Dunia Penuh Kloningan KW2

Seroks (Iteration 1: Mirror Man)
David Hontiveros; ilustrasi: Alan Navarra
Visprint, Inc., 2012 |  159 hlm

seroksTampaknya benar sinyalemen beberapa pengamat, termasuk Ben Anderson, bahwa negara-negara Asia Tenggara nyaris tidak saling mengenal satu sama lain dalam hal sastra. Dalam satu dekade terakhir misalnya, adakah terjemahan buku-buku sastra dari Thailand atau Birma atau Filipina ke dalam bahasa Indonesia, dan juga sebaliknya? Perhelatan pertama Festival Sastra ASEAN di Jakarta beberapa waktu lalu juga tampak belum konkret dalam merintis upaya atau komitmen untuk saling mengenal dan menerjemahkan ini.

Tentang sastra Filipina, misalnya. Referensi terakhir yang saya punya tentang fiksi Filipina hanyalah terjemahan Indonesia José Rizal terbitan Pustaka Jaya dan terjemahan Indonesia F. Sionil José terbitan Yayasan Obor belasan tahun yang lalu. Memang saya membaca cukup banyak kajian mengenai Rizal (semisal karya Ambeth Ocampo atau Ramon Guillermo), bahkan sedang melengkapi buku-buku kajian tentang penulis dan patriot menakjubkan yang amat dikagumi Tan Malaka itu, tapi buku-buku ini tentunya tak termasuk fiksi. Karena itulah, setelah berbelas tahun tak pernah menyentuh fiksi Filipina, menyenangkan rasanya bisa membaca lagi karya kontemporer dari tetangga utara kita itu.

Koleksi kajian tentang José Rizal

Sebagian kajian tentang José Rizal koleksi saya

 

Seroks (Iteration 1: Mirror Man) karya David Hontiveros (Pasay City: Visprint, 2012) adalah novel fiksi ilmiah yang dikembangkan dari cerpennya  berjudul “Kaming Mga Seroks” (2002). Cerpen Hontiveros tersebut –yang nantinya menjadi Bab 1 novel ini—pada 2002 menerima hadiah kedua Palanca Award, penghargaan sastra bergengsi dan mungkin terlama di Filipina, dalam kategori karya berbahasa Inggris.

Seroks adalah pelafalan bastar dari “Xerox”, merk mesin fotokopi itu. Dan dari sana mungkin bisa ditebak bahwa novel ini bercerita tentang penggandaan, kloning, pada sebuah masa depan distopia pasca jihad melawan Setan Besar Amerika Serikat. Virus yang melanda benua Amerika membawa kemandulan sembilan dari sepuluh pria yang selamat. Dalam kondisi kepepet itu, pertimbangan etis dan moral yang selama ini melingkupi perdebatan tentang upaya kloning manusia dengan seketika dikesampingkan, dan riset tentang itu langsung melaju pesat. Orang-orang kaya –selalu merekalah yang punya peluang terbesar untuk selamat dalam bencana apapun—mengkloning diri mereka sendiri saat dihadapkan pada realita kemandulan.

Apa dampaknya bagi Asia Tenggara? Seperti biasa, kita tahu, barang bajakan berlimpah ruah diperjualbelikan di wilayah kita ini. Di zaman ini: CD, DVD, tas Hermes, sandal Crocs dll. Di zaman rekaan Hontiveros: manusia. Bajakan dari sekuens genetik orang-orang kaya dan terkenal tertentu yang diproduksi di Amerika. Artinya: Kloning KW2 dari kloningan “asli”-nya. Kloningan palsu, kloningan abal-abal, kloningan modif, kloningan bikinan Cina.

Filipina sendiri di zaman itu telah merasakan dampak dari konsumerisme era-era sebelumnya. Kelas menengah kolaps tak mampu mengejar gaya hidupnya sendiri. Kaum miskin kota menjamur akibat runtuhnya kelas menengah ini, yang lalu berebut tempat dengan kaum miskin lama. Lagi-lagi hanya kaum kaya yang tetap bertahan di ujung piramida ekonomi-politik, dan untuk mengerjakan tugas-tugas kasar dan kotornya, mereka bisa memilih memakai kloningan KW itu (seroks) atau manusia asli. Seroks juga diproduksi untuk maksud-maksud lain, misalnya budak seks (seroks putas), atau organnya dipotong-potong lagi untuk diperjualbelikan (chops-chops), atau ada juga yang dipakai sebagai semacam “kembaran” untuk mengelabui orang (disebut fiday).

Di sini Seroks bermaksud tampil sebagai fiksi ilmiah yang kuat mengandung kritik sosial, dan dalam hal itu ia memang berhasil memampang realitas kelas-kelas sosial Filipina dengan jalang dan telanjang. Memang harus diakui, dalam soal wabah kemandulan global itu ada bau-bau The Children of Men, novel P.D. James tahun 1992 yang lantas difilmkan oleh Alfonso Cuarón menjadi Children of Men (2006). Tapi Seroks menggiring tema itu lebih jauh dan menancapkannya dalam konteks lokal secara mengena. Ia jauh lebih rumit daripada, katakanlah, Elysium (2013) besutan Neil Blomkamp yang dalam memakai fiksi ilmiah sebagai kritik sosial seolah-olah memandang hanya ada dua kelas dalam masyarakat: kelas berpunya/berkuasa di Elysium dan kaum miskin/lemah yang menyisa di Bumi.

Kelas-kelas sosial dalam dunia kloningan KW2 ini adalah cerminan kelas-kelas sosial-campur-rasial pascakolonial. Rumit, brutal, tak sesimpel oposisi biner kaya-miskin, majikan-buruh. Manusia bersaing dengan kloningan; kloningan bersaing antar mereka sendiri. Cina memproduksi kloningan KW, tapi hanya untuk ekspor dan tak mengizinkan mereka tinggal di negeri itu sendiri. Kelompok-kelompok ekstremis xenofobis berdiri di Cina memburu dan membasmi kloningan-kloningan yang nekat hidup di sana. Kelompok ini memakai nama Yìhé Quán, diambil dari nama kelompok radikal zaman Dinasti Qing yang membantai orang-orang Kristen. Sementara orang-orang Chinoy (Cina Filipina) sendiri juga ogah mempekerjakan seroks, yang dipandang sederajat dengan hewan. Mereka memilih memakai manusia-manusia asli dari kelas bawah Filipina.

Sebuah artikel bernas Berto Tukan dan Yovantra Arief di Indoprogress pernah mempersoalkan bagaimana fiksi ilmiah tak pernah dilirik oleh para sastrawan Indonesia (terutama yang mengklaim kiri) sebagai medium penyampai kritik sosial. Ya, itu memang persoalan akut kita. Dan sambil berharap-harap kapan akan dibuat, Seroks tampaknya cukup berhasil mengobati kerinduan saya akan hal itu. Memang tidak dari negeri sendiri, tapi juga tidak jauh-jauh amat.

Kisah Cinta Orang Biasa dan “Superhero”

All My Friends are Superheroes
Andrew Kaufman
Coach House Books, 2010 [2003]  |  111 hlm

superheroesSo sweeeeet, saking manisnya sampai di sampulnya seharusnya diberi peringatan seperti di bungkus rokok “Membaca Buku Ini Bisa Mengakibatkan Kenaikan Gula Darah dan Kencing Manis.” Tertarik dengan buku ini sejak membaca sinopsisnya di katalog Telegram tahun 2007, namun baru kesampaian mendapatkannya pada 2010. Tiga tahun penantian tapi tandas dibaca hanya dalam kurang lebih 1,5 jam. Dan sungguh tak mengecewakan.

