your own fates, fools, prepare to go to oblivion”; too many “explanation scenes” when someone explained/preached something and the heroes just stood there listening; and too many ridiculousness like The Flash’s Cosmic Treadmill, treadmill that will take you across time barrier if you run fast enough (OMG whose idea is that?), or the whole Marvel Family (Captain Marvel, Mary Marvel, Marvel Junior, Uncle Marvel. (Changeling said, “If Baby Marvel and Fetus Marvel show up, I quit!”)

I’m glad I didn’t read it when I was a kid. I’d be mad as hell if I did 😀

By the way, where are Captain Carrot and His Amazing Zoo Crew? Also Super-Squirrel and JLA (Justa Lotta Animal)? Earth-C and Earth-C minus were also parts of DC multiverse, right?

Berfilsafat dengan Batarang

Batman and Philosophy: The Dark Knight of the Soul
Mark D. White & Robert Arp (eds.)
bagian dari The Blackwell Philosophy and Pop Culture Series yang disunting oleh William Irwin
Wiley-Blackwell, 2008  |  294 hlm

batmanBuku ini masih “sesaudara” dengan buku Metallica and Philosophy yang saya ulas sebelumnya. Dan seperti halnya Metallica and Philosophy, tidak semua esai di buku ini bagus—sebagian terlampau dangkal, dan beberapa topik diulang-ulang. Bila Metallica and Philosophy terlampau menitikberatkan pada soal eksistensialisme, buku ini terlalu banyak memakai utilitarianisme (dan kritik terhadapnya) untuk menyoroti Batman. Tapi tetap, dari total 20 esai, ada beberapa yang sangat menggugah dan membuat kita takkan membaca Batman dengan cara yang sama lagi.

1. “Why Doesn’t Batman Kill the Joker?” – Mark D. White
Ini ulasan dan pemanfaatan utilitarianisme paling bagus di buku ini: kalau membunuh 1 orang (Joker) bisa membuat begitu banyak nyawa selamat, mengapa Batman tidak membunuhnya saja dari dulu? Mengapa pengadilan Gotham tidak menjatuhkan hukuman mati saat Joker tertangkap, dan hanya membuinya di Arkham? Komisaris Gordon sudah beberapa kali nyaris tidak tahan untuk tidak membunuh Joker (misalnya di No Man’s Land, sesudah Joker membunuh Letnan Essen), tapi Batman mencegahnya. Dan sebaliknya, di Absolute Hush, Batman sendiri sudah nyaris membunuh Joker, tapi giliran Komisaris Gordon yang mencegahnya. “How many more lives are we going to let him ruin?” tanya Batman. Jim Gordon menukas, “I don’t care. I won’t let him ruin yours.” White mengulas dengan menarik bahwa di sini, seakan tanggung jawab nyawa yang hilang akibat ulah Joker ada di pundak Batman, dan bukan pundak Joker. Secara moral, Batman merasa memikul apa yang bukan tanggung jawabnya, dan untungnya akhirnya ia menyadari bahwa logika ini salah. “I will not… accept any responsibility for the Joker.” (Batman #614).

2. “Is It Right to Make a Robin?” – James DiGiovanna
Esai ini sesungguhnya membahas tentang landasan moral pendidikan. Apakah secara moral dan etis bisa dibenarkan tindakan Batman mendidik anak-anak muda menjadi Robin yang membuat si anak itu memakai kancut, topeng, dan jubah untuk menyongsong bahaya sedemikian rupa (yang dalam kasus Robin kedua, Jason Todd, sampai membuatnya tewas mengenaskan)? Bukankah masyarakat Spartan kuno, suku-suku pedalaman juga menghadapkan anak-anak muda mereka pada bahaya serupa sebagai ritus menuju kedewasaan?

Esai ini memaparkan tindakan Batman berdasarkan virtue ethics: Batman mengajarkan Robin untuk menjadi karakter yang beretika (paling tidak Robin pertama, Dick Grayson, dan mungkin Robin ketiga, Tim Drake). Untuk kasus Jason Todd Batman bisa dibilang gagal karena karakter Todd sudah terbentuk sebelumnya dalam hidupnya sebagai maling kelas teri: gegabah, tidak punya kesabaran, sikap moderat, dan kearifan.

Argumen di atas diteruskan lebih lanjut dalam esai no. 19 (“Leaving the Shadow of the Bat” – Carsten Fogh Nielsen) bahwa Batman tidak sekadar membuat Dick Grayson sebagai “bayangan”-nya. Karakter beretika yang dibentuk Batman akhirnya membuat Dick memutuskan berhenti sebagai Robin untuk mandiri menjadi Nightwing.

7. “Batman’s Promise” – Randall M. Jensen
Buat saya, ini esai yang paling menarik dalam kumpulan ini: dorongan apa yang membuat Bruce Wayne menjadi Batman? Kita tahu bahwa ia melihat orang tuanya dibunuh. Memang, banyak superhero menjadi superhero karena keluarga dekatnya dibunuh. Peter Parker melihat Paman Ben dibunuh. Frank Castle melihat istrinya dibunuh. Tapi dalam kasus Parker dan Castle, bukan itu yang menjadikan mereka superhero. Parker jadi Spider-Man karena sengatan laba-laba radioaktif, sementara Castle sudah sejak lama melakukan operasi militer sebelum jadi Punisher. Pembunuhan itu memberikan motif, tapi bukan pemicu mereka jadi superhero.

Sementara Bruce Wayne sengaja melatih diri dalam kriminologi, taktik tempur, dan semua ilmu bela diri di dunia memang untuk menjadi “pembasmi kejahatan”. Dia satu-satunya superhero yang sejak kecilnya bertekad untuk itu. Ini terkait dengan janji yang ia ucapkan di depan makam orang tuanya “bahwa ia akan memerangi kejahatan yang membuat orang tuanya terbunuh”. Janji “memerangi kejahatan” ini jauh lebih luas dari sekadar tekad balas dendam.

