Category Archives: Naskah Nusantara

Untuk Lelaki yang Kurang Cerdas di Ranjang

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Muhlis Hadrawi
Ininnawa, 2008  |  196 hlm

assikalaibinengPenerbit Ininnawa selama ini saya kagumi sebagai penerbit Makassar yang sangat serius menggarap kajian tentang Bugis-Makassar. Dan melihat buku terbitannya yang ini, dengan sampulnya yang dominan warna hitam, cap Khusus Dewasa, dan subjudul yang memuat kata “persetubuhan” tentu saja membuat tangan ini jadi gatal buat mengambilnya. 😀

Buku-buka sepintas, saya tersenyum takjub melihat halaman persembahan buku ini:
Elong Paréré (satir)
untuk lelaki yang tidak cerdas di ranjang

mau tellu pabiséna
na bongngo pallopina
teyawa’ nalureng

walau tiga dayungnya
bila nahkodanya dungu
aku tak sudi menumpang

Wah, bahasanya asyik nih. Lebih dari itu, ini adalah transliterasi serta tafsiran atas naskah-naskah kuno yang belum lama ini ditemukan, yang semakin menambah kelengkapan khazanah pengetahuan dan koleksi saya tentang tradisi literer asli Nusantara, setelah sebelumnya saya membeli Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (2010) hasil terjemahan Suryadi.

Dalam Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Sulawesi Selatan, ada 4.049 naskah Assikalaibineng, dan 44 ditempatkan dalam entri lontara pendidikan seks. Dari 44 itu, 28 memakai bahasa dan aksara Bugis, dan 16 memakai bahasa Makassar dengan macam-macam aksara (Sulapa’ Eppa, Serang, dan Jangang-Jangang).

Buat saya yang bukan orang Bugis-Makassar dan tidak banyak tahu soal khazanah budaya di sana, naskah-naskah Assikalaibineng ini memberi pencerahan tentang akulturasi Islam dengan budaya setempat yang berlangsung dengan sangat apik yang semestinya bisa dipakai untuk melawan prasangka-prasangka/kesalahpahaman tentang Islam yang timbul akibat khazanah budaya lain.

Misalnya soal khitan perempuan. Banyak pengamat (Barat maupun bukan) menuding Islam merendahkan hak-hak perempuan dengan mengajurkan khitan perempuan yang memotong kelentit, bagian penting organ kewanitaan untuk mencapai orgasme. Tudingan ini timbul akibat praktik-praktik khitan perempuan di negara-negara Islam Afrika, sebagaimana testimoni Waris Dirie dalam bukunya, Desert Flower: The Extraordinary Journey Of A Desert Nomad (1999). Tapi praktik ini sebenarnya melembaga bukan akibat Islam, melainkan oleh tradisi adat negara-negara itu.

Assikalaibineng bisa merobohkan prasangka tersebut dengan menunjukkan bahwa dalam tradisi yang berbeda (integrasi Islam ke dalam sistem pangadereng Bugis), kelentit serta kedudukan perempuan secara seksual justru sangat dihargai. Sama sekali tidak ada gaya wham, bam, thank you ma’am di sini. Kepuasan perempuan mutlak harus dicapai karena nikmat itu adalah bagian dari “ke-Mahakaya-an Allah Taala”.

Misalnya, hubungan seks harus sama-sama sadar, kita dilarang membangunkan pasangan yang mengantuk hanya untuk minta “begituan”:
“Jika menjelang tidur kemudian
kamu melakukannya, maka istri menganggap
dirinya merasa disayangi serta
dimuliakan / Akan tetapi, jika dia sementara tidur
kemudian mengajaknya, maka dia akan merasa
diperlakukan seperti budak”
 (hlm. 94)

Begitu juga setelah puas jangan langsung ngorok, afterplay yang manis itu penting sebagaimana tampak dalam beberapa teks yang tersebar:
“Jika engkau sudah selesai melakukannya
maka lakukanlah hal yang menyenangkan perasaannya
sebagai tanda kasih sayang”
 (hlm. 95)

”Maka bermain-mainlah ketika kamu selesai bersetubuh dengan istrimu” (hlm. 106)

”Apabila kamu selesai bersetubuh, luruskan
kaki dan sejajarkan lutut istri dengan baik / Tekan
panggulnya dan usap pula keringatnya / Pegang pula
persendiannya / Usap-usaplah seluruh
tubuhnya sampai dia tertidur baru kamu berhenti”
 (hlm. 120)

Posisi-posisi penting di vagina (farji), terutama kelentit, mendapat perhatian khusus pula, bahkan naskah-naskah lontara ini dihiasi ilustrasi-ilustrasi yang sangat ornamentik. Bagian-bagian itu dikiaskan sebagai “empat pintu”:
“Sangat jarang yang mengetahui keempat pintu ini /
Jika kita mau menyentuhnya tekanlah
dengan telunjuk, kamu akan menemukan benda menyerupai biji /
Jika kamu menyentuh itu akan membuat gemetar
tubuh perempuan / Menyentuh pintu yang ada kulitnya
akan memberikan rasa nikmat tiada terkira / Bila yang
menyerupai beras kamu sentuh, itu adalah tangkai
semua kenikmatan / Kalau yang serupa ujung jarum kamu sentuh
itu akan membuatnya tak sadarkan diri karena rasa nikmat
menyelimuti sekujur tubuhnya / Itu pulalah
yang akan membuatnya tertidur
dalam persetubuhan sebab kenimatan dan berkah
dari Allah / Sebab berkat dari Nabi kita
Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam /
Banyak orang berkeinginan untuk mengetahui ini,
tetapi perihal ini jarang orang lakukan
terhadap perempuan yang dicintainya
 (hlm. 120)

Jadi buat pasangan tercinta, tak ada salahnya naskah ini dipelajari dan yang terpenting: dipraktikkan 😀 Memang seperti kata seorang teman saya, buku ini “banyak mistiknya”. Ada mantra-mantra yang harus diucapkan saat tengah-tengah berhubungan, yang saya tidak yakin apakah otak masih sanggup menghafalnya in the heat of passion, ada pula waktu-waktu berhubungan yang cocok untuk mendapat anak sesuai warna kulit keinginan. Waktu isya untuk mendapat anak berkulit putih, tengah malam agar anaknya hitam hehehe… (hlm. 93) Tentu saja yang bagian-bagian macam ini boleh percaya boleh tidak, tapi yang jelas banyak jurus-jurus untuk mencapai “klimaks” di buku ini yang bisa berguna. 🙂

Advertisements