Ceritanya, ada 249 superhero di kota Toronto, sekalipun apa yang disebut superhero di sini jangan dibayangkan seperti di komik-komik. Mereka memang punya kemampuan-kemampuan nyleneh yang berbeda dari orang biasa atau regulars, tapi mereka tak berkostum dan tak punya identitas rahasia. Sebagian superhero ini lahir sebagai superhero, dan sebagian lainnya berasal dari para regulars. Dan jangan kira kemampuan mereka bisa buat membela kebenaran dan macam-macam tindakan heroik lainnya itu. Sebagiannya tak punya fungsi apa-apa. The Shadowless Man misalnya, dulunya bernama Henry Zimmerman sampai suatu malam bayangannya memutuskan pergi meninggalkan dirinya. Maka jadilah ia The Shadowless Man. The Falling Girl tak pernah bisa masuk ke gedung lebih dari 2 tingkat tanpa jatuh. Sepanjang hidupnya ia sudah pernah jatuh dari sepeda, pohon, kuda, tangga, pangkuan neneknya dll. “Yang belum cuma jatuh cinta,” renungnya suatu malam sambil tiduran, dan waktu berbalik hendak mematikan puntung rokoknya ke asbak, ia pun jatuh dari ranjang. The Frog-Kisser dikaruniai kemampuan mengubah cowok pecundang jadi jagoan, namun dikutuk dengan kenyataan bahwa cowok yang diubahnya itu akan selalu mencampakkannya setelah jadi jagoan.

Yang jelas, kisah ini bukan kisah superhero, melainkan kisah cinta antara Tom yang orang biasa dengan The Perfectionist (yang punya kemampuan menata segala dengan sempurna). Mereka berkencan, jatuh cinta dan memutuskan menikah, namun di resepsi pernikahan, The Perfectionist dihipnotis oleh Hypno, mantan pacarnya yang memang punya kemampuan menghipnotis. The Perfectionist dibikin untuk percaya bahwa Tom telah hilang/jadi tak kasat mata. Teman-teman sesama superhero berusaha meyakinkannya bahwa Tom masih ada, namun setelah 6 bulan The Perfectionist yakin bahwa Tom telah meninggalkannya. Untuk melipur sakit hatinya The Perfectionist memutuskan pindah dari Toronto ke Vancouver dan membuat Vancouver sempurna agar masa lalunya di Toronto terlupakan.

Bila adegan-adegan flashback-nya dihilangkan, cerita ini sesungguhnya berentang waktu pendek saja, yakni mulai dari saat penerbangan AC117 boarding dari Toronto hingga mendarat di Vancouver. Tom harus berupaya membuat The Perfectionist melihat dirinya, sebelum pesawat mendarat di Vancouver yang telah sempurna dan cinta mereka kandas selamanya.

Semua jempol layak saya berikan buat buku tipis ini (hanya seratusan halaman) atas idenya yang tak biasa, namun efektif tanpa berlarat-larat dalam bertutur.

Yang juga asyik, bab 12 buku ini berjudul “Find Your Own Superhero Name”. Cari kemampuanmu yang tak banyak dimiliki orang lain, maka jangan-jangan kau pun sudah superhero. Hmm… bisa jadi saya ini bernama The Beer-Resistant, tahan bir berapapun tanpa mabuk tapi dikasih minuman lebih keras sedikit langsung mabuk🙂

Pornology My Ass!

Pornology
Ayn Carrillo-Gailey
Running Press, 2007  |  238 hlm

pornologyWith all due respect, this book is a crap. Big crap! Pornology? Lick my ass! (And you can’t even learn about ass-licking here).

This book should be titled “How to Use Porn to Glorify Your Good-Girl Image and Get A Husband”. Every few pages or so, Ms. Carrillo-Gailey repeated that she is a good girl (that’s very irritating and I will surely dump her in 24 hours if I ever dated her). And there’s no serious research on porn whatsoever here. No explorations on the latest trends of porn: COHF, MILF, CFNM, ATM etc. When the author went to strip club with Greg, her boyfriend, and Greg ordered a steak while watching the dancer show her genitalia, she wrote: “One more thing I will not try to analyze.” (p. 40) That’s exactly what you have to analyze if you want to know about men’s relationship to porn and sex (how can men —me included—eat their dinner easily while having a hard-on). And she dare to call herself anthroPORNologist (bah!), another fancy word she created that means nothing but a fancy word.

I feel that porn-research is just a pretext used by the author to tell her ‘memoir’ about her relationship with her boyfriends and husband-to-be. And about this “autobiography/memoir” genre, great Chilean writer Roberto Bolaño once said: “Listen! I don’t have anything against autobiographies, so long as the people writing them have penises that are at least a foot long when erect.” So, that’s it, Ms. Carrillo-Gailey! If you’d like to write about your own love life with a pretext of porn studies, at least you must explained what’s your boyfriend’s cum taste like!

Kegilaan Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam
Edgar Allan Poe
Judul asli: Tales of Mystery and Terror
diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin dari bahasa Inggris
Gramedia Pustaka Utama, 2010  |  245 hlm

poeSama seperti Maggie Tiojakin penerjemah buku ini, saya kenal Poe zaman masih sekolah, yakni sekitar kelas 6 SD naik ke SMP, ketika masa-masa membaca Enid Blyton sudah lewat dan mulai menjajal bacaan yang lebih sulit macam Agatha Christie, Conan Doyle dsb. Pada zaman coba-coba itulah saya menemukan harta karun di buku-buku peninggalan perpustakaan ayah saya. Selain yang berbau politik macam Pantja Azimat Revolusi dan Sarinah-nya Soekarno, ada juga karya-karya sastra seperti Kalung Guy de Maupassant dan Kumbang Emas Edgar Allan Poe ini (terbitan Jajasan Pembangunan tahun 1952, tanpa keterangan penerjemah, bercap nama Cina ayah saya dan tanda R.C. yang artinya ternyata Reading Club).

Dalam Kumbang Emas ini, ada bahasa sandi yang sangat memikat saya waktu itu:

53‡‡†305))6*;4826)4‡.)4‡);806*;48†8960))85;1‡(;:‡*8†83(88)5*†;46(;88*96*?;8)*‡(;485);5*†2:*‡(;4956*2(5*—4)898*;4069285);)6†8)4‡‡;1(‡9;48081;8:8‡1;48†85;4)485†528806*81(‡9;48;(88;4;(‡?34;48)4‡;161;:188;‡?;

yang ternyata pemecahannya mirip dengan salah satu cerita Sherlock Holmes tentang misteri gambar orang menari. Saat itu saya belum paham dengan istilah “sastrawi”, tapi ketika membaca Kumbang Emas, memang terasa ada yang beda dengan membaca cerita Agatha Christie atau Conan Doyle, apalagi Trio Detektif, yang waktu itu sama-sama saya golongkan sebagai goldbugcerita detektif/misteri. Ada kedalaman/kerumitan tertentu pada tokoh-tokohnya atau penulisannya yang tak saya dapati dalam bacaan-bacaan saya sebelumnya.

