Dinamika Keuangan Kaum Miskin

Portfolios of the Poor: How the World’s Poor Live on $2 a Day
Daryl Collins, Jonathan Morduch, Stuart Rutherford, Orlanda Ruthven
Princeton University Press, 2009  |  320 hlm

portofolio[ Ulasan ini dimuat juga di situs FAIR Institute ]

Patokan kemiskinan ala Bank Dunia yang memakai besaran pendapatan AS$2 sehari kerap dipermasalahkan. Katakanlah dalam kasus Indonesia, sebagian peneliti memakai patokan AS$1 sehari (peneliti Korea Yong Ho Bang, misalnya, pernah menulis One Dollar A Day: Poverty in Indonesia [1999]). Tapi bukan perdebatan angka itu yang hendak diulas oleh buku Portofolios of the Poor maupun resensi ini. Baik AS$1 maupun AS$2, yang jelas kita tahu bahwa standar hidup orang miskin jauh berada di bawah orang kebanyakan. Namun para ahli umumnya berhenti sampai di situ, dan belum ada yang menelisik lebih jauh: dengan uang cuma sebesar itu, bagaimana sesungguhnya orang miskin menata hidupnya?

Kita cenderung mudah berasumsi bahwa ketiadaan uang dengan sendirinya membuat orang miskin bertahan hidup dengan cara yang paling apa adanya: tidak makan, tidak membetulkan rumah bila rusak, tidak berpergian, tidak melakukan transaksi keuangan, tidak menjual atau membeli, dan singkat kata: “tidak ngapa-ngapain”. Tapi asumsi ini melupakan fakta mendasar bahwa orang miskin justru harus aktif “ngapa-ngapain” demi bertahan hidup, dan bila mungkin, memperbaiki hidupnya.

Buku Portofolios of the Poor ini merontokkan asumsi tersebut dengan membuktikan secara empiris bahwa kaum miskin adalah kaum yang saban harinya sangat aktif melakukan transaksi keuangan justru karena mereka miskin. Kemiskinan membuat pertahanan hidup mereka rapuh, misalnya dari penyakit atau kecelakaan. Pegangan uang selalu dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah mendadak seperti ini, dan itu yang membuat cashflow mereka sangat dinamis dan vital bagi kelangsungan hidupnya. Mereka tidak langsung menghabiskan uang berapapun yang didapat untuk kebutuhan perut, namun selalu menyisihkannya untuk tabungan dan transaksi-transaksi lainnya dengan sanak keluarga atau tetangga. Dinamika inilah, menurut para penulis buku ini, yang selama ini dilupakan dalam program pengentasan kemiskinan yang kerap mengasumsikan bahwa kaum miskin itu tidak melek-finansial.

Buat saya buku ini orisinal dalam metode risetnya. Sederhana saja sebenarnya: para periset membuat catatan keuangan harian (“financial diaries”) atas perilaku keuangan kaum miskin yang ditelitinya. Total terkumpul 250 catatan keuangan harian dari 3 negara: Bangladesh, India, dan Afrika Selatan. Temuan-temuan yang didapat dari catatan harian ini jadi terasa mengejutkan hanya karena kita sebelumnya tak pernah tahu kehidupan orang miskin secara riil. Misalnya: meskipun berkekurangan dan sedang dalam kondisi berutang, mereka ternyata juga masih memberikan pinjaman pada tetangganya yang lebih membutuhkan saat itu.

Atau misalnya sistem adat susu di Afrika. Susu adalah semacam kolektor tabungan di lingkungan kaum miskin, dan antar mereka sendiri, yang tugasnya menagih dan menyimpankan tabungan harian mereka dan sebagai imbalannya mendapat nilai satu hari tabungan itu. Secara bulanan berarti tabungan itu susut 3,3% dan secara tahunan susut 40%! Bayangkan bila Anda menabung di bank dan akhir tahun mendapati uang Anda bukannya bertambah, malah berkurang 40%, Anda pasti marah besar! Rasionalkah sistem macam ini? Bagi kaum miskin di Afrika, sistem ini rasional. Potongan 40% itulah harga yang harus dibayar agar mereka disiplin menabung setiap hari dan tidak memakai uangnya karena godaan-godaan yang kurang penting.

Hal yang sama juga berlaku pada Hamid, penarik angkong dari Bangladesh ini misalnya. Ketika meminjam $10 dari rentenir, ia dikenakan bea 25 sen per minggu. Bagi Hamid yang pendapatannya rata-rata $2,33 per hari, biaya 25 sen masih terjangkau, meskipun dalam perhitungan kita itu sama artinya dengan bunga 261% per tahun! Jelas tidak masuk akal. Tapi menurut buku ini, itulah yang dilupakan oleh peneliti selama ini: kaum miskin hidup hari per hari, jadi ketika periset memakai hitungan dan cara berpikir mereka yang per tahun, “they may be following standard accounting practices but distorting the real picture.” (hlm. 22).

Jadi ketika pengambil kebijakan bertekad menghapuskan rentenir dengan menyediakan kredit yang bunganya lebih rendah dari bunga si rentenir, bisa jadi mereka salah sasaran, karena poinnya bukan di situ. Kaum miskin tidak meminjam berdasarkan tinggi rendahnya bunga, melainkan siapa yang lebih cepat dan fleksibel dalam menyediakan dana. Dan justru di poin ini kredit pemerintah (dengan segala formalitas birokratisnya) sering kalah mudah diakses dibanding pinjaman rentenir.

Demikian pula dengan konsep “menabung”. Bila kita bayangkan kaum miskin menabung seperti kita menabung di bank, tentu tidak tepat, namun bila kita asumsikan bahwa mereka tak bisa menabung karena minimnya dana yang ada, ini juga salah. Mereka berusaha keras untuk menabung, bahkan ada yang meminjam uang untuk ditabung (praktik yang terdengar ganjil, mungkin).

Detail-detail inilah yang kadang terabaikan dalam langkah-langkah pengentasan kemiskinan yang progresif sekalipun, misalnya skema-skema kredit mikro yang dirintis salah satunya oleh Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Grameen, bagi para penulis buku ini, terlalu menitikberatkan pada kredit usaha, padahal penelitian ini menunjukkan bahwa dana seringkali dibutuhkan untuk hal-hal lain seperti biaya perawatan anggota keluarga sakit atau meninggal, buat membayar sekolah, memperoleh aset rumah tangga. Kebutuhan-kebutuhan yang terbilang sentral dalam pertahanan hidup kaum miskin inilah yang belum banyak tersentuh oleh para penggiat kredit mikro.

Lihat misalnya pasangan suami-istri Subir dan Mumtaz dari Bangladesh. Mereka tidak mau ikut dalam lembaga-lembaga keuangan mikro yang ada seperti Grameen, sebab kebutuhan mereka bukan meminjam, melainkan menabung. Akhirnya, saat mereka mendengar ada lembaga yang tidak mewajibkan adanya pinjaman, mereka pun akhirnya ikut. Setelah beberapa lama menabung dan merasa nyaman dengan lembaga tersebut, baru Subir dan Mumtaz merasa percaya diri buat meminjam. Namun lagi-lagi, pinjaman mereka ini ternyata tidak sejalan dengan premis utama kredit mikro yang menitikberatkan pada kredit usaha. Sebagai penarik angkong sewaan, Subir didorong untuk memakai dana pinjaman tersebut buat membeli angkong sendiri, namun pasangan ini memutuskan bahwa mempunyai angkong sendiri terlalu riskan buat mereka karena tidak ada tempat aman buat menaruhnya waktu malam. Akhirnya uang itu pun dipakai untuk menyetok beras, membeli lemari kayu (satu-satunya perabot mereka selain ranjang), dan $20 dipinjamkan kepada sesama penarik angkong dengan bunga 17,5% per bulan. Perilaku keuangan seperti ini “should make us think carefully before we conclude that loans for poor people are of little value, or may even be a dangerous temptation to fall into deep debt, unless they are used for working assets.” (hlm. 48) Perilaku keuangan seperti ini mengharuskan konsep “working assets” (“modal usaha”) didefinisikan secara lebih lentur lagi oleh lembaga-lembaga keuangan mikro.

Hampir lima puluh halaman terakhir buku ini diperuntukkan buat apendiks yang berisi penjelasan tentang riset portofolio kaum miskin ini, mulai dari pemilihan lokasi, pemilihan sasaran, kekurangan dan keunggulan riset ini, penjelasan istilah-istilah (apa beda meminjamkan uang ke tetangga dengan menyimpannya di tetangga) dlsb. Buat kita di Indonesia, bisa jadi bagian inilah yang paling penting untuk dipelajari, dan bila mungkin, diaplikasikan dalam riset agar kita memperoleh gambaran yang lebih riil tentang wajah kemiskinan kita.

Advertisements

Huruf Bukan Sekadar Huruf

Just My Type: A Book About Fonts
Simon Garfield
Gotham Books, 2011  | 356 hlm

Type: The Secret History of Letters
Simon Loxley
I.B. Tauris, 2006  |  248 hlm

fontKadang saya heran, ada dua buku bertema sama persis, tapi yang lebih inferior bisa lebih ngetop dibanding yang lebih superior. Mungkin karena didukung promosi yang lebih gencar. Bisa jadi. Atau mungkin justru karena lebih inferior itu jadi lebih mudah dibaca banyak orang? Entahlah.

