Category Archives: Sastra Amerika Utara

Kisah Cinta Orang Biasa dan “Superhero”

All My Friends are Superheroes
Andrew Kaufman
Coach House Books, 2010 [2003]  |  111 hlm

superheroesSo sweeeeet, saking manisnya sampai di sampulnya seharusnya diberi peringatan seperti di bungkus rokok “Membaca Buku Ini Bisa Mengakibatkan Kenaikan Gula Darah dan Kencing Manis.” Tertarik dengan buku ini sejak membaca sinopsisnya di katalog Telegram tahun 2007, namun baru kesampaian mendapatkannya pada 2010. Tiga tahun penantian tapi tandas dibaca hanya dalam kurang lebih 1,5 jam. Dan sungguh tak mengecewakan.

Ceritanya, ada 249 superhero di kota Toronto, sekalipun apa yang disebut superhero di sini jangan dibayangkan seperti di komik-komik. Mereka memang punya kemampuan-kemampuan nyleneh yang berbeda dari orang biasa atau regulars, tapi mereka tak berkostum dan tak punya identitas rahasia. Sebagian superhero ini lahir sebagai superhero, dan sebagian lainnya berasal dari para regulars. Dan jangan kira kemampuan mereka bisa buat membela kebenaran dan macam-macam tindakan heroik lainnya itu. Sebagiannya tak punya fungsi apa-apa. The Shadowless Man misalnya, dulunya bernama Henry Zimmerman sampai suatu malam bayangannya memutuskan pergi meninggalkan dirinya. Maka jadilah ia The Shadowless Man. The Falling Girl tak pernah bisa masuk ke gedung lebih dari 2 tingkat tanpa jatuh. Sepanjang hidupnya ia sudah pernah jatuh dari sepeda, pohon, kuda, tangga, pangkuan neneknya dll. “Yang belum cuma jatuh cinta,” renungnya suatu malam sambil tiduran, dan waktu berbalik hendak mematikan puntung rokoknya ke asbak, ia pun jatuh dari ranjang. The Frog-Kisser dikaruniai kemampuan mengubah cowok pecundang jadi jagoan, namun dikutuk dengan kenyataan bahwa cowok yang diubahnya itu akan selalu mencampakkannya setelah jadi jagoan.

Yang jelas, kisah ini bukan kisah superhero, melainkan kisah cinta antara Tom yang orang biasa dengan The Perfectionist (yang punya kemampuan menata segala dengan sempurna). Mereka berkencan, jatuh cinta dan memutuskan menikah, namun di resepsi pernikahan, The Perfectionist dihipnotis oleh Hypno, mantan pacarnya yang memang punya kemampuan menghipnotis. The Perfectionist dibikin untuk percaya bahwa Tom telah hilang/jadi tak kasat mata. Teman-teman sesama superhero berusaha meyakinkannya bahwa Tom masih ada, namun setelah 6 bulan The Perfectionist yakin bahwa Tom telah meninggalkannya. Untuk melipur sakit hatinya The Perfectionist memutuskan pindah dari Toronto ke Vancouver dan membuat Vancouver sempurna agar masa lalunya di Toronto terlupakan.

Bila adegan-adegan flashback-nya dihilangkan, cerita ini sesungguhnya berentang waktu pendek saja, yakni mulai dari saat penerbangan AC117 boarding dari Toronto hingga mendarat di Vancouver. Tom harus berupaya membuat The Perfectionist melihat dirinya, sebelum pesawat mendarat di Vancouver yang telah sempurna dan cinta mereka kandas selamanya.

Semua jempol layak saya berikan buat buku tipis ini (hanya seratusan halaman) atas idenya yang tak biasa, namun efektif tanpa berlarat-larat dalam bertutur.