Esai ini membahas makna filosofis sebuah janji: apa arti memegang janji, apa arti melanggar janji, dan apa makna janji yang diucapkan pada seseorang yang sudah meninggal? Salahkah secara moral dan etis melanggar janji macam ini?

8. “Should Bruce Wayne Have Become Batman?” – Mahesh Ananth & Ben Dixon
Menurut Michael Noer and David M. Ewalt dalam The Forbes Fictional 15, Bruce Wayne adalah orang terkaya kesembilan di dunia (fiksi) pada 2008. (Gober Bebek di urutan kedua). Dengan kekayaan sebanyak itu, lebih efektif manakah bila ia berperan sebagai Batman atau sebagai Bruce Wayne si pebisnis dalam membasmi kejahatan? Esai ini punya topik menarik tapi sayang pembahasannya tidak.

14. “Alfred, The Dark Knight of Faith” – Christopher Drohan
Esai ini juga memukau dalam menyoroti peran Alfred yang selama ini seakan cuma sampingan. Perlu diingat dialah guru Bruce sekaligus pelayannya. Kesetiaan Alfred pada Bruce ini “absurd” dan unik secara eksistensialis. Alfred “bertindak melalui ketidakbertindakan”.

“Kisah Nyata” di Balik The Fantastic Four

Unstable Molecules: The True Story of Comics’ Greatest Foursome
James Sturm (Writer/Layout/Designer), Guy Davis (Penciller/Inker), Michel Vrána (Colors/Designer), R. Sikoryak (Illustrator)
Marvel Comics, 2003  |  128 hlm

ffWow! Saya nyaris tertipu oleh buku ini. Penulis mengklaim bahwa karakter-karakter superhero Fantastic Four diilhami oleh orang-orang sungguhan, dan karya ini bisa dibilang “biografi grafis” atas kisah mereka. Pendahuluan yang sangat meyakinkan, ditambah data-data biografi, wawancara, pustaka-pustaka “palsu” membuat klaimnya terasa sungguh nyata, apalagi penulisnya yang bernama belakang Sturm mengklaim adalah saudara jauh Susan Sturm, tokoh yang “mengilhami” Sue Storm dalam kuartet The Fantastic Four. Saya sampai harus googling untuk mencari salah satu rujukan yang disebutnya, Dr. Harvey L. Beyers, The Fantastic Four: The World They Lived In and the World They Created (University of Vancouver Press, 1978) dan mendapati bahwa semuanya ternyata cuma rekaan. Dan sepertinya beberapa pembaca dan pengulas benar-benar tertipu dan mengira Fantastic Four benar seperti diklaim komik ini. Tak salah bila Eisner Award berhasil digondol oleh karya kurang ajar ini.

Pada dasarnya ini sebuah komik tentang pengaruh komik, tentang kemungkinan-kemungkinan komik, tentang awal Marvel Comics, dan yang terpenting: tentang perempuan. Kendati mengulas semua karakter, cerita ini bisa dibilang berpusat pada tokoh Sue Storm a.k.a The Invisible Girl, bagaimana dalam kehidupan riil sehari-harinya Sue Storm memang makhluk yang invisible, kalah oleh dominasi Reed Richards. Masih geli dan mengumpat-umpat tiap kali membuka-buka lagi komik ini.

Membedah Keilmiahan Para Pahlawan Super

The Science of Superheroes
Lois H. Gresh & Robert E. Weinberg
John Wiley & Sons, 2002  |  224 hlm

sainssuperheroesKamis 7 Mei 2009, karena keasyikan membaca buku ini, tanpa sadar HP saya terjatuh dalam taksi saat turun di daerah Jakarta Selatan. Saat menyadarinya, taksi itu sudah tak kelihatan, padahal beberapa jam lagi, ada rapat yang harus saya hadiri. Ada empat skenario yang terpikir agar HP itu bisa didapat balik:

  1. Saya bisa jadi The Flash lalu berlari mengejar taksi itu dengan mudah, karena The Flash bisa lari melebihi kecepatan peluru 1.200 m/detik. Cuma masalahnya, sebagaimana dihitung-hitung oleh dua “orang gila” penulis buku ini, butuh puluhan bahkan ratusan kali lipat asupan kalori harian orang normal untuk bisa berlari secepat The Flash, padahal saya tak makan siang sebanyak itu. Belum lagi bunyi letusan sonic boom yang akan saya timbulkan karena bergerak melebihi kecepatan suara (yang cuma 331,29 m/detik). Dan yang paling penting, dengan berlari secepat itu, pendengaran dan penglihatan saya semestinya tidak bisa berfungsi normal. Salah-salah saya lari ke mana padahal taksinya ke mana gitu.
  2. Saya bisa mencari tempat aman dan berganti kostum Spider-Man lalu dengan “kecepatan, kekuatan, dan kelincahan laba-laba” (seperti dibilang di komiknya) mengejar taksi itu dengan berayun dari gedung ke gedung. Masalahnya cuma satu: laba-laba ternyata tidak memiliki sifat-sifat yang dibilang itu! Kaki laba-laba tidak memiliki koordinasi untuk tidak saling nyrimpet (terbelit) saat bergerak dengan kecepatan tinggi. Laba-laba juga tidak bisa dibilang kuat untuk ukurannya (Stan Lee mungkin sedang terpikir semut raksasa ketika menulis ini). Dan yang terpenting, laba-laba bukan pemburu hebat: “Betapapun cerdas kelihatannya, laba-laba bukan predator yang efektif. Mereka tidak berburu, mereka menunggu buruannya terperangkap jaringnya.”
  3. Atau di tengah-tengah kejengkelan ini, saya pun berubah jadi Hulk si raksasa hijau, akibat radiasi sinar gamma yang menerpa saya beberapa tahun lalu. Diliputi amarah dan baju robek-robek (tapi celana tidak), saya kejar taksi itu dengan berlari atau melompat-lompat menimbulkan kegemparan di tengah kota. Tapi ada masalah lagi: sinar gamma terpancar dari zat-zat radioaktif macam Cesium-137, Cobalt-60, atau Uranium-135. Orang yang terkena radiasi ini tidak akan berubah hijau atau mengalami transformasi sel, melainkan kena macam-macam kanker atau mati sekalian.
  4. Atau saya bisa menjadi Superman, superhero yang mengawali semuanya. Saya lacak taksi itu dengan penglihatan dan pendengaran super, lalu terbang mengejarnya. Tapi masalahnya, kalau saya punya pendengaran super dan bisa terbang, ngapain juga saya repot-repot punya HP dan naik taksi? 😀

