Category Archives: Sastra Indonesia

“Metropolis”: Upaya Memberantas Sindikat Narkoba

Metropolis
Windry Ramadhina
Grasindo, 2009  |  331 hlm

metropolisSeperti Agusta Bram, tokoh polisi di novel ini, saya punya alasan pribadi untuk “tertarik” pada narkoba. Ketertarikan yang bermula dari dendam dan tidak mengerti. Tiga teman saya mati kena barang itu. Saat itu paruh kedua era 1990an. Psike anak muda Jakarta/Indonesia masa itu menurut saya sedang dipengaruhi oleh dua hal besar:

  1. Globalisasi yang mulai merajalela dalam bentuk merebaknya mall-mall, kafe-kafe, dan budaya dugem yang menghadirkan kebaruan-kebaruan yang belum ada presedennya dalam kehidupan sosial anak muda. (Dan seperti barang-barang lainnya, globalisasi juga menghadirkan variasi narkoba yang lebih beragam dan terjangkau);
  2. Kemuakan terhadap tatanan yang ada, yang tertuang misalnya dalam musik dan budaya alternatif (ingat Trainspotting), filsafat posmo, dan mulai mengerucutnya perlawanan terhadap Orde Baru.

Di satu sisi ada pemberontakan, di sisi lain ada semacam penyaluran kemuakannya. Sering saya berdebat dengan teman-teman junkies saya apakah narkoba bisa disebut penyaluran bagi pemberontakan. Tapi percuma. Memplesetkan Marx, saat itu adalah masa ketika “candu adalah agama masyarakat”, di tiap diskotik, di tiap pesta, triping adalah kewajaran. Kos saya terletak persis di sebelah sebuah diskotik dangdut di kawasan Jakarta Pusat. Tiap malam saat saya nongkrong makan di warung, narkoba dalam segala jenis diedarkan bebas di antara cewek-cewek atau tamu-tamu di situ yang sedang menggerombol di warung-warung makan. Hukum benar-benar tak berjalan, sekalipun polisi sering mampir ke diskotik itu (minta setoran tentunya). Itu yang bikin saya marah pada teman-teman junkies saya: di siang hari kami melawan Soeharto dan Cendana, malamnya kawan-kawan menenggak obat-obatan yang kita tahu duitnya mengalir masuk ke Ari Sigit dan istrinya.

Saya makin marah setelah dua teman saya mati OD. Saya takkan lupa bagaimana barang itu menggerogoti dengan cepat manusia dan kemanusiaan. H —sebut saja demikian, teman ketiga saya yang nantinya mati— adalah yang terjenius di antara kawan-kawan sekampus. Makin larut ia dalam obat, makin tumpul juga kepekaan dan penalarannya. Sampai akhirnya, saat sedang sakaw berat, kami tarik ia beramai-ramai ke kamar kos saya. Kami kurung dan rawat ia, mandikan, ceboki, suapi. Secara teori, kalau dalam 3 hari ia bisa mengatasi sakawnya, ia sembuh. Kalau tidak ya ia mati, tapi paling tidak ia tidak mati tergeletak begitu saja di jalanan.

H sembuh. Tapi tak lama. Kecanduan keduanya lebih parah. Ia sudah tak ingat teman. Walkman saya —sedikit dari harta yg saya miliki sebagai mahasiswa—raib diambil dan dijualnya. Beberapa kawan yang ikut merawatnya memutuskan talak tiga: tidak mau mengenalnya lagi. Persetan ia mau mati atau tidak. Sebagian teman lainnya masih bersabar. Kami pulangkan H ke rumah ibunya di Serang. Kembali di sana ia dikurung dan dirawat, kali ini oleh keluarganya. Rutin kami menerima kabar dari sang ibu. Awalnya, beliau bercerita, saat dikurung dalam keadaan sakaw di kamar, H nekat menenggak parfum-parfum yang ada di kamar itu. Setelah beberapa bulan keadaan H membaik dan bahkan ikut pesantren. Namun entah bagaimana ia terjerat lagi dalam lingkungan yang sama dan akhirnya tak tertolong.

Dan sekarang pun saya menjadi pendukung hukuman mati buat pengedar narkoba, dan seringkali harus adu argumen dengan kawan-kawan baik saya sendiri para aktivis HAM yang menentang hukuman mati. Saya tahu siklus kekejian ini harus diputus, tapi para pengedar itu benar-benar seperti bukan manusia buat saya. Mereka pasarkan narkoba ke anak-anak SD dalam kemasan bentuk permen dan coklat. Ya Tuhan, apa yang ada di pikiran mereka? Indonesia macam apa yang hendak mereka buat dari orang-orang bermata kosong yang menggigil terus menerus? Ada satu adegan dalam filmTrainspotting yang paling mengganggu saya dan kerap hadir bagai mimpi buruk: yakni adegan bayi yang menangis terus menerus karena kelaparan tapi tak ada yang peduli karena si ibu dan kawan-kawannya dalam komunitas junkies itu sedang asyik teler. Saat mereka sadar, kurang lebih satu setengah hari kemudian, si bayi sudah terbujur kaku.