Yang juga asyik, bab 12 buku ini berjudul “Find Your Own Superhero Name”. Cari kemampuanmu yang tak banyak dimiliki orang lain, maka jangan-jangan kau pun sudah superhero. Hmm… bisa jadi saya ini bernama The Beer-Resistant, tahan bir berapapun tanpa mabuk tapi dikasih minuman lebih keras sedikit langsung mabuk 🙂

Advertisements

Kegilaan Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam
Edgar Allan Poe
Judul asli: Tales of Mystery and Terror
diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin dari bahasa Inggris
Gramedia Pustaka Utama, 2010  |  245 hlm

poeSama seperti Maggie Tiojakin penerjemah buku ini, saya kenal Poe zaman masih sekolah, yakni sekitar kelas 6 SD naik ke SMP, ketika masa-masa membaca Enid Blyton sudah lewat dan mulai menjajal bacaan yang lebih sulit macam Agatha Christie, Conan Doyle dsb. Pada zaman coba-coba itulah saya menemukan harta karun di buku-buku peninggalan perpustakaan ayah saya. Selain yang berbau politik macam Pantja Azimat Revolusi dan Sarinah-nya Soekarno, ada juga karya-karya sastra seperti Kalung Guy de Maupassant dan Kumbang Emas Edgar Allan Poe ini (terbitan Jajasan Pembangunan tahun 1952, tanpa keterangan penerjemah, bercap nama Cina ayah saya dan tanda R.C. yang artinya ternyata Reading Club).

Dalam Kumbang Emas ini, ada bahasa sandi yang sangat memikat saya waktu itu:

53‡‡†305))6*;4826)4‡.)4‡);806*;48†8960))85;1‡(;:‡*8†83(88)5*†;46(;88*96*?;8)*‡(;485);5*†2:*‡(;4956*2(5*—4)898*;4069285);)6†8)4‡‡;1(‡9;48081;8:8‡1;48†85;4)485†528806*81(‡9;48;(88;4;(‡?34;48)4‡;161;:188;‡?;

yang ternyata pemecahannya mirip dengan salah satu cerita Sherlock Holmes tentang misteri gambar orang menari. Saat itu saya belum paham dengan istilah “sastrawi”, tapi ketika membaca Kumbang Emas, memang terasa ada yang beda dengan membaca cerita Agatha Christie atau Conan Doyle, apalagi Trio Detektif, yang waktu itu sama-sama saya golongkan sebagai goldbugcerita detektif/misteri. Ada kedalaman/kerumitan tertentu pada tokoh-tokohnya atau penulisannya yang tak saya dapati dalam bacaan-bacaan saya sebelumnya.

Dan itulah rupanya yang memang membedakan Poe dengan penulis misteri lainnya. Belasan tahun sesudahnya saya membaca The Black Cat yang terjemahannya ada di kumpulan Kisah-kisah Tengah Malam ini, juga kumpulan Hati yang Meracau, terjemahan keren A.S. Laksana dan Hasif Amini, terbitan Akubaca. Cerpen “Hati yang Meracau” adalah terjemahan “The Tell-Tale Heart” (yang di kumpulan ini diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin sebagai “Gema Jantung yang Tersiksa” (hlm. 11), tapi maaf, terjemahan Maggie yang ini menurut saya tidak sebagus terjemahan A.S. Laksana).

Begitu pula setelah saya mendalami sastra Amerika Latin, semakin kagum saya terhadap Poe melihat besarnya pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Amerika Latin, terutama pada para maestro cerpen Jorge Luis Borges dan Julio Cortázar. Edisi komplit cerpen Poe diterjemahkan ke bahasa Spanyol oleh Cortázar, dan Borges mewarisi kecenderungannya untuk membual dengan sedetail-detailnya sampai pembaca percaya, dan membawa yang-mustahil pada latar cerita yang sehari-hari. Ketika cerpen lengkap Poe terjemahan Cortázar diterbitkan ulang pada 2008, sastrawan Fernando Iwasaki dan Jorge Volpi sebagai editornya menulis pengantar “Todos somos descendientes literarios de Poe, pues gracias a Poe existieron Borges … y … Cortázar” (‘Kita semua keterunan literer dari Poe, berkat Poelah ada Borges dan Cortázar”). Pada cerpen “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219), Poe memberi rujukan buku ngarang-ngarang yang ditulis amat rinci untuk meyakinkan pembaca, sama seperti Borges dalam salah satu cerpen paling masyhurnya “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius.”