Dan itulah rupanya yang memang membedakan Poe dengan penulis misteri lainnya. Belasan tahun sesudahnya saya membaca The Black Cat yang terjemahannya ada di kumpulan Kisah-kisah Tengah Malam ini, juga kumpulan Hati yang Meracau, terjemahan keren A.S. Laksana dan Hasif Amini, terbitan Akubaca. Cerpen “Hati yang Meracau” adalah terjemahan “The Tell-Tale Heart” (yang di kumpulan ini diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin sebagai “Gema Jantung yang Tersiksa” (hlm. 11), tapi maaf, terjemahan Maggie yang ini menurut saya tidak sebagus terjemahan A.S. Laksana).

Begitu pula setelah saya mendalami sastra Amerika Latin, semakin kagum saya terhadap Poe melihat besarnya pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Amerika Latin, terutama pada para maestro cerpen Jorge Luis Borges dan Julio Cortázar. Edisi komplit cerpen Poe diterjemahkan ke bahasa Spanyol oleh Cortázar, dan Borges mewarisi kecenderungannya untuk membual dengan sedetail-detailnya sampai pembaca percaya, dan membawa yang-mustahil pada latar cerita yang sehari-hari. Ketika cerpen lengkap Poe terjemahan Cortázar diterbitkan ulang pada 2008, sastrawan Fernando Iwasaki dan Jorge Volpi sebagai editornya menulis pengantar “Todos somos descendientes literarios de Poe, pues gracias a Poe existieron Borges … y … Cortázar” (‘Kita semua keterunan literer dari Poe, berkat Poelah ada Borges dan Cortázar”). Pada cerpen “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219), Poe memberi rujukan buku ngarang-ngarang yang ditulis amat rinci untuk meyakinkan pembaca, sama seperti Borges dalam salah satu cerpen paling masyhurnya “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius.”

Bagi saya, yang menarik dari Poe adalah caranya mempersepsi dan menyampaikan teror. Teror, dalam Poe, lebih merupakan teror batin, bukan dikarenakan oleh kekuatan dari luar seperti ditakut-takuti hantu/monster yang secara fisik digambarkan ada sungguhan. Tokoh-tokoh Poe jadi gila oleh mania-manianya sendiri, misalnya rasa jengkel gara-gara kucing, rasa penasaran gara-gara peti atau rumah, salah lihat laba-laba, rasa terganggu oleh gagak dalam puisi terkenalnya “The Raven”. Kegilaan itu ada dalam diri tokoh, tinggal tunggu momentum atau obyek tertentu untuk meledakkannya (bisa kucing, buku, peti atau apapun). Tema kegilaan ini terus diulang-ulangnya, misalnya narator dalam Kumbang Emas, “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 89), dan “Misteri Rumah Keluarga Usher” (hlm. 219) sama-sama mencurigai temannya menunjukkan tanda-tanda kegilaan pada awal cerita. Namun pada akhir cerita kita tidak tahu lagi siapa yang sebenarnya gila siapa waras, atau apakah semuanya benar-benar terjadi atau khayalan si narator yang sudah jadi gila.

Beberapa tahun yang lalu, dalam paparan berjudul “Bulan Salah Tempat (atau: Seberapa Penting Detail Faktual dalam Sastra?)”,  saya juga memakai Poe di sebuah diskusi sastra sebagai contoh salah satu “karya besar yang mengandung kesalahan faktual di dalamnya”. Astronom Frank Jordan mencatat bahwa cerpen Poe “Descent to Maelstörm” (diterjemahkan di sini sbg “Mengarungi Badai Maelstörm” hlm. 61) mengandung kesalahan saintifik, karena diceritakan bahwa peristiwa badai terjadi pada tanggal 10 Juli, kapal terseret arus dengan dramatisasi cahaya bulan menyorotinya, padahal di Norwegia yang menjadi latar cerita ini, pada bulan Juli tidak mungkin ada bulan karena matahari bersinar 24 jam. Tapi sekarang setelah saya pikir-pikir lagi, kisah tentang bulan itu adalah tuturan si narator. Dan kembali ke poin saya sebelumnya, bisa jadi si narator itu ngelantur, sudah gila, dsb, atau malah bisa jadi ia cuma membual dan badai itu malah sama sekali tak pernah terjadi. Kegilaan si narator itulah kejeniusan Poe.

Meski Kisah-kisah Tengah Malam ini diterjemahkan dan digarap dengan apik, ada beberapa kesalahan terjemahan yang terpaksa saya cantumkan di sini karena agak fatal:

1) Dalam cerpen “Mengarungi Badai Maelstörm”, tertulis tanggalnya adalah 18 Juli, padahal aslinya “It was on the tenth day of July, 18—”, yang maksudnya adalah “10 Juli 18—” (baca: sepuluh Juli delapan belas sekian). Si narator kisah ini menyamarkan tahun peristiwanya. Jadi maksudnya bukan tanggal 18 Juli.

2) Dalam cerpen “Kotak Persegi Panjang” (hlm. 106) tertulis “Tentunya mereka tenggelam dalam sekejap,” kata sang kapten. “Tapi tidak lama lagi mereka akan bangkit—saat semua garam di laut sudah mencair.”

Kalimat aslinya adalah: “They sank as a matter of course,” replied the captain, “and that like a shot. They will soon rise again, however—but not till the salt melts.”

Di sini, “rise again” tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi “terangkat lagi / mengapung kembali”; “bangkit” terasa janggal, karena berkesan dua orang yang tenggelam itu akan “bangun dari mati”. Begitu pula “salt melts” yang dimaksud tentunya adalah garam yang ada dalam peti, dan bukan yang ada di laut.

One Hell of a Crisis

Crisis on Infinite Earths
Marv Wolfman, George Pérez (Illustrator)
DC Comics, 2001 [terbit pertama 1984]  |  368 hlm

crisisThe backcover said: “CRISIS ON INFINITE EARTHS finds the alternate worlds that once were a hallmark of the DC Universe under siege by a mysterious force powerful enough to wipe out the lives of billions”. The mysterious force is said to be The Anti-Monitor and his antimatter universe, but actually, in the real world that force is what we call “the market”. Yes, DC at that time (mid 1980s) risked to lose new (and younger) generations of readers because their continuity of the so-called “multiverse” became so complicated and confusing for the newbies.

There’s Earth-1, Earth-2, Earth-3, Earth-4, Earth-10, Earth-S, Earth-X, Earth Prime and many more, not to mention that each earth has its own past, present and future. Earth-1 for example, has Sgt. Rock for its WW II past, Superman and the likes for its present, and Legion of Superheroes for its 30th century future. Earth-1’s Hawkman came from a planet called Thanagar, while Earth-2’s Hawkman was a reincarnation of some Egyptian prince. In the present times, Earth-1’s Batman is alive and kicking while Earth-2’s Batman was already six feet under, being replaced by his daughter, Helena Wayne aka The Huntress. In Earth-3, Luthor was hero.

So Marv Wolfman came out with this groundbreaking idea of a very powerful foe that will wipe out the entire DC multiverse and simplify them into a single universe with a consistent history. And he did it with a very chaotic storyline that readers will be glad that the multiverse is finally over😀 And parts that didn’t make sense at all? Harbinger said, “There are still many questions that cannot be answered.” So just don’t ask, okay?

Read it today, I can’t believe that these series was soooo ’80s. I laugh out loud reading too many self-important boastings like “This is a job for Superman” or “None can resist the power of Phobia”; and the heroes called each other in middle of a fight by their full names “Watchout, Blue Beetle!”; too many lines like “And it’s time for you to die”, “You sealed your own fates, fools, prepare to go to oblivion”; too many “explanation scenes” when someone explained/preached something and the heroes just stood there listening; and too many ridiculousness like The Flash’s Cosmic Treadmill, treadmill that will take you across time barrier if you run fast enough (OMG whose idea is that?), or the whole Marvel Family (Captain Marvel, Mary Marvel, Marvel Junior, Uncle Marvel. (Changeling said, “If Baby Marvel and Fetus Marvel show up, I quit!”)

I’m glad I didn’t read it when I was a kid. I’d be mad as hell if I did😀

By the way, where are Captain Carrot and His Amazing Zoo Crew? Also Super-Squirrel and JLA (Justa Lotta Animal)? Earth-C and Earth-C minus were also parts of DC multiverse, right?

This Book is So “Ngawur”

The Meaning of Tingo and Other Extraordinary Words from Around the World
Adam Jacot de Boinod
Penguin, 2007  |  209 hlm

tingoI wrote this review in English, because –like the book itself—it is intended to English speaking reader. And my recommendation is: don’t expect this book to be a reliable reference.

This book is a compilation of foreign words about concepts or expressions which cannot be conveyed in English language. But the problem is the author doesn’t seem to understand the context which these words are used.

The obvious examples for me is the use of Indonesian words here. Two of them are:
1) the author bio on the backflap: He is now intending to nglayap (Indonesian—“wander far from home without no particular purpose”), but for the moment lives in London. For this context you have to use “merantau”.
2) “Begadang” is categorized in “Conversation” (p.5), which is totally wrong because “begadang” itself means stay up all night, which is not necessarily involve a conversation. You can begadang for doing your homework or watching soccer on TV, for examples.

So I assumed the author also doesn’t understand the context of the other language words.

I searched the Internet looking for explanation for this recklessness and found similar critiques for this book. The author is not a linguist or an expert on language. He just compiled and collected words from every dictionaries he read for his job in a comedy quiz show on BBC. And some reviewers even pointed out that some of the words listed in this book actually don’t exist.

How come Penguin published a book like this? Don’t they have some competent editors?

This book is meant to be funny, I guess, but there’s nothing funny about a language book that’s so ngawur and ngaco.

Cerita di Balik Cerita Soeharto

Pak Harto: The Untold Stories
Editor: Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari, Dwitri Waluyo, Bakarudin, Mahpudi
Gramedia Pustaka Utama, 2011  |  604 hlm

harto[Ulasan ini dimuat juga di Konstelasi No. 33 Sept 2011, hlm. 2-3]

Meski berbeda-beda paham politik yang dianut, para diktator dunia dipersatukan oleh ciri yang sama: berlimpahnya buku-buku biografi yang menyanjung-nyanjungnya sebagai orang tanpa kekurangan, yang bahkan kesempurnaan wataknya melebihi dewa. Lihatlah Stalin, Kim Il Sung, atau Soeharto. Buku terbaru tentang Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories lebih cocok disebut hagiografi atau semacam penulisan biografi orang-orang kudus yang penuh puja puji dan tanpa cela.

Buku yang dicetak luks dan full colour setebal 600 halaman lebih ini berisi kesan-kesan dari 113 orang pengikut, kroni, maupun orang-orang yang pernah bersamanya, mulai dari para pejabat yang pernah lama mendampinginya semasa Orde Baru maupun tokoh-tokoh lain yang pernah menemuinya dalam pelbagai kesempatan. Meski bertajuk untold stories, isinya tentu bukan bermaksud membedah cerita-cerita di balik kebijakan-kebijakannya sebagai Presiden, namun lebih banyak berisi kenangan tentang sosok Soeharto yang menurut para penulisnya “hebat,” “adil,” “begitu berjasa,” “rasional,” “tidak mau menyusahkan orang lain,” bahkan –yang paling konyol—“hendak membangun demokrasi melalui PDI kubu Soerjadi.” (hlm. 302).

Semua puja puji ini tentu bukan barang baru. Pada 1991, PT Citra Lamtoro Gung Persada, perusahaan milik putri Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), menerbitkan buku Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun setebal 980 halaman, yang isinya juga dipenuhi predikat keunggulan watak Soeharto menurut orang-orng dekatnya, seperti “tenang, sabar, dan ulet”, “arif, bijaksana, dan rendah hati”, “terbuka, halus, dan konsisten”, “penuh pengertian” dst. Sementara Letkol Polisi Anton Tabah yang ditunjuk sebagai sekretaris Soeharto sesudah lengser menerbitkan Empati di Tengah Badai pada 1999, kumpulan surat dukungan untuk Soeharto setebal 1074 halaman.

Ada dua hal yang bisa kita baca dari fenomena ini. Pertama, dalam diktum propagandis Nazi Joseph Goebbels, beratus-ratus halaman buku ini diperlukan agar “kebohongan yang diulang terus menerus berubah menjadi kebenaran.” Dengan kata lain, ini adalah propaganda pengelabuan dan politik pencitraan skala massif untuk menopengi semua borok pemerintahan Soeharto.Kedua, ini adalah unjuk gigi para pengikut dan kroni Soeharto untuk mengatakan bahwa jaringan mereka masih eksis dan berkuasa di Indonesia.

Dalam konteks yang pertama, pada masa Reformasi kita bisa melihat jelas bagaimana segala “prestasi pembangunan” yang diunggul-unggulkan semasa Orde Baru ternyata merupakan tabir asap belaka. Pemberantasan buta huruf misalnya. Ketika Badan Pusat Statistik pada 2000 mengeluarkan data bahwa sekitar 18 juta dari 205 juta penduduk Indonesia masih buta huruf, banyak orang terperanjat: dari mana datangnya 18 juta orang ini yang pada masa Orde Baru (yang saat itu baru berakhir selama 2 tahun) dianggap tiada atau dianggap sudah melek huruf?

Dan ini tentunya hanya satu klaim dari banyak klaim keberhasilan pembangunan Orde Baru lainnya yang harus ditelisik ulang. Salah satu temuan baru yang cukup mencengangkan adalah tentang Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa), ajang petani dan nelayan berprestasi dari pelbagai daerah untuk beradu pengetahuan soal pertanian, kerap langsung di hadapan Soeharto. Selama bertahun-tahun TVRI menayangkan acara ini secara nasional untuk memamerkan keberhasilan program pertanian Orde Baru. Tentu saja sejak lama telah beredar desas desus bahwa petani-petani ini telah dilengkapi dulu dengan jawaban dan arahan tentang apa saja yang harus diucapkan. Namun ternyata, lebih dari itu, bukan hanya peserta acara ini telah dilengkapi dengan jawaban dan arahan, melainkan bahwa mereka bahkan bukan petani sama sekali, tetapi aktor. Forum Lenteng, lembaga yang bergerak di bidang pembuatan dan kajian seni video, memaparkan temuan ini dalam presentasi awal “Videobase”, riset panjang mereka tentang kultur video dalam sejarah politik Indonesia. Forum Lentang berhasil menemui dan mewawacara aktor dan sutradara yang ada di balik program Kelompencapir. Inilah untold stories sebenarnya dari Soeharto dan Orde Baru yang tentu takkan bisa didapat di buku ini.

Sementara dalam konteks yang kedua, terbitnya Pak Harto: The Untold Stories pada Juni 2011 bukanlah suatu kejadian yang berdiri sendiri dan bisa dipisahkan dari beberapa peristiwa lain yang berlangsung sebelumnya: dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjelang akhir 2010 atas usulan untuk menobatkan Soeharto sebagai pahlawan nasional, dideklarasikannya Partai Nasional Republik yang mengusung Tommy Soeharto pada April 2011, serta hasil “survei” Indo Barometer pada Mei 2011 yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia masih lebih menyukai masa pemerintahan Soeharto daripada SBY.

Gelagat glorifikasi Soeharto dan Orde Baru ini merebak di tengah ketidakseriusan pemerintah dalam membasmi korupsi serta ketidaktegasan dalam menata birokrasi dan melakukan konsolidasi demokrasi. Sejarah korupsi di Indonesia akan sangat berbeda andai pengadilan terhadap Soeharto serius dilakukan sebagaimana Mesir kini mengadili Hosni Mubarak. Perlu diingat bahwa “sakit” dan “lupa” atau “gangguan syaraf” –alasan-alasan klise koruptor Indonesia kini untuk menghindari pengadilan—adalah warisan sah dari Soeharto melalui kuasa hukum dan tim dokternya untuk mengelak dari panggilan sidang pada September 2000, sebuah preseden buruk yang akhirnya terus mengganggu jalannya proses pemberantasan korupsi di Indonesia. Betapa jauh sikap pengecut Soeharto ini dengan kejantanan yang ditunjukkan oleh orang-orang seperti Sudisman, Untung, atau Nyono yang diseret oleh Soeharto ke penjara melalui Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) atas dakwaan terkait dengan peristiwa 1965. Tak satu pun di antara mereka berdalih lupa atau sakit.

Buku Pak Harto: The Untold Stories dibandrol dengan harga yang tidak cukup terjangkau oleh pembaca umum kebanyakan, dan dengan demikian bisa kita lihat bahwa konsumen pembacanya lebih tertuju pada elite politik Indonesia untuk mengatakan bahwa “kami, jaringan keluarga Cendana, masih di sini, baik-baik saja, tak tersentuh hukum, dan siap merebut balik kekuasaan.” The untold stories inilah yang sesungguhnya patut kita waspadai secara serius.

Tiga Filem Seminggu

The Film Club
David Gilmour
Ebury Press, 2008  |  256 hlm

filmclub[Ulasan ini dimuat juga di Jurnal Footage]

Ingatan saya akan filem-filem yang paling berkesan semasa kecil sebagiannya tak bisa dilepaskan dari ingatan akan almarhum ayah saya. Salah satu yang paling tak lekang: The Birds (Hitchcock, 1963), yang ayah setel di video Betamax kami sesudah makan malam. Tentu saja saat itu –sekitar medio 1980an dan saya masih kelas 3 SD—belum ada pengetahuan sinematik dan tetek bengek filosofis yang saya tangkap dari filem Hitchcock itu selain ceritanya yang horor. Saya hanya mengenal Alfred Hitchcock sebagai pengarang serial Trio Detektif (dan nanti setelah dewasa saya tahu bahwa Hitchcock juga bukan pengarang serial itu!)

Filem lainnya adalah Hamburger Hill (John Irvin, 1987), yang kami tonton di Bioskop Ria sore hari selepas ayah pulang kerja, sebuah filem perang yang tak biasa karena pasukan Amerika di situ (“lakoné,” menurut istilah kami; atau jagoannya) bisa kalah telak dan melarikan diri! (nanti pula sesudah dewasa saya tahu filem ini adalah kisah nyata tentang korupsi dan kebobrokan moral dalam militer AS yang ikut menyumbang kegagalan aksi militer mereka di Vietnam). Lewat Papillon (Franklin J. Schaffner, 1973) ayah mengajarkan bahwa ombak ketujuh di pantai selalu adalah ombak terbesar. Dari ayah pula saya pertama kali tahu arti kata “seksi”, yang diucapkannya sehabis menonton sebuah filem Indonesia yang tak saya ingat benar judulnya.

Segala kenangan tentang filem dan ayah menye­ruak hebat saat saya membaca buku The Film Club karya David Gilmour pada 2008 lalu. Saking tercenungnya, saya hanya mampu menulis­kan kesan-kesan pendek seusai membacanya, dan baru berniat mengulasnya lebih panjang setelah tahu buku ini telah diindonesiakan menjadi Klub Film (Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011, terjemahan P. Herdian Cahya Krisna). Meski demikian, saya belum membaca edisi Indonesianya dan tetap memakai buku aslinya sebagai rujukan, sehingga tidak bisa berkomentar lebih jauh mengenai kualitas terjemahannya.

David Gilmour adalah novelis dan kritikus filem Kanada. Ia juga seorang ayah. Jesse, anak lelakinya, adalah seorang remaja SMU beranjak dewasa, dan karenanya, tengah mengalami fase-fase pembangkangan yang dialami remaja manapun di dunia. Ia ogah sekolah, tak pernah bikin PR, tak punya tujuan jelas dalam hidup. Singkat kata: Galau. Mungkin rumah tangga Gilmour sendiri berpengaruh terhadap kondisi psikologis Jesse, meski saya tak yakin. Gilmour telah bercerai dari Maggie, ibu Jesse, dan kini tinggal dengan perempuan lain, sementara Jesse tinggal bersama ibunya.

Saat nilai-nilai rapor Jesse terjun bebas dan kemalasannya mencapai taraf yang tak dapat diatur, Maggie angkat tangan dan memasrahkannya ke mantan suaminya. Gilmour pun akhirnya mengajak bicara Jesse dan membuat kesepakatan dengannya: Pertama, Jesse boleh tidak sekolah bila memang tidak menginginkan. Pikirkan hal ini barang beberapa hari (“Aku tak perlu beberapa hari”). Kedua, ia boleh tidak bekerja, tidur-tiduran seharian tanpa ngapa-ngapain, tapi sama sekali tidak boleh mencoba-coba narkoba (“Oke”). Ketiga, ia harus menonton tiga filem seminggu pilihan ayahnya (“Serius lu?”).

Maka demikianlah, dari 8½ (Fellini, 1963) sampai Rosemary’s Baby (Polanski, 1968), dari Psycho (Hitchcock, 1960) sampai Basic Instinct (Verhoeven, 1992), dari Onibaba (Kaneto Shindo, 1964) sampai La Dolce Vita(Fellini, 1960), buku ini adalah memoar Gilmour tentang upayanya mendidik anak remajanya dengan cara yang tak lazim. Filem pertama yang ditonton “Klub Filem” ini adalah The 400 Blows (Truffaut, 1959). Kita tentu ingat penutup filem ini: Antoine kabur lewat bawah pagar dan lari ke arah pantai. Sampai di batas air, ia menoleh balik ke kamera yang menyorot wajahnya.

“Bagaimana tampangnya?”

“Kelihatan risau,” kata Jesse.

“Apa yang ia risaukan?”

“Entahlah.”

“Lihat kondisinya. Ia kabur dari sekolah dan dari keluarganya; ia bebas.”

“Mungkin ia risau apa yang akan ia lakukan sekarang.”

Aku pun bertanya, “Apa maksudmu?”

“Mungkin berpikir, ‘Oke, sejauh ini berhasil. Tapi lalu apa?’”