Agusta Bram, seperti saya, juga terobsesi oleh masa kecil saat ia melihat ayahnya yang teler dibunuh oleh pengedar karena tak mampu membayar utang-utangnya. Tapi sayang, cuma itu saja yang kita ketahui dari masa lalu Bram. Kita tak tahu bagaimana ia dibesarkan sampai menjadi polisi, atau apa yang membentuk karakternya sampai jadi begitu tangkas dan cerdas. Kita tak tahu mengapa ia tak dendam pada ibunya, atau terkenang ibunya, atau mencari ibunya (ibunya sudah tak tahan dan pergi meninggalkan begitu saja ayahnya yang junkies tanpa membawa serta Bram kecil). Bruce Wayne kecil juga melihat orang tuanya dibunuh, namun para penulis dan ilustrator Batman mengolah dan mengisi masa-masa itu dengan kecamuk psikologis yang mendalam sampai membuat Batman akhirnya terasa jadi masuk akal bagi kita.

Namun Windry tak menyediakan gambaran itu. Sayang memang.Tapi bisa jadi ini bukan kesalahan Windry, melainkan karena genre yang dipilihnya (novel laga atau thriller) memang lebih mementingkan plot sebagai pembangun struktur cerita dan bukan melalui pendalaman karakter. Karena itulah, Metropolisbagi saya sungguh mengasyikkan buat dibaca karena plot yang cepat dan menegangkan, namun untuk bisa menikmati itu beberapa ganjalan logika yang ada memang harus ditepikan terlebih dulu barang sementara.

Dalam karya fiksi orang bisa menulis dan mengkhayal apapun asalkan meyakinkan. Di situ terjadi negosiasi terus menerus antara kadar fiksi dan fakta, mana yang bisa dikarang dan mana yang harus kukuh berpijak pada kenyataan. Metropolis sangat menarik sebagai karya fiksi dan sebagai indikator umum perkembangan kepenulisan Windry. Windry telah melakukan risetnya dengan cukup cermat untuk novel ini, namun ada beberapa hal krusial yang buat saya sepertinya lalai dicermati:

1) Bram tidak mungkin meminta dan memilih akan ditempatkan di divisi mana dalam kepolisian. Apalagi tanpa menjelaskan alasannya dan atasannya bisa menerima begitu saja. Tradisi Polri adalah tradisi penunjukan berdasarkan berbagai pertimbangan para petinggi Polri (bahkan Kapolda pun ditunjuk langsung oleh Kapolri hendak ditempatkan di mana). Gaya kerja Bram, interaksi dengan atasan dan mitranya, Erik, membuatnya seakan bekerja di LAPD dan bukan Polda Metro Jaya, membuatnya jadi seperti Mulder dan Scully atau Hunter dan Deedee McCall dan bukan perwira polisi Indonesia. Metode penanganan kasus dan sistem kelompok kerja/kemitraan dalam Polri bukan seperti itu.

Andai Windry mengurangi stereotip-stereotip kepolisian a la LAPD dan lebih berpijak pada realitas keseharian Satreskrim atau Narkotika Polda Metro Jaya, saya kira Metropolis bisa memberi sumbangsih penting pada khazanah novel detektif/kepolisian kontemporer dunia. Kita tahu, penulis-penulis macam Qiu Xiaolong (Cina), Paco Ignacio Taibo II (Meksiko), Luis Alfredo Garcia-Roza (Brasil), Henning Mankell (Swedia), Manuel Vazquez Montalban (Spanyol/Katalunya) mengolah genre cerita detektif/kepolisian dengan kekhasan masing-masing negerinya, dalam arti: masalah sosial-politik yang dihadapi polisi di tiap-tiap negara itu berbeda-beda dan itu bisa terbaca jelas di sana. Qiu Xiaolong misalnya, memakai korupnya birokrasi Partai Komunis Cina sebagai latar ceritanya, sementara Garcia-Roza menyinggung masalah-masalah korupsi, kemiskinan, dan anak jalanan khas Dunia Ketiga. Indonesia jelas punya segudang masalah untuk diolah jadi bahan cerita yang bisa menyumbang genre cerita detektif dunia.