Buku ini contoh paling jelasnya. Ada gembar-gembor media besar-besaran mengiringi penerbitannya pada 2011 tahun lalu, seakan-akan belum pernah ada buku yang mengulas tentang font dan tipografi sebelumnya (bukan dari segi teknis pemakaian atau desain, tapi dari sejarah dan serba-serbinya). Padahal pada 2004, Simon Loxley sudah menerbitkan Type: The Secret History of Letters yang menurut saya ditulis dengan pengetahuan yang jauh lebih mendalam dan prosa yang lebih tertata ketimbang Simon Garfield ini (hmm kebetulan juga dua penulisnya bernama Simon), tapi buku Simon L tidak mendapat keriuhan publisitas seperti buku Simon G ini.

Buku Simon L diterbitkan oleh I.B. Tauris, sebuah penerbit akademik di Inggris yang berfokus salah satunya pada kajianVisual Culture. Maka buku Simon L pun nadanya memang lebih akademis dengan paparan historis yang runut dan tertata. Sementara buku Simon G diterbitkan oleh Gotham Books, imprint grup Penguin untuk buku-buku tentang budaya pop. Maka buku Simon G pun ditulis dengan bahasa lebih santai dan nada lebih ringan. Terlalu ringan malah menurut saya. Kalau Anda mencari anekdot tentang kebencian para desainer terhadap “Comic Sans”, silakan baca buku Simon G ini. Tapi kalau Anda mencari pemikiran-pemikiran tipografer ternama macam Eric Gill atau William Caslon, lebih baik membaca bukunya Simon L.

Berfilsafat dengan Batarang

Batman and Philosophy: The Dark Knight of the Soul
Mark D. White & Robert Arp (eds.)
bagian dari The Blackwell Philosophy and Pop Culture Series yang disunting oleh William Irwin
Wiley-Blackwell, 2008  |  294 hlm

batmanBuku ini masih “sesaudara” dengan buku Metallica and Philosophy yang saya ulas sebelumnya. Dan seperti halnya Metallica and Philosophy, tidak semua esai di buku ini bagus—sebagian terlampau dangkal, dan beberapa topik diulang-ulang. Bila Metallica and Philosophy terlampau menitikberatkan pada soal eksistensialisme, buku ini terlalu banyak memakai utilitarianisme (dan kritik terhadapnya) untuk menyoroti Batman. Tapi tetap, dari total 20 esai, ada beberapa yang sangat menggugah dan membuat kita takkan membaca Batman dengan cara yang sama lagi.

1. “Why Doesn’t Batman Kill the Joker?” – Mark D. White
Ini ulasan dan pemanfaatan utilitarianisme paling bagus di buku ini: kalau membunuh 1 orang (Joker) bisa membuat begitu banyak nyawa selamat, mengapa Batman tidak membunuhnya saja dari dulu? Mengapa pengadilan Gotham tidak menjatuhkan hukuman mati saat Joker tertangkap, dan hanya membuinya di Arkham? Komisaris Gordon sudah beberapa kali nyaris tidak tahan untuk tidak membunuh Joker (misalnya di No Man’s Land, sesudah Joker membunuh Letnan Essen), tapi Batman mencegahnya. Dan sebaliknya, di Absolute Hush, Batman sendiri sudah nyaris membunuh Joker, tapi giliran Komisaris Gordon yang mencegahnya. “How many more lives are we going to let him ruin?” tanya Batman. Jim Gordon menukas, “I don’t care. I won’t let him ruin yours.” White mengulas dengan menarik bahwa di sini, seakan tanggung jawab nyawa yang hilang akibat ulah Joker ada di pundak Batman, dan bukan pundak Joker. Secara moral, Batman merasa memikul apa yang bukan tanggung jawabnya, dan untungnya akhirnya ia menyadari bahwa logika ini salah. “I will not… accept any responsibility for the Joker.” (Batman #614).

2. “Is It Right to Make a Robin?” – James DiGiovanna
Esai ini sesungguhnya membahas tentang landasan moral pendidikan. Apakah secara moral dan etis bisa dibenarkan tindakan Batman mendidik anak-anak muda menjadi Robin yang membuat si anak itu memakai kancut, topeng, dan jubah untuk menyongsong bahaya sedemikian rupa (yang dalam kasus Robin kedua, Jason Todd, sampai membuatnya tewas mengenaskan)? Bukankah masyarakat Spartan kuno, suku-suku pedalaman juga menghadapkan anak-anak muda mereka pada bahaya serupa sebagai ritus menuju kedewasaan?

Esai ini memaparkan tindakan Batman berdasarkan virtue ethics: Batman mengajarkan Robin untuk menjadi karakter yang beretika (paling tidak Robin pertama, Dick Grayson, dan mungkin Robin ketiga, Tim Drake). Untuk kasus Jason Todd Batman bisa dibilang gagal karena karakter Todd sudah terbentuk sebelumnya dalam hidupnya sebagai maling kelas teri: gegabah, tidak punya kesabaran, sikap moderat, dan kearifan.

Argumen di atas diteruskan lebih lanjut dalam esai no. 19 (“Leaving the Shadow of the Bat” – Carsten Fogh Nielsen) bahwa Batman tidak sekadar membuat Dick Grayson sebagai “bayangan”-nya. Karakter beretika yang dibentuk Batman akhirnya membuat Dick memutuskan berhenti sebagai Robin untuk mandiri menjadi Nightwing.

7. “Batman’s Promise” – Randall M. Jensen
Buat saya, ini esai yang paling menarik dalam kumpulan ini: dorongan apa yang membuat Bruce Wayne menjadi Batman? Kita tahu bahwa ia melihat orang tuanya dibunuh. Memang, banyak superhero menjadi superhero karena keluarga dekatnya dibunuh. Peter Parker melihat Paman Ben dibunuh. Frank Castle melihat istrinya dibunuh. Tapi dalam kasus Parker dan Castle, bukan itu yang menjadikan mereka superhero. Parker jadi Spider-Man karena sengatan laba-laba radioaktif, sementara Castle sudah sejak lama melakukan operasi militer sebelum jadi Punisher. Pembunuhan itu memberikan motif, tapi bukan pemicu mereka jadi superhero.

Sementara Bruce Wayne sengaja melatih diri dalam kriminologi, taktik tempur, dan semua ilmu bela diri di dunia memang untuk menjadi “pembasmi kejahatan”. Dia satu-satunya superhero yang sejak kecilnya bertekad untuk itu. Ini terkait dengan janji yang ia ucapkan di depan makam orang tuanya “bahwa ia akan memerangi kejahatan yang membuat orang tuanya terbunuh”. Janji “memerangi kejahatan” ini jauh lebih luas dari sekadar tekad balas dendam.

Esai ini membahas makna filosofis sebuah janji: apa arti memegang janji, apa arti melanggar janji, dan apa makna janji yang diucapkan pada seseorang yang sudah meninggal? Salahkah secara moral dan etis melanggar janji macam ini?

8. “Should Bruce Wayne Have Become Batman?” – Mahesh Ananth & Ben Dixon
Menurut Michael Noer and David M. Ewalt dalam The Forbes Fictional 15, Bruce Wayne adalah orang terkaya kesembilan di dunia (fiksi) pada 2008. (Gober Bebek di urutan kedua). Dengan kekayaan sebanyak itu, lebih efektif manakah bila ia berperan sebagai Batman atau sebagai Bruce Wayne si pebisnis dalam membasmi kejahatan? Esai ini punya topik menarik tapi sayang pembahasannya tidak.

14. “Alfred, The Dark Knight of Faith” – Christopher Drohan
Esai ini juga memukau dalam menyoroti peran Alfred yang selama ini seakan cuma sampingan. Perlu diingat dialah guru Bruce sekaligus pelayannya. Kesetiaan Alfred pada Bruce ini “absurd” dan unik secara eksistensialis. Alfred “bertindak melalui ketidakbertindakan”.

Filsafat dengan Geram James Hetfield

Metallica and Philosophy: A Crash Course in Brain Surgery
William Irwin (ed.)
bagian dari The Blackwell Philosophy and Pop Culture Series yang disunting oleh William Irwin
Wiley-Blackwell, 2007  |  272 hlm

metallicaRock dan heavy metal lebih dari sekadar musik. Ia sudah menjadi gaya hidup dan lambang identitas tersendiri. Kita kenal istilah “anak metal” namun sulit menjumpai istilah “anak pop” sebagai suatu pembeda tersendiri yang membanggakan. Saya ingat betapa terbengong-bengong teman saya semasa SMP dulu, para NKOTB fans itu, ketika di toko kaset saya justru membeli Dr. Feelgood-nya Mötley Crüe. Dari lirik-lirik musik rock dan heavy metallah saya mendapat “pelajaran filsafat” awal, sesuatu yang sulit saya temui dari lagu pop umumnya.