“Oke, aku tanya sekali lagi: kau melihat ada kesamaan antara kondisinya dan kondisimu?”

Ia nyengir. “Maksud ayah, apa yang mau aku lakukan sekarang setelah boleh tidak sekolah?”

“Ya.”

“Entahlah.”

“Nah, mungkin itu sebabnya anak itu terlihat risau. Ia juga tidak tahu.”

Dan demikianlah selanjutnya dengan Basic Instinct, North by Northwest, Crimes and Misdemeanors, dst. Dari nonton bareng ayah-anak tiga filem seminggu itulah, mengalir obrolan-obrolan mengenai perempuan, seks, makna hidup, cita-cita, pekerjaan, pergaulan dsb.

Sebagai ayah dua orang anak yang nanti juga akan menjadi remaja, saya anggap buku ini mengharukan dan memberi ilham tentang cara membesarkan anak di zaman yang semakin rumit. Tapi tentu saja saya juga tidak menganjurkannya untuk menjadi panduan utama dalam parenting (terlalu banyak alkohol dan kondom bersliweran). Dan tentu saja kita harus membacanya dalam konteks masyarakat Kanada, yang kebebasan sosialnya pun masih sering membuat orang AS sendiri takjub. Tentu sulit membayangkan dalam konteks Indonesia seorang anak 16 tahun bisa curhat ke ayahnya bahwa pacarnya bisa orgasme dengannya, tapi mengapa saat memeluknya ia terus merasa hanya sebagai teman?

Dan tentu tak semua orang suka atau setuju dengan cara Gilmour. Beberapa orang tua dan pendidik di Kanada dan AS menghujatnya dengan keras dan menganggapnya sebagai orang tua egois yang bereksperimen dengan masa depan Jesse hanya demi penyaluran hobinya. Saya serahkan pada masing-masing pembaca untuk menilainya dalam konteks pendidikan di Indonesia.

Gilmour tidak membimbing Jesse untuk menjadi penggila filem atau kritikus yang serius. Filem di sini dipakai sebagai cara untuk merangsang daya berpikir kritis dan kreatif, untuk memberi arah dan keyakinan pada apapun pilihan jalan hidup yang dia ambil nantinya. Dan pilihan itu bahkan mengejutkan Gilmour sendiri. Setelah memutuskan bekerja serabutan untuk mencukupi hidup sambil terus meneruskan program “Klub Filem” ini, pada akhirnya Jesse memutuskan melanjutkan sekolah menengahnya bahkan kuliah. Mungkin menuliskan ending ini memang spoiler berat, tapi Anda tentu tahu bahwa filem yang benar-benar bagus tidak rusak kenikmatannya untuk ditonton secara utuh sekalipun bocoran soal ending-nya sudah sedikit Anda ketahui. Begitu juga buku ini: Tahu tentang ending-nya tak menjelaskan apa-apa mengenai pergulatan batin Gilmour dan Jesse sepanjang proses itu.

Malam sebelum ujian akhir ia meneleponku. “Bagaimanapun hasilnya nanti,” ucapnya, “aku ingin ayah tahu bahwa aku telah benar-benar berusaha.”

Sekian minggu kemudian sepucuk amplop putih tiba di kotak suratku; aku nyaris tak sempat melihatnya naik di tangga teras, menyambar surat itu dan membukanya, tangannya gemetar, kepalanya naik turun sambil membacanya.

“Aku berhasil,” teriaknya tanpa mendongak, “Aku berhasil!”

Itu terakhir kalinya ia tinggal di rumahku. Ia kembali ke rumah ibunya lantas mencari apartemen sendiri bersama seorang teman sekolahnya. Ada masalah dengan perempuan, kalau tak salah, tapi bisa mereka selesaikan. Atau tidak. Aku tak ingat […]

Ia tumbuh melampaui klub film, dan dengan cara tertentu ia tumbuh melampauiku, tumbuh melampaui seorang anak buat ayahnya. Tahun demi tahun hal ini memang terasa, tahap demi tahap, tapi tiba-tiba saja, mendadak ia sudah besar.

Kadang saat malam aku berjalan melewati kamarnya di lantai tiga; aku masuk dan duduk di pinggiran ranjang; rasanya aneh bahwa ia sudah pergi dan selama beberapa bulan pertama hal itu menghantuiku. Aku perhatikan ia tinggalkan Chungking Express di mejanya; ia tak membutuhkannya lagi; ia mendapat apa yang ia perlukan darinya dan meninggalkannya seperti ular berganti kulit.

Saya nyaris menangis membacanya—sebagai seorang ayah, sebagai penggemar filem. Dan tidak bisa tidak saya pun teringat nasehat Alfredo, pak tua pemutar proyektor bioskop itu, kepada Salvatore muda dalam Cinema Paradiso (Tornatore, 1988): “Kau harus pergi dari tempat ini, nak. Kejar mimpimu. Jangan pikirkan yang telah kau tinggalkan, jangan bernostalgia tentangnya.” Salvatore pun pergi dari Bagheria, desa kecil di Sisilia, menantang hidup di kota besar dan sukses “jadi orang”. Tiga puluh tahun sesudahnya Alfredo meninggal. Salvatore awalnya berkeras tak hendak mudik untuk melayatnya. Tapi tak bisa. Filemlah yang membuatnya kembali. Filem: Segala nostalgia itu. Segala yang tampak di layar dan membuat kita ternganga. Namun juga: Segala yang tak tampak di layar saat kita masih muda. Mungkin adegan-adegan ciuman yang disensor; mungkin pula segala pelajaran hidup yang baru kita sadari jauh kemudian.

Ekonomi Perawatan Nancy Folbre: Menghitung yang Selama ini Tak Dihitung

Greed, Lust & Gender: A History of Economic Ideas
Nancy Folbre
Oxford University Press, 2009  | 418 hlm

The Invisible Heart: Economics and Family Values
Nancy Folbre
The New Press, 2002  |  288 hlm

Who Pays for the Kids?: Gender and the Structure of Constraint
Nancy Folbre
Routledge, 1994  |  352 hlm

folbre[Ulasan ini dimuat juga di situs FAIR Institute]

Penulis feminis Rosalind Miles memberi judul Who Cooked the Last Supper untuk mengerangkai pandangannya mengenai sejarah dunia.[1] Dengan judul tersebut, ia hendak menyindir historiografi umumnya yang cenderung melupakan peran kaum perempuan di balik setiap peristiwa besar dunia. Di balik Perjamuan Terakhir misalnya –yang dikekalkan oleh Leonardo da Vinci dalam lukisan masyhurnya—kerja keras para perempuan juru masak yang memungkinkan perjamuan itu berlangsung justru tak tercatat dan tak terlukiskan.

Dengan semangat yang sama tulisan ini hendak menelisik pemikiran ekonom feminis Nancy Folbre. Sepanjang karir intelektualnya,[2] Folbre berusaha memberi nilai pada apa yang disebutnya sebagai “ekonomi perawatan” (economics of care), yakni kerja mengasuh anak dan merawat orang lansia/sakit yang biasanya dilakukan oleh perempuan dalam keluarga. Dua kerja domestik tersebut selama ini tak dipandang sebagai kerja produktif dan karenanya tak dianggap punya nilai dalam perekonomian. Keduanya, misalnya, tak masuk dalam hitungan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan ekonomi suatu negara.