2) Dunia gelap kriminalitas rekaan Windry ini adalah dunia yang anehnya justru tampak terang-benderang, dalam arti: beberapa tokoh utamanya tidak pernah mengganti nama atau memakai nama samaran sejak kecil! Ini juga mustahil.

  • Miaa misalnya (dengan dobel a), sejak kecil di Kaliurang dipanggil Miaa, di kepolisian Miaa juga, dan setelah lepas dari itu masih bernama Miaa, bahkan kepada ibu kosnya dan administrasi RSJ ia juga memakai nama Miaa.
  • Johan Al juga. Tokoh satu ini jelas harus berganti-ganti nama. Tidak mungkin sejak kecil ia memakai nama itu, di paspor dan daftar penumpang juga memakai nama Johan, di klinik memakai nama Johan, bahkan di YM sekalipun memakai id johan_al (seperti halnya Aretha dan perusahaan cuci uangnya MOSS memakai id mo55). C’mon Wind, bahkan kamu pun pakai miss_worm dan teen_worm kan?

Terakhir, soal kecil namun berpengaruh pada kesempurnaan buku: banyak salah penggal kata di akhir larik-larik kalimatnya. Dan juga, frustrasi tertulis secara rata di buku ini sebagai frustasi (yuhuuu, editor?)

Penggeli Hati Indonesia Jadul

Penggeli Hati II: Lelucon
M. Wuryani (Editor)
Bentara Budaya Yogyakarta, 2005  |  166 hlm

penggeliBuku ini sebenarnya adalah katalog yang menyertai pameran kumpulan reproduksi humor dan gambar-gambar kartun dari majalah-majalah Indonesia lama, mulai era 1920an hingga 1950an, di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2005. Ini proyek dokumentasi yang sangat menarik. Banyolannya garing-garing ancur, dengan gaya bahasa yang belum terkurung kaku oleh kaidah-kaidah EYD. Lihat misalnya humor di Sin Po (1926) ini:

Direktur koran: Tuan mesti pasang advertensi lebih banyak.
Saudagar: Apa perlunya?
Direktur koran: Ayam kalau bertelur selalu ribut berkotek-kotek, tapi angsa kalau bertelor tida bersuara. Lantaran ini telur ayam laku dan telur angsa tida ada yang mau beli.

Menelanjangi Sang Jenderal Besar

Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman
Abdul Haris Nasution, S.I. Poeradisastra, Roeslan Abdulgani, Sides Sudyarto (Editor)
PT Karya Unipress, 1983  |  134 hlm

soedirmanSecara umum buku ini terbaca seperti hagiografi khas pejabat—tokoh yang diulas diagung-agungkan tanpa ada cacat sama sekali, top dan serba bagus semuanya. Satu-satunya tulisan yang beda —dan merupakan analisa paling kritis dan objektif di buku ini—adalah tulisan Bur Rasuanto. Bur menulis tentang militerisme Pak Dirman yang jengah dengan diplomasi sipil Sjahrir, yang membuatnya memutuskan bergabung dengan Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka tapi lalu diingkarinya sendiri, dan merupakan preseden campurtangan militer dalam politik Indonesia untuk pertama kalinya. Membacanya di era pasca Orde Baru ini, saya heran mengapa pada waktu itu Bur Rasuanto bisa dan boleh nulis kritis sekali. Baru belakangan tahu bahwa buku ini memang pernah dilarang pada zaman Orde Baru dengan keputusan Jaksa Agung Kep-167/J.A/3/1984. Mungkin editor dan penerbitnya waktu itu berani karena mengira nama besar Jend. A.H. Nasution yang terpampang sebagai salah satu kontributor kumpulan tulisan ini bisa membuat buku ini aman, ternyata tetap juga kena breidel.

Perburuan Harta Karun VOC

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
E.S. Ito
Hikmah, 2007  |  675 hlm