Begitulah, buku ini sama sekali bukan “ejekan” ilmuwan terhadap kadar keilmiahan cerita-cerita komik. Kedua penulisnya sendiri penggila komik dengan kadar pengetahuan tentang sejarah komik yang terbilang abnormal. Mereka mengulas mana yang mungkin dan mana yang tak mungkin dalam komik. Terbang melebihi kecepatan cahaya itu tidak mungkin, seberapa pun canggihnya teknologi nanti. Sementara mutan-mutan macam X-Men itu mungkin. Dan komik yang paling ilmiah/realistis menurut mereka ternyata adalah Donal Bebek bikinan Carl Barks. Barks adalah penulis dan ilustrator Disney paling terkemuka yang membikin semua komik Donal sejak 1942-1966. Dialah yang mencipta tokoh Gober Bebek, Gerombolan Siberat dll. Barks mampu menggambarkan latar suasana dan aksi-aksi keluarga Bebek dengan sangat detail dan realistis. Saya setuju sekali soal ini dan pernah menulis ulasan panjang tentang Gober Bebek dalam  “Jalan Hidup Si Bebek Jutawan”.

Salah satu karya Barks paling spektakuler adalah cerita terbitan tahun 1949 ini: Donal ditugasi Paman Gober mengangkat kapal yang karam di dasar laut, dan seperti biasa karena Gober Bebek pelit, ia tidak mau keluar banyak dana. Donal dan Kwik, Kwek, Kwak pun akhirnya punya ide untuk mengisi penuh kapal karam itu dengan bola-bola ping-pong. Air terdesak keluar tergantikan bola ping pong, dan udara dalam ribuan bola ping pong itu akhirnya cukup kuat untuk mengangkat kapal itu ke permukaan.

Khayalan belaka? Tunggu dulu. Pada 1964 ilmuwan Denmark Karl Kroeyer mendapat tugas mengangkat sebuah kapal tanker yang karam ke dasar lautan di dekat Teluk Parsi. Kroeyer bereksperimen: ia mengisi penuh tanker itu dengan gelembung-gelembung polystyrene yang bisa memuai. Percobaannya berhasil dan kapal tanker itu pun terangkat ke permukaan. Ketika ditanya pers dari mana ia dapat ide ini? Dari membaca komik Donal itu semasa kecilnya di Kopenhagen! Jadi, jangan pernah remehkan manfaat membaca komik buat anak Anda.

Jalan Hidup Si Bebek Jutawan

Kisah Hidup Paman Gober: Edisi Bundel
Don Rosa
Judul asli: The Life and Times of Scrooge McDuck, dimuat pertama kali secara bersambung dalam Uncle Scrooge No. 285-296 (April 1994-Februari 1996)
Penerbitan Sarana Bobo, 2012  |  498 hlm

gober[Ulasan ini awalnya esai yang dimuat dalam bulanan ekonomi-politik Indikator No.01 / II / November 1999. Sedikit pemutakhiran di sini setelah edisi Indonesia The Life and Times of Scrooge McDuck terbit]

Di bukit landai tengah-tengah Kota Bebek, gudang uang itu berdiri dengan tegarnya. Dindingnya tebal, tak tembus peluru, bahkan dilengkapi sensor antimaling dan nenek sihir. Isinya: 12.140 meter kubik uang kontan. Pekerja di dalamnya tak sampai lima. Dan pemiliknya: Gober Bebek, bebek terkaya di dunia.

Siapakah Gober?

Meski kita sering membaca kisahnya, kita jarang tahu siapa dia sebenarnya. Setidaknya sampai Carl Banks, sang kreator, membuat The Duck Family Tree pada 1984. Kemudian pada 1994-1996, bolong-bolong yang masih ada dalam silsilah karya Bans yang belum lengkap itu disempurnakan dengan berbagai ubahan oleh penulis dan ilustrator Don Rosa menjadi epos panjang 12 jilid berjudul The Life and Times of Scrooge McDuck, yang pada 2012 diterbitkan di Indonesia dalam edisi bundel, setelah sebelumnya dimuat bersambung dalam majalah Donald Bebek.

Gober Bebek (yang bernama asli Scrooge McDuck) ditetaskan di Skotlandia pada 1867 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Fergus McDuck, seorang (atau seekor?) keturunan bangsawan Skotlandia. Ibunya bernama Downy O’Drake dan dua saudara perempuannya bernama Matilda dan Hortense. Hortense McDuck inilah yang nantinya menikahi Quackmore Duck dan mempunyai putra bernama Donal Bebek serta putri yang nantinya menjadi ibu Kwik, Kwek, Kwak.

Meskipun keturunan bangsawan, keluarga McDuck hidup serba kekurangan. Kastil yang mereka miliki telah dirampas oleh keturunan Whiskerville sejak abad ke-17. Gober kecil mencari nafkah dengan berkeliling kota menjual kayu bakar.

Pada usia yang masih sangat belia, Gober memutuskan bertualang ke Amerika sebagai anak buah kapal. Ia tiba di Louisville, tepi sungai Mississippi, dan mendapat kerja sebagai kapten kapal Dilly Dollar yang mengantar bongkahan emas ke New Orleans. Rintangan mulai timbul saat ia bertemu Gerombolan Siberat sekeluarga.