Secara historis, Folbre mendapati bahwa konsep tentang “unproductive housewife” di atas sesungguhnya tidak senantiasa demikian adanya.[3] Konsep yang sangat patriarkis tersebut berkembang sesuai perkembangan ilmu ekonomi klasik dan diktum Adam Smith (1723-1790) bahwa kerja yang tidak menghasilkan komoditas yang bisa dijual tidak bisa digolongkan “produktif.” Padahal, ekonom-ekonom masa awal sebelum Smith seperti Sir William Petty (1623-1687) menganggap ibu rumah tangga sebagai pekerja produktif dalam “usaha” keluarga dan keluarga itu sendiri sebagai unit produksi dasar. Dalam temuan Folbre, sensus tahun 1861 di Inggris, misalnya, masih menggolongkan “ibu rumah tangga” sebagai kerja produktif. Begitu juga Sensus negara bagian Massachusetss di AS tahun 1875. Namun terminologi dan pendekatan sensus-sensus ini makin lama makin tunduk pada model Smith. Awalnya, ibu rumah tangga dipindah ke kategori “tidak berpendapatan” (non gainful), lalu dikategorikan sebagai “tidak bekerja” (unoccupied), dan kemudian “bergantung pada suami”(dependent). Pada 1920, kerja yang dilakukan kaum perempuan di luar pasar ini telah terhapus sama sekali dalam perhitungan resmi. Pandangan inilah yang lalu diekspor ke banyak negara berkembang[4] termasuk Indonesia, sehingga kita kini mendapati penggolongan “tidak bekerja” untuk ibu rumah tangga di KTP atau kartu keluarga.

Hal ini bagi Folbre bukan saja memarjinalisasi kaum perempuan, namun juga mengecilkan nilai penting pengasuhan anak bagi masa depan perekonomian. Anak-anak, tulis Folbre dalam kolomnya di rubrik “Economix” New York Times, harus dipandang sebagai “elemen kunci sebuah sistem perekonomian yang jangkauannya melampaui batas-batas antara pasar dan negara, sebuah bagian dari kemitraan negara/swasta antargenerasi yang vital bagi masyarakat.”[5] Dengan demikian, “modal manusia (human capital) bukan dibentuk di sekolah saja,”[6] melainkan melalui pengasuhan di tingkat rumah tangga. Di sinilah nilai penting kerja perawatan yang sudah semestinya diperhitungkan oleh ilmu ekonomi mainstream.

Folbre menemukan beberapa karakteristik kerja perawatan ini: Pertama, kerja ini mengandung motivasi yang bersifat intrinsik, dalam arti alasan-alasan untuk melakukannya kerapkali bukan bermotif laba, melainkan mengandung rasa tanggung jawab, komitmen, dan kasih sayang. Namun bukan berarti bahwa kerja ini sama sekali tak berbayar. Folbre menegaskan bahwa kerja perawatan dalam batas tertentu bisa disediakan oleh pasar.

Kedua, karena alasan pertama itulah, kerja ini biasanya dilakukan dengan penuh dedikasi (berkualitas tinggi dan menyita waktu) sementara upah finansialnya –untuk kerja perawatan berbayar yang disediakan oleh pasar—jauh lebih rendah daripada nilai riilnya. Dan karena kaum perempuan lebih mendominasi bidang ini, hal ini bisa turut menjelaskan mengapa pendapatan kaum perempuan secara umum lebih rendah dari lelaki. Terlebih lagi bagi ibu rumah tangga yang secara penuh bekerja mengurus anak atau lansia di rumah. Posisi tersebut kerap membawa ibu rumah tangga pada kerentanan finansial yang mengkhawatirkan. Di sinilah terletak ketidakadilannya.

Gerakan feminisme, sebagiannya, telah membawa perempuan keluar dari ranah domestik ini untuk bersaing dengan lelaki baik dalam kedudukan maupun pendapatan. Namun secara umum data-data statistik menunjukkan bahwa perempuan masih tetap mengutamakan kerja perawatan di luar pasar (sekalipun mereka mengemban kerja berbayar dalam ekonomi pasar). Hal ini membuat ketimpangan pendapatan antara lelaki-perempuan terus terjadi. Di titik inilah para ekonom terbelah dalam menganalisa apa penyebabnya. Sebagian berpendapat bahwa ini adalah “pilihan bebas” kaum perempuan, yang setelah menimbang-nimbang untung-ruginya, tetap memilih mengalokasikan waktu lebih besar untuk urusan rumah tangga sekalipun pendapatannya menurun karena itu. Sebagian lagi berpendapat bahwa itu bukan pilihan bebas, melainkan kekangan dari tatanan institusional lama yang terus membatasi peluang perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya di perekonomian pasar. Sehingga disimpulkan bahwa “strategi optimal bagi seorang perempuan yang ingin memaksimalkan peluang meraih sukses profesional dan ekonominya barangkali adalah dengan tidak mempunyai anak. Sementara perempuan yang ingin memaksimalkan kebahagiaan strategi terbaiknya bisa jadi adalah dengan tidak ingin membesarkan anak.”[7]

Bagi Folbre situasi ini menimbulkan paradoks yang mencemaskan: makin besar kebebasan perempuan untuk membuat pilihan dan mengekspresikan diri, makin kecil keinginannya untuk tunduk pada konsep-konsep tradisional mengenai keperempuanan, termasuk dalam soal pengasuhan dan perawatan. Masalahnya, mengecilnya tekanan bagi perempuan untuk menyuplai kerja perawatan ini bisa berakibat menurunnya suplai kerja perawatan ini dalam lingkup rumah tangga maupun pasar secara keseluruhan. Teori konvensional supply-demand tak berlaku di sini. Pasar tak bisa otomatis membentuk ekuilibrium apabila kerja perawatan menjadi barang langka. Dan bila ini terjadi, Folbre menyimpulkan bahwa dalam jangka panjang “kita akan menghadapi krisis ekonomi yang disebabkan oleh kurangnya investasi pada anak-anak, kesulitan-kesulitan dalam memberi sokongan kepada orang sakit dan lansia.”[8]

Apakah dengan demikian, Folbre melalui“economics of care” ini bermaksud mengembalikan perempuan ke kerja domestiknya selama ini? Di titik ini ia tampak memang berseberangan dengan sebagian aliran feminisme yang mendorong kiprah maksimal perempuan dalam dunia kerja, dan simpulannya dalam buku Who Pays for the Kids? ditulis dalam bentuk percakapan untuk menyanggah keberatan-keberatan kaum feminis.

Bagi Folbre, feminisme yang diukur dalam bentuk keikutsertaan perempuan dalam angkatan kerja semata-mata dan sukses ekonomi yang dirumuskan “dalam kaidah-kaidah yang amat sempit dan tak berkelanjutan”[9] –dengan kompetisi dan motif laba yang tetap dominan sebagai latar belakang—tak banyak mengubah cara pandang dan penyikapan terhadap relasi-relasi ekonomi antarmanusia. Makna penting pengasuhan dan perawatan bagi keberlanjutan umat manusia tetap dinomorduakan dibanding “kerja produktif.” Komposisi jenis kelamin pelaku kerja produktif berubah, namun yang mendasarinya tetaplah kompetisi dan motif-motif sempit pencarian laba. Padahal, teori permainan(game theory), terutama dalam prisoner’s dillema, telah membuktikan secara empiris bahwa pengejaran kepentingan pribadi justru bisa memperburuk kondisi masyarakat secara keseluruhan.