Jadi sungguh menyenangkan (meski tidak mengejutkan) ketika pada akhirnya ada buku yang membahas kaitan Metallica dan filsafat. Buku ini dibagi dalam 5 “disc” (Bagian) yang masing-masingnya berisi beberapa esai. Total ada 20 tulisan + 1 pengantar editor. Para penulisnya sungguh tidak main-main sebagai akademisi filsafat maupun metal militia sejati. Misalnya saja:
– Joanna Corwin belajar filsafat di St. John’s College, lalu bergabung sebagai roadcrew tur Metallica. Sesudahnya melanjutkan S2 di Catholic University of America, dan kini menjabat Social Director di klub Metallica lokal.
– Bisa dipastikan tak banyak dosen di dunia ini yang punya tato lirik Metallica di badannya, Justin Donhauser salah satu di antara yang sedikit itu.
– Judith Grant, profesor Political Science dan direktur Women’s Studies Program di Ohio University, adalah pembeli koleksi lukisan Lars Ulrich.
– Niall Scott, adalah dosen etika di University of Central Lancashire, yang juga aktif di UCLan Rock, Thrash, and Alternative Music Society.
– Rachael Sotos menghabiskan masa kecilnya di San Francisco Bay Area awal 1980an, di mana Cliff Burton kadang membolehkannya ikut mencicipi birnya. Setelah mengenyam masa muda yang metal abis itu, Rachael memilih hidup berfilsafat dan sekarang mengajar ilmu humaniora di New School, New York, sambil mendalami filsafat Yunani klasik.

Dengan gerombolan penulis filsafat yang sekaligus metal militia spt ini saya berharap bisa mendapat buku yang mendalam tapi dengan ulasan yang ngepop, yang analisa-analisanya tidak seperti ulasan pada umumnya. Tapi sayang buku ini ternyata tidak sebagus perkiraan semula. Beberapa tulisan (terutama di bab-bab awal) benar-benar dangkal bahkan sampai tergolong menyebalkan buat saya, misalnya membahas soal energi negatif dan positif dari ekspresi seni dan penyaluran kemarahan (memakai Plato dan Aristoteles) yang juga tanpa arah jelas tentang maksud esainya sendiri.

Tema kebanyakan esai-esai ini adalah soal eksistensialisme, pencarian jatidiri, dan pesan-pesan nonkonformis, sebagaimana halnya lirik-lirik lagu Metallica sendiri. Tapi menurut saya porsinya kebanyakan (ada sekitar 5-6 esai membahas soal ini dengan rujukan filsuf yg berbeda-beda). Dan kebanyakan esai ini bertolak semata-mata dari lirik, padahal Metallica bukan cuma lirik. Metallica adalah band metal yang harus dipandang sebagai band. Bukan tanpa sebab Lars menggebuk drum sekencang itu dan Kirk bikin solo gitar seliar itu. Jadi membicarakan eksistensialisme tidak cukup hanya membandingkan lirik-lirik Metallica dengan Nietszche, Kierkegaard, Sartre, tapi juga misalnya dari analisa Adorno atau Edward Said tentang dimensi sosial dari musik.

Selain itu beberapa tulisan terlihat lemah argumentasinya. Misalnya, dalam esai Jeremy Wisnewski yang membahas aspek eksistensialisme dalam lagu-lagu Metallica. Ada poin menarik soal “kebebasan mutlak untuk memilih” ketika ia mencontohkan soal kecanduan. Kecanduan apapun (misalnya alkohol dalam kasus Hetfield) pertama-tama adalah permasalahan eksistensialis soal pilihan. “Aku memilih untuk minum”. Namun pilihan ini justru mengakibatkan si subjek (manusia) kehilangan kebebasannya dalam memilih. Ia menjadi sekadar “boneka” (ingat Master of Puppets). Sayangnya, Wisnewski tidak membahas lebih jauh soal pilihan ini, ia malah berganti membahas eksistensialisme Sartre.

Lalu ketika membahas “apakah Metallica melacurkan diri dengan Black Album“, Wisnewski juga secara dangkal menukas bahwa ini adalah pilihan eksistensial Metallica. Bagi Wisnewski, yang penting pilihan itu otentik. Menurut saya persoalannya lebih pelik dari itu, karena dengan demikian Wisnewski menafikan kuasa modal dalam industri musik dan dunia sosial kontemporer kita, yang menurut beberapa pemikir telah menghabisi subjek manusia sampai non-eksis, sehingga eksistensialisme belaka tidak lagi cukup untuk menjelaskan itu.

Namun bukan berarti buku ini jelek. Makin ke belakang, esai-esai ini makin menarik. Beberapa esai yang cukup menonjol misalnya:

  • Peter Fosl mempertanyakan apakah Metallica benar-benar menggugat nilai-nilai keagamaan/Kristen. Atau apakah Metallica cuma versi lain dari Kristianitas itu sendiri?
  • Thom Brooks membahas hukuman mati berbasis album Ride the Lightning
  • Joanna Corwin membahas dialektika ‘tubuh-pikiran’ dari lagu “One”
  • Bremer dan Cohnitz membahas identitas band rock: apakah Metallica yang membikin St. Anger masih sama dengan Metallica yang membikin Kill ‘Em All? Ini esai menarik yang ditulis juga dengan kocak (dengan contoh-contoh plesetan seperti Mave Dustaine dari band Degameth 😀 )
  • Mark White mengulas ‘kesetiaan’ antara band dengan penggemar. Adakah kewajiban moral yang mengikat mereka?
  • Judith Grant membahas “homososialitas” (bukan homoseksualitas) antara anggota Metallica. Ini juga ulasan psikologis yang menarik
  • Bab terakhir dari Delfino mengulas salah benarnya argumentasi Metallica dalam kasus gugatannya terhadap Napster

Tapi di antara yang bagus-bagus itu, buat saya yang paling bagus adalah esai Rachael Sotos “Metallica’s Existential Freedom: from We to I and Back Again”. Rachael memaknai kebebasan di sini bukan sebagai kebebasan individual, tapi politis/publik. Memakai Hannah Arendt, disebutkan bahwa kebebasan hanya bisa dialami otentik apabila kebebasan itu dirasakan juga oleh orang-orang lain. Rachael menekankan pentingnya aspek “kebersamaan” dalam pesan-pesan kebebasan Metallica dan sejarah band itu sendiri.

The feeling of power and capacity, of the “I-can” (to use Arendt’s expression), comes because one is part of something larger: one is not alone, but part of a “we.”

Dengan jeli dan jitu ia menganalisa bagaimana Metallica pada masa-masa awal banyak memakai “we”, misalnya dlm Kill ‘Em All“In the lyrics of this album the word ‘we’ appears more times than on all the other albums combined.”

“We” ini surut pada album-album berikutnya berganti dengan “I”: “In the lyrics of Ride the Lightning the word “I” appears in almost every song and is reflected throughout the thematic content of the album.”

Setelah masa-masa sulit Metallica dan rehabilitasi Hetfield, dokumenter Some Kind of Monster menunjukkan kesadaran kembali Metallica akan pentingnya “we”. Di sinilah Rachael melihat kekuatan Metallica sesungguhnya. Rachael juga secara unik memakai kritik Kierkegaard terhadap totalitas filsafat Hegel untuk melihat pergeseran Metallica dari Justice for All yang super rumit menuju Black Album yang “ringan” dan simpel. Rada maksa sih, tapi oke.

Jadi secara umum, meski beberapa tulisan terasa mengecewakan, sungguh tidak rugi membaca buku ini, seperti juga tidak rugi sama sekali untuk mengenal heavy metal dan Metallica dalam hidup ini.

“Metropolis”: Upaya Memberantas Sindikat Narkoba

Metropolis
Windry Ramadhina
Grasindo, 2009  |  331 hlm

metropolisSeperti Agusta Bram, tokoh polisi di novel ini, saya punya alasan pribadi untuk “tertarik” pada narkoba. Ketertarikan yang bermula dari dendam dan tidak mengerti. Tiga teman saya mati kena barang itu. Saat itu paruh kedua era 1990an. Psike anak muda Jakarta/Indonesia masa itu menurut saya sedang dipengaruhi oleh dua hal besar:

  1. Globalisasi yang mulai merajalela dalam bentuk merebaknya mall-mall, kafe-kafe, dan budaya dugem yang menghadirkan kebaruan-kebaruan yang belum ada presedennya dalam kehidupan sosial anak muda. (Dan seperti barang-barang lainnya, globalisasi juga menghadirkan variasi narkoba yang lebih beragam dan terjangkau);
  2. Kemuakan terhadap tatanan yang ada, yang tertuang misalnya dalam musik dan budaya alternatif (ingat Trainspotting), filsafat posmo, dan mulai mengerucutnya perlawanan terhadap Orde Baru.