meedeE.S. Ito berusaha mengemas sejarah Indonesia —atau satu bagian dari sejarah Indonesia—dalam novel thriller, dengan berfokus pada kasak-kusuk yang sudah sekian lama berseliweran dalam jagat politik Indonesia, yakni: keberadaan harta karun VOC yang katanya cukup untuk membayar utang luar negeri Indonesia. Oke, seperti waktu saya mengenal Sidney Sheldon saat SMP dan SMA dan kemudian penulis buku-buku thriller sejenis lainnya, buku ini sangat menghibur, membuat orang tidak sabar untuk terus membaca. Itu sudah satu poin keunggulan.
Poin lainnya: kemampuan Ito merangkai fakta-fakta sejarah yang sedemikian banyak dan luas menjadi satu jalinan cerita yang kompleks, meski ini sebenarnya agak tergolong utak atik gathuk dalam bahasa Jawanya. Artinya: detail kecil-kecil dihubung-hubungkan —baik dengan asyik, setengah maksa, maupun maksa banget—untuk bisa serasi dengan skenario besarnya. Misalnya: nama Erberverld yang dibolak-baik susunan hurufnya jadi Belverlder, atau tempat-tempat bersejarah berawalan B yang ada kaitannya dengan Bung Hatta. Imajinasi untuk mereka-reka itulah yang saya salut.
Kemudian yang juga saya suka adalah semangatnya. Kemarahan terhadap situasi kontemporer Indonesia bisa melahirkan metafor-metafor yang kadang tidak biasa. Satu contoh misalnya sinismenya soal kawasan elite Menteng: “pohon menteng dalam sosok beringin yang rakus”. Unik. Kena.
Saya juga suka “pancingannya” —terutama lewat tokoh guru Uban, guru sejarah yang digambarkan sangat kharismatik—agar pembaca lebih tertarik dengan sejarah Indonesia. Saya rasa akan banyak peminat-peminat baru sejarah gara-gara membaca novel ini (seperti munculnya banyak peminat filsafat gara-gara ketenaran Dunia Sophie dulu). Meskipun ini juga ironi tersendiri seperti yang tersirat di beberapa bagian novelnya, bahwa generasi Indonesia yang rabun sejarah ini harus dipancing dengan fiksi hiburan agar kembali melek akan sejarah.

Tapi novel ini juga bukan tanpa kekurangan-kekurangan, yang bisa saya daftar di sini:

  1. Sebagaimana banyak novel thriller, yang menonjol di sini adalah plot, karena dari situlah ketegangan-ketegangan dibangun. Kedalaman dan detail tokoh-tokohnya kurang digali, sehingga muncul kejanggalan-kejanggalan/ketidaklogisan di sana sini. Misalnya saja: masa intel yang tugasnya memburu Kalek —tokoh protagonis novel ini—dan kemampuannya terlihat sudah hampir setara James Bond disusupkan sebagai wartawan koran? Tugas-tugas penyusupan ini mestinya dilakukan oleh intel-intel yang berbeda. Apalagi dia tahu bahwa yang ia buru adalah temannya sendiri yang ia yakini masih hidup dan masih punya kaki tangan di koran Indonesiaraya yang disusupinya. Kemungkinan dia ketahuan akan sangat besar.
  2. Penjelasan narator soal kerja kewartawanan Batu, si intel tersebut, sangat “menipu” buat saya. Karena kita dibimbing oleh orang ketiga seakan-akan Batu benar-benar lulusan IISIP dsb. Akan lebih masuk akal kalau Parada yang menarasikan kisah itu, dari sudut pandang dia, karena dialah yang tertipu oleh skenario ini.
  3. Saya tetap kurang jelas dengan maksud keterlibatan Kalek beserta kelompoknya Anarki Nusantara dengan perburuan emas ini. Apakah karena ingin menggagalkan rencana kudeta, atau karena mereka yakin emas ini bisa buat menutup utang Indonesia.

Khusus untuk soal utang luar negeri ini, saya setuju dengan pendapat beberapa kawan pembaca bahwa pmbukaan novel ini benar-benar menggoda. Ito memulainya dari satu bagian sejarah Indonesia yang tidak banyak dikenal orang (atau baru diketahui sebagian besar orang setelah IGGI bubar dan terbongkarlah bahwa utang luar negeri selama ini adalah utang perang hasil Konferensi Meja Bundar).

Bertahun-tahun lampau saya pribadi sempat “membenci” Hatta setelah tahu perannya dalam kesepakatan soal utang perang itu—utang yang membuat Indonesia terbelenggu selama puluhan tahun. Detail tentang utang dan perundingan ini bisa dibaca pada Southeast Asia: A Testament (2002), memoar George McT Kahin, peneliti yang memelopori lahirnya studi Indonesia di dunia akademik AS. Pada masa Revolusi Fisik Kahin bukan cuma meneliti, tapi juga terlibat langsung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kahinlah yang ngotot agar perkataan Merle Cochran bahwa AS akan membantu membayarkan utang Indonesia jangan dipercaya begitu saja: “… it must be understood that Cochran, like his superiors in Washington, attached greater importance to the economic health of the Netherlands than that of Indonesia.” Saat itu kebijakan luar negeri AS berpusat sepenuhnya pada perbaikan ekonomi Eropa akibat Perang Dunia II, bagaimana mungkin AS berjanji membantu Indonesia? Apalagi janji AS ini disampaikan cuma secara lisan! (“Cochran’s repeated assurances, all unfortunately only oral…”)

Tapi Hatta ngotot. Sebenarnya menurut Kahin, Sudarpo, Soedjatmoko, dan Palar semuanya memihak Sumitro, tetapi Hatta sebagai tokoh kunci perundingan merasa beban keberhasilan Konferensi Meja Bundar seluruhnya berada di pundaknya. Apalagi kesehatan Hatta saat itu sedang memburuk.