Pada 1882 Gober menetap di Fonebone Hotel, Montana, sebagai gembala sapi. Ia terlibat dalam perang ternak dan pernah ikut menggulung gerombolan bandit Jesse James. Meski begitu, Gober muda ini masih jauh berbeda dari Gober yang kita kenal sekarang. Sikap keras dan percaya dirinya belum tumbuh. Tapi di padang Montana itulah ia berjumpa dengan Theodore Rooselvelt, pahlawan Amerika yang petuah dan nasehat-nasehatnya bakal mempengaruhi jalan hidup Gober selanjutnya.

Lalu ia pulang sebentar ke Skotlandia untuk merebut kembali hak kepemilikan kastil dan tanah keluarga McDuck. Dari Skotlandia, Gober berlayar menuju Afrika dan ikut serta dalam penambangan emas selama 3 tahun. Pengalaman ini dilanjutkan di Kalgoorlie, salah satu situs penambangan emas terpenting di Australia akhir abad ke-19. Dari suku Aborigin, Gober memperoleh pengalaman kultural yang penting tentang sejarah. Budaya Aborigin dikenal sebagai budaya yang sangat menghormati masa lalu dibanding budaya mana pun di muka bumi. Dari sinilah minat Gober terhadap harta karun dan benda-benda antik berkembang.

Setelahnya Gober kembali ke Amerika, tinggal di Klondike, daerah perbatasan Amerika-Kanada, dan menambang emas di sungai Yukon. Inilah titik balik kehidupan Gober, saat yang paling keras, paling sepi, dan paling dramatis dari petualangannya. Gober bekerja tiap saat tanpa kenal lelah, hidup ditemani binatang-binatang liar, makan sekali sehari, dan menolak berfoya-foya di kota. Seekor penari bar bernama Glittering Goldie jatuh cinta padanya dan menjadi satu-satunya bebek betina yang pernah intim dengannya. Cinta mereka kandas, tapi Gober masih menyimpan seikat bulu Goldie dalam kotak kayu miliknya. Hidup berbalik saat Gober, dengan tempaan pengalaman akan tanah dan batu-batuan, menemukan emas sebesar telur angsa. Kisah suksesnya dimulai.

Di Klondike-lah Gober pertama kali berurusan dengan bank dan ditipu perihal surat utang palsu. Gober yang murka tidak hanya membuat babak belur Sloapy Slick, babi licik pemilik bank, serta anak buahnya, tapi juga menghancurkan hampir setengah kota Klondike. Pasukan kavaleri terpaksa didatangkan. Sloapy Slick ditangkap, banknya ditutup, dan Gober pindah ke Whitehorse untuk membuka… bank baru! Semiliar dolar pertamanya disimpan dalam tong anggur yang dibawanya kemana pun ia pergi.

Pada 1902 Gober menyempatkan diri untuk pulang, dan selang tak lama ayahnya meninggal. Gober kembali ke Amerika membawa serta Hortense dan Matilda. Ia menuju Kota Bebek dan membeli bukit Killmotor dari Casey Prul. Di sinilah ia mendirikan gudang uangnya dan mulai membangun kerajaan bisnisnya. Casey Prul sendiri adalah cucu Cornelis Prul, pendiri Kota Bebek. Ia adalah kakek Gus Angsa dan saudara kandung Elvira Prul, yang kita kenal dengan sebutan Nenek Bebek.

Kota Bebek sendiri belum jadi apa-apa saat itu. “Kubeli bukit ini saat semuanya masih kosong. Aku bangun kekayaanku dan melihat kota ini berkembang… di sekitarku.”

Terlampau serius untuk sebuah komik? Tidak, saya kira. Komik, di balik segala kejenakaannya, tetap menyimpan kerja dan gagasan yang tidak main-main. Bila anak atau keponakan Anda membaca komik dan tertawa geli, maka ia seorang anak-anak yang normal. Bila Anda yang sudah berumur membaca komik dan masih tertawa geli, maka berbahagialah karena Anda orang yang sungguh dewasa. Kedewasaan mungkin bisa diukur dengan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. Dan dalam komik yang baik, segala kekonyolan hidup kita ditampilkan dengan telanjang, tapi cerdas. “Fiksi,” kata sastrawati Virginia Woolf, “harus mampu menghadirkan lebih banyak kebenaran dibanding kenyataan.”

Sayangnya, penerjemahan marga “McDuck” menjadi “Bebek” ke dalam bahasa Indonesia terasa kurang tepat secara literer. Terjemahan ini memang enak terdengar di telinga, tapi membuat Gober tampak seperti seekor bebek biasa, bukan bebek Skotlandia. Kenapa Skotlandia? Baik Carl Banks maupun Don Rosa tak punya jawabnya. Tapi ini justru memberi ruang bagi para penggemar keluarga Bebek seperti saya untuk merekatafsirkan kemungkinan semiotiknya.

Skotlandia, lebih luasnya Inggris Raya, adalah wilayah yang telah menyaksikan dengan jelas sejarah dari apa yang disebut mundurnya para ksatria dan bangkitnya para saudagar. Kelas ksatria jatuh miskin, dan generasi baru Skot hidup dengan kenyataan baru, bahwa harta lebih berkuasa daripada tahta.

Sejak rezim kediktatoran militer Oliver Cromwell dengan Tentara Puritannya runtuh di Inggris, satu sistem sosial yang lebih longgar diterapkan. Monarki berdiri kembali, tapi raja tak punya hak sewenang-wenang atas negara. Dalam situasi macam itulah Inggris melahirkan Isaac Newton, John Locke, mesin pintal, Revolusi Industri, dan Adam Smith.

