Riwayat Blog Ini

Blog ini lahir dari kekecewaan. Pada 29 Maret 2013, Amazon membeli Goodreads, sebuah situs jejaring sosial berbasis kegemaran anggotanya pada buku dan membaca. Saya bergabung dengan Goodreads sejak pertengahan 2007 (beberapa bulan sesudah mereka berdiri), dan langsung jatuh cinta pada situs itu. Bagi saya dan banyak anggota lainnya, Goodreads bukan sekadar situs. Goodreads telah melahirkan banyak inisiatif literasi yang akan saya uraikan di bawah—dan semua itu goyah seketika pada hari pembelian itu. “Readers everywhere shocked,” kata seorang penulis fiksi fantasi asal AS di akun twitternya mengomentari akuisisi ini.

Salahkah Goodreads (khususnya Otis Chandler, pendirinya) menjual diri pada Amazon? Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi di sini. Pertama, Goodreads selama ini memosisikan diri sebagai community site yang independen, berkebalikan dengan Amazon yang commercial site. Independensi dan rasa sebagai komunitas inilah yang melandasi “hubungan-hubungan sosial” yang terjalin di Goodreads selama ini dan membuat Goodreads besar (mencapai 16 juta anggota aktif dalam waktu sekitar 6 tahun).

Kedua, independensi dan rasa sebagai komunitas itu jugalah yang membuat begitu banyak orang mau meluangkan waktunya bekerja secara cuma-cuma memperbaiki database (katalog) buku Goodreads—profesi yang dikenal sebagai “Goodreads librarian”. Saya satu di antaranya. Kami menambahkan buku yang belum ada, lengkap dengan data-data soal jumlah halaman, sinopsis backcover, keterangan edisi, ISBN, gambar sampul, bahkan tanggal penerbitan pasti suatu buku. Kami juga mengoreksi kesalahan data, atau menggabungkan edisi yang berbeda-beda bahasa dari suatu judul yang sama, sehingga dengan mudah kita bisa melacak judul edisi Arab atau Bengali novel Charles Dickens, misalnya, atau melihat seperti apa sampul edisi Jerman buku Pramoedya Ananta Toer. Saya bisa mengklaim Goodreads-lah katalog buku online terlengkap di dunia, melebihi Library of Congress.

Di sinilah poinnya: hubungan sosial yang begitu erat dari 16 juta anggota di seluruh dunia dalam bentuk komunitas-komunitas online dan offline, serta database (plus metadata) buku terlengkap sedunia yang dibangun dari kerja keras secara cuma-cuma inilah justru yang lantas dijual, diuangkan, kepada Amazon, “for an undisclosed sum”, kata pengumuman di Goodreads (namun Bloomberg Businessweek memperkirakan pembelian itu senilai AS$1 miliar, meski Kara Swisher dari AllThingsD memasang angka lebih rendah AS$150 juta). Tak heran banyak librarian Goodreads merasa ditipu mentah-mentah.

Pasalnya, selama ini para “petinggi” Goodreads sendirilah yang menonjolkan independensi serta kebersamaan sebagai komunitas itu sebagai poin pembeda Goodreads dari para pesaingnya, terutama Amazon, yang praktik-praktik bisnisnya telah terkenal buruk dan berdampak destruktif bagi dunia perbukuan. Misalnya, saat Shelfari dibeli Amazon pada September 2008 dan hal ini juga hangat dibicarakan di kalangan Goodreads, Otis Chandler pun sempat berkomentar demikian:

In the meantime Goodreads is now the only book related social network to not have sold out or taken money in the last 3 months. Shelfari sold to Amazon, Amazon bought Abebooks and with it 40% of LibraryThing, the Facebook app weRead sold to Lulu, and the Facebook app ReadingSocial got $5 million in funding.

But we like the independent advantage – keeps us flexible and able to innovate fast!

Bahkan “perseteruan” Goodreads dengan Amazon memuncak pada awal 2012, ketika Goodreads memutus hubungan dengan Amazon karena “syarat-syaratnya yang makin menekan” (“the terms that come with it have gotten more and more restrictive, and we were finally forced to come to the conclusion that moving to other datasources will be better for Goodreads and our members.”) Pada 20 Januari 2012 Otis meminta para anggota ikut membantu menyelamatkan (rescue) database Goodreads.

Setahun setelah kerja keras penyelamatan yang diminta sendiri oleh CEO Goodreads itu, Goodreads menjual diri beserta hasil penyelamatan tersebut ke Amazon. Secara etis jelas langkah ini tidak bisa dibenarkan. Sebagian orang bahkan menduga drama awal 2012 itu cuma sandiwara penuh rekayasa a la reality show.