Di satu sisi ada pemberontakan, di sisi lain ada semacam penyaluran kemuakannya. Sering saya berdebat dengan teman-teman junkies saya apakah narkoba bisa disebut penyaluran bagi pemberontakan. Tapi percuma. Memplesetkan Marx, saat itu adalah masa ketika “candu adalah agama masyarakat”, di tiap diskotik, di tiap pesta, triping adalah kewajaran. Kos saya terletak persis di sebelah sebuah diskotik dangdut di kawasan Jakarta Pusat. Tiap malam saat saya nongkrong makan di warung, narkoba dalam segala jenis diedarkan bebas di antara cewek-cewek atau tamu-tamu di situ yang sedang menggerombol di warung-warung makan. Hukum benar-benar tak berjalan, sekalipun polisi sering mampir ke diskotik itu (minta setoran tentunya). Itu yang bikin saya marah pada teman-teman junkies saya: di siang hari kami melawan Soeharto dan Cendana, malamnya kawan-kawan menenggak obat-obatan yang kita tahu duitnya mengalir masuk ke Ari Sigit dan istrinya.

Saya makin marah setelah dua teman saya mati OD. Saya takkan lupa bagaimana barang itu menggerogoti dengan cepat manusia dan kemanusiaan. H —sebut saja demikian, teman ketiga saya yang nantinya mati— adalah yang terjenius di antara kawan-kawan sekampus. Makin larut ia dalam obat, makin tumpul juga kepekaan dan penalarannya. Sampai akhirnya, saat sedang sakaw berat, kami tarik ia beramai-ramai ke kamar kos saya. Kami kurung dan rawat ia, mandikan, ceboki, suapi. Secara teori, kalau dalam 3 hari ia bisa mengatasi sakawnya, ia sembuh. Kalau tidak ya ia mati, tapi paling tidak ia tidak mati tergeletak begitu saja di jalanan.

H sembuh. Tapi tak lama. Kecanduan keduanya lebih parah. Ia sudah tak ingat teman. Walkman saya —sedikit dari harta yg saya miliki sebagai mahasiswa—raib diambil dan dijualnya. Beberapa kawan yang ikut merawatnya memutuskan talak tiga: tidak mau mengenalnya lagi. Persetan ia mau mati atau tidak. Sebagian teman lainnya masih bersabar. Kami pulangkan H ke rumah ibunya di Serang. Kembali di sana ia dikurung dan dirawat, kali ini oleh keluarganya. Rutin kami menerima kabar dari sang ibu. Awalnya, beliau bercerita, saat dikurung dalam keadaan sakaw di kamar, H nekat menenggak parfum-parfum yang ada di kamar itu. Setelah beberapa bulan keadaan H membaik dan bahkan ikut pesantren. Namun entah bagaimana ia terjerat lagi dalam lingkungan yang sama dan akhirnya tak tertolong.

Dan sekarang pun saya menjadi pendukung hukuman mati buat pengedar narkoba, dan seringkali harus adu argumen dengan kawan-kawan baik saya sendiri para aktivis HAM yang menentang hukuman mati. Saya tahu siklus kekejian ini harus diputus, tapi para pengedar itu benar-benar seperti bukan manusia buat saya. Mereka pasarkan narkoba ke anak-anak SD dalam kemasan bentuk permen dan coklat. Ya Tuhan, apa yang ada di pikiran mereka? Indonesia macam apa yang hendak mereka buat dari orang-orang bermata kosong yang menggigil terus menerus? Ada satu adegan dalam filmTrainspotting yang paling mengganggu saya dan kerap hadir bagai mimpi buruk: yakni adegan bayi yang menangis terus menerus karena kelaparan tapi tak ada yang peduli karena si ibu dan kawan-kawannya dalam komunitas junkies itu sedang asyik teler. Saat mereka sadar, kurang lebih satu setengah hari kemudian, si bayi sudah terbujur kaku.

Agusta Bram, seperti saya, juga terobsesi oleh masa kecil saat ia melihat ayahnya yang teler dibunuh oleh pengedar karena tak mampu membayar utang-utangnya. Tapi sayang, cuma itu saja yang kita ketahui dari masa lalu Bram. Kita tak tahu bagaimana ia dibesarkan sampai menjadi polisi, atau apa yang membentuk karakternya sampai jadi begitu tangkas dan cerdas. Kita tak tahu mengapa ia tak dendam pada ibunya, atau terkenang ibunya, atau mencari ibunya (ibunya sudah tak tahan dan pergi meninggalkan begitu saja ayahnya yang junkies tanpa membawa serta Bram kecil). Bruce Wayne kecil juga melihat orang tuanya dibunuh, namun para penulis dan ilustrator Batman mengolah dan mengisi masa-masa itu dengan kecamuk psikologis yang mendalam sampai membuat Batman akhirnya terasa jadi masuk akal bagi kita.

Namun Windry tak menyediakan gambaran itu. Sayang memang.Tapi bisa jadi ini bukan kesalahan Windry, melainkan karena genre yang dipilihnya (novel laga atau thriller) memang lebih mementingkan plot sebagai pembangun struktur cerita dan bukan melalui pendalaman karakter. Karena itulah, Metropolisbagi saya sungguh mengasyikkan buat dibaca karena plot yang cepat dan menegangkan, namun untuk bisa menikmati itu beberapa ganjalan logika yang ada memang harus ditepikan terlebih dulu barang sementara.

Dalam karya fiksi orang bisa menulis dan mengkhayal apapun asalkan meyakinkan. Di situ terjadi negosiasi terus menerus antara kadar fiksi dan fakta, mana yang bisa dikarang dan mana yang harus kukuh berpijak pada kenyataan. Metropolis sangat menarik sebagai karya fiksi dan sebagai indikator umum perkembangan kepenulisan Windry. Windry telah melakukan risetnya dengan cukup cermat untuk novel ini, namun ada beberapa hal krusial yang buat saya sepertinya lalai dicermati:

1) Bram tidak mungkin meminta dan memilih akan ditempatkan di divisi mana dalam kepolisian. Apalagi tanpa menjelaskan alasannya dan atasannya bisa menerima begitu saja. Tradisi Polri adalah tradisi penunjukan berdasarkan berbagai pertimbangan para petinggi Polri (bahkan Kapolda pun ditunjuk langsung oleh Kapolri hendak ditempatkan di mana). Gaya kerja Bram, interaksi dengan atasan dan mitranya, Erik, membuatnya seakan bekerja di LAPD dan bukan Polda Metro Jaya, membuatnya jadi seperti Mulder dan Scully atau Hunter dan Deedee McCall dan bukan perwira polisi Indonesia. Metode penanganan kasus dan sistem kelompok kerja/kemitraan dalam Polri bukan seperti itu.

Andai Windry mengurangi stereotip-stereotip kepolisian a la LAPD dan lebih berpijak pada realitas keseharian Satreskrim atau Narkotika Polda Metro Jaya, saya kira Metropolis bisa memberi sumbangsih penting pada khazanah novel detektif/kepolisian kontemporer dunia. Kita tahu, penulis-penulis macam Qiu Xiaolong (Cina), Paco Ignacio Taibo II (Meksiko), Luis Alfredo Garcia-Roza (Brasil), Henning Mankell (Swedia), Manuel Vazquez Montalban (Spanyol/Katalunya) mengolah genre cerita detektif/kepolisian dengan kekhasan masing-masing negerinya, dalam arti: masalah sosial-politik yang dihadapi polisi di tiap-tiap negara itu berbeda-beda dan itu bisa terbaca jelas di sana. Qiu Xiaolong misalnya, memakai korupnya birokrasi Partai Komunis Cina sebagai latar ceritanya, sementara Garcia-Roza menyinggung masalah-masalah korupsi, kemiskinan, dan anak jalanan khas Dunia Ketiga. Indonesia jelas punya segudang masalah untuk diolah jadi bahan cerita yang bisa menyumbang genre cerita detektif dunia.

2) Dunia gelap kriminalitas rekaan Windry ini adalah dunia yang anehnya justru tampak terang-benderang, dalam arti: beberapa tokoh utamanya tidak pernah mengganti nama atau memakai nama samaran sejak kecil! Ini juga mustahil.

  • Miaa misalnya (dengan dobel a), sejak kecil di Kaliurang dipanggil Miaa, di kepolisian Miaa juga, dan setelah lepas dari itu masih bernama Miaa, bahkan kepada ibu kosnya dan administrasi RSJ ia juga memakai nama Miaa.
  • Johan Al juga. Tokoh satu ini jelas harus berganti-ganti nama. Tidak mungkin sejak kecil ia memakai nama itu, di paspor dan daftar penumpang juga memakai nama Johan, di klinik memakai nama Johan, bahkan di YM sekalipun memakai id johan_al (seperti halnya Aretha dan perusahaan cuci uangnya MOSS memakai id mo55). C’mon Wind, bahkan kamu pun pakai miss_worm dan teen_worm kan?

Terakhir, soal kecil namun berpengaruh pada kesempurnaan buku: banyak salah penggal kata di akhir larik-larik kalimatnya. Dan juga, frustrasi tertulis secara rata di buku ini sebagai frustasi (yuhuuu, editor?)

Membongkar Kebohongan Sang “Pahlawan Kemanusiaan”

Three Cups of Deceit: How Greg Mortenson, Humanitarian Hero, Lost His Way
Jon Krakauer
Byliner, 2011  |  96 hlm

deceitYang telanjur jatuh cinta pada Greg Mortenson dan kisah heroiknya membangun sekolah dalam memoar Three Cups of Tea —yang ceritanya dari awal memang sudah mencurigakan itu, too simplistic and too good to be true—silakan baca buku ini. Bukan cuma gerundelan orang sirik lho. Jon Krakauer penulis Into the Wild ini jelas tidak main-main. Dengan bukti-bukti yang amat meyakinkan, ia mengklaim bahwa Mortenson telah melakukan penipuan publik.