Jangan lupa bahwa sisa-sisa puritanisme yang diwariskan Cromwell itulah yang nantinya melahirkan apa yang disebut Max Weber sebagai “etos Protestan”: etos untuk menahan diri dari nikmat badaniah dengan menghemat dan menabung. Dalam kerangka sosiologi Weberian, etos macam inilah yang membuat kapitalisme melaju pesat. Kekayaan tercipta dari keringat dan kerja keras. Maka Gober Bebek adalah paduan sempurna dari semua sejarah Skot itu.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan ambisi dan sikap kikirnya. Kita sendiri sering kagum mendengar kisah sukses seseorang yang dimulai dari nol. Namun soal mulai timbul saat Gober tidak tahu kapan harus berhenti. “Dia punya uang dan segala yang bisa dibeli oleh uangnya,” kata Matilda McDuck. Tapi Gober hanya tertarik pada “uang” dan tidak tertarik pada “segala yang bisa dibeli oleh uangnya.” Uang segudang itu diputar untuk menghasilkan uang lagi. Bisnisnya merambat menguasai setiap sektor produksi Kota Bebek.

Sampai suatu ketika pernah diceritakan bahwa penduduk Kota Bebek tak mau membeli barang apapun lagi, karena membeli barang berarti “memperkaya si bebek kikir itu.” Lalu bagaimana? Bila konsumen benar-benar tak membeli, berarti produksi harus berhenti. Tidak takutkah Gober? Mungkin tidak. Toh, penduduk tetap punya kebutuhan. Lagipula ia berhak memecat karyawannya: Donal barangkali, atau Nyonya Emily sekretarisnya, atau Duckworth sang sopir. Maka yang terancam adalah para konsumen dan kelas pekerja itu sendiri, bukan dia. Karl Kautsky, tokoh sosial demokrat itu, pernah berkata: “Produksi harus berlanjut. Bila tidak, seluruh masyarakat akan runtuh, termasuk kelas proletar.” Lalu? Para ilustrator Disney biasa menyelesaikan kisahnya dengan banyolan atau adegan kejar-kejaran ke Timbuktu. Maklum, mereka memang bukan ekonom.

Tapi mari kita lihat seorang kaya lain di Amerika (orang, bukan bebek) bernama Rockefeller. Kisah suksesnya tidak dimulai dari emas, tapi dari minyak. Dan ia bukan seorang pekerja keras yang jujur seperti Gober, ia culas. Rockefeller meneken suatu kontrak rahasia dengan para pengusaha transportasi untuk mendistribusikan minyaknya. Akibatnya, para pesaingnya rontok dengan cepat, dan perusahaan-perusahaan loyo itu diborongnya satu per satu sampai habis. Tak pelak minyak senegeri dikuasainya. Berhasilkah keserakahannya? Hampir, seandainya Amerika tak punya pers bebas dan Mahkamah Agung. Akibat tulisan seorang jurnalis di Atlantic Monthly, kesadaran masyarakat akan bahaya monopoli berhasil digugah. Mahkamah Agung bersidang dan UU Antimonopoli dibacakan untuk pertama kalinya Mei 1911. Hukum berjalan, dan keserakahan distop.

Tapi Kota Bebek bukan Amerika, meski katanya terletak di Amerika. Kota Bebek mempunyai semua hal yang dipunyai kota-kota lain di dunia. Di sana ada walikota, taman, klub pramuka, kedai es krim, talk show, dsb. Tapi tampaknya di sana tak ada hukum. Di sana memang ada polisi, tapi mereka terlalu sibuk menilang Donal yang ngebut melanggar lampu merah atau menangkap Lang Ling Lung karena kreasi-kreasi nyelenehnya.

Dengan kondisi macam itu, di Kota Bebek, seperti di sebuah kepulauan tropis di Asia Tenggara ini, kita jadi mengerti kenapa keserakahan ala Gober bisa melaju terus, terus, terus, dan terus…

Kampungan: Eksperimentasi Penerbitan Komik Indonesia

Kumpulan Cergam Kampungan No. 1: Romansa
Arif Yuntoro, Aji Prasetyo, Beng Rahadian, Pamudji MS, Aprilia Sari, Jon Kobet, Papillon Studio, Hans Jaladara
Gajah Jambon, 2010  |  120 hlm

kampunganPanji Tengkorak muncul lagi. Kita tahu siapa dia dulu: pendekar compang camping yang ke mana-mana menyeret peti mati berisi jasad Mesia, istri yang tak dicintainya. Namun kali ini ia sudah ubanan, dan menjauh dari gegap gempita dunia. Sebuah kejadian mengorek cinta lamanya dengan Mariani, perempuan yang sebenar-benarnya dicintainya.

Seno Gumira Ajidarma menyebut Panji Tengkorak bukanlah komik silat, melainkan drama cinta yang tragis. Ia benar, apalagi kalau ia sempat membaca karya terbaru Hans Jaladara yang saya nukil di atas dalam Kumpulan Cergam Kampungan ini. Hans sang maestro tetap menunjukkan kepiawaiannya bercerita di sini, kendati banyak orang —termasuk saya—agak menyesalkan gaya gambarnya yang kian menjurus ke manga sejak Panji Tengkorak sempat diambil alih penerbitannya oleh Elex Media.

Diluncurkan pada Hari Valentine 14 Februari 2010, nomor perdana Kumpulan Cergam Kampungan ini dengan pas mengambil tema “Romansa”. Kumpulan Cergam Kampungan ini adalah sebuah eksperimentasi penerbitan yang menarik, yang semoga bisa panjang umur demi memajukan komik Indonesia. Tiap nomor direncanakan berisi komik-komik pendek dari para komikus Indonesia yang sangat beragam. Untuk edisi ini misalnya, ada yang dari Riau, Ambarawa, Semarang; ada pula yang senior sekali seperti Hans Jaladara, ada yang sudah terkenal seperti Beng Rahadian, dan ada yang masih bisa disebut pemula (atau paling tidak saya baru sekali ini mendengarnya).