Begitulah, sejarah sudah terjadi, dan saya sempat benci pada Hatta. Tapi dari sumber lain saya baca Hatta jauh-jauh hari kemudian seperti menyesali keputusannya itu. Ia ikut menanggung beban rasa bersalah keputusannya itu seumur hidupnya. Apalagi setelah saya tahu fakta-fakta lain dari hidup Hatta seperti bahwa ia —yang mantan Wakil Presiden—harus menabung bertahun-tahun untuk bisa membeli sepasang sepatu baru.

Kebencian saya luntur seketika. Betapa beda seorang Hatta yang mengambil keputusan keliru yang ikut membuat Indonesia menanggung utang segunung, namun keputusan itu didasarkan pada niat tulus kecintaannya terhadap negeri ini, dengan seorang yang memang mau membuat Indonesia menanggung utang segunung demi perut kenyangnya sendiri.

Kekeliruan Hatta adalah kekeliruan Republik muda, yang dalam kata-kata Chairil Anwar: “bangsa muda menjadi, baru bisa bilang aku.” Banyak yang masih bisa kita pelajari dan teladani dari Hatta, sosok yang kian terlupakan ini. Mungkin itu sebabnya Iwan Fals membaktikan satu lagu buat Hatta tapi tidak buat bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya. Mungkin itu sebabnya kawan saya Robertus Robet dalam bukunya Republikanisme dan Keindonesiaan (2007) menulis bahwa Republikanisme Hattalah yang bisa mengisi kekosongan etika politik di Indonesia. Dan mungkin karena itu pulalah E.S. Ito membuat novel ini.

Seorang Kawan, Sepilihan Puisi

Hantu, Api, Butiran Abu: Sepilihan Puisi
Dwi Pranoto
Gress Publishing, 2011  |  74 hlm

dwipranBisakah saya menulis objektif tentang buku ini? Dwi Pranoto dan puisi-puisinya terlampau lekat dalam ingatan, percakapan-percakapan kami kadang masih terngiang di telinga—ia salah satu dari beberapa teman dekat di masa belasan tahun lalu yang menghajar dan membuka mata saya akan kekayaan bahasa.

Betapa cepat waktu berlalu… saya takkan lupa, ia bacakan puisinya di TIM pada 1997. Saya takkan lupa, kami biasa duduk-duduk mengobrol di Taman Fatahilah sampai malam tiba, menunggu kereta terakhir kembali ke Cikini, kami jelajahi jalanan Jakarta, duduk di kafe kosong Jalan Jaksa, memutar Tom Waits keras-keras dengan bir di meja. Kami percakapkan sastra, puisi, teater, apa saja. Sejak di Banyuwangi, kota kelahirannya, ia sudah membikin berkala sastra yang ia namai Lokomotif, isinya sedikit puisinya serta terjemahan-terjemahannya atas cerpen-cerpen Virginia Woolf dan Franz Kafka. Saya baca Kafka pertama kali dari mata Dwi, terjemahannya atas “Dokter Desa” telah terbit di Lampung Post. Saya merasa dia agak terobsesi dengan Kafka. Ia tak suka Borges, dan menertawakan kegemaran saya akan Borges.

Lalu tampaknya ia merasa jenuh di Jakarta, setelah delapan tahun menjajal kota ini. Suatu hari ia datang ke kos saat saya tak ada, meninggalkan sepucuk surat perpisahan yang masih saya simpan sampai sekarang… Kabarnya tak terdengar lagi, konon ia tinggalkan kertas-kertas puisinya di halte-halte sepanjang Cikini. Sampai bertahun kemudian kami berhubungan lagi. Banyak hal telah berubah. Saya telah menikah dan punya anak. Ia telah menikah dan punya anak. Banyak hal juga tak berubah. Saya tetap menulis. Ia tetap menulis, banyak. Berkala sastranya kini ia beri nama Lepasparagraf, dan dikelolanya dari Jember. Masih ada terjemahan Kafka di dalamnya. Lalu ada naskah drama yang ditulisnya (saat di Jakarta ia memang lama bergulat di teater). Beberapa kali kami sempat bersua sesaat, di Surabaya saat saya ada tugas ke Jawa Timur, lalu ia sempatkan datang ke rumah saya, sementara janji saya untuk ke Jember belum juga bisa saya tepati.

