Category Archives: Sastra India

Emansipasi Dunia Ketiga, “Capitalism-Style”

The White Tiger
Aravind Adiga
Simon Schuster, 2008  |  276 hlm

aravindBagaimana emansipasi kaum jelata Dunia Ketiga bisa diusahakan? Kalau menurut novel-novel Pramoedya: dengan perjuangan nasional bangsa tertindas demi mencapai kesetaraan. Tapi kalau menurut novel Aravind Adiga ini: dengan menggebuk mati majikanmu pakai botol Johny Walker kosong, ambil uangnya, kabur ke kota lain, dan mulailah hidup baru sebagai wirausahawan.

Inilah kisah yang sangat realistis dan mencekam tentang cara menapaki tangga kehidupan dalam kapitalisme kontemporer India (dan, sepertinya, Dunia Ketiga mana saja). Meski dengan itu bukan berarti novel ini tak bisa mengundang tawa. Ia juga sangat mengena untuk melihat kondisi kita sekarang (terutama di kota-kota besar macam Jakarta): bagaimana kondisi riil di balik mall-mall megah itu, bagaimana kondisi batin terpendam seorang pembantu terhadap majikannya yang kaya raya.

Namun demikian, saya agak bingung dengan penerimaan pembaca Barat atas novel ini. Sebagian besar peresensi menganggap realisme novel ini mendobrak citra tentang India yang selama ini ditampilkan liris dalam karya-karya sastranya (“no nostalgic lyricism here, only exuberant reality”, kata Kate Saunders di The Times). Hmmm… tidakkah India selama ini terus menerus ditampilkan korup, bobrok, jorok dsb, tanpa polesan, tanpa lirisisme? Soal kemacetan misalnya, adakah yang baru dari paparan Adiga ini dibanding deskripsi Paul Erlich si pemikir sosial dan kependudukan itu pada 1960an ketika ia memakai India sebagai contoh ledakan populasi? Tentang kehidupan jalanan di India, tidakkah Mira Nair sudah memfilmkannya dengan brutal dalam Saalam Bombay yang menginspirasi Garin Nugroho membuat Daun di Atas Bantal?

Dalam hal itu, novel Adiga ini buat saya memang tak terasa baru, tapi ia menyegarkan dalam caranya menyikapi realitas yang brutal itu: tajam, blak-blakan, dan menganggapnya sebagai kewajaran, tanpa perlu petuah-petuah moral dan bungkus eksotisme. Di dunia kompetitif macam ini, yang licik dan licinlah pemenangnya.

Advertisements

Pertapa yang Menyesal

Sanyasi
Rabindranath Tagore
Judul asli: Prakritir Pratishodh, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Tagore sendiri menjadi Sanyasi, or The Ascetic (1917)
diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar dari versi Inggris
Pustaka Jaya, 1979  |  36 hlm


sanyasiPendek, indah, mengena. Itulah yang bisa saya bilang mengenai drama Tagore yang mengangkat masalah kebatinan dan spiritualisme ini. Sikap Tagore jelas sekali dalam hal ini: pencarian kebenaran hanya bisa dilakukan dengan terlibat dalam hiruk pikuk masalah-masalah kemanusiaan, bukan dengan menghindarinya demi menggapai ketenangan dan kesucian.

Mulanya Sanyasi si pertapa bersikap ogah dengan keributan manusia-manusia di sekitarnya. Ketika ada seorang pengembara bertanya bolehkan dia berlindung di tempat itu, Sanyasi malah menjawab dengan jawaban khas seseorang yang menampik dunia: “Di mana-mana tidak ada tempat berlindung, Nak, selain dalam kedalaman dirimu sendiri.” Sanyasi memandang semua orang sebagai noda: “Mereka bergelimang dalam debu kehidupan. Orang yang suci adalah dia yang telah menyingkirkan dunia dari fikirannya.”

Sampai pada suatu ketika datang seorang gadis yang tidak punya siapa-siapa lagi, dan ia merasa tenteram berada dekat Sanyasi. Seperti biasa Sanyasi menolaknya, ia tinggalkan tempat pertapaannya dan gadis itu: “Aku harus bebas.”

Bertahun-tahun berlalu Sanyasi menyadari bahwa sikapnya keliru. Kenangan akan tangis gadis itu, tangis manusia yang membutuhkan kasih sayang manusia lainnya, terus menghantuinya. Ia pun sadar bahwa kebenaran hanya bisa dicapai dengan terlibat dalam urusan manusia, urusan dunia, bukan menghindarinya dengan lari ke dalam dunia kebatinan. “Wahai si tolol, yang ingin mencari keselamatan dengan berenang sendirian, dan melalaikan sinar matahari dan bintang kemintang.”