————–

Banyak hal telah saya dapatkan dari Goodreads. Terutama: pertemanan dengan orang-orang yang bahkan enam tahun lalu tidak saya kenal, namun kini menjadi sobat-sobat karib baik dalam hal kecintaan pada buku (berburu buku jadul, salah satunya) maupun hal-hal lainnya (makan-makan atau musik rock, misalnya). Mayoritas mereka ada dalam grup GoodreadsIndonesia. Beberapa kawan menemukan cinta mereka juga di Goodreads, dan sebagian telah sampai ke jenjang pernikahan. Sebagian lagi saya rasa akan menyusul dan sebagian lagi patah hati  🙂

GoodreadsIndonesia telah merintis inisiatif-inisiatif literasi online dan offline yang patut dibanggakan, yang kesemuanya memberi kesempatan pada pembaca untuk menyuarakan pendapat dan keinginannya. Ada Sobat Perpus, ada diskusi buku bulanan, ada obrolan-obrolan buku di beberapa radio, dan ada Festival Pembaca Indonesia yang digelar tiap Desember.

Sekarang semuanya berbeda. Bila dulu ada kebanggaan menyatakan diri sebagai “saya Goodreads librarian” atau “saya anak Goodreads”, sekarang menyatakan demikian sama artinya dengan bilang “saya pegawai Amazon (gratisan pula)” atau “saya menyokong praktik-praktik bisnis Amazon.” Poin inilah yang harus digarisbawahi, sehingga saya heran bila masih ada orang yang menunggu, mencerna, mempertanyakan benarkah pembelian ini akan berdampak pada komunitas. Akuisisi ini adalah serangan terhadap basis sosial yang memungkinkan Goodreads sebagai komunitas itu ada. Sekalipun bila tidak ada uang riil yang mengalir langsung dari kegiatan-kegiatan grup-grup Goodreads di pelbagai belahan dunia ke Amazon, tapi membawa nama Goodreads untuk suatu acara kini sama artinya dengan mempromosikan Amazon atau menambah tebal “portofolio kerja literasi” mereka, padahal aktivitas bisnis Amazon selama ini jauh dari “pendidikan literasi.”

Amazon dikenal sebagai “penyensor” resensi, memakai resensi demi kepentingan bisnis mereka. Resensi-resensi negatif ditampilkan di belakang dan resensi bintang lima ditonjolkan. Sebagai pedagang, kepentingan mereka adalah menjual habis buku dan bukan memperbaiki kualitas dunia perbukuan. Ulasan negatif yang berisi kritik tentu bisa “membahayakan” penjualan, sehingga tak segan-segan mereka modifikasi bahkan mereka buang. Namun sebaliknya, Amazon juga tak segan-segan menonjolkan bahkan mengarang-ngarang kritik negatif berbayar bila si penulis atau penerbit tak mau tunduk pada syarat-syaratnya yang memberatkan.

Contoh paling terkenal adalah kasus buku Michael Lewis, The Big Short (2010), terbitan W.W. Norton. The Big Short adalah buku penting tentang krisis kredit perumahan AS yang berimbas pada krisis ekonomi skala besar. Buku ini diulas baik di mana-mana, namun hanya di Amazonlah ia diberi 64 ulasan negatif bintang satu. Apa pasal? Karena W.W. Norton memutuskan untuk tidak membuat versi Kindle (makanan paling empuk buat Amazon). Perlu dicatat bahwa ke-64 ulasan bintang satu itu tak satu pun membahas isi bukunya. Mereka secara seragam menekan Norton untuk segera membuat versi Kindle. Tanpa malu-malu Amazon, lewat para peresensi bayarannya, menulis “If all these one star reviews lead to fewer sales, I think that would be a great result and an excellent lesson for the author/publisher.”

Singkat kata, bagi Amazon, ulasan adalah demi kepentingan bisnis. Mereka tak ada urusan dengan literasi. Goodreads tidak demikian. Beberapa “kehebohan” bahkan bisa dikata muncul tiap beberapa waktu sekali akibat ulasan-ulasan di Goodreads yang sangat jujur dan tanpa tedeng aling-aling. Serangan pembaca ini –kalau kritik tajam boleh disebut serangan—tak pernah punya pretensi lain (apalagi pretensi dagang) selain ditujukan pada karya dan kerja kepenulisan itu sendiri.

Itulah yang menggairahkan dari Goodreads. Dulu. “Tapi pembelian oleh Amazon kan tidak serta merta mengubah itu,” sanggah beberapa teman. Buat saya itu naif. Untuk apa Amazon membeli Goodreads –sampai semiliar dollar bila perkiraan Bloomberg Businessweek benar—bila tidak untuk makin menggencarkan praktik bisnisnya? Saya hengkang karena tidak mau ulasan-ulasan saya memberi bahan bakar untuk kepentingan bisnis predatoris Amazon. Dan di sinilah poin lain yang menggelisahkan dari pembelian ini, yakni masalah kepemilikan review.