Tema umum “romansa” digarap tentunya dengan kekhasan masing-masing komikus. Beberapa memakai latar suatu kejadian sejarah, misalnya: “Melati Revolusi” karya Arif Yuntoro dan Pamuji MS yang berlatar kedatangan Sekutu ke Surabaya akhir Oktober 1945 dan penggranatan mobil Jenderal Mallaby. Sementara “Kidung Malam” karya Aji Prasetyo memakai salah satu laskar Pangeran Diponegoro sebagai latar ceritanya.

Komikus lain menggarap tema cinta ini dengan lebih personal, seperti “Resonansi Hati” karya Studio Papillon, Semarang, atau karya Jon Kobet yang sangat khas Riau (meskipun catatan khusus harus diberikan pada karya Jon Kobet ini: banyaknya catatan kaki untuk memperjelas istilah-istilah lokal terasa sangat mengganggu).

Eksperimentasi menarik yang dihadirkan oleh Kampungan ini semoga bisa terus bertahan dan disukai baik oleh pembaca maupun komikus sendiri, sebab seperti dibilang Hasmi dalam film dokumenter Tjerita Bergambar karya Partogi Ringo (2009) yang ikut diputar saat peluncuran, kemunduran komik Indonesia salah satunya disebabkan oleh komikus-komikusnya sendiri: “Ketika menggeluti komik, banyak seniman komik ini lupa mereka tidak lagi di dunia seni [baca: yang seenak-enaknya], melainkan masuk ke dunia industri.” Dan industri penerbitan butuh perencanaan serta konsistensi yang jelas bila ingin terus eksis.

Lamaut, Bertahun-tahun Kemudian

Lamaut: Laba-Laba Maut
Djoni Andrean, dengan tusir naskah oleh Dedi Sugianto
Kumpulan tiga episode: Mr. X (1978), Rahasia Mr. X (1978), vs. Kazzan Jr. (1979) 
Penerbit Erlina dan Anelinda, 2006  |  72 hlm

lamautTidak bisa dipungkiri bahwa rata-rata superhero Indonesia “banyak terpengaruh” oleh superhero AS (andai kata “epigon” dirasa terlalu keras) . Lamaut juga begitu, yang jelas-jelas didasarkan pada Spider-Man. Selain Lamaut, ada juga Laba-Laba Merah yang juga didasarkan pada Spider-Man. Tapi entah dapat ide dari mana, Djoni Andrean –kreator Lamaut—membuat Lamaut jadi lebih realistis dengan melubangi separuh topengnya jadi seperti Batman, dengan memperlihatkan bagian mulut dan hidung. Ini penting, sebab sebagaimana dibuktikan bertahun-tahun sesudahnya oleh Alex Ross, ilustrator komik paling realis yang pernah ada, Spider-Man sungguh mustahil bertopeng serba tertutup begitu tanpa kepanasan dan sesak nafas. Jadi, bisa dibilang di situlah nilai orisinal Lamaut.

Diterbitkannya ulang komik-komik superhero Indonesia sejak pertengahan 2000an memang cukup memuaskan nostalgia saya akan bacaan masa kanak-kanak ini. Namun sayang, dibandingkan Godam dan Gundala, masih sedikit sekali serial Lamaut yang diterbitkan ulang. Sejak kecil Lamaut memang yang paling memesona buat saya terutama karena gaya gambar Djoni Andrean yang bukan main, meski ceritanya —setelah dibaca lagi bertahun-tahun kemudian—jadi terasa garing bukan main. Tapi gaya gambar Djoni Andrean (permainan hitam putihnya, gambar anatomi, dan pembagian bidang gambarnya) tetap impresif bahkan sampai sekarang. Selain itu: istri Lamaut, Luana alias Walet Merah… wow, masih seseksi yang saya ingat dulu. What a lady!

Cita-cita: Berkelana

Nathalie
Sergio Salma
#1 Perjalanan Pertamaku Keliling Dunia. Judul asli: Mon Premier Tour du Monde (1995). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#2 Halo, Seisi Dunia. Judul asli: Salut Tout Le Monde (1993). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#3 Juara Dunia. Judul asli: Championne du Monde (1994). Penerjemah: Dyah M. Armaya
#4 Dunia Ini Kecil! Judul asli: Le Monde est Petit! (1994). Penerjemah: Oky Rachmawati
#5 Dunia Ini Sinting! Judul asli: Y’a Un Monde Fou! (1995). Penerjemah: Dyah M. Kusnadi
Gramedia Pustaka Utama, 2010  |  48 hlm masing-masing buku

nathalieMenarik membandingkan Nathalie dengan Mafalda sebagai sesama komik yang bertokohutamakan “gadis cilik”. Buat sebagian orang keduanya mungkin “tidak alamiah” atau “terlalu dewasa untuk anak-anak.” Apabila Mafalda fasih betul dengan politik (tahu tentang PBB, Bank Dunia, dan IMF), Nathalie fasih betul dengan geografi (tahu jumlah pulau di Jepang, ibukota Burkina Faso dsb). Tapi bukan itu intinya. Nathalie dan Mafalda bagaimanapun adalah “representasi” dari kondisi sosial tempatnya dicipta serta bagaimana kanak-kanak “dikonstruksi” atau dicita-citakan dalam konteks sosialnya itu.