Lalu suatu hari pada 2011 ia mengirimi dummy buku puisinya untuk meminta endorsement. Mengumpulkan dan menerbitkan puisinya adalah sesuatu yang sudah kami, teman-temannya, dorong sejak dulu. Baru pada 2011 ia mau melakukannya. Ingin saya menjawabnya klise, “Puisi-puisimu tak butuh endorsement, kawan. Biarkan mereka bicara sendiri.” Tapi bisakah? Kalaupun bisa saya tak ingin menjawab demikian. Membaca kumpulan puisinya adalah membaca apa yang pernah berdampak besar pada hidup dan pemikiran saya. Saya ingin menjadi bagian buku ini seperti sebagian buku ini pernah menjadi bagian dari saya.

“Maka petualangan telah ditentukan menuju ke dalam,
berpusar dalam taman bacaan, mengelilingi seberkas nama
yang bersemayam di jantung cahaya.”
 (hlm. 17)

Perjalanan Rendra

Sadjak-sadjak Sepatu Tua
W.S. Rendra
Pustaka Jaya, 1972  |  88 hlm

sepatuAndai diserahkan kepada desainer amatiran, mungkin buku ini akan secara harafiah bergambar sampul “sepatu tua” sungguhan sesuai judulnya. Atau kalau desainernya agak “nyeni,” ia akan memakai lukisan sepatu tuanya Van Gogh. Tapi karena digarap oleh pelukis kenamaan kita, alm. Zaini, sampul buku ini menjadi nilai tersendiri buat saya. Lihatlah, semacam gambaran pemandangan (ada citra awan, gunung, dan sungai mungkin?) yang seakan-akan terbentuk dari kaligrafi (aksara Arab, Jawa, atau apa?). Ilustrasi ini menggambarkan dengan tepat kumpulan puisi ini. Alam adalah teks buat Rendra, atau tepatnya, alam adalah kenyataan yang harus dicerap dan dituangkannya kembali dalam bentuk teks.

Buku yang berisi dua kumpulan ini, yakni “Sajak-sajak Sepatu Tua” dan “Masur Mawar,” memang berisi gambaran Rendra akan apa yang diamatinya selama perjalanan-perjalanannya di luar negeri maupun di Indonesia. Kumpulan “Sajak-sajak Sepatu Tua” adalah perjalanan fisik, sementara pada “Masmur Mawar” kita dapati semacam perjalanan spiritual.

Bagian pertama “Sajak-sajak Sepatu Tua” adalah cerita lawatannya keluar negeri (khususnya negara-negara komunis masa itu, seperti Cina, Korea Utara, Soviet, serta Hongkong yang bukan komunis), dan saya menangkap ketidakbetahan Rendra di sana. Banyak tentunya yang bisa diamati dan ditulis dari negeri asing —bahkan ada anekdot penulis kita baru bisa menulis bagus kalau tinggal di luar negeri atau diasingkan secara politik—tapi di bagian pertama ini yang kita dapati justru keseragaman dan bukan variasi suasana. Kekosongan, kemuraman, kesendirian begitu menghimpit, yang kemungkinan merupakan gambaran kemuraman batin Rendra sendiri yang lantas diproyeksikannya pada kemuraman hidup di bawah rezim komunis.

Di bagian kedua, perjalanan-perjalanan di Indonesia, Rendra nampak lebih variatif, mungkin karena jiwanya memang lebih berpijak di negeri sendiri. Ada yang nostalgik, ada yang sinis, ada yang romantis, atau semata-mata deskriptif. Masing-masing tempat punya kesannya sendiri yang berbeda-beda pada diri penyair ini.

Kumpulan ini mungkin bukan kumpulan terbaik dari Rendra, tapi buat saya penting karena ini adalah “masa antara” dari puisi-puisi lirisnya dari masa sebelumnya menuju yang benar-benar penuh kritik sosial (“pamflet”) pada masa-masa berikutnya.

Ada petikan yang paling mengesankan buat saya dalam buku ini:

Yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan-tangan telah dikepalkan
biarpun kecapaian.

Membuat Chairil Anwar Mati Berkali-kali

Pulanglah Dia Si Anak Hilang: Kumpulan Terjemahan dan Esai
Chairil Anwar (penerjemah)
Penulis: André Gide, Ernest Hemingway, John Steinbeck
Epilog: Evawani Alissa Chairil Anwar
Granit, 2003  |  xv + 134 hlm


pulanglahdiaMengumpulkan terjemahan Chairil Anwar, salah satu penyair terbesar kita, jelas adalah ide bagus yang bisa menelurkan sebuah buku penting dan menarik—saya bayangkan bakal seperti The Winged Energy of Delight, kumpulan terjemahan penyair kawakan Robert Bly. Untuk bisa seperti itu, tentu dibutuhkan kerja editorial yang cakap, namun yang ada: para editor buku ini justru mengesalkan. Mereka banyak menambahkan keterangan-keterangan yang tiada perlu bahkan mengacau, keterangan-keterangan yang justru menunjukkan mereka tak tahu apa-apa soal Chairil dan kerja kepenulisannya, sehingga kapasitasnya sebagai editor buku ini jadi layak dipertanyakan.

Lihat misalnya, pengantar yang diberi judul “Catatan Pinggir Penerbit edisi 2003: Hikmah Sebuah Kebetulan” yang bercerita bagaimana di “Fakultas Sastra universitas ternama di Jakarta”, “kami” (yang artinya Sigit B. Kresna dan tim Granit, sesuai nama yang tertera sebagai penulisnya) tanpa sengaja menemukan buku Pulanglah Dia Si Anak Hilang cetakan tahun 1956. “Sejenak kami tertegun membaca nama pengarangnya maupun penerjemahnya”. Kenapa mereka tertegun? Karena mereka tidak pernah tahu kalau Chairil itu menerjemahkan! Saya jadi bertanya-tanya apakah tim editor ini memang benar penyuka sastra atau buku. Sejak SMA pun, di kota yang jauh dari Jakarta pada 1990an, saya sudah tahu kalau Chairil Anwar juga seorang penerjemah (dan penyadur ulung). Meski saat itu belum membacanya langsung, tapi hal ini jelas diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia. Masa tim editor ini tidak tahu kalau Chairil Anwar menerjemahkan? Masa mereka belum pernah membaca buku H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 yang menderet dengan jelas dan lengkap semua terjemahan Chairil. Bacalah memoar Abu Bakar Lubis tentang masa-masa Revolusi Fisik, di situ dikisahkan juga bagaimana Chairil mengajak tanding Lubis menerjemahkan suatu puisi. Setelah melihat hasilnya, Chairil marah-marah, kurang lebihnya, “Kamu orang sekolahan masa nerjemahin kaya begini?”

Lebih parah lagi, “kami” para penulis pengantar penerbit ini tidak tahu pula kalau Chairil menulis prosa! “Ah betapa malunya kami, yang mungkin mewakili rata-rata penikmat awam di bidang sastra, bahwa yang kami ketahui dari Chairil Anwar hanyalah beberapa sajaknya saja.” Duh! Begitu pula mereka baru tahu kalau Chairil punya anak, dan mereka pun jadi tertegun untuk kedua kalinya. Mungkin kalau dikasih pinjam memoar Basuki Resobowo, mereka akan tertegun berkali-kali melihat segala polah begundalan Chairil dan asal usul slogan “bung ayo bung” di poster bikinan Affandi. Dan akan semakin tertegun kalau tahu bahwa Chairil bisa baca buku sambil jalan kaki, atau cari utangan buat mengobati sipilis.

Jadi begitulah, akibat ketertegun-tegunan para editor ini, kita pun jadi disuguhi buku campur aduk yang bikin tertegun-tegun pula: apa gerangan dasar-dasar penyuntingannya? Buku ini diberi judul besar Pulanglah Dia Si Anak Hilang, tapi nama André Gide tidak tercantum di sampul. Lagipula buku ini bukan cuma berisi Gide; di dalamnya ada pula karya Steinbeck, Hemingway, dan Chairil sendiri.

Dan coba kita lihat subjudunya: Kumpulan Terjemahan dan Esai. Andai benar ini kumpulan terjemahan Chairil, mengapa puisi-puisi terjemahannya tidak dimasukkan? Dan kalau benar ini kumpulan terjemahan, mengapa prosa-prosa aslinya diikutsertakan? Kalau ini kumpulan prosa saja, baik terjemahan maupun asli, mengapa surat-suratnya ke H.B. Jassin tidak dimuat lengkap?

Yang paling menjengkelkan saya: Editor menganggap karena mereka tidak tahu, maka rata-rata pembaca pun pasti tidak tahu (padahal melihat hasil akhir buku ini, sangat mungkin pengetahuan pembaca umum tentang Chairil lebih mumpuni dibanding para editor ini). Maka begitulah, beberapa frase karya Chairil mereka ubah seenaknya, mungkin dengan dasar agar pembaca “yang tidak tahu” ini tidak bingung dan jadi tertegun-tegun.

Frase “Tuhan Kita Isa Kristus” terjemahan Chairil diubah seenaknya jadi “Nabi Isa (Yesus Kristus)”, padahal Gide sendiri jelas tidak mungkin pakai tanda kurung! Versi Inggris frase tersebut adalah Our Lord Jesus Christ yang berarti terjemahan Chairillah yang tepat!

