Category Archives: Sastra Perancis

Saat Kemunafikan Berbungkus Agama Merajalela

Tartuffe
Molière
Judul asli: Le Tartuffe, ou l’Imposteur (1664)
diterjemahkan oleh Winarsih P. Arifin
Kepustakaan Populer Gramedia, 2008  |  191 hlm

tartuffeKarya besar tak lekang dimakan zaman, kata orang. Benar memang, tapi membaca Tartuffe ini saya tercengang karena seakan-akan drama ini ditulis Molière bukan di Perancis abad ke-17, melainkan khusus untuk Indonesia di zaman kita sekarang, yang kian sesak oleh simbol-simbol agama, zaman ketika “agamaisasi” hendak merasuk ke semua urusan, dari yang publik sampai ke yang paling privat.

Tartuffe, si munafik par excellence, selalu mengatasnamakan Tuhan atas segala tingkah yang ia lakukan. Dunia dipandangnya berlumur dosa, dan hanya dirinya (dan kelompoknyalah) yang benar. Orang-orang yang berpikiran terbuka dan menikmati kebebasannya dianggapnya murtad dan harus diluruskan. Mirip sekali bukan dengan kondisi kita sekarang? Maka jitu sekali ucapan Cleante tentang tokoh munafik itu:

Mereka mau semua orang menjadi buta seperti mereka;
Kelewat bebaslah orang yang matanya terbuka,
Dan yang tidak memuja tingkah pamer yang sia-sia
Seolah-olah tidak menghormati ataupun mengimani hal-hal yang suci

Seorang filsuf —saya lupa pastinya, kalau bukan Slavoj Žižek ya John Gray—pernah membedakan kelompok-kelompok fundamentalis agama yang sungguhan (seperti kaum Amish di Amerika Serikat) dengan fundamentalis-fundamentalis lainnya seperti yang kita kenal. Kaum Amish hidup dalam dunia dan keyakinannya sendiri, bahkan teritorinya sendiri, dengan sesedikit mungkin bersinggungan dengan dunia luar. Beginilah kaum fundamentalis seharusnya. Yang jadi masalah adalah kelompok fundamentalis lainnya: mereka yang dibakar oleh rasa iri terhadap dunia luar, yang dihinggapi oleh fantasi bahwa yang ada di luar mereka “merebut kesenangan” mereka. Inilah yang melandasi sikap-sikap untuk menyuruh semua orang berlaku, beribadat, bahkan berpakaian sama seperti diri mereka. Ketika melihat Dorine si pelayan, Tartuffe menyuruhnya menutupi belahan dadanya yang kelihatan:

Tutup payudaramu yang tak tahan aku melihatnya
Oleh hal-hal seperti itu, jiwa kita tersinggung,
Dan itu menimbulkan pikiran yang mengandung dosa

Dorine pun dengan tajam menukas:
Jadi Anda gampang benar tergoda,
dan nafsu Anda gampang tergoda oleh tubuh!
Memang, aku tak tahu gairah seperti apa yang tersirat di kepala Anda

Pandangan Tartuffe adalah pandangan yang melatari lahirnya UU APP serta perda-perda syariah itu. Yang berotak ngeres adalah laki-laki, yang memerkosa adalah laki-laki, namun yang dilarang keluar malam, dilarang pakai rok mini, dilarang bonceng mengangkang adalah perempuan. Namun pada akhirnya terbukti bahwa Tartuffe ini memang busuk. Istri orang dirayunya. Dan untuk ini pun dia punya “ayat-ayat”-nya:
Tuhan memang melarang beberapa hal yang manis
tapi terhadap Dia ini kita dapat berkompromi
Tergantung dari keperluannya, ada ilmunya

Semua ada ilmunya, semua ada ayatnya. Termasuk bila Anda ingin kencan jam-jaman atau harian dengan yang bukan pasangan, tapi tetap ingin terlihat suci dan religius di luar. Semua bisa dicarikan bungkus keagamaannya. Persis seperti Tartuffe.