Judul Three Cups of Deceit bukan cuma merujuk pada judul buku Mortenson, namun juga karena penipuan itu dilakukan Mortenson pada 3 tataran:
1) Banyak dari yang ditulisnya itu tidak pernah terjadi, alias fiktif. Dan ini bukan dilakukannya sekadar untuk mempercantik narasi, namun jelas-jelas bohong karena tak pernah terjadi. Mortenson, misalnya, mengklaim sebagai pendaki gunung kawakan, yang sebelum menjajal K2 sudah naik ke Himalaya (Annapurna IV dan Baruntse). Padahal, nama Mortenson tak bisa didapati di American Alpine Journal yang mencatat setiap pendaki dan pendakian di Himalaya. Tapi ini bukan poin utama Krakauer, dia cuma mencantumkan ini di catatan kaki. Yang utama dari reportase investigatif Krakauer adalah: pada 1993 Mortenson tak pernah nyasar ke Korphe; dia tak pernah dirawat di rumah Haji Ali; dan lain-lain bualan yang ia tuliskan. Mortenson baru tahu soal Korphe setahun kemudian. Yang terjadi pada 1993 adalah: setelah batal naik K2, Mortenson dan rombongannya turun gunung naik mobil dan menginap di hotel di Skardu, hotel yang jadi langganan bule-bule pendaki gunung. Dari situ mereka naik mobil lagi ke Khane. Di Khane-lah dia berjanji mau membangun sekolah. Cerita ini diverifikasi Krakauer melalui wawancara dengan rombongan Mortenson dan warga di sana.

Yang terparah bukan soal di atas, tapi soal Naimat Gul. Mortenson tak pernah diculik dan disekap kaum jihadis. Dia justru disambut dan diperlakukan bak tamu agung oleh warga desa. Ada foto-foto di buku ini Mortenson tertawa-tawa bersama mereka, bahkan bergaya-gaya pegang AK47. Cerita karangan Mortenson bikin kisruh di sana karena jadi menjelekkan nama keluarga Mahsud.

Selain itu, gambarannya soal persebaran madrasah Wahabi juga sama sekali fiktif, yang membuat penduduk desa khawatir Three Cups of Tea justru bisa memicu pertikaian sektarian yang selama ini tak pernah terjadi.

Pada 30 Juni 2010, Ghulam Parvi, orang yang dipuji-puji Mortensen di bukunya, mengirim surat pengunduran diri ke dewan direksi Central Asia Institute (CAI), menyatakan bahwa semua cerita-cerita karangan Mortensen memang membuat bukunya jadi tampak menarik dan mudah pula buat menarik dana di AS, tapi cerita-cerita bohong itu membuat pekerja lapangan CAI di Pakistan dimusuhi masyarakat.

2) Dana yang digalang bukan dipakai untuk membangun sekolah. Mortenson tidak berbohong soal upayanya menggalang dana untuk membangun sekolah, tapi ia bohong soal seberapa banyak dari dana yang digalang itu dipakai untuk membangun sekolah. Ini yang membuat hubungannya dengan dewan direksi Central Asia Institute (CAI) selalu tegang, beberapa sampai mengundurkan diri karena tidak mau tersangkut implikasi hukum terkait kerja CAI. Mantan bendaharawan CAI bilang CAI seperti mesin ATM buat Mortenson. Perlu dicatat Krakauer termasuk salah satu penyumbang besar CAI, karena itulah ia sangat marah pada Mortenson.

Situs CAI menyebutkan bahwa 15% dari dana yang terkumpul akan dipakai untuk overhead dan 85% untuk program (pembangunan sekolah). Tapi perhitungan riil tidak menunjukkan demikian. Dana publik yang terkumpul lebih banyak dipakai oleh Mortenson untuk mempromosikan bukunya dan bikin tur keliling ke mana-mana (dan selalu dengan jet sewaan). Sementara duit dari royalti buku tidak masuk ke CAI, hanya masuk ke Mortenson dan David Relin, penulis bayangannya. Ini jelas-jelas penilepan uang masyarakat untuk kepentingan pribadi. Iklan-iklan Three Cups of Tea di New York Times, New Yorker dll majalah ternama lainnya juga dibiayai oleh dana CAI. Yang paling edan, ketika Mortensen dengar bukunya turun dari peringkat 1 bestseller New York Times (kalah oleh Eat, Pray, Love) dia borong sendiri buku-bukunya memakai dana CAI buat mendongkrak lagi penjualan.

Dan yang terpenting: tidak seperti gambarannya di buku sebagai pejuang kemanusiaan yang tak kenal pamrih, selama ini Mortenson digaji oleh CAI + tunjangan perjalanan dlsb., sementara hasil programnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini yang membuat direksi CAI lama-lama curiga dan berang dengan Mortenson.

3) Sekolah yang dibangun Mortenson kualitasnya kelas kambing. Mortenson menyebut bahwa CAI bukan cuma membangun sekolah, tapi mengadakan pelatihan guru dsb. Tapi omong kosong juga. Sekolah-sekolah CAI —yang memang dibangun—semuanya kosong tanpa murid tanpa guru. Tapi Mortenson terus menerus menggembar-gemborkan ini sebagai prestasi. Setidaknya sudah ada tiga konsultan yang disewa Mortenson dan ketiga-tiganya mundur karena antara bualan dan kenyataan terlalu jauh panggang dari api.

Singkat kata, tulis Krakauer, “Mortenson’s sacred pledge to Haji Ali to build a school in Korphe—to repay the villagers for their charity, and to honor his beloved sister—turned out to be a whopper, calculated to sell books and jack up donations. So too did Mortenson’s promise to construct a school in Bozai.”

Detailnya silakan Anda baca sendiri. Mau marah saya rasanya, sama seperti para pembaca lainnya di AS yang kini sedang menggugat Mortenson ke pengadilan. Tapi memang rasanya susah memperkarakan Mortenson atas dakwaan telah mengarang-ngarang otobiografinya. Jauh lebih mungkin memperkarakannya atas penilepan uang masyarakat. Dan Dinas Pajak AS memang sudah mengindikasikan ke arah sana, bahwa Mortensen dan CAI melakukan pelanggaran atas “Section 4859 of the Internal Revenue Service Code, which prohibits board members and executive officers of a public charity from receiving an economic benefit from the charity.”

“Kisah Nyata” di Balik The Fantastic Four

Unstable Molecules: The True Story of Comics’ Greatest Foursome
James Sturm (Writer/Layout/Designer), Guy Davis (Penciller/Inker), Michel Vrána (Colors/Designer), R. Sikoryak (Illustrator)
Marvel Comics, 2003  |  128 hlm

ffWow! Saya nyaris tertipu oleh buku ini. Penulis mengklaim bahwa karakter-karakter superhero Fantastic Four diilhami oleh orang-orang sungguhan, dan karya ini bisa dibilang “biografi grafis” atas kisah mereka. Pendahuluan yang sangat meyakinkan, ditambah data-data biografi, wawancara, pustaka-pustaka “palsu” membuat klaimnya terasa sungguh nyata, apalagi penulisnya yang bernama belakang Sturm mengklaim adalah saudara jauh Susan Sturm, tokoh yang “mengilhami” Sue Storm dalam kuartet The Fantastic Four. Saya sampai harus googling untuk mencari salah satu rujukan yang disebutnya, Dr. Harvey L. Beyers, The Fantastic Four: The World They Lived In and the World They Created (University of Vancouver Press, 1978) dan mendapati bahwa semuanya ternyata cuma rekaan. Dan sepertinya beberapa pembaca dan pengulas benar-benar tertipu dan mengira Fantastic Four benar seperti diklaim komik ini. Tak salah bila Eisner Award berhasil digondol oleh karya kurang ajar ini.

Pada dasarnya ini sebuah komik tentang pengaruh komik, tentang kemungkinan-kemungkinan komik, tentang awal Marvel Comics, dan yang terpenting: tentang perempuan. Kendati mengulas semua karakter, cerita ini bisa dibilang berpusat pada tokoh Sue Storm a.k.a The Invisible Girl, bagaimana dalam kehidupan riil sehari-harinya Sue Storm memang makhluk yang invisible, kalah oleh dominasi Reed Richards. Masih geli dan mengumpat-umpat tiap kali membuka-buka lagi komik ini.

Kemiskinan Bukan Soal Manajemen Diri Pribadi

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Ligwina Hananto
Literati, 2010  |  240 hlm

indkuatSaya bisa menangkap niat dan semangat buku ini untuk menyebarkan kebaikan, tapi maaf, dalam konteks penanganan kemiskinan yang lebih luas, cara berpikir penulisnya salah. Ligwina bukan ekonom, tapi financial planner. Ini yang harus digarisbawahi, dan ini pula yang membuat buku ini apolitis dan harus dibaca dengan hati-hati. Kemiskinan masyarakat Indonesia jadi tampil sebagai permasalahan orang per orang yang harus ditangani dengan perencanaan keuangan yang lebih baik, dan bukan tanggung jawab negara atas warganya yang harus ditangani lewat kebijakan ekonomi-politik!