Begitu juga diktum terkenal Chairil “Kata ialah These itu sendiri” dalam pidato “Hoppla!” yang dianggap sebagai dasar humanisme universal dalam sastra Indonesia. Kata “These” diubah seenaknya oleh editor menjadi “tesis”! (dengan huruf kecil pula!)

Wahai editor, melihat ketertegun-tegunan kalian dalam banyak hal soal Chairil, maka tak ada kapasitasnya kalian mengganti semau-maunya pilihan-pilihan kata Chairil. Kalau kalian tahu Chairil Anwar, kalian tentu akan tahu bahwa ia tak pernah main-main dengan kata yang dipilihnya. Chairil tak percaya improvisasi bisa melahirkan karya besar. Dalam satu kesempatan Chairil mengutip bagaimana setelah wafatnya Beethoven, ditemukan beratus-ratus catatan sebagai persiapan pembuatan karya musiknya. Inilah seni cipta yang sesungguhnya. Bagi Chairil hasil seni improvisasi tetap jauh di bawah hasil seni cipta yang dipikirkan masak-masak, bahkan ia garisbawahi bahwa ini sebagai “soal hidup dan mati”. Wahai editor, kalian membuat Chairil Anwar mati berkali-kali!

Hedonisme Keluarga Pejabat

Isteri Konsul
Nh. Dini
Nur Cahaya, tanpa tahun (kemungkinan sekitar 1982-1985)  |  108 hlm

konsulKumpulan cerpen Nh. Dini ini saya dapat dengan harga enam ribu rupiah saja pada 2009 saat berjalan-jalan menyusuri Pasar Modern di samping Summarecon Mall Serpong, di sebuah toko buku bekas yang dinamai ‘Socrates’. Covernya (serta ilustrasi-ilustrasi di dalam buku) digambar dengan gaya a la roman picisan atau pulp fiction oleh Hasmi, sang kreator Gundala Putra Petir. Dibandingkan dengan edisi-edisi berikut buku ini yang tampil dengan gambar sampul lebih “nyastra,” saya justru suka edisi pertama ini. Menurut saya lebih pas, karena tema cerita utama kumcer ini ternyata juga rada “picisan” (istri konsul yang kesepian lalu mencari seks dan cinta). Namun, kelihaian Bu Dini mengolah kata dan kandungan psikologis tokoh-tokohnya membuat cerita-cerita di sini jadi logis dan tak sekadar remeh temeh murahan. Malah sesungguhnya di balik kesan picisan itu, seperti tersirat kritik atau penguakan secara blak-blakan gaya hidup keluarga pejabat zaman Orde Baru. Dan saya cukup terkejut melihat bagaimana free sex lifestyle masa itu digambarkan di buku ini, terutama pada cerpen “Isteri Konsul”, yang membuat hedonisme masa kini terasa biasa-biasa saja…

“Fakta-fakta” dari Arok Dedes

Arok Dedes
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara, 2009  |  561 hlm

arokdedesIntrik, intrik, dan intrik: politik dalam perwujudannya yang paling jalang. Dahsyat, meski memang bukan karya terbaik Pramoedya, apalagi bab penutupnya yang tampak mengendur.

Karena sudah banyak yang mengulas serius tentang buku ini, bahkan menjadikannya bahan skripsi dan tulisan akademik lainnya, maka di sini saya tuliskan beberapa “fakta” menarik saja yang saya dapat dari buku ini:

  1. Kalau ingin penglihatan Anda tajam menembus kegelapan, tiap pagi cucilah mata Anda dengan “bagian tengah air seni” Anda sendiri. Meski saya juga kurang jelas bagian tengah air seni itu yang mana, tapi cara ini silakan dicoba 😀
  2. Ingin menerjuni jurang tanpa cedera? Potong dua lembar daun enau, kepit di ketiak, kepak-kepakkan, lalu LONCAT. Kalau Arok bisa, Anda pasti juga bisa 😀
  3. Di zaman yang diceritakan ini, rupanya orangutan hidup di tanah Jawa. Dan betinanya ketika lagi birahi buas sekali, bahkan mayat seorang laki-laki pun (putra Tunggul Ametung) bisa ikut disosor.
  4. Kalau Anda seorang Paramesywari, Anda bisa minta apa saja dihadirkan dalam sekejap. Apa saja, termasuk meminta 18 orang sinden tiba-tiba hadir dan bernyanyi menghibur Anda.
  5. Apapun yang terjadi, jangan pernah percayakan naskah tulisan Anda pada militer: kalau tidak dibuang ya bakal lenyap ke loakan Pasar Senen.