Perlu diingat bahwa terms of service –sesuatu yang sangat jarang dibaca oleh orang Indonesia, biasanya main skip dan langsung klik ‘I Agree’—dari Amazon menyebut bahwa mereka memiliki worldwide and perpetual rights atas apa yang ditampilkan di situs mereka. Facebook dulu pernah seperti ini, main klaim hak kepemilikan atas apapun yang diunggah di situs mereka (baik itu curhat kamu dalam notes, statusmu, foto makan siangmu, atau foto pacarmu sedang nyengir) dan berhak memakai semua itu untuk kepentingan publisitas. Baru-baru ini Instagram pun juga demikian, bahkan secara tersirat menyatakan berhak menjual foto-foto pengguna. Hanya lewat penggalangan publik besar-besaranlah kebijakan-kebijakan tersebut bisa diubah. Amazon belum mengubah kebijakannya karena sebagai situs dagang dan bukan jejaring sosial mereka tidak berkepentingan untuk mengakomodasi keinginan pengguna.

Goodreads, selama ini, berprinsip ulasan adalah milik si pengulas. Termasuk juga segala yang diunggah ke Goodreads: diskusi dalam grup-grup, foto, petikan draft novel, cerpen, puisi dll. Bagaimana status semua itu? Sampai detik ini, tidak ada petinggi Goodreads yang memberikan jawaban definitif. Biasanya mereka dikenal sangat responsif terhadap pertanyaan anggota. Namun saat dicecar soal akuisisi ini, Otis Chandler diam hampir 12 jam, dan jawaban paling banter yang bisa diberikan oleh Patrick Brown, salah seorang manajer Goodreads, tentang perubahan pasca akuisisi hanya berkisar “Currently we have no plans to do so”. Pembaca yang kritis (dan anggota Goodreads adalah pembaca kritis) bisa menangkap makna ganda kalimat-kalimat macam itu: “Sekarang belum berencana begitu, tapi jangan salahkah kami kalau nanti dua bulan lagi akan begitu” atau “Cuma ini yang bisa kami jawab karena keputusannya sekarang sudah bukan di tangan kami.”

Otis Chandler berusaha menenangkan dengan menyatakan bahwa Goodreads akan diuntungkan dari akuisisi ini—sebuah jawaban yang membuat tertawa kecut karena pengusaha manapun tahu pemenangnya adalah Amazon. Ulasan majalah bisnis Forbes tentang akuisisi ini menyatakan dengan jelas tiga keuntungan gamblang Amazon dan tiga keuntungan lain yang lebih tidak kasat mata dari pembelian ini:

  1. Jejaring sosial para pembaca
  2. Pelacakan soal carian dan rekomendasi buku
  3. Ulasan yang kredibel setelah publik tak lagi memercayai ulasan Amazon

serta:

  1. Penggalian data konsumen melalui preferensi bacaan, grup yang diikuti dll
  2. Penyebaran pengaruh
  3. Sarana promosi

Tak satupun keuntungan buat Goodreads.

Apalagi setelah saya lihat Goodreads membuka lowongan untuk posisi-posisi ini: Advertising Marketing Coordinator, Author Marketing Coordinator, Book Marketing Strategist –tiga posisi yang bisa dipertanyakan kepentingannya bila ini memang masih community site, namun lumrah bila ini Amazon—saya tak ada pilihan lain selain hengkang.

Untuk menampung ulasan-ulasan buku yang dulu saya tampilkan di Goodreads itulah maka blog ini saya buat.

13 thoughts on “Riwayat Blog Ini

  1. Mendukung 100% langkah ini dan saya menyusul keluar dari Goodreads.

    Damar “Amang” Juniarto
    Mantan Moderator Goodreads Indonesia 2007-2010
    sudahkahkaubaca.wordpress.com dan fansberatbuku.blogspot.com

  2. pencerah says:

    turut prihatin. smg ada yg bisa membuat varian baru goodreads

  3. irwan syahrir says:

    Sikap yang tegas dan saya hormati, Ron. Keep in touch!

  4. hmm… kaget lama absen… dan ada berita kyk gini.
    klo gt aq jg mau ikut delete smua review n data aja deh…

  5. timoen says:

    Baru saja menghapus semua reviewku di sana. Biarpun cuma sedikit, tapi tetep sedih rasanya kalo dikomersilkan. 😦

  6. andiachdian says:

    Posisi yang benar. Seperti mahluk Borg, mereka mengasimilasi semuanya. Segera mengepak koper. Cheers.

  7. NTPshipz says:

    Goodreads tdk good lagi stlh making money….

    salam
    Tatan SWK baby sitter (pengasuh) NTPshipz

  8. ocitamala says:

    memang sangat disayangkan kalau Goodreads sampai ke tangan Amazon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: