Category Archives: Kuliner

Panduan Makan yang Indah

Djakabaia: Djalan-djalan dan Makan-makan di Soerabaia
Vina Tania
Pengantar: Bondan Winarno
Gramedia Pustaka Utama, 2008  |  72 hlm


djakabaiaHal pertama yang membuat saya tertarik dengan buku ini di antara buku jalan-jalan di Surabaya lainnya adalah judulnya yang kreatif dan desain sampulnya yang sangat memukau. Selain itu buku ini juga tidak tebal-tebal amat dan hanya memuat 20 tempat makan. Saya rasa, itu sudah lebih dari cukup untuk masa saya berada di Surabaya.

Masih dalam plastik, saya bolak balik buku ini berulang kali mengagumi keindahan desainnya. Begitu keluar dari kasir Gramedia Expo, Surabaya, langsung saya buka dengan maksud mencari ide makan di mana malam itu. Tapi saya tidak sanggup membacanya. Tata visual sisi dalamnya langsung menyergap saya mengalahkan teks tertulisnya. Aih, cantik nian desainnya. Saya cari nama desainernya, dan ternyata.. si penulis sendiri. Hebat! Saya buka halaman belakang mencari biodata penulis, dan… si penulis-cum-desainer ini ternyata juga cantik nian seperti hasil desainnya 😀

Setelah membaca biodatanya, membaca pengantarnya, dan membaca pengantar Pak Bondan “mak nyus”, saya jadi tahu riwayat buku ini dan mengapa tampilan buku ini jauh berbeda dengan buku wisata lainnya.

Buku ini pada dasarnya memang adalah proyek desain grafis, tugas akhir perkuliahan si penulis yang ingin membuat pedoman grafis untuk wisata kuliner di Surabaya. Sesudah selesai (dan sesudah lulus), hasilnya ia kirimkan ke Pak Bondan sambil menanyakan mungkinkah karyanya diterbitkan? Pak Bondan menganggapnya menarik dan meneruskannya ke redaktur kuliner Gramedia, dan disetujui. Tentu saja Gramedia senang menerima karya sudah jadi begini yang tidak butuh banyak editing lagi.

Tapi kemudian, bagaimana membaca buku ini sebagai buku pedoman wisata kuliner? Karena bagaimanapun, desain harus berfungsi mendukung fungsi utamanya itu, dan bukan sebaliknya. Penulis mengklaim memilih “20 best” makanan di Surabaya. Namun Pak Bondan mengingatkan di pengantarnya bahwa Vina “belum punya kredensial sebagai pemeringkat makanan”, sehingga penilaiannya tentang apa yang tergolong“the best” masih bisa diperdebatkan. Dan saya memang mengalaminya sendiri: di sini Vina memasukkan Bebek HT Karang Empat sebagai the best bebek, dan bukan Bebek Tugu Pahlawan. Penilaian saya sebaliknya. Yah, pada akhirnya ini memang soal selera. Saya juga tidak tahu ilmu apa yang harus dimiliki seseorang sampai bisa dibilang kredibel untuk memeringkat makanan. Namun demikian, penilaian Vina untuk buku ini juga tidak meleset-meleset amat, atau menurut Pak Bondan, paling tidak ya“second best”.

Tiap tempat makan di buku ini diberi jatah rata-rata 3 halaman, ada beberapa yang 2 halaman saja. Tiap artikelnya ditulis dengan gaya yang santai, berisi sedikit ulasan sejarah tempat itu, keunikannya, dan apa yang disajikan. Tidak ada bahasan detail tentang lokasi masing-masing tempat kecuali pencantuman alamatnya (beberapa dilengkapi sekilas ancar-ancar). Vina sepertinya memosisikan pembaca/pelancong memakai kendaraan sendiri/sewaan, sehingga tidak ada satu pun petunjuk mengenai pemakaian angkutan umum ke lokasi-lokasi dimaksud. Tapi kekurangan ini agaknya bisa dimengerti dari “kondisi sosial” Surabaya itu sendiri. Sama seperti Yogyakarta, penduduk setempat umumnya rada kebingungan bila ditanya rute angkot/bis kota, karena mayoritasnya bersepeda motor. Tidak seperti Jakarta di mana transportasi umum adalah suatu kemutlakan akibat jarak yang luar biasa jauh, angkot di kota-kota ini antara ada/tiada. Secara resmi ada, tapi kerepotan menaikinya membuat orang lebih memilih transportasi lain. Vina sendiri secara eksplisit menyarankan agar pembaca “naik becak” ke tempat-tempat makan yang jaraknya berdekatan.