Mafalda berasal dari Argentina zaman kediktatoran militer, sementara Nathalie dari Perancis yang demokratis. Seperti yang pernah saya ulas cukup panjang di Kompas, Mafalda bagaimanapun adalah alat kritik terhadap kekuasaan, mewakili kelas menengah tertindas di Argentina pada zaman kediktatoran militer Jenderal Videla. Digambarkan bagaimana Mafalda tinggal di apartemen sederhana 1 lantai, dan orang tuanya tiap hari bergelut dengan kesulitan perekonomian. Nathalie sebaliknya. Flatnya bertingkat dan cukup mewah dengan segala kelengkapan hidup kontemporer, dan (hampir) tiap hari ia minum Coca Cola. Wine dan sampanye juga bertebaran di flatnya khas orang Perancis. Ayahnya suka main puzzle dan ibunya suka depresi ga jelas dan minum Prozac 🙂

Maka pandangan anak Dunia Ketiga dan Dunia Pertama ini pun berbeda. Bila Mafalda lebih banyak menyoroti masalah dalam negeri dan pembangunan negara miskin, Nathalie sudah melewati semua itu. Cita-citanya justru lari dari Perancis dan berkelana ke negeri-negeri eksotik yang menantang. Cita-cita jadi pelancong inilah yang mengisi kehidupan Nathalie dan menjadi sumber kekacauannya sehari-hari. Tapi anak-anak toh tetap anak-anak. Saat ia “dibuang” ke rumah kakek-neneknya di pedesaan agar orang tuanya bisa hidup tenang barang sejenak, yang dirasakan Nathalie bukan tantangan malah kebosanan. Dan diam-diam pun ia naik bisa kembali ke kota untuk bisa makan fastfood.

Saya rasa, dibanding Mafalda, seri komik Nathalie ini terasa jadi lebih menghibur, kelucuan-kelucuannya murni untuk lelucon tanpa perlu renungan yang terlalu berbelit-belit dan politically correct. Dan lanjutannya pun masih panjang, lebih dari lima seri yang ditampilkan di ulasan ini, mungkin sampai Nathalie pada akhirnya benar-benar bisa keluar dari hiruk pikuk Paris.

Kafka: Ia yang Ingin Tiada

Kafka
David Zane Mairowitz   |   Robert Crumb (illustrator)
Fantagraphics, 2007  |  176 hlm

kafkaGarcía Márquez pernah menyatakan ketakjubannya saat membaca Metamorfosis Kafka untuk pertama kalinya: “Oh ternyata orang boleh menulis seperti ini ya…” Kafka memang istimewa, hanyalah dialah satu-satunya sastrawan yang namanya dipakai sebagai kata sifat/ajektif dalam kosakata bahasa-bahasa dunia: kafkaesque, yang menurut kamus Merriam Webster merujuk pada “having a nightmarishly complex, bizarre, or illogical quality”. (Bahkan Cervantes pun “menyumbangkan” kata sifat quixotic “cuma” berdasarkan tokoh rekaannya, dan bukan namanya sendiri).

Saya sendiri pernah serius membaca Kafka gara-gara teman baik saya, seorang penerjemah Kafka yang tekun. Namun selalu —sekalipun memikat— saya merasa agak berjarak dalam membacanya. Kafka kerap tampak terlalu Eropa buat saya. Problem-problemnya, yang bisa dibaca sebagai problem kegalauan seorang Eropa memasuki abad ke-20, tampak berbeda dengan problem seorang Minke misalnya, yang sama-sama memasuki abad ke-20, tapi dari sudut pandang seorang bangsa jajahan yang sedang berada dalam “zaman bergerak”.

“This is the way the world ends / Not with a bang but a whimper,” kata TS Eliot dalam sajaknya “The Hollow Men”, yang menurut saya menggambarkan jelas psike Eropa saat itu. Saat negara-negara jajahan sedang memperjuangkan sebuah “bang”, sebuah gerakan dan gebrakan, di metropol Eropa yang terjadi justru “whimper”: “Things fall apart / the center cannot hold” (kalau yang ini sajak Yeats).

Demikianlah kondisi yang dialami Kafka, seorang Yahudi Praha yang tak jenak dengan keyahudiannya. Dongeng-dongeng fantastik dan mistik dari tradisi kuno Yahudi tak pelak lagi mempengaruhi jalan kultural hidupnya, meski sebagai agama ia tak terlalu menganutnya. Ayahnya sendiri lebih mengaku diri sebagai orang Ceko ketimbang orang Yahudi, yang membuat mereka terbebas dari aksi-aksi vandal anti Semit yang marak saat itu. Namun di lain pihak, nasionalisme Ceko yang sedang bangkit justru memusuhi Yahudi-yahudi Praha ini, yang mereka asosiasikan dengan Jerman karena sehari-harinya berbahasa Jerman dan bukan Ceko. Alhasil, mayoritas Yahudi Praha pun memihak Jerman, negara yang nantinya bakal mengirim mereka semua ke kamp-kamp konsentrasi. Sungguh suatu ironi sejarah yang menyesakkan.

Kafka berusaha mengambil jarak dari semua ini. Ia tak jenak dengan dirinya, dengan fisiknya sendiri, dengan keluarganya, dengan lingkungan Yahudinya, dengan nasionalis-nasionalis Ceko, dengan perkembangan yang terjadi di sekelilingnya, juga dengan wanita-wanita yang ia dekati. Singkat kata, secara psikologis orang ini memang “tak beres”. Ia ingin mati, tapi bukan dengan bunuh diri—ia ingin dihukum mati. Tema inilah yang menjalari seluruh karyanya: bagaimana membuat dirinya sendiri lenyap. Ada Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah jadi kutu besar, ada “seniman pelapar” yang memeragakan aksi tidak mau makan, ada K. yang tiba-tiba ditangkap dan diadili untuk sesuatu yang ia sendiri kurang jelas, ada Georg Bendemann yang loncat sendiri ke sungai sesudah mendengar ayahnya menyumpahinya “kau akan mati tenggelam”.

Puncaknya adalah pesan yang ditinggalkan pada sahabat sekaligus editornya, Max Brod, agar membakar seluruh tulisan, surat, dan manuskripnya setelah ia mati. Kafka seakan ingin lebih mati dari mati, tanpa meninggalkan jejaknya di dunia. Max Brod tidak mematuhinya, dan karena ketidakpatuhannya kita kini bisa menikmati Kafka (meskipun Borges pernah bilang secara usil, “Kalau Kafka memang ingin membakar karyanya, akan ia nyalakan sendiri apinya. Kalau cuma titip pesan, berarti ia tidak ingin membakar karyanya”).