Saya soroti satu hal khusus saja: pendapat Ligwina soal menabung. Bertentangan dengan konvensi umum, Ligwina menyatakan menabung itu tidak baik bagi orang Indonesia. Bila mau kaya dan menjamin masa depan, orang Indonesia lebih baik mengurangi menabung dan mulai berinvestasi. Karena dengan tingkat inflasi sekarang, menabung jadi mubazir karena nilai riil uang kita justru akan berkurang.

Di sini bisa kita lihat apolitisnya Ligwina dan “bahayanya” jika pendapat ini lantas dijadikan dasar kebijakan (misalnya lalu digerakkan kampanye investasi dan bukan menabung). Penanganan inflasi justru adalah salah satu tugas pemerintah (atau bank sentral), dan kita bisa menilai rapor ekonomi pemerintah salah satunya dari sini. Tekanan perlu diberikan agar inflasi dijaga.

Saat menyampaikan usulnya soal investasi, Ligwina menafikan sama sekali:

  1. Tingkat pendidikan/pengetahuan masyarakat
  2. Gelembung ekonomi yang akan tercipta bila dana masyarakat dicurahkan untuk investasi finansial
  3. Kesenjangan informasi dan moral hazard, dua bidang yang menjadi kajian utama Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi.

Padahal, krisis AS justru tercipta akibat minimnya tabungan masyarakat dan gila-gilaannya masyarakat berinvestasi (dengan ketiga cacat yang saya sebut di atas). Bila negara seperti AS saja masih belum bisa mengatasi problem pengetahuan/kesenjangan informasi serta moral hazard, apalagi Indonesia.

Selain itu, dana tabungan masyarakat dijamin pemerintah lewat bank-bank LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Apakah investasi swasta yang dianjurkan Ligwina punya jaminan serupa? Dengan asimetri informasi yang ada di tengah masyarakat, menganjurkan masyarakat berinvestasi sama dengan menganjurkan menjudikan dananya yang cukup sulit didapat itu di tangan bandar yang serakus singa. Ini yang terjadi di AS: gabungan antara asimetri informasi, moral hazard para financial planner sendiri, serta absurdnya skema-skema seperti derivatif dlsb membuahkan kebangkrutan rumah tangga AS (bisa dibaca di banyak buku yang mengupas krisis AS).

Ketika semuanya amblas seperti di AS, akan digantikah dana ini? Tidak. Semua menjadi tanggung jawab sendiri-sendiri (“Salah sendiri ceroboh dan kurang awas dalam memilih investasi”). Penanggulangan kemiskinan yang menjadi tugas pemerintah menjadi seperti berbalik menjadi tanggung jawab orang perorangan.

Saya percaya menabung tetap lebih aman buat masyarakat. Bila Ligwina mengangkat permasalahan inflasi, ya inflasi itulah yang harus diatasi, bukan modus menabung itu sendiri lantas diubah jadi investasi.

“Negara bukan perusahaan,” kata ekonom peraih Nobel lainnya, Paul Krugman. Bahaya bila negara diperlakukan seperti perusahaan, dan bahaya pula bila skema-skema swasta macam ini dijadikan dasar kebijakan negara. Maaf, Indonesia tidak akan lebih kuat dengan 100 cara ini. Kelas menengah yang membaca buku ini mungkin akan jadi lebih kaya dengan mempraktikkan usulan Ligwina, tapi Indonesia secara keseluruhan, tidak.

Untuk Lelaki yang Kurang Cerdas di Ranjang

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Muhlis Hadrawi
Ininnawa, 2008  |  196 hlm

assikalaibinengPenerbit Ininnawa selama ini saya kagumi sebagai penerbit Makassar yang sangat serius menggarap kajian tentang Bugis-Makassar. Dan melihat buku terbitannya yang ini, dengan sampulnya yang dominan warna hitam, cap Khusus Dewasa, dan subjudul yang memuat kata “persetubuhan” tentu saja membuat tangan ini jadi gatal buat mengambilnya. 😀

Buku-buka sepintas, saya tersenyum takjub melihat halaman persembahan buku ini:
Elong Paréré (satir)
untuk lelaki yang tidak cerdas di ranjang

mau tellu pabiséna
na bongngo pallopina
teyawa’ nalureng

walau tiga dayungnya
bila nahkodanya dungu
aku tak sudi menumpang

Wah, bahasanya asyik nih. Lebih dari itu, ini adalah transliterasi serta tafsiran atas naskah-naskah kuno yang belum lama ini ditemukan, yang semakin menambah kelengkapan khazanah pengetahuan dan koleksi saya tentang tradisi literer asli Nusantara, setelah sebelumnya saya membeli Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (2010) hasil terjemahan Suryadi.

Dalam Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Sulawesi Selatan, ada 4.049 naskah Assikalaibineng, dan 44 ditempatkan dalam entri lontara pendidikan seks. Dari 44 itu, 28 memakai bahasa dan aksara Bugis, dan 16 memakai bahasa Makassar dengan macam-macam aksara (Sulapa’ Eppa, Serang, dan Jangang-Jangang).

Buat saya yang bukan orang Bugis-Makassar dan tidak banyak tahu soal khazanah budaya di sana, naskah-naskah Assikalaibineng ini memberi pencerahan tentang akulturasi Islam dengan budaya setempat yang berlangsung dengan sangat apik yang semestinya bisa dipakai untuk melawan prasangka-prasangka/kesalahpahaman tentang Islam yang timbul akibat khazanah budaya lain.

Misalnya soal khitan perempuan. Banyak pengamat (Barat maupun bukan) menuding Islam merendahkan hak-hak perempuan dengan mengajurkan khitan perempuan yang memotong kelentit, bagian penting organ kewanitaan untuk mencapai orgasme. Tudingan ini timbul akibat praktik-praktik khitan perempuan di negara-negara Islam Afrika, sebagaimana testimoni Waris Dirie dalam bukunya, Desert Flower: The Extraordinary Journey Of A Desert Nomad (1999). Tapi praktik ini sebenarnya melembaga bukan akibat Islam, melainkan oleh tradisi adat negara-negara itu.

Assikalaibineng bisa merobohkan prasangka tersebut dengan menunjukkan bahwa dalam tradisi yang berbeda (integrasi Islam ke dalam sistem pangadereng Bugis), kelentit serta kedudukan perempuan secara seksual justru sangat dihargai. Sama sekali tidak ada gaya wham, bam, thank you ma’am di sini. Kepuasan perempuan mutlak harus dicapai karena nikmat itu adalah bagian dari “ke-Mahakaya-an Allah Taala”.

Misalnya, hubungan seks harus sama-sama sadar, kita dilarang membangunkan pasangan yang mengantuk hanya untuk minta “begituan”:
“Jika menjelang tidur kemudian
kamu melakukannya, maka istri menganggap
dirinya merasa disayangi serta
dimuliakan / Akan tetapi, jika dia sementara tidur
kemudian mengajaknya, maka dia akan merasa
diperlakukan seperti budak”
 (hlm. 94)

Begitu juga setelah puas jangan langsung ngorok, afterplay yang manis itu penting sebagaimana tampak dalam beberapa teks yang tersebar:
“Jika engkau sudah selesai melakukannya
maka lakukanlah hal yang menyenangkan perasaannya
sebagai tanda kasih sayang”
 (hlm. 95)

”Maka bermain-mainlah ketika kamu selesai bersetubuh dengan istrimu” (hlm. 106)

”Apabila kamu selesai bersetubuh, luruskan
kaki dan sejajarkan lutut istri dengan baik / Tekan
panggulnya dan usap pula keringatnya / Pegang pula
persendiannya / Usap-usaplah seluruh
tubuhnya sampai dia tertidur baru kamu berhenti”
 (hlm. 120)

Posisi-posisi penting di vagina (farji), terutama kelentit, mendapat perhatian khusus pula, bahkan naskah-naskah lontara ini dihiasi ilustrasi-ilustrasi yang sangat ornamentik. Bagian-bagian itu dikiaskan sebagai “empat pintu”:
“Sangat jarang yang mengetahui keempat pintu ini /
Jika kita mau menyentuhnya tekanlah
dengan telunjuk, kamu akan menemukan benda menyerupai biji /
Jika kamu menyentuh itu akan membuat gemetar
tubuh perempuan / Menyentuh pintu yang ada kulitnya
akan memberikan rasa nikmat tiada terkira / Bila yang
menyerupai beras kamu sentuh, itu adalah tangkai
semua kenikmatan / Kalau yang serupa ujung jarum kamu sentuh
itu akan membuatnya tak sadarkan diri karena rasa nikmat
menyelimuti sekujur tubuhnya / Itu pulalah
yang akan membuatnya tertidur
dalam persetubuhan sebab kenimatan dan berkah
dari Allah / Sebab berkat dari Nabi kita
Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam /
Banyak orang berkeinginan untuk mengetahui ini,
tetapi perihal ini jarang orang lakukan
terhadap perempuan yang dicintainya
 (hlm. 120)