Bagi Folbre, yang harus didorong demi kesejahteraan bersama adalah kooperasi, dan bukan kompetisi, terutama kooperasi yang menciptakan insentif kuat untuk berinvestasi bagi pengasuhan anak.[10] “Kita perlu mengubah orientasi sasaran-sasaran ekonomi kita menjauh dari peningkatan PDB dan lebih menuju ke peningkatan kesejahteraan sosial. Kita perlu memberi pengakuan dan dukungan yang lebih besar pada kerja yang telah dicurahkan untuk merawat dan mengurus anak-anak, orang sakit, dan lansia […] Anak-anak, laiknya lingkungan hidup, adalah barang publik. Keputusan-keputusan individual yang diambil orang tua dalam pengasuhan anak, dan tingkat sumber daya yang mereka curahkan untuk kerja ini, bisa punya dampak ekonomi bagi semua orang.”[11] Dan karena apa yang diinvestasikan dalam kerja pengasuhan dan perawatan ini bisa berdampak bagi banyak orang di masa mendatang, maka di situlah diperlukan peran negara –dalam bentuk insentif-insentif ekonomi—dalam menopang kerja pengasuhan dan perawatan tersebut dan memastikanoutput-nya bisa maksimal.

Sambil menjunjung tradisi demokrasi-sosial feminis, Folbre berkata, “Kita perlu meyakinkan lelaki khususnya, dan masyarakat umumnya, untuk menjalankan perawatan yang lebih baik terhadap anak-anak, orang sakit, dan lansia. Kita perlu merancang struktur-struktur batasan yang didasarkan pada prinsip-prinsip kesetaraan peluang yang bisa mendorong kerjasama sosial dan meminimalkan kekerasan. Bila tidak demikian, kaum perempuan akan kesulitan membebaskan diri dari sederet tanggung jawab yang secara tidak adil dibebankan pada mereka. Mereka takkan pernah merasa bebas untuk memilih.”[12]

Dengan ini juga Folbre menonjok “kepentingan diri” yang selama ini dianggap sebagai motif yang melatari seluruh aktivitas ekonomi bahkan tindakan manusia. Kita ingat ilustrasi terkenal Adam Smith dalam The Wealth of Nations, bahwa “bukan dari kebaikan hati tukang daging, peramu minuman, atau tukang roti kita mengharapkan makan malam kita, tetapi dari perhatian mereka untuk kepentingan diri mereka sendiri.” Karena mereka mencari laba dari dagangannya itulah kita bisa membeli makanan kita. Namun bagi Folbre Smith baru berhenti separuh jalan dan luput melihat siapa sesungguhnya yang memasak dan menyiapkan daging, minuman, dan roti itu sampai terhidang ke meja makan? Bukan “tukang daging, peramu minuman, atau tukang roti” tadi, melainkan para ibu dan istri, yang melakukannya bukan karena motif laba atau kepentingan diri; para perempuan yang –seperti juru masak Perjamuan Terakhir—tak tercatat dalam sejarah, padahal perannya yang tanpa pamrih itulah yang memberi basis bagi aktivitas ekonomi sehari-hari dan masa depan. Teori ekonomi Folbre berusaha memberi suara dan nilai bagi mereka yang terabaikan itu.

———–

[1] Rosalind Miles, Who Cooked The Last Supper: The Women’s History of The World (New York: Three Rivers Press, 2001).
[2] Nancy Folbre telah menulis enam judul buku, di samping puluhan artikel jurnal, kolom surat kabar, dan laporan. Folbre menerima Olivia Schieffelin Nordberg Award (1999) dan Leontif Prize (2004). Pada 2002 terpilih sebagai Presiden International Association for Feminist Economists (IAFFE).
[3] Nancy Folbre, “The Unproductive Housewife: Her Evolution in Nineteenth Century Economic Thought,”Signs: Journal of Women in Culture and Society 16 (3), 1991, hlm. 463–484. Lihat pula Nancy Folbre, Greed, Lust and Gender: A History of Economic Ideas (Oxford dan New York: Oxford University Press, 2009), hlm. 251-267.
[4] Nancy Folbre, Who Pays for the Kids? Gender and The Structure of Constraint (London: Routledge, 1994), hlm. 95.

[5] Nancy Folbre, “Price Tags for Parents,” New York Times, 2 Juli 2012.
[6] Nancy Folbre, “Writing Off Poor Children,” New York Times, 20 Agustus 2012.
[7] Dua kubu pendapat ini dengan pelbagai varian pembuktiannya dirangkum dalam Nancy Folbre, “Spinning the Top: Gender, Games and Macro Outcomes”, makalah untuk konferensi “Conference Reaching the Top: Challenges and Opportunities for Women Leaders,” 3 Maret 2004.
[8] Nancy Folbre, Who Pays for the Kids?, hlm. 250.
[9] Folbre, “Spinning the Top”.
[10] Nancy Folbre, The Invisible Heart: Economics and Family Values (New York: The New Press, 2001).
[11] Nancy Folbre, Who Pays for the Kids?, hlm. 253, 254.
[12] Ibid., hlm. 252.

H.C. Andersen ORI, Bukan KW

Six Fairy Tales
Hans Christian Andersen
Svend Dahl & H.G. Topsøe-Jensen (Eds.), Vilhelm Pedersen (Illustrator)
Samvirkerådet for dansk kulturarbejde i udlandet, 1955  |  71 hlm

andersenSaat ditanya tentang penulis bacaan anak, atau saat Hari Buku Anak Internasional, banyak orang mengajukan nama H.C. Andersen sebagai penulis cerita anak favoritnya. Dengan mudah pula mereka menyebut dongeng-dongeng seperti “Putri Duyung”, “Itik Buruk Rupa”, “Baju Baru Sang Kaisar” sebagai dongeng kesukaannya. Namun yang tidak mereka tahu, benarkah yang mereka baca itu dongeng Andersen? Atau dongeng Andersen versi Disney, dongeng Andersen versi yang sudah disadur, atau dalam bahasa Glodok, dongeng Andersen KW? Karena itu, jangan mengaku telah membaca Andersen sebelum tahu dongeng Andersen dalam format aslinya, yang sungguh jauh berbeda dari, misalnya, dongeng Andersen versi Disney. “Putri Duyung”, misalnya, dalam versi aslinya ia tidak mengalami happy ending seperti versi Disney (mendapat lelaki yang disukainya, berciuman, dan tamat). Dalam versi aslinya, putri duyung berubah jadi buih, sementara si lelaki justru menikahi perempuan lain yang disangkanya penyelamatnya yang sebenarnya dari musibah kapal karam. Peri, yang melihat pengorbanan si putri duyung, akhirnya mengubahnya dari buih menjadi udara agar tetap bisa menganyomi manusia. Tragis kan? Itulah, kita sering lupa bahwa Andersen pada dasarnya adalah seorang sastrawan dan penyair. Logika dan putaran ceritanya jauh lebih rumit dan kelam dari versi-versi yang telah disaring untuk konsumsi anak-anak. Buku ini, diterbitkan pada 1955 oleh Komite Aktivitas Kebudayaan Denmark di Luar Negeri, menyajikan dongeng-dongeng Andersen dalam terjemahan Inggris yang setia pada format aslinya, mungkin dengan tujuan agar pengarang paling terkenal dari Denmark ini tidak terus dipahami secara kekanak-kanakan oleh pembacanya di seluruh dunia.