Dan Kafka pun akhirnya lebih hidup dari hidup. Sebagaimana layaknya semua sastrawan besar, ia tidak bisa didekap dalam satu kategori. Ceko yang dikuasai rezim komunis kesulitan menempatkannya dalam “sastra resmi” mereka. Lukacs bilang Kafka memikat tapi dekaden, sementara ada lainnya yang bilang Kafka justru mencerminkan dengan jelas alienasi yang dihadapi kaum buruh dalam kapitalisme (ingatlah Gregor Samsa si penjaja keliling). Namanya pernah didiskreditkan lalu dipulihkan, untuk kemudian didiskreditkan lagi. Tapi kini, di Praha pasca komunis, wajah Kafka terpampang di kaus-kaus yang dijual di pinggir jalan. Pakar-pakar Kafka kontemporer berusaha menyusun kembali manuskrip-manuskripnya secara lebih setia pada aslinya (bukan sebagaimana yang diedit Max Brod). Novelnya yang tak selesai misalnya, Der Verschollene dijuduli oleh Brod sebagai Amerika, meski arti judul itu sebenarnya adalah “Lelaki yang Menghilang”. Maka Kafka, yang pernah mengatakan “menulis adalah tidur yang lebih dalam ketimbang kematian”, akhirnya terus hidup justru karena tulisan-tulisannya, satu ironi lagi dalam dirinya.

—————-

[ This English version of the above review is specially dedicated to Lamya Alsakkaf, with special thanks to Mia Fiona ]

“HOLY SHIT!” screamed Gabriel García Márquez one day in 1947, “Nobody had told me this could be done!” He was nineteen at that time, and was reading Kafka’s Metamorphosis. As he said in his many interviews, Metamorphosis was revelation that people are actually allowed to write such things.

Kafka was extraordinary indeed. He was the only writer whose name is used as an adjective: kafkaesque, according to Merriam Webster dictionary, refers to “having a nightmarishly complex, bizarre, or illogical quality”. (Even Cervantes was only able give the world quixotic, adjective taken from his fictional character rather than his own name).

Many years ago I used to read Kafka a lot as one of my best friends was an ardent translator of Kafka. I don’t know, although his works are amazing, personally I always feel quite distant from them. Kafka’s works seemed “too European” for me. The problems he raised, which can be read as an European’s moral-social conflict when entering the 20th century, seemed to be quite different with that of Minke (the protagonist from Pramoedya Ananta Toer’s Buru Quartet), who also in the process of entering the 20th century, only with a colonialized subject’s point of view in “an age of motion”.

I think TS Eliot’s “The Hollow Men” summarized perfectly Europe’s psyche in that fin-de-siècle: “This is the way the world ends / Not with a bang but a whimper.” When colonialized subjects in the colony were fighting for a “bang”, with radical movement and revolt, the European metropoles were declining into a “whimper”. Or by Yeats: “Things fall apart / the center cannot hold”.

And so it was the life that Kafka went through. A Prague Jew, but not quite attached to his Jewishness. Fantastic tales and the ancient Jew mystical traditions had influence his childhood, although he didn’t practice Judaism as a religion. His father saw himself more as a Czech than a Jew, and that helped them to avoid anti-Semit pogroms in that era. However, on the other side, the rising Czech nationalism were waging wars against the Prague Jews who were being associated with Germany as they spoke in German not Czech. Due to this situation, most of the Prague Jews then sided with Germany, the country who later would send them to concentration camps. One of the most tragic irony in history.

Kafka tried to distance himself with all around him. He was not comfortable with himself, with his physical body, with his family, with his Jewishness, with the Czech nationalists, with the worsening prospect of war, and also with women he tried to get close with. It was clear that psychologically this guy is a fruitcake. He wanted to die, but not by suicide—he wanted to be sentenced to death. This theme appeared from time to time in all his works: how to make one’s self disappear. Gregor Samsa metamorphosed into a giant vermin; a hunger artist (Ein Hungerkünstler—or a fasting artist ini some translation) performed his art of hunger until he died starving; K. was arrested without even being aware on what charges; and Georg Bendemann jumped into the river after he heard his father swore to him “I sentence you now to death by drowning”.

Ultimately, of course, there’s Kafka himself, who ordered his friend and editor, Max Brod, to burn his entire writings, letters and manuscripts after he died. It seemed that Kafka wants to be more dead than dead, leaving no traces whatsoever in the world he left behind. Max Brod disobeyed him, and thanks to him we are now able to enjoy Kafka’s works (though Borges once jokingly said, “If Kafka really wants to burn his works, he would light the fire himself.”).

And now, it seems that Kafka is more alive than alive. Just like the other giants of the world literature, he cannot be categorised. Communist regime of Czechoslovakia found it hard to put him into their “official” literature. Georg Lukács —followed by hardline old school Marxists—said that Kafka is just a “bourgeois decadence”. While others (works like The Landscapes of Alienation: Ideological Subversion in Kafka, Celine, and Onetti and Icons of the Left: Benjamin and Eisenstein, Picasso and Kafka after the Fall of Communism) stated that Kafka’s works reflected clearly the alienation of workers in capitalism (Gregor Samsa is salesman, right?) His name once being discredited but then restored only to be discredited again. But now, in post-communist Prague, Kafka’s face is printed on t-shirts for sale on the streets. The contemporary Kafka scholars are putting efforts to restore his original manuscript (unlike the edited version by Max Brod). For example, his unfinished novel Der Verschollene (titled as Amerika by Brod) actually means “The Man Who Disappeared”. So Kafka, who once stated that “writing is a deeper sleep than death”, is now really alive through his writings—another irony in his life.