Bagi saya, yang menarik dari Poe adalah caranya mempersepsi dan menyampaikan teror. Teror, dalam Poe, lebih merupakan teror batin, bukan dikarenakan oleh kekuatan dari luar seperti ditakut-takuti hantu/monster yang secara fisik digambarkan ada sungguhan. Tokoh-tokoh Poe jadi gila oleh mania-manianya sendiri, misalnya rasa jengkel gara-gara kucing, rasa penasaran gara-gara peti atau rumah, salah lihat laba-laba, rasa terganggu oleh gagak dalam puisi terkenalnya “The Raven”. Kegilaan itu ada dalam diri tokoh, tinggal tunggu momentum atau obyek tertentu untuk meledakkannya (bisa kucing, buku, peti atau apapun). Tema kegilaan ini terus diulang-ulangnya, misalnya narator dalam Kumbang Emas, “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 89), dan “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219) sama-sama mencurigai temannya menunjukkan tanda-tanda kegilaan pada awal cerita. Namun pada akhir cerita kita tidak tahu lagi siapa yang sebenarnya gila siapa waras, atau apakah semuanya benar-benar terjadi atau khayalan si narator yang sudah jadi gila.

Beberapa tahun yang lalu, dalam paparan berjudul “Bulan Salah Tempat (atau: Seberapa Penting Detail Faktual dalam Sastra?)”,  saya juga memakai Poe di sebuah diskusi sastra sebagai contoh salah satu “karya besar yang mengandung kesalahan faktual di dalamnya”. Astronom Frank Jordan mencatat bahwa cerpen Poe “Descent to Maelstörm” (diterjemahkan di sini sbg “Mengarungi Badai Maelstörm” hlm. 61) mengandung kesalahan saintifik, karena diceritakan bahwa peristiwa badai terjadi pada tanggal 10 Juli, kapal terseret arus dengan dramatisasi cahaya bulan menyorotinya, padahal di Norwegia yang menjadi latar cerita ini, pada bulan Juli tidak mungkin ada bulan karena matahari bersinar 24 jam. Tapi sekarang setelah saya pikir-pikir lagi, kisah tentang bulan itu adalah tuturan si narator. Dan kembali ke poin saya sebelumnya, bisa jadi si narator itu ngelantur, sudah gila, dsb, atau malah bisa jadi ia cuma membual dan badai itu malah sama sekali tak pernah terjadi. Kegilaan si narator itulah kejeniusan Poe.

Meski Kisah-kisah Tengah Malam ini diterjemahkan dan digarap dengan apik, ada beberapa kesalahan terjemahan yang terpaksa saya cantumkan di sini karena agak fatal:

1) Dalam cerpen “Mengarungi Badai Maelstörm”, tertulis tanggalnya adalah 18 Juli, padahal aslinya “It was on the tenth day of July, 18—”, yang maksudnya adalah “10 Juli 18—” (baca: sepuluh Juli delapan belas sekian). Si narator kisah ini menyamarkan tahun peristiwanya. Jadi maksudnya bukan tanggal 18 Juli.

2) Dalam cerpen “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 106) tertulis “Tentunya mereka tenggelam dalam sekejap,” kata sang kapten. “Tapi tidak lama lagi mereka akan bangkit—saat semua garam di laut sudah mencair.”

Kalimat aslinya adalah: “They sank as a matter of course,” replied the captain, “and that like a shot. They will soon rise again, however—but not till the salt melts.”

Di sini, “rise again” tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi “terangkat lagi / mengapung kembali”; “bangkit” terasa janggal, karena berkesan dua orang yang tenggelam itu akan “bangun dari mati”. Begitu pula “salt melts” yang dimaksud tentunya adalah garam yang ada dalam peti, dan bukan yang ada di laut.