Selain itu, Vina juga membagi tempat-tempat ini ke dalam lima rute perjalanan, yang masing-masing rute konon bisa ditempuh dalam acara putar-putar kota selama sehari. Tapi Vina tidak memberi argumentasi soal pembagian rutenya ini, apakah berdasarkan jarak, atau jenis makanan, atau apa.

Tapi di luar kekurangan-kekurangan itu, buku ini tetap panduan apik yang akan saya buka-buka selama berada di Surabaya.

Advertisements

Panduan Baik, Panduan Buruk

100 Warung Makan Enak di Jogja
Wanda Djatmiko, M. Solahudin
delokomotif, 2007  |  160 hlm

100 Warung Makan Enak di JogjaSewaktu riset sendirian di Yogya pada 2007 lalu, buku ini saya pakai bersama The Food Traveler’s Guide: Jajanan Unik Yogya-Solo di Bawah 10 Ribu (bukune, 2008) karya Dewi Fita dan Mala Aprilia sebagai panduan mencari makan enak.

Wanda Djatmiko orang Yogya tulen, penerbit delokomotif juga penerbit Yogya. Tapi apakah dengan itu buku ini bisa jadi panduan yang memadai tentang wisata kuliner di Yogya? Ternyata tidak! Justru karena ditulis oleh orang Yogya, guidebook ini malah jadi tidak informatif. Contohnya, lihat hlm. 28 tentang Ayam Betutu: “Tepatnya bila anda menjumpai Jalan Palagan Tentara Pelajar dan berada di dekat hotel Hyatt maka ambillah jalan yang kearah utara, tidak jauh kemudian beberapa ratus meter anda berbelok menuju timur dan tak lama kemudian anda akan menemui rumah makan ini.”

Lihatlah pemakaian mata angin sebagai penunjuk arah yang khas Yogya (atau Jawa umumnya). Jelas ini tidak informatif untuk orang yang asing dengan Yogya seperti saya. Mana timur? Mana utara? Dan hal-hal seperti ini berulang kali dijumpai di buku ini (lihat hlm. 39: “anda terus saja menuju ke selatan melewati Selokan Mataram. Saat anda menjumpai pertigaan yang kalau ke arah timur menuju Babarsari, maka dst dst”). Maka saya pun kesasar berkat buku ini.

Si penulis, editor, dan penerbit menganggap paragraf-paragraf di atas baik-baik saja sebab mereka sudah terbiasa dengannya dan tidak sadar bahwa ini bakal bermasalah bagi orang lain, bagi “turis”. Padahal mereka semestinya bisa mendudukkan diri sebagai “turis”. Dalam hal inilah buku ini gagal sebagai guidebook.

Justru dari buku satunya, The Food Traveler’s Guide, yang ditulis oleh dua orang perempuan pelancong dari Jakarta, barulah saya temukan informasi sejelas-jelasnya sebagai sesama pelancong, meskipun daftar tempat makannya tidak sebanyak yang dideret di buku ini. Jadi, singkat cerita, buku ini tidak mungkin saya pakai sebagai pedoman kalau hendak ke Yogya sendirian lagi, kecuali bila dibaca sambil membawa kompas.

Tambahan penting: belakangan saya tahu, tulisan-tulisan di buku ini adalah plagiasi dari artikel-artikel kuliner yang ada di situs TrulyJogja.com. Saya tidak tahu bagaimana kasus ini diselesaikan, tapi bila Anda cari judul buku ini di internet, pada edisi barunya tertulis nama penulisnya bukan lagi “Wanda Djatmiko dan M. Solahudin”, melainkan “Wanda Djatmiko dan Budie Haryanto.” Rupanya sejak dalam kandungan panduan ini memang sudah sesat.