Jadi buat pasangan tercinta, tak ada salahnya naskah ini dipelajari dan yang terpenting: dipraktikkan 😀 Memang seperti kata seorang teman saya, buku ini “banyak mistiknya”. Ada mantra-mantra yang harus diucapkan saat tengah-tengah berhubungan, yang saya tidak yakin apakah otak masih sanggup menghafalnya in the heat of passion, ada pula waktu-waktu berhubungan yang cocok untuk mendapat anak sesuai warna kulit keinginan. Waktu isya untuk mendapat anak berkulit putih, tengah malam agar anaknya hitam hehehe… (hlm. 93) Tentu saja yang bagian-bagian macam ini boleh percaya boleh tidak, tapi yang jelas banyak jurus-jurus untuk mencapai “klimaks” di buku ini yang bisa berguna. 🙂

Mereka yang Memilih Hidup Tanpa Negara

The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia
James C. Scott
Yale University Press, 2009  |  464 hlm

notgoverned[Ulasan ini juga dimuat di Ikhtisar Studi Agraria dalam format yang sudah diedit oleh redaksi ISA]

Saya tidak tahu apakah James C. Scott masih menarik bagi ranah pemikiran sosial di Indonesia. Buku-bukunya yang tergolong mutakhir, seperti Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed (1998) tidak diterjemahkan, sementara terjemahan karya-karya dahsyatnya yang berpuluh tahun lalu menggemparkan dan sekarang sudah susah sekali dicari (Moral Ekonomi Petani: Pergerakan dan Subsistensi di Asia Tenggara dan Senjatanya Orang-Orang yang Kalah) tidak diterbitkan ulang. Bila benar demikian, sungguh sayang adanya, karena pemikiran Scott masih sangat relevan dengan persoalan sosial kita, terutama menyangkut pedesaan, agraria/pertanahan, dan petani. Dan buku barunya ini sekali lagi menunjukkan makin gemilangnya perkembangan intelektual James C. Scott.

Dari karya awal hingga terakhirnya, kita bisa menarik benang merah atas konsistensi dan perkembangan pemikiran Scott. Dalam Moral Ekonomi Petani (LP3ES, 1981) Scott mengemukakan untuk pertama kali teorinya bagaimana “etika subsistensi” (etika untuk bertahan hidup dalam kondisi minimal) melandasi segala perilaku kaum tani dalam hubungan sosial mereka di pedesaan, termasuk sikap resisten mereka terhadap inovasi dlsb. Inilah yang disebut sebagai “moral ekonomi”, yang membimbing kaum tani dan warga desa dalam mengelola sumber-sumber dayanya guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Hubungan pasar kapitalistik yang dihadirkan oleh adanya negara, dunia modern, dan kolonialisme di Asia Tenggara mengacaukan “moral ekonomi” itu dan menyebabkan kaum tani berontak.

Mahakarya kedua Scott, Senjatanya Orang-Orang yang Kalah, membawa topik di atas selangkah lebih jauh. Scott mendokumentasikan penelitian bertahun-tahunnya tentang perlawanan keseharian kaum tani yang tak tercatat sejarah. Demikian pula buku Perlawanan Kaum Tani (YOI, 1993) yang bukanlah terjemahan langsung dari buku Scott, melainkan terjemahan kumpulan artikel Scott yang disunting oleh Prof. Sajogyo. Buat saya, Senjatanya Orang-Orang yang Kalah inilah bukunya yang paling penting karena mampu menjelaskan posisi sebenarnya kaum tani yang selalu membikin pusing kaum revolusioner.

Petani adalah kelas tertindas, tapi perjumpaan langsung dengan mereka ternyata hanya membuat stres kaum revolusioner (terutama komunis-komunis awal abad ke-20), sampai akhirnya Marx (dan terutama Lenin) menyimpulkan bahwa petani tak punya kesadaran sosialis dan tak bisa dijadikan sekutu dalam revolusi. Perlawanan kaum tani, yang memang terjadi umpamanya dalam bentuk pembakaran hasil panen, dipandang bukan sebagai gerakan terorganisir, melainkan hanya pelampiasan kemarahan secara destruktif dan membabi buta akibat eksploitasi yang kelewatan, misalnya pajak yang teramat tinggi. Garda depan perjuangan sosialis dengan demikian diletakkan di pundak kaum buruh, karena kaum buruhlah yang telah bersentuhan dengan dunia industri dan mengalami penindasan industrial/kapitalistik sehingga paling memahami apa yang harus diganyang dari kapitalisme. Kaum tani –dengan sikap pasrah dan nrimo-nya yang masih tergantung pada alam—dianggap tidak revolusioner.

Penelitian Scott atas petani Asia Tenggara mematahkan mitos ini. Ia membuktikan bahwa apa yang disebut sebagai “kepasrahan kaum tani” bukanlah benar-benar kepasrahan, melainkan aksi-aksi perlawanan anonim dalam diam yang berlangsung saban harinya, yang bahkan telah menjadi suatu subkultur. Dari Scottlah kita mendapat analisa jenial tentang “bentuk-bentuk perjuangan kelas gaya Brechtian” (Brechtian modes of resistance)*: “senjata-senjata biasa yang dimiliki kelompok-kelompok yang relatif tanpa kekuatan: menghambat, berpura-pura, pura-pura menurut, mencopet, pura-pura tidak tahu, memfitnah, pembakaran, sabotase, dan sebagainya.” (dikutip dari Perlawanan Kaum Tani, hlm. 271).

Pesan Scott jelas: hanya karena perlawanan kaum tani ini tak kasat mata, tak tercatat dalam sejarah, bukan berarti mereka tidak punya kesadaran kritis dan tidak melawan. Saya kutip dari hlm. 314-315:

“Banyak dari bentuk perlawanan yang telah kita pelajari itu mungkin aksi-aksi ‘perorangan’, tetapi itu tidak berarti bahwa aksi itu tidak terkoordinasi. Di sini, sebuah konsep koordinasi yang berasal dari rakitan formal dan birokratis tidak banyak membantu dalam memahami aksi-aksi yang dilakukan dalam komunitas-komunitas dengan jaringan-jaringan informasi yang padat dan subkultur-subkultur perlawanan yang kaya, dan historis dalam, terhadap tuntutan-tuntutan dari luar […] subkultur pedesaan membantu membenarkan kepura-puraan, perburuan tanpa izin, pencurian, penghindaran pajak, penghindaran wajib militer dan sebagainya […] Tidak ada organisasi formal yang dibuat karena tidak ada satu pun yang diperlukan; namun, suatu bentuk koordinasi telah dicapai yang mengisyaratkan kepada kita bahwa apa yang sedang terjadi itu bukan sekedar aksi perorangan.”

Apa misalnya bentuk perlawanan macam ini? Pencurian kecil-kecilan misalnya, seperti yang sering terjadi di seputar kawasan PTPN adalah bentuk resistensi itu. Atau saya pernah dengar cerita tentang supir truk lintas Sumatera yang karena kesal dipungli oleh polisi memberikan uangnya dengan cara dilipat kecil dan diludahi terlebih dulu.

Dan buku Scott The Art of Not Being Governed ini (terbit Agustus 2009) membawa tesisnya tersebut lebih jauh lagi. Lewat penelusuran sejarah ia mengatakan bahwa ada wilayah-wilayah desa tertentu yang selalu melakukan perlawanan sistematis agar tak tercakup dalam kota atau negara-bangsa. Dan desa-desa tersebut masih ada hingga sekarang di Zomia. Zomia merujuk pada dataran tinggi yang mencakup sebagian wilayah Vietnam, Thailand, Kamboja, Laos, Birma, sampai empat provinsi Cina. Istilah Zomia sendiri dicetuskan pada 2002 oleh sejarawan Willem van Schendel dari Universitas Amsterdam.

Memang, tema tarik ulur antara pusat dan daerah selalu terjadi dan bukan hal baru. Tapi yang dimaksud Scott di sini bukanlah semata-mata ketidakpuasan daerah atas sentralisme politik atau sumber daya sebagaimana misalnya yang terjadi di era Orde Baru. Lebih dari itu, Scott menguraikan bahwa seluruh aspek kehidupan sosial di desa-desa Zomia (misalnya sistem perladangan berpindah, agama mileniarisnya, bahkan tradisi lisannya) sengaja dirancang agar mereka tak bisa dicaplok ke dalam negara-bangsa dan untuk mencegah agar dalam masyarakat mereka tidak tumbuh bibit-bibit negara-bangsa. Selama dua alaf, penduduk dataran tinggi ini adalah “pelarian sengaja” dari pusat-pusat ekonomi-politik di dataran rendah.

Bab 1 memaparkan tegangan antara wilayah pegunungan dengan lembah. Peradaban atau negara selalu dimulai di wilayah lembah, dan selalu terjadi proyek kolonisasi (yang sebagian di antaranya gagal) ke wilayah pegunungan. Scott mendekonstruksi bagaimana kerajaan-kerajaan Tiongkok menjuluki orang-orang gunung ini sebagai “leluhur kita sebelum mengenal peradaban dan agama Buddha”, yang sebenarnya justru sebaliknya. Orang-orang ini gunung bukannya belum mengenal peradaban melainkan justru sengaja kabur menghindar darinya. Bentuk masyarakatnya yang terpencar-pencar dan tak teratur (tak bisa diatur) adalah suatu taktik tersendiri buat mereka yang sering membikin pusing para kolonialis. Scott mengutip catatan Raffles di hlm. 39 untuk menunjukkan bagaimana para kolonialis harus berpikir keras cara menundukkan orang-orang gunung dalam suatu pemerintahan terpusat: “Di sini [Sumatra] saya menyokong despotisme. Tangan besi kekuasaan perlu untuk menyatukan orang-orang, memusatkan mereka ke dalam masyarakat-masyarakat…”

Harus ditambahkan di sini bahwa analisa lembah vs. pegunungan juga berlaku bagi daratan vs. pesisir. Kita tahu semakin dekat laut, pengaruh pusat kekuasaan di darat semakin kendur, dan masyarakat jadi lebih bebas dan egaliter (atau “tak beradab” dalam pandangan penguasa). Orang Tuban misalnya, jelas lebih egaliter daripada orang Mataram/Yogya, sebagaimana tergambar dalam bahasa Jawa ngoko mereka yang tanpa hirarki, berbeda dengan bahasa krama Mataraman. Cara hidup orang laut mempunyai keserupaan mendasar dengan penduduk dataran tinggi Zomia yang melarikan dari pusat-pusat kekuasaan. Ben Anderson secara khusus menyarankan Scott agar memperluas kajiannya ke wilayah pesisir dan laut, terutama kehidupan bajak laut. Namun Scott dengan rendah hati mengakui bahwa kajian untuk itu telah dirintis oleh cendekiawan yang lebih kompeten, Eric Tagliacozzo.

Bab 2 dan 3 mengulas bagaimana ruang-ruang pemerintahan itu akhirnya terbentuk: melalui pelembagaan sistem persawahan. Lokasi sawah-sawah padilah yang akhirnya memunculkan pusat-pusat pemerintahan kota. Sawah membuat hasil panen stabil dan mudah dihitung. Dari sini timbul kebutuhan untuk memulai penguasaan tenaga kerja manusia dan sistem produksi. Dinasti Tang misalnya, melarang perladangan berpindah sekalipun sesungguhnya sistem perladangan berpindah memberi lebih banyak hasil bagi petaninya. Masalahnya, kerajaan tidak bisa mengakses hasil itu. Masyarakat pun dipaksa bercocok tanam, dan dengan demikian masuk ke dalam state space.

Bab 4 mengulas bagaimana kekuasaan dikonstruksi secara kultural, misalnya lewat pembedaan antara siapa yang disebut “beradab” dan siapa yang “barbar”.

Bab 5 sampai 6½ (ya, saya tidak mengada-ada, memang ada bab 6½ di buku ini) mengulas proses ini dari sudut pandang sebaliknya, sudut pandang orang-orang gunung yang melawan itu. Sebagian cara perlawanan mereka tempuh lewat escape agriculture, yakni pemilihan jenis tanaman pangan yang memungkinkan mereka terus lolos dari cengkeraman negara. Contohnya, petani-petani Birma melawan kesemena-menaan tentara dengan menanam ketela rambat yang mustahil dirampas. Pemerintah militer Birma pun pada 1980an akhirnya mengeluarkan dekrit pelarangan ketela rambat. Hal ini mirip yang diulas Robert Hefner dalam Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, bagaimana penanaman jagung membantu petani-petani Hindu pindah ke tempat yang lebih tinggi lagi di Tengger untuk bertahan diri setelah Majapahit jatuh ke pengaruh Islam.

Secara khusus Bab 6½ mengulas bagaimana kelisanan juga dipakai sebagai praktik tersendiri untuk menghindari caplokan negara. Scott mengajukan pertanyaan menarik bagaimana bila orang-orang ini bukan pra-literer, melainkan pasca-literer? Mereka bukan tuna aksara, melainkan kehidupan yang mereka pilih mengharuskan mereka untuk meninggalkan aksara. Contoh hipotetis menarik yang diajukannya adalah bahwa upaya kolonial yang paling pertama dan utama dari suatu pemerintahan terpusat adalah “pemberian nama”: menamai wilayah yang sebelumnya tak bernama menjadi sebuah desa, mungkin pula membagi-baginya dalam satuan-satuan tertentu. Dengan nama itulah kekuasaan dipatenkan. Dan sebaliknya, bila timbul perlawanan tani, dalam kebanyakan kasus kaum tani melakukan pembakaran terhadap arsip-arsip dan catatan-catatan desa. Aksi dan reaksi ini bagi Scott memiliki makna yang lebih dari sekadar simbolik. Ia mengutip renungan antropolog strukturalis Claude Levi-Strauss: “Tulisan sepertinya niscaya bagi negara terpusat yang terstratifikasi untuk mereproduksi dirinya sendiri. Tulisan itu aneh … Fenomena yang tak pelak lagi selalu menyertai kemunculannya adalah terbentuknya kota-kota dan imperium: integrasi ke dalam sistem politik, artinya, pembentukan hirarki dan sistem kasta.”

Scott telah mewanti-wanti sejak bagian Pengantar bahwa analisa historisnya ini “kurang berlaku untuk periode sesudah Perang Dunia II.” (hlm. xii). Karena bisa dibilang cengkeraman negara-bangsa sangat kuat sesudah periode itu dengan munculnya nasionalisme negara-negara Dunia Ketiga. Kurang berlaku, namun bukan berarti tidak berguna. Justru analisa sejarah Scott bisa memberi masukan pada kondisi Indonesia kontemporer yang masih tidak punya bayangan apa yang harus dilakukan pada masyarakat adatnya. Di satu sisi kita meninggi-ninggikan adat sebagai dasar kebudayaan kita. Di sisi lain, bila masyarakat adat menerapkan cara hidupnya yang asali (misalnya perladangan berpindah), negara mencapnya sebagai kriminal dan perambah hutan. Kita tidak punya rencana jelas apakah kita hendak menjadi “nasional” seutuhnya atau mengakomodir adat. Dan sepertinya apa caranya?

Ketidakjelasan ini berdampak pada banyak hal, misalnya legalitas tanah. Di Bali, sekalipun secara de facto diakui banyak tanah komunal yang dimiliki warga secara adat, namun menurut penelusuran teman saya yang sedang melakukan riset doktoralnya di sana, ternyata secara de jure tanah-tanah itu tak punya ketetapan hukum resmi sebagai tanah komunal. Secara hukum tak ada perlindungan apapun yang dipunyai warga. Sementara negara sendiri berkilah memberikan sertifikat resmi atas tanah itu sama artinya dengan mendorong pluralisme hukum. Masalah-masalah inilah yang membuat persoalan agraria di Indonesia tidak bisa didekati dari sudut pandang hukum saja, namun harus secara sosiologis. Dan analisa-analisa Scott bisa memberi masukan berguna untuk itu.

James C. Scott bukan cuma cendekiawan brilian, namun juga penulis ulung. Seperti buku-bukunya yang lain, buku ini ditulis dengan sangat jernih (sampai-sampai memperoleh penghargaan PROSE Award in Goverment & Politics). Scott sendiri sadar akan kelihaiannya ini. Di hlm. xi ia bilang “Saya sering dituding keliru, tapi jarang dibilang tidak jelas atau tidak mudah dipahami. Buku ini juga begitu.” Orang boleh menilainya salah, tapi jarang ada orang yang menilainya tidak jelas.

Keunikan Scott lainnya: selain meriset dan mengajar, sehari-harinya ia juga memelihara domba! Mengapa domba? Dalam sebuah wawancara ia utarakan filosofikasinya untuk kegiatannya ini: “Domba sering dipakai sebagai metafor untuk kebloonan dan kepatuhan. Tapi orang yang pernah melihat domba liar beraksi akan tahu bahwa domba itu sebenarnya individualistik. Kita telah beternak domba selama 8.000 tahun dan memilih yang patuh. Kita yang menjadikan mereka begitu!”

Dengan kata lain, masyarakat yang di-engineering oleh skema-skema pembangunan hanya akan menghasilkan manusia-manusia pasif yang tak sejalan dengan tujuan pembangunan itu sendiri. Masyarakat yang berhasil hanyalah masyarakat yang bebas untuk menentukan cara meraih keberhasilannya sendiri, bukan yang direkayasa dari atas.

Ya, barangsiapa masih menganggap domba itu makhluk bloon, tentu ia belum pernah menonton Shaun the Sheep.

————–

* Brechtian di sini tentu saja mengacu pada dramawan kiri Jerman, Bertolt Brecht. Dalam Kumpulan Cerita tentang Tuan Keuner, ada satu cerita mini Brecht yang sangat terkenal: Tuan Keuner diperlakukan sewenang-wenang bak jongos di rumahnya sendiri oleh seorang tentara fasis. Tuan Keuner tidak melawan. Ia layani apa saja permintaan si tentara. Karena terbiasa dilayani sebagai majikan selama bertahun-tahun, si tentara akhirnya menjadi pemalas lalu mati. Dan saat itulah Tuan Keuner yang dianiaya berteriak “merdeka!” Semacam inilah yang dimaksud sebagai Brechtian modes of resistance.