Category Archives: Sains

Membedah Keilmiahan Para Pahlawan Super

The Science of Superheroes
Lois H. Gresh & Robert E. Weinberg
John Wiley & Sons, 2002  |  224 hlm

sainssuperheroesKamis 7 Mei 2009, karena keasyikan membaca buku ini, tanpa sadar HP saya terjatuh dalam taksi saat turun di daerah Jakarta Selatan. Saat menyadarinya, taksi itu sudah tak kelihatan, padahal beberapa jam lagi, ada rapat yang harus saya hadiri. Ada empat skenario yang terpikir agar HP itu bisa didapat balik:

  1. Saya bisa jadi The Flash lalu berlari mengejar taksi itu dengan mudah, karena The Flash bisa lari melebihi kecepatan peluru 1.200 m/detik. Cuma masalahnya, sebagaimana dihitung-hitung oleh dua “orang gila” penulis buku ini, butuh puluhan bahkan ratusan kali lipat asupan kalori harian orang normal untuk bisa berlari secepat The Flash, padahal saya tak makan siang sebanyak itu. Belum lagi bunyi letusan sonic boom yang akan saya timbulkan karena bergerak melebihi kecepatan suara (yang cuma 331,29 m/detik). Dan yang paling penting, dengan berlari secepat itu, pendengaran dan penglihatan saya semestinya tidak bisa berfungsi normal. Salah-salah saya lari ke mana padahal taksinya ke mana gitu.
  2. Saya bisa mencari tempat aman dan berganti kostum Spider-Man lalu dengan “kecepatan, kekuatan, dan kelincahan laba-laba” (seperti dibilang di komiknya) mengejar taksi itu dengan berayun dari gedung ke gedung. Masalahnya cuma satu: laba-laba ternyata tidak memiliki sifat-sifat yang dibilang itu! Kaki laba-laba tidak memiliki koordinasi untuk tidak saling nyrimpet (terbelit) saat bergerak dengan kecepatan tinggi. Laba-laba juga tidak bisa dibilang kuat untuk ukurannya (Stan Lee mungkin sedang terpikir semut raksasa ketika menulis ini). Dan yang terpenting, laba-laba bukan pemburu hebat: “Betapapun cerdas kelihatannya, laba-laba bukan predator yang efektif. Mereka tidak berburu, mereka menunggu buruannya terperangkap jaringnya.”
  3. Atau di tengah-tengah kejengkelan ini, saya pun berubah jadi Hulk si raksasa hijau, akibat radiasi sinar gamma yang menerpa saya beberapa tahun lalu. Diliputi amarah dan baju robek-robek (tapi celana tidak), saya kejar taksi itu dengan berlari atau melompat-lompat menimbulkan kegemparan di tengah kota. Tapi ada masalah lagi: sinar gamma terpancar dari zat-zat radioaktif macam Cesium-137, Cobalt-60, atau Uranium-135. Orang yang terkena radiasi ini tidak akan berubah hijau atau mengalami transformasi sel, melainkan kena macam-macam kanker atau mati sekalian.
  4. Atau saya bisa menjadi Superman, superhero yang mengawali semuanya. Saya lacak taksi itu dengan penglihatan dan pendengaran super, lalu terbang mengejarnya. Tapi masalahnya, kalau saya punya pendengaran super dan bisa terbang, ngapain juga saya repot-repot punya HP dan naik taksi? 😀

Begitulah, buku ini sama sekali bukan “ejekan” ilmuwan terhadap kadar keilmiahan cerita-cerita komik. Kedua penulisnya sendiri penggila komik dengan kadar pengetahuan tentang sejarah komik yang terbilang abnormal. Mereka mengulas mana yang mungkin dan mana yang tak mungkin dalam komik. Terbang melebihi kecepatan cahaya itu tidak mungkin, seberapa pun canggihnya teknologi nanti. Sementara mutan-mutan macam X-Men itu mungkin. Dan komik yang paling ilmiah/realistis menurut mereka ternyata adalah Donal Bebek bikinan Carl Barks. Barks adalah penulis dan ilustrator Disney paling terkemuka yang membikin semua komik Donal sejak 1942-1966. Dialah yang mencipta tokoh Gober Bebek, Gerombolan Siberat dll. Barks mampu menggambarkan latar suasana dan aksi-aksi keluarga Bebek dengan sangat detail dan realistis. Saya setuju sekali soal ini dan pernah menulis ulasan panjang tentang Gober Bebek dalam  “Jalan Hidup Si Bebek Jutawan”.

Salah satu karya Barks paling spektakuler adalah cerita terbitan tahun 1949 ini: Donal ditugasi Paman Gober mengangkat kapal yang karam di dasar laut, dan seperti biasa karena Gober Bebek pelit, ia tidak mau keluar banyak dana. Donal dan Kwik, Kwek, Kwak pun akhirnya punya ide untuk mengisi penuh kapal karam itu dengan bola-bola ping-pong. Air terdesak keluar tergantikan bola ping pong, dan udara dalam ribuan bola ping pong itu akhirnya cukup kuat untuk mengangkat kapal itu ke permukaan.

Khayalan belaka? Tunggu dulu. Pada 1964 ilmuwan Denmark Karl Kroeyer mendapat tugas mengangkat sebuah kapal tanker yang karam ke dasar lautan di dekat Teluk Parsi. Kroeyer bereksperimen: ia mengisi penuh tanker itu dengan gelembung-gelembung polystyrene yang bisa memuai. Percobaannya berhasil dan kapal tanker itu pun terangkat ke permukaan. Ketika ditanya pers dari mana ia dapat ide ini? Dari membaca komik Donal itu semasa kecilnya di Kopenhagen! Jadi, jangan pernah remehkan manfaat membaca komik